Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #68

Raka Mengejar yang Hilang

Ada dua hal yang Raka pelajari selama sepuluh bulan berpisah dan dua bulan terakhir bersama lagi: pertama, Alya tidak pernah menghilang tanpa alasan; kedua, alasan Alya sering kali bukan tentang mereka berdua, melainkan tentang luka yang lebih tua dari hubungan mereka sendiri.

Dua hari setelah paket berisi fotokopi KTP itu tiba, Alya mulai berubah. Ia makan lebih sedikit, tertawa lebih jarang, dan dua kali Raka menangkapnya menatap ponsel dengan ekspresi yang tidak bisa ia baca—bukan takut, melainkan sesuatu yang lebih rumit: seolah ia sedang membaca surat dari orang yang sudah lama meninggal.

"Alya," kata Raka pada malam kedua, sambil duduk di seberangnya. "Ada sesuatu yang mau kamu ceritakan?"

Alya menggeleng terlalu cepat. "Kerjaan. Biasa."

"Aku nggak nanya kerjaan. Aku nanya kamu."

Dan Alya menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca tanpa alasan yang jelas, lalu berkata, "Besok. Aku janji, besok aku ceritain semuanya."

Besoknya, Raka bangun pukul setengah tujuh dan menemukan tempat tidur sebelah sudah dingin. Tidak ada Alya di kamar mandi, tidak ada suara di dapur. Di atas meja makan, sebuah amplop kecil bertuliskan namanya dengan tulisan tangan yang bergetar.

Raka membukanya dengan perasaan seperti orang membuka pintu ke ruangan yang ia tahu kosong.

"Rak, aku perlu waktu sendiri. Tiga atau empat hari. Jangan cari aku, jangan telepon aku, jangan minta polisi mencarikan aku. Aku baik-baik saja dan ini bukan tentang kita. Aku sayang kamu. Itu satu-satunya hal yang pasti sekarang. Maafkan aku yang selalu pergi. Aku lagi belajar berhenti. Alya."

Raka duduk di kursi meja makan, membaca surat itu empat kali. Di dapurnya, dua gelas masih terpasang rapi di rak. Di kalender di dinding, lingkaran merah bertuliskan "3 bulan"—hitungan waktu mereka mulai tinggal bersama lagi.

Dan Raka duduk diam, memilih untuk tidak menjadi pria yang dulu.

༺♡༻

Selama dua jam pertama, Raka benar-benar duduk diam. Ia membuat kopi, meminumnya dingin, lalu membaca surat itu lagi. Jangan cari aku. Tiga kalimat yang oleh Alya lama dulu pernah ia ucapkan dengan mulut gemetar di kafe Kemang, dan dulu ia mengabaikannya, mengejarnya, mengubah ketakutan menjadi tuduhan.

Pukul sepuluh, ia menyerah pada versi dirinya yang baru: tidak mengejar dengan amarah, tapi juga tidak duduk diam seperti orang yang sudah menyerah. Ia menelepon Laras.

"Laras, Alya ada di kantor?"

"Nggak, Kak. Dia izin tiga hari, bilang urusan keluarga." Laras berhenti sebentar. "Kenapa, Kak? Suara lo aneh."

"Urusan keluarga," ulang Raka. "Dia bilang keluarga yang mana?"

"Nggak bilang. Cuma bilang, 'Aku perlu ketemu seseorang yang nungguin gue terlalu lama.'" Laras menurunkan suaranya. "Kak, sebenernya dari Rabu kemaren gue pengen nelpon lo. Alya itu... dari dapet paket aneh itu, dia kayak orang yang habis denger kabar duka. Lo tahu soal paket itu, kan?"

Raka menutup mata. "Iya. Paket KTP."

"Terus hari ini dia pergi bawa tas kecil doang. Nggak bawa laptop. Nggak bawa kamera. Orang yang beneran cuti tiga hari bakal bawa laptop, Kak. Alya nggak. Kayak dia nggak niat balik tepat waktu."

"Motornya?"

"Masih di kos. Jadi dia naik transportasi umum, atau..." Laras tidak menyelesaikan kalimatnya.

Atau dijemput, pikir Raka. Atau dia pergi ketemu seseorang yang datang menjemputnya, seseorang yang sejak awal tahu cara membuat Alya datang tanpa perlawanan: ibu kandungnya.

Ia menelepon Bu Wati. Keterangannya pelengkap: Alya berangkat subuh dengan ojek online, menolak dianter, dan sempat berkata satu kalimat yang Bu Wati ingat persis karena anehnya. "Bu, kalau seminggu gue belum balik, lemari gue buat Ibu. Isinya buku-buku bagus."

Raka merasakan dingin yang familiar menjalar di punggungnya. Alya tidak menghilang secara kebetulan. Alya menghilang secara perhitungan—persis seperti yang diajarkan oleh dua puluh delapan tahun hidup bersama ketakutan: kalau ada bahaya, pergi sendirian, jangan tarik siapa-siapa.

Sore itu, ia menemukan satu-satunya jejak yang Alya tinggalkan dengan sengaja. Di dalam laci meja rias, di bawah tumpukan kaus kaki, sebuah kertas lipat kecil. Fotokopi KTP versi lamanya dari paket itu, dan di baliknya, tulisan tangan perempuan asing yang rapi: sebuah alamat di Garut, dan kalimat pendek: "Rumah teh di ujung jalan. Datang sendirian, sebelum Kamis. Kalau kamu sayang ibumu, jangan terlambat."

Raka menatap alamat itu lama. Di sinilah titik di mana kepercayaan dan kenyataan bertabrakan. Alya bilang jangan cari. Tapi surat ini bilang, ada tenggat. Dan Raka sudah berjanji pada dirinya sendiri di masa lalu yang suram: tidak akan pernah lagi membaca ancaman sebagai kebetulan.

༺♡༻

Malam itu Raka tidak tidur. Ia duduk di meja makan dengan dua benda di depannya: surat Alya dan fotokopi KTP berbalas alamat, seperti dua versi cerita yang menuntut dipilihnya. Pukul dua pagi, ia mengetik pesan untuk Dimas.

"Gue butuh lo telusurin satu nomor. Nomor yang kirim pesan soal ibu kandung Alya. Dan gue butuh lo siapin mobil besok pagi."

Balasan Dimas datang tiga menit kemudian. "Lo yakin? Alya bilang jangan cari."

"Gue tau. Tapi ada alamat di Garut dan ada tenggat Kamis. Gue nggak akan bawa Alya pulang paksa. Gue cuma mau ada di deket dia kalau dia butuh. Beda itu, Dimas. Dulu gue ngejar buat ngambil. Besok gue ngejar buat nemenin."

Pagi buta, Raka berangkat bersama Dimas. Mobil meluncur keluar Bandung dalam hujan gerimis, melewati perkebunan teh yang berbaris hijau di kanan kiri jalan. Garut. Kota yang sama sekali baru baginya, kota yang tidak pernah disebut Alya dalam tiga tahun mereka bersama. Dan justru di sinilah semua rahasia itu bersembunyi.

Di perjalanan, Dimas meneruskan hasil penelusurannya. "Nomor yang nelpon Alya itu pakai kartu perdana, aktif cuma dua puluh jam. Tapi sebelum mati, nomor itu sempet nelpon satu nomor lain di Garut. Pemiliknya: Rania Wulandari, umur lima puluh dua, warga Garut. Dan Rak, gue nemuin satu hal lagi dari arsip lama. Dua puluh tujuh tahun lalu, ada berita kecil di koran Garut. Perempuan muda bernama Rania melahirkan anak perempuan di Puskesmas, ayah tidak tercatat. Tiga bulan kemudian, Rania menikah dengan pria dari keluarga besar pemilik perkebunan. Anak itu tidak pernah muncul di keluarga baru."

Raka menatap jalan basah di depan. "Anaknya disembunyiin."

"Atau diserahkan," kata Dimas pelan. "Kalau gue bener, Rak, ibu kandung Alya itu sekarang istri orang kaya. Dan orang kaya yang punya rahasia biasanya punya orang yang disewa buat jagain rahasia itu."

Heri Saputra. Detektif swasta berlisensi cabut. Pembayaran atas nama Alya sendiri. Semua potongan itu jatuh ke tempatnya satu per satu, seperti domino yang sejak awal sudah disusun miring.

"Ada satu yang gue nggak ngerti," kata Raka. "Kenapa sekarang? Kalau rahasia ini dua puluh tujuh tahun, kenapa diungkit sekarang?"

"Karena neneknya baru aja masuk rumah sakit," jawab Dimas, menunjukkan layar laptopnya. "Rukiyah Halim, delapan puluh satu tahun, pemilik sesungguhnya perkebunan itu. Dokumen warisan yang bocor ke notaris bulan lalu bilang, dia mewariskan sebagian tanah kepada cucu perempuan yang tidak pernah diakui: Alya Puspita."

Raka hampir meminta Dimas menepi. "Jadi semua ini soal warisan?"

Lihat selengkapnya