Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #67

Kota yang Berbeda

Kereta terakhir dari Jakarta tiba di Stasiun Bandung pukul sembilan malam, dan Alya turun membawa satu koper besar, satu ransel, dan sebuah keputusan yang rasanya lebih berat dari seluruh barang bawaannya. Udara Bandung menyambutnya dengan dingin yang jujur—tidak seperti Jakarta yang selalu lembap dan penuh kepalsuan. Ia menarik napas dalam. Kota yang berbeda, katanya pada diri sendiri. Hidup yang berbeda.

Dua minggu sudah berlalu sejak malam pernikahan Dimas dan Sinta, sejak amplop berisi foto bertinta merah itu ditemukan di mobilnya, sejak motor tanpa plat nomor mengikuti mereka sampai ke gerbang komplek. Dua minggu penuh laporan polisi, pergantian nomor ponsel, dan diskusi yang berakhir pada satu kesepakatan: Alya akan dipindahkan ke kantor cabang Bandung, jabatan baru, hidup baru. Raka setuju. Terlalu mudah, sempat Alya curiga, tapi Raka hanya bilang, "Kali ini gue nggak mau jadi alasan kamu nolak mimpi kamu. Berangkat."

Jadi ia berangkat, sendirian, sesuai permintaannya sendiri. Raka mengantar sampai stasiun Jakarta, menyerahkan koper, dan tidak naik kereta. "Biar aman," kata Alya. "Kita belum tahu siapa yang ngawasi kita. Kalau kita berdua terlihat bersama terus, dia makin senang." Raka mengangguk, mencium puncak kepalanya, dan berdiri di peron sampai kereta hilang dari pandangan.

Apartemen barunya kecil tapi bersih, di lantai dua sebuah rumah kos tua dekat kampus. Pemiliknya, Bu Wati, seorang janda ramah yang langsung menghafal nama Alya dan memberinya sepuluh menit ceramah tentang tetangga yang baik. Kantor barunya lima belas menit berkendara, di sebuah gedung kaca yang jauh lebih tenang dari kantor pusat.

Malam pertama, Alya berdiri di depan jendela kamarnya, memandangi lampu-lampu Bandung yang jarang dan redup. Ia mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan untuk Raka, lalu menghapusnya, lalu mengetik lagi.

"Udah sampai. Kota ini dingin. Aku baik-baik aja. Jangan khawatir."

Balasan masuk cepat, seperti pemiliknya memang sedang memegang ponsel tanpa kedip sejak Alya berangkat.

"Bagus. Makan yang bener. Gue di sini juga baik-baik aja. Kita mulai dari nol yang bener, inget?"

Alya tersenyum tipis di kegelapan. Nol yang bener. Dua kota yang berbeda, dua kehidupan yang mulai berjalan terpisah, dan satu doa kecil yang sama: semoga jarak kali ini bukan kekalahan, melainkan jeda untuk saling menemukan di ujung yang lebih aman.

༺♡༻

Minggu pertama berjalan hampir sempurna. Alya mulai memahami ritme kantor cabang, mengenal tim barunya—yang terdiri dari empat orang, paling muda namanya Laras, perempuan dua puluh empat tahun yang langsung menempel padanya seperti adik kandung. Mereka makan siang bersama, tertawa tentang bos yang pelit, dan untuk beberapa jam sehari, Alya bisa lupa bahwa ada seseorang di luar sana yang menginginkan ketakutannya.

Hari Sabtu pagi, Alya berjalan kaki ke pasar dekat kos, membeli sayur dan buah, menikmati kenyamanan menjadi orang asing yang tidak dikenal siapa-siapa. Sepulangnya, ketika ia hendak memasukkan kunci ke pintu kamar, matanya menangkap sesuatu di lantai.

Selembar foto. Terlipat dua, diselipkan dari bawah pintu.

Alya membukanya dengan jari yang perlahan kehilangan suhu. Foto itu diambil kemarin. Di pasar. Dirinya sedang memilih mangga, tersenyum ke arah penjual. Foto yang diambil dari jarak kurang dari sepuluh meter, dan ia sama sekali tidak menyadarinya.

Di belakang foto itu, tulisan dengan spidol hitam, rapi dan dingin: "Kota ini juga kotaku. Selamat datang."

Alya mundur selangkah, menabrak dinding koridor. Napasnya memburu. Ia menatap kedua ujung lorong kos yang sepi—beberapa pintu tertutup, satu terbuka dengan radio dangdut mengalun pelan dari dalam. Tidak ada siapa-siapa.

Ia bergegas masuk, mengunci pintu, mengganjal kursi ke balik gagang, lalu duduk di lantai dengan punggung menempel pintu. Tangan gemetar mencari ponsel.

"Rak," katanya begitu sambungan terjalin, suaranya nyaris hilang. "Dia di sini. Dia ikutin aku ke Bandung."

Hening di seberang hanya sepersekian detik, tapi terasa seperti jatuh. "Lo yakin fotonya baru?" tanya Raka, suaranya berubah—lebih rendah, lebih tajam, versi Raka yang selama dua minggu ini sengaja ia kubur.

"Kemarin pagi. Pasar dekat kos. Rak, gue nggak liat ada siapa-siapa. Gue nggak ngerasa diikuti. Dia beneran jago."

"Dengerin gue. Polisiin sekarang juga. Jangan tunggu besok. Dan jangan kemana-mana sendirian mulai sekarang—tolong, Ly, kali ini jangan keras kepala."

Alya menatap foto di tangannya. Dirinya sendiri, tersenyum, tanpa tahu sedang diperhatikan. "Iya," katanya pelan. "Iya, Rak. Aku takut."

Setelah telepon ditutup, Alya tidak beranjak dari lantai. Radio dangdut dari ujung lorong berhenti. Langkah kaki seseorang melintasi koridor, pelan, berhenti dua detik di depan pintunya, dua detik yang cukup untuk membuat jantungnya berhenti, lalu berjalan lagi menjauh.

Ia memikirkan semua kemungkinan yang selama dua minggu ini mereka coba hindari. Siapa yang sanggup mengikuti kereta ke kota lain hanya untuk meninggalkan selembar foto? Siapa yang menyimpan dendam sedalam itu? Dan yang paling membuatnya gemetar: semua dilakukan dengan kesabaran orang yang tidak sedang buru-buru.

Bu Wati mengetuk pintu sepuluh menit kemudian, membawakan teh hangat dan kecurigaan khas ibu-ibu. "Mbak Alya kenapa? Muka pucet banget. Dengerin dangdut dari tadi kok nggak nyaut-nyaut pas gue lewat?"

"Aku nggak apa-apa, Bu. Cuma pegal jalan ke pasar," jawab Alya, memaksakan senyum.

Bu Wati menatapnya lama, lalu menatap kursi yang mengganjal pintu, lalu kembali menatap Alya. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya berkata, "Kalau ada apa-apa, teriak aja. Rumah ini kecil, tetangganya denger semua." Dan Alya percaya ia bersungguh-sungguh.

Malam itu, untuk pertama kalinya di kota baru, Alya menyalakan semua lampu sampai pagi.

༺♡༻

Pelaporan di kantor polisi Bandung memakan waktu dua jam. Alya menyerahkan foto itu, memberi keterangan, dan mendengar kalimat yang selama dua minggu ini selalu sama: "Kami akan melakukan penyelidikan, Bu. Mohon waspada." Waspada. Kata yang berguna tapi tidak melindungi siapa-siapa.

Di Jakarta, Raka tidak duduk diam. Ia, Dimas, dan Sinta membentuk semacam posko darurat di meja makan apartemen Raka. Sinta dengan daftar kontak kenalan jurnalisnya, Dimas dengan kemampuan menelusuri jejak digital, dan Raka dengan emosi yang ia paksa tetap dalam batas wajar.

"Gue minta maaf," kata Dimas untuk kesekian kalinya. "Semua ini nyangkutnya ke kalian karena gue."

"Berhenti minta maaf," potong Raka. "Yang salah itu orang yang kirim foto. Bukan lo, bukan gue, bukan Alya. Kita fokus."

Dimas menyerah mendebat. "Oke. Foto itu dicetak di mini lab biasa, kertas kimia murah. Kalau dia cetak di Bandung, bakal ada jejak. Gue udah nyebarin foto sampel ke tiga percetakan di sekitar kos Alya."

Sinta, yang sedang membolak-balik berkas laporan polisi, mendongak. "Dan satu lagi. Polisi kemarin bilang, modus kayak gini, foto, amplop, nggak ada kerusakan fisik, umumnya cuma satu dari dua tujuan. Ngelamirin korban buat sesuatu yang lebih gede, atau... ngetes."

"Ngetes apa?" tanya Raka.

"Ngetes apa yang kalian berdua bakal lakuin kalau ditekan." Sinta menatapnya. "Dan sampai sekarang, semua yang dia lakuin berhasil bikin kalian makin deket. Malam pernikahan kalian balikan. Kalau gue dia, gue pasti ganti strategi."

Raka merasakan bulu kuduknya meremang. "Gue harus ke Bandung."

"Lo gak bisa," kata Dimas dan Sinta bersamaan.

"Itu yang dia mau, Rak," lanjut Sinta. "Dia nungguin lo gerak. Dan Alya udah bilang jangan."

Maka Raka menahan diri. Itulah bagian tersulit dari dua kota yang berbeda: ia tidak bisa melindungi orang yang ia cintai dengan cara lama, datang, mengambil alih, memutuskan. Yang bisa ia lakukan hanya percaya. Dan percaya, ia baru belajar, adalah pekerjaan paling melelahkan yang pernah ia kerjakan.

Keesokan harinya, ia dan Sinta datang ke kantor polisi di Jakarta, membawa amplop bertinta merah dari pernikahan. Petugas memeriksa sidik jari dengan cermat, lalu menggeleng.

"Bersih, Pak. Pelakunya profesional, pakai sarung tangan, kemungkinan pakai alat. Dari amplop, dari foto, semua jejak bersih." Petugas itu melepas kacamatanya. "Tapi profesional begini nggak kerja cuma-cuma. Yang merakit ini punya uang, punya niat, dan punya waktu. Ketiganya bersamaan itu berbahaya."

Lihat selengkapnya