Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #66

Keputusan Alya

Keputusan Alya

༺♡༻Alya memilih pergi untuk sementara. ༺♡༻

Hujan turun sejak sore, membasahi halaman rumah yang selama ini menjadi tempat Alya menyimpan begitu banyak kenangan. Dari balik jendela kamar, ia memandangi air yang mengalir di kaca, membawa bayangan lampu taman menjadi garis-garis panjang yang bergetar.

Di atas tempat tidur, sebuah koper berwarna cokelat telah terbuka.

Beberapa helai pakaian sudah tersusun rapi di dalamnya. Dua jilbab, sebuah mukena, beberapa buku, dan sebuah kotak kecil berisi foto-foto yang selama ini ia simpan di laci meja. Tidak banyak barang yang dibawanya. Alya tidak berniat pergi selamanya.

Setidaknya, itulah yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri.

Ia hanya ingin pergi untuk sementara.

Ingin menjauh dari rumah yang terasa semakin sesak. Dari percakapan yang selalu berakhir dengan air mata. Dari nama seseorang yang masih berputar-putar di kepalanya meskipun ia sudah berusaha menghapusnya berkali-kali.

Alya mengambil selembar foto dari atas meja.

Foto dirinya bersama Arga.

Mereka berdiri di sebuah taman, pada sore yang cerah. Arga tersenyum dengan cara yang selalu membuat Alya merasa bahwa dunia tidak pernah terlalu buruk. Sementara dirinya menunduk malu, seolah kebahagiaan yang ada di antara mereka terlalu indah untuk ditatap terlalu lama.

Jari Alya menyentuh wajah Arga dalam foto itu.

“Kenapa semuanya harus serumit ini?” bisiknya.

Tidak ada jawaban.

Hanya suara hujan dan detak jam dinding yang terdengar semakin jelas.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Satu pesan masuk.

Arga: Alya, kita bisa bicara malam ini? Aku ingin menjelaskan semuanya.

Alya membaca pesan itu berulang kali.

Dadanya terasa sesak.

Ada bagian dalam dirinya yang ingin segera membalas. Ingin mendengar suara Arga, melihat wajahnya, lalu percaya bahwa semua yang terjadi hanyalah kesalahpahaman.

Namun, ada bagian lain yang sudah terlalu lelah untuk kembali berharap.

Ia mematikan layar ponselnya.

“Maaf, Arga,” ucapnya pelan. “Aku belum sanggup.”

Malam itu, Alya akhirnya mengambil keputusan yang selama beberapa hari terakhir terus ia hindari.

Ia akan pergi.

Bukan karena sudah tidak mencintai Arga.

Justru karena perasaannya masih terlalu besar untuk membuatnya mampu berpikir dengan tenang.

Dan terkadang, seseorang harus menjauh dari apa yang paling dicintainya agar dapat menemukan kembali dirinya sendiri.

༺♡༻

༺♡༻ Peristiwa Pemicu ༺♡༻

Pintu kamar diketuk pelan.

“Alya?”

Suara ibunya terdengar dari luar.

Alya buru-buru menyeka air mata, lalu menutup koper yang belum selesai dikemas.

“Iya, Bu. Masuk.”

Pintu terbuka.

Ibunya berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh kekhawatiran. Pandangannya langsung tertuju pada koper di atas tempat tidur.

“Alya, kamu mau pergi?”

Alya terdiam beberapa saat.

Kemudian ia mengangguk.

“Iya, Bu.”

“Pergi ke mana?”

“Ke rumah Tante Salma. Untuk sementara.”

Ibunya melangkah mendekat.

“Kenapa harus pergi? Ada masalah apa lagi dengan Arga?”

Pertanyaan itu membuat Alya menunduk.

“Bukan cuma tentang Arga, Bu.”

“Lalu tentang apa?”

Alya menarik napas panjang.

“Semua hal.”

Ibunya duduk di tepi tempat tidur.

“Sayang, Ibu tahu kamu sedang sedih. Tapi pergi dari rumah bukan penyelesaian.”

“Aku tidak sedang lari dari rumah, Bu.”

“Lalu?”

“Aku sedang mencoba menyelamatkan diriku sendiri.”

Kalimat itu membuat ibunya terdiam.

Alya menatap koper yang ada di hadapannya.

“Setiap hari aku bangun dengan perasaan takut. Takut membuka ponsel, takut mendengar nama Arga, takut bertemu orang-orang yang bertanya tentang hubungan kami. Aku bahkan tidak tahu lagi harus percaya kepada siapa.”

Ibunya meraih tangan Alya.

“Arga masih mencintaimu.”

“Aku tahu, Bu.”

“Kalau begitu, kenapa tidak dibicarakan baik-baik?”

Alya tersenyum getir.

“Karena terkadang cinta saja tidak cukup untuk membuat semuanya menjadi mudah.”

Ibunya menghela napas.

“Arga sedang menghadapi banyak masalah. Keluarganya juga. Mungkin dia tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang.”

“Aku sudah mencoba memahami dia.”

“Lalu?”

“Aku juga ingin dipahami.”

Hening.

Hujan di luar terdengar semakin deras.

Ibunya menggenggam tangan Alya lebih erat.

“Apakah kamu masih mencintai Arga?”

Alya menutup mata.

Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya terasa begitu berat.

“Masih, Bu.”

“Lalu mengapa kamu pergi?”

Alya membuka mata. Air mata kembali menggenang.

“Karena kalau aku tetap di sini, aku takut akan terus memaafkan sesuatu yang sebenarnya belum selesai. Aku takut terus berkata bahwa aku baik-baik saja, padahal setiap malam aku menangis sendirian.”

Ibunya menatap wajah putrinya.

“Arga tahu kamu sesakit ini?”

“Tidak.”

“Kenapa tidak kamu katakan?”

“Karena setiap kali aku ingin bicara, selalu ada masalah baru yang lebih besar. Selalu ada sesuatu yang harus dia selesaikan. Dan aku… aku tidak ingin menjadi beban.”

Ibunya menggeleng.

“Kamu bukan beban, Alya.”

“Kadang aku merasa begitu.”

Ponsel Alya kembali bergetar.

Kali ini panggilan masuk.

Arga.

Nama itu membuat seluruh tubuh Alya menegang.

Ibunya melirik layar ponsel.

“Angkatlah.”

Alya menggeleng.

“Tidak, Bu.”

“Mungkin dia ingin mendengar penjelasanmu.”

“Kalau aku mengangkatnya, aku tahu aku akan berubah pikiran.”

“Apakah itu buruk?”

Alya menatap ibunya dengan mata basah.

“Entahlah.”

Panggilan itu berhenti.

Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.

Arga: Aku tahu kamu sedang sedih. Aku tidak akan memaksamu bicara. Tapi tolong, jangan pergi tanpa memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.

Alya membaca pesan itu sampai selesai.

Jarinya bergerak membuka kolom balasan.

Ia mengetik:

Aku pergi bukan karena aku membencimu. Aku hanya butuh waktu.

Namun, sebelum dikirim, ia menghapusnya.

Kemudian mengetik ulang.

Aku akan pergi untuk sementara. Jangan mencariku dulu.

Alya menatap kalimat itu lama.

Ibunya memperhatikan tanpa berkata-kata.

“Kalau itu keputusanmu,” ujar ibunya lembut, “Ibu tidak akan melarang.”

Alya menoleh.

“Benarkah?”

“Ibu hanya ingin kamu pergi dengan hati yang tenang. Bukan karena ingin menghukum Arga.”

Alya menggeleng cepat.

“Aku tidak ingin menghukumnya, Bu.”

“Lalu apa yang kamu inginkan?”

Alya memandang hujan di luar jendela.

“Aku ingin tahu… apakah aku masih bisa mencintai seseorang tanpa kehilangan diriku sendiri.”

Ibunya menarik Alya ke dalam pelukan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Alya menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.

༺♡༻

Sementara Alya mengemas barang-barangnya, Arga berdiri di ruang kerjanya dengan ponsel yang masih berada di tangan.

Panggilannya tidak dijawab.

Pesannya tidak dibalas.

Ia menatap layar ponsel seolah dengan memandangnya lebih lama, Alya akan tiba-tiba muncul dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Namun, layar itu tetap diam.

“Mas?”

Suara Fardhan terdengar dari pintu.

Arga menoleh.

“Ada apa?”

“Dari tadi aku panggil, kamu tidak dengar.”

“Maaf.”

Fardhan masuk ke dalam ruangan.

“Sudah bicara dengan Alya?”

Arga menggeleng.

“Dia tidak mengangkat telepon.”

“Coba lagi?”

“Sudah berkali-kali.”

Fardhan memperhatikan wajah sahabatnya.

“Kamu tahu dia ada di mana?”

“Tidak.”

“Arga…”

“Aku tidak tahu, Fardhan.”

Suara Arga terdengar lebih keras dari yang ia maksudkan.

Fardhan terdiam.

Arga mengusap wajahnya.

“Maaf. Aku hanya… aku tidak tahu harus melakukan apa.”

Fardhan duduk di kursi di hadapannya.

“Masalah ini memang tidak sederhana.”

“Aku tahu.”

“Dan Alya mungkin sudah terlalu lelah.”

Arga menatapnya.

“Aku mencintainya.”

“Aku tahu.”

“Aku tidak pernah berniat membuatnya terluka.”

“Tapi dia tetap terluka.”

Kalimat itu membuat Arga menunduk.

“Aku tahu,” ulangnya pelan.

Fardhan menghela napas.

“Kalau kamu benar-benar mencintainya, jangan hanya berpikir bagaimana cara membuat dia kembali. Pikirkan juga apa yang membuat dia memilih pergi.”

Arga terdiam cukup lama.

Kemudian ia berkata, “Aku ingin menemuinya.”

“Kalau dia tidak ingin ditemui?”

“Aku akan menunggu.”

“Di depan rumahnya?”

Arga menggeleng.

“Tidak. Aku tidak akan memaksanya.”

Fardhan mengangguk.

“Itu lebih baik.”

Arga membuka percakapan terakhirnya dengan Alya.

Pesan yang ia kirim belum dibaca.

Ia mengetik sesuatu, lalu menghapusnya.

Mengetik lagi.

Alya, aku minta maaf.

Ia menghapusnya.

Aku tidak ingin kehilanganmu.

Dihapus lagi.

Akhirnya, ia hanya menulis:

Kalau kamu butuh waktu, aku akan memberikannya. Tapi tolong, jangan pernah berpikir bahwa kamu harus menghadapi semuanya sendirian.

Pesan itu dikirim.

Arga meletakkan ponselnya.

“Aku tidak tahu apakah dia akan kembali,” katanya.

Fardhan menatapnya.

“Tidak ada yang bisa menjamin itu.”

Arga tersenyum pahit.

“Dulu aku pikir, selama aku mencintainya, semuanya akan baik-baik saja.”

“Cinta memang penting.”

“Tapi?”

“Tapi cinta juga harus disertai keberanian untuk jujur.”

Arga menunduk.

Percakapan itu mengingatkannya pada semua hal yang belum pernah ia ceritakan kepada Alya. Tentang tekanan keluarganya, tentang keputusan-keputusan yang selama ini ia ambil sendirian, tentang ketakutannya kehilangan orang-orang yang ia cintai.

Ia selalu mengira bahwa dengan menyembunyikan masalah, ia sedang melindungi Alya.

Ternyata, tanpa disadari, ia justru membuat Alya merasa tidak dipercaya.


Di rumah Alya, koper akhirnya selesai dikemas.

Ibunya berdiri di depan pintu kamar.

“Sudah semua?”

Alya memeriksa isi tasnya.

“Sudah, Bu.”

“Obat-obatan?”

“Sudah.”

“Charger?”

“Sudah.”

“Dokumen?”

Alya mengangguk.

Ibunya tersenyum kecil.

“Kalau begitu, istirahatlah dulu. Besok pagi kita berangkat.”

Alya menoleh.

“Besok pagi?”

“Iya. Ibu akan mengantarmu.”

“Tidak perlu, Bu. Aku bisa sendiri.”

“Ibu tahu kamu bisa sendiri. Tapi Ibu ingin menemanimu.”

Alya tidak membantah.

Malam semakin larut.

Setelah ibunya keluar, Alya kembali duduk di tepi tempat tidur.

Ponselnya menyala.

Pesan dari Arga.

Ia membacanya perlahan.

Kalau kamu butuh waktu, aku akan memberikannya. Tapi tolong, jangan pernah berpikir bahwa kamu harus menghadapi semuanya sendirian.

Alya menutup mulutnya dengan tangan.

Air matanya jatuh.

“Kenapa kamu selalu membuatku sulit pergi?” bisiknya.

Ia ingin membalas.

Ingin mengatakan bahwa dirinya juga tidak ingin kehilangan Arga. Ingin mengatakan bahwa semua yang terjadi bukan berarti cintanya telah berakhir.

Namun, kata-kata itu tidak pernah sampai.

Karena di dalam dirinya masih ada ketakutan.

Ketakutan bahwa jika ia kembali sekarang, semua luka yang belum sembuh akan terbuka lagi.

Alya mengambil buku catatan dari laci.

Di halaman kosong, ia menulis:

Untuk Arga.

Jika suatu hari nanti kita bertemu lagi, aku ingin kita bertemu sebagai dua orang yang sudah belajar menjadi lebih baik.

Bukan sebagai dua orang yang saling mencintai, tetapi saling melukai.

Ia berhenti menulis.

Kemudian menambahkan:

Aku pergi bukan karena cintaku berkurang. Aku pergi karena aku ingin belajar mencintaimu tanpa kehilangan diriku sendiri.

Alya menutup buku itu.

---

Keesokan paginya, langit masih mendung.

Alya berdiri di ruang tamu dengan koper di sampingnya.

Ibunya membawa tas kecil.

“Kamu sudah siap?”

“Sudah, Bu.”

Alya menatap rumah itu untuk terakhir kalinya sebelum pergi.

Di dinding ruang tamu, ada foto keluarga mereka. Di meja, ada vas bunga yang dibelikan Arga beberapa bulan lalu. Di sudut ruangan, sebuah bantal kecil pemberian Arga masih tergeletak di sofa.

Semua benda itu tiba-tiba terasa begitu berarti.

Ibunya memperhatikan pandangan Alya.

“Kalau kamu ingin membawa sesuatu yang lain, masih ada waktu.”

Alya menggeleng.

“Tidak, Bu.”

“Yakin?”

Alya mengangguk.

“Aku hanya ingin membawa apa yang benar-benar kubutuhkan.”

Mereka berjalan menuju pintu.

Namun, sebelum Alya sempat membuka gagangnya, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Alya membeku.

Ibunya menoleh ke arah jendela.

“Siapa?”

Alya tidak menjawab.

Dari balik kaca, terlihat sebuah mobil hitam berhenti di halaman.

Pintu mobil terbuka.

Seorang laki-laki turun.

Arga.

Alya menahan napas.

“Bu…”

Ibunya menatap wajah putrinya.

“Arga?”

Alya mengangguk pelan.

Arga berjalan menuju pintu rumah.

Setiap langkahnya membuat jantung Alya berdegup semakin cepat.

Ia ingin berlari ke kamar.

Ingin bersembunyi.

Tetapi kakinya tidak bergerak.

Ketukan terdengar.

Tok. Tok. Tok.

Ibunya menatap Alya.

“Apakah Ibu harus membukakan?”

Alya menelan ludah.

“Jangan, Bu.”

“Kenapa?”

“Aku yang akan bicara.”

Ibunya mengangguk dan mundur beberapa langkah.

Alya berdiri di depan pintu.

Tangannya gemetar saat memegang gagang.

Ia menarik napas.

Lalu membuka pintu.

Arga berdiri di sana.

Wajahnya terlihat lelah. Rambutnya sedikit basah, mungkin karena hujan yang masih menyisakan gerimis. Matanya langsung tertuju pada koper di samping Alya.

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap.

Kemudian Arga berkata pelan,

“Kamu benar-benar mau pergi?”

Alya menunduk.

Lihat selengkapnya