Takdir yang Memisahkan
༺♡༻ Mereka gagal bertemu. ༺♡༻
Pagi itu, Alya bangun dengan perasaan yang berbeda.
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, ia tidak merasa takut membuka ponselnya. Tidak ada lagi keinginan untuk menghindari pesan Arga. Tidak ada lagi alasan untuk membiarkan waktu berjalan tanpa kepastian.
Hari ini, mereka akan bertemu.
Bukan untuk membicarakan masa depan yang terlalu jauh. Bukan pula untuk memaksa hubungan mereka kembali seperti semula.
Alya hanya ingin melihat Arga.
Ingin mendengar penjelasan dari mulutnya sendiri.
Ingin mengatakan bahwa meskipun hatinya masih terluka, ia tidak pernah benar-benar berhenti mencintai laki-laki itu.
Di depan cermin, Alya merapikan jilbab berwarna krem yang dikenakannya. Ia memilih pakaian sederhana, sebuah tunik putih dengan rok panjang berwarna cokelat muda. Tidak ada perhiasan berlebihan. Hanya gelang tipis pemberian Arga yang akhirnya ia kenakan kembali setelah beberapa hari disimpan di dalam laci.
Ia memandang gelang itu.
“Semoga hari ini semuanya menjadi lebih baik,” bisiknya.
Ponselnya bergetar.
Arga: Selamat pagi, Alya. Kamu sudah siap?
Alya tersenyum.
Alya: Sudah. Kamu?
Balasan datang tidak lama kemudian.
Arga: Aku juga. Kita bertemu pukul sepuluh, ya. Di tempat yang dulu pernah kita datangi.
Alya membaca pesan itu dengan hati berdebar.
Tempat yang dulu pernah mereka datangi.
Sebuah kedai kopi kecil di sudut taman kota, tempat Arga pertama kali mengatakan bahwa ia ingin mengenal Alya lebih dekat. Tempat yang menyimpan begitu banyak percakapan sederhana, tawa, dan harapan.
Alya mengetik:
Alya: Baik. Aku akan datang.
Kemudian ia meletakkan ponsel.
Dari luar kamar, suara ibunya terdengar.
“Alya, sarapan dulu!”
“Iya, Bu!”
Alya mengambil tasnya.
Sebelum keluar, ia kembali menatap bayangan dirinya di cermin.
Ada ketakutan di matanya.
Tetapi juga ada harapan.
Hari ini, ia akan bertemu Arga.
Hari ini, mungkin semua pertanyaan akan menemukan jawaban.
Dan mungkin, setelah percakapan itu, mereka bisa mulai membangun kembali sesuatu yang selama ini hampir runtuh.
Alya belum tahu bahwa takdir terkadang memiliki cara yang sangat halus untuk memisahkan dua orang yang sudah berusaha saling menemukan.
༺♡༻
Di rumah Arga, suasana pagi tidak kalah sibuk.
Arga berdiri di depan lemari, memilih pakaian yang akan dikenakannya. Ia mengambil kemeja biru muda, lalu memadukannya dengan celana panjang hitam.
Fardhan yang duduk di sofa memperhatikan dengan senyum kecil.
“Tumben kamu lama sekali memilih pakaian.”
Arga menoleh.
“Kenapa?”
“Biasanya kamu mengambil apa saja yang ada.”
Arga tersenyum.
“Hari ini berbeda.”
“Karena Alya?”
Arga mengangguk.
Fardhan tertawa pelan.
“Semoga kamu tidak membuatnya semakin bingung.”
Arga menghela napas.
“Aku tidak ingin membuatnya bingung. Aku hanya ingin menjelaskan semuanya.”
“Termasuk masalah keluarga?”
Arga terdiam.
“Termasuk itu.”
Fardhan menatapnya lebih serius.
“Kamu sudah memikirkan apa yang akan kamu katakan?”
Arga mengangguk.
“Aku akan mengatakan yang sebenarnya.”
“Semua?”
Arga menunduk.
“Semua yang perlu dia ketahui.”
Fardhan menghela napas.
“Arga, Alya sudah terlalu lama menunggu kejelasan. Jangan lagi menyimpan sesuatu hanya karena kamu takut dia terluka.”
“Aku tahu.”
“Dan jangan menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa kamu penuhi.”
Arga menatap sahabatnya.
“Aku tidak akan menjanjikan apa pun.”
“Lalu?”
“Aku hanya ingin dia tahu bahwa aku tidak pernah berhenti berusaha.”
Fardhan tersenyum tipis.
“Itu lebih baik.”
Arga mengambil ponselnya.
Pukul sembilan lewat lima belas.
Masih ada waktu.
Ia membuka percakapan dengan Alya.
Arga: Aku berangkat sebentar lagi.
Balasan Alya datang.
Alya: Baik. Hati-hati.
Arga tersenyum.
Ia memasukkan ponsel ke saku.
Namun, ketika hendak keluar dari kamar, suara ayahnya terdengar dari ruang kerja.
“Arga, kemari sebentar.”
Arga berhenti.
Fardhan menoleh.
“Panggilan keluarga.”
Arga menghela napas.
“Aku hanya sebentar.”
Ia berjalan menuju ruang kerja.
Ayahnya duduk di balik meja, dengan beberapa dokumen terbuka di hadapannya. Wajahnya terlihat serius.
“Ada apa, Yah?”
“Duduklah.”
Arga duduk.
Ayahnya mengambil sebuah map.
“Kamu tahu bahwa keluarga kita sedang menghadapi persoalan yang cukup besar.”
Arga mengangguk.
“Aku tahu.”
“Dan kamu juga tahu bahwa keputusan yang akan kita ambil hari ini akan menentukan banyak hal.”
Arga menatapnya.
“Ayah, aku ada janji.”
“Dengan Alya?”
Arga terdiam.
Ayahnya menghela napas.
“Arga, ini bukan saatnya memikirkan hubungan pribadi.”
Arga menatap ayahnya.
“Justru karena keadaan sedang sulit, aku harus menyelesaikan masalah ini dengan jujur.”
Ayahnya terdiam.
“Duduklah sebentar. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui.”
Arga melihat jam tangannya.
Pukul sembilan lewat dua puluh lima.
Ia masih memiliki waktu.
“Baik, Yah.”
Ayahnya membuka map.
“Ini berkaitan dengan keputusan keluarga yang selama ini belum pernah kita bicarakan secara terbuka.”
Arga menatap dokumen itu.
“Keputusan apa?”
Ayahnya belum menjawab.
Ponsel Arga bergetar.
Pesan dari Alya.
Alya: Aku berangkat sekarang.
Arga membaca pesan itu.
Jarinya bergerak cepat.
Arga: Baik. Aku juga akan segera berangkat.
Ia memasukkan ponsel ke saku.
Namun, ayahnya kembali berbicara.
“Arga, dengarkan dulu.”
Arga menarik napas.
“Baik, Yah.”
Di tempat lain, Alya sudah duduk di dalam mobil bersama sopir keluarga.
Ia memandangi jalan dari balik jendela.
Hujan semalam meninggalkan genangan kecil di beberapa sudut jalan. Matahari mulai muncul, tetapi langit masih tampak kelabu.
Ibunya menelepon.
“Sudah berangkat?”
“Sudah, Bu.”
“Jangan terburu-buru.”
“Iya.”
“Dan jangan lupa, apa pun yang terjadi hari ini, kamu tetap harus menjaga hatimu.”
Alya tersenyum kecil.
“Aku akan mencoba.”
“Arga sudah sampai?”
“Belum. Tapi katanya dia akan segera berangkat.”
Ibunya terdiam.
“Semoga kalian bisa bicara dengan baik.”
Alya mengangguk meskipun ibunya tidak bisa melihat.
“Aamiin.”
Panggilan berakhir.
Alya menatap gelang di pergelangan tangannya.
Hari ini, ia akan bertemu Arga.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi.
Tetapi ia sudah siap mendengar kebenaran.
Sementara itu, di ruang kerja ayahnya, Arga belum juga beranjak.
Dan waktu terus berjalan.
༺♡༻
Pukul sembilan lewat empat puluh.
Arga masih berada di ruang kerja ayahnya.
Di hadapannya, dokumen-dokumen yang terbuka semakin banyak. Ada laporan perusahaan, surat perjanjian, dan beberapa lembar dokumen yang membuat wajah Arga berubah serius.
“Ayah, apa semua ini?”
Ayahnya menatapnya.
“Ini adalah persoalan yang harus kita selesaikan sebelum akhir pekan.”
Arga mengusap wajah.
“Aku mengerti. Tapi kenapa baru sekarang Ayah memberitahuku?”
“Karena kami tidak ingin kamu terbebani.”
Arga tersenyum pahit.
“Bukankah itu alasan yang sama yang selama ini aku gunakan kepada Alya?”
Ayahnya terdiam.
Arga menunduk.
“Aku selalu berpikir bahwa menyembunyikan masalah adalah cara melindungi orang yang kucintai.”
Ayahnya menghela napas.
“Arga…”
“Tapi ternyata tidak.”
Ia mengangkat wajah.
“Kalau kita terus menyimpan semuanya, orang-orang yang paling dekat dengan kita justru akan merasa tidak dipercaya.”
Ayahnya memandang putranya.
“Ini bukan perkara sederhana.”
“Aku tahu.”
“Kalau kamu keluar sekarang, kita mungkin kehilangan kesempatan untuk menyelesaikan semuanya.”
Arga menatap jam tangannya.
Pukul sembilan lewat empat puluh lima.
“Aku hanya perlu waktu satu jam.”
Ayahnya menggeleng.
“Arga, duduklah.”
Arga terdiam.
Ia ingin pergi.
Sangat ingin.
Namun, ada sesuatu dalam sikap ayahnya yang membuatnya merasa bahwa masalah ini jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
“Baik,” katanya akhirnya.
Di kedai kopi, Alya sudah tiba.
Ia turun dari mobil, lalu berjalan menuju pintu masuk.
Tempat itu masih sama.
Meja-meja kayu, lampu gantung berwarna kuning hangat, dan aroma kopi yang memenuhi ruangan.
Alya memilih meja di dekat jendela.
Meja yang dulu pernah mereka tempati.
Seorang pelayan datang.
“Selamat pagi, Nona. Mau pesan apa?”
Alya tersenyum.
“Cappuccino satu, ya.”
“Baik.”
Pelayan pergi.
Alya membuka ponselnya.
Alya: Aku sudah sampai.
Ia menunggu.
Tidak ada balasan.
Beberapa menit kemudian, ia melihat jam.
Pukul sepuluh tepat.
Arga belum datang.
Alya mencoba berpikir positif.
Mungkin jalanan macet.
Mungkin ada sesuatu yang membuatnya terlambat.
Ia membuka percakapan lagi.
Alya: Kamu masih di jalan?
Pesan terkirim.
Tidak ada jawaban.
Alya menatap pintu kedai.
Setiap kali seseorang masuk, ia mengangkat wajah.
Namun, bukan Arga.
Seorang ibu dengan anak kecil.
Dua orang mahasiswa.
Seorang laki-laki dengan laptop.
Alya menghela napas.
Pukul sepuluh lewat sepuluh.
Kopi pesanannya datang.
“Ini, Nona.”
“Terima kasih.”
Alya mengambil cangkir.
Ia menyesap sedikit.
Namun, pikirannya tidak benar-benar berada di sana.
Ia teringat percakapan terakhir mereka.
“Aku ingin menjelaskan semuanya.”
“Aku akan datang.”
Alya tersenyum kecil.
“Arga tidak mungkin lupa.”
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Tetapi ponselnya tetap diam.
---
Di ruang kerja, Arga akhirnya mengetahui alasan sebenarnya ayahnya memintanya datang.
Ayahnya menyerahkan sebuah dokumen.
“Baca ini.”
Arga mengambilnya.
Matanya bergerak membaca setiap baris.
Semakin lama, wajahnya semakin tegang.
“Ayah…”
“Ini belum final.”
Arga mengangkat wajah.
“Kenapa ada nama keluarga ini?”
Ayahnya terdiam.
“Karena mereka adalah pihak yang bisa membantu menyelamatkan perusahaan.”
Arga menatap dokumen itu.
“Dengan syarat?”
Ayahnya tidak menjawab.
Arga menutup mata.
“Jangan bilang…”
Ayahnya menghela napas.
“Arga, ini bukan keputusan yang sudah dibuat. Tapi mereka menginginkan hubungan yang lebih dekat dengan keluarga kita.”
Arga menatap ayahnya.
“Hubungan yang lebih dekat?”
“Kamu tahu maksudnya.”
Arga berdiri.
“Tidak.”
Ayahnya menatapnya.
“Duduklah.”
“Ayah, aku sudah bilang aku tidak akan menerima pertunangan apa pun.”
“Tidak ada yang meminta kamu menerima sekarang.”
“Tapi kalian sedang membicarakannya.”
Ayahnya terdiam.
Arga menggenggam dokumen itu.
“Dan Alya?”
Ayahnya menunduk.
“Arga…”
“Apakah keluarga ini tahu tentang Alya?”
Ayahnya tidak menjawab.
Arga tertawa pahit.
“Jadi, selama ini kalian membicarakan masa depan tanpa pernah mempertimbangkan apa yang akan terjadi pada hubungan kami?”
“Ini demi keluarga.”
“Dan aku?”
“Kamu juga bagian dari keluarga.”
Arga menatap ayahnya.
“Kalau begitu, kenapa aku selalu menjadi orang terakhir yang tahu?”
Ayahnya menghela napas.
“Arga, jangan membuat keadaan semakin sulit.”
Arga menatap jam.
Pukul sepuluh lewat lima belas.
Ia mengambil ponsel.
Ada beberapa pesan dari Alya.
Alya: Kamu masih di jalan?
Arga merasa dadanya sesak.
Ia mengetik cepat.
Arga: Maaf, aku masih ada urusan.
Ia berhenti.
Menghapusnya.
Mengetik lagi.
Arga: Alya, tunggu aku sebentar. Aku akan segera datang.
Pesan terkirim.
Namun, sebelum ia sempat berdiri, ayahnya berkata,
“Arga, kamu tidak bisa pergi begitu saja.”
Arga menoleh.
“Aku sudah berjanji kepada Alya.”
Ayahnya terdiam.
“Dan aku tidak akan mengingkari janji itu.”
Ia melangkah menuju pintu.
Namun, ketika tangannya menyentuh gagang, ponselnya kembali bergetar.
Panggilan masuk.
Nomor dari kantor pusat.
Arga menatap layar.
Kemudian menoleh kepada ayahnya.
“Ada apa lagi?”
Ayahnya menjawab,
“Angkatlah.”
Arga menghela napas.
Ia menerima panggilan.
“Ya?”
Suara di seberang terdengar tegang.
“Pak Arga, kami membutuhkan keputusan Anda sekarang. Ada masalah besar di kantor.”
Arga terdiam.
“Masalah apa?”
“Bapak harus datang secepatnya.”
Arga menutup mata.
Pukul sepuluh lewat dua puluh.
Di kedai kopi, Alya masih menunggu.
Ia membuka ponsel.
Tidak ada pesan baru.
Alya menatap cangkir kopinya yang mulai dingin.
“Arga…”
Ia menghela napas.
Mungkin ada sesuatu yang terjadi.
Mungkin Arga benar-benar sedang menghadapi masalah.
Namun, ia tetap berharap laki-laki itu akan datang.
Karena hari ini, ia tidak hanya ingin mendengar penjelasan.
Ia ingin melihat apakah Arga masih memilihnya ketika keadaan tidak mudah.
---
Pukul sepuluh lewat tiga puluh.
Alya menerima pesan.
Arga: Alya, maaf. Aku sedang menghadapi masalah yang tidak bisa kutinggalkan.
Alya membaca pesan itu.
Dadanya terasa berat.
Ia mengetik:
Alya: Masalah apa?
Balasan tidak datang.
Alya menunggu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.