Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #70

Pesan yang Tidak Pernah Terkirim

Malam turun perlahan di atas kota, menyelimuti gedung-gedung tinggi dengan cahaya lampu yang tampak dingin dari balik jendela kamar Raka. Hujan baru saja berhenti. Tetes air masih mengalir di kaca, membentuk garis-garis kecil yang menyerupai air mata yang enggan jatuh.

Raka duduk sendirian di tepi ranjang. Jas yang dikenakannya sejak sore telah ia lepaskan dan diletakkan sembarangan di atas kursi. Kemejanya kusut. Rambutnya berantakan. Wajahnya terlihat lelah, bukan karena pekerjaan, melainkan karena terlalu banyak hal yang berputar di dalam kepalanya.

Di tangannya, ponsel menyala.

Nama Alya masih berada di urutan paling atas dalam daftar percakapan.

Raka menatap nama itu cukup lama, seolah hanya dengan memandangnya, jarak di antara mereka dapat menghilang. Ia membuka ruang percakapan tersebut. Pesan terakhir dari Alya masih terpampang di layar.

Alya:

“Aku akan mendengarkan penjelasanmu. Tapi kali ini, jangan membuatku menunggu tanpa kepastian.”

Raka menarik napas panjang.

Ia sudah membaca pesan itu berkali-kali. Setiap kali membacanya, dadanya terasa semakin sesak. Alya tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan. Ia hanya ingin kejelasan. Ia hanya ingin Raka hadir ketika berjanji. Namun, bahkan permintaan sederhana itu pun gagal ia penuhi.

Raka mengetik sesuatu.

“Alya, maaf.”

Ia berhenti.

Kalimat itu terasa terlalu pendek untuk menampung semua kesalahannya.

Ia menghapusnya, lalu kembali mengetik.

“Aku tidak pernah bermaksud membuatmu terluka.”

Kembali ia hapus.

Raka menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ada perasaan yang tidak cukup dijelaskan dengan kata maaf. Ada luka yang tidak sembuh hanya karena seseorang mengaku menyesal.

Ia mulai menulis pesan yang lebih panjang.

Pesan yang mungkin dapat menjelaskan semuanya.

Pesan yang mungkin dapat menyelamatkan hubungan mereka.

Namun, pesan itu tidak pernah terkirim.

༺♡༻

Raka mengingat kembali sore ketika ia seharusnya menemui Alya.

Hari itu, Alya telah berjanji menunggunya di sebuah kedai kopi kecil yang sering mereka datangi. Tempat itu tidak terlalu mewah, tetapi memiliki sudut dekat jendela yang menjadi tempat favorit mereka. Di sana, mereka pernah menghabiskan berjam-jam hanya untuk membicarakan masa depan, impian, dan hal-hal sederhana yang membuat cinta terasa mudah.

Raka seharusnya datang tepat waktu.

Namun, sebelum ia meninggalkan kantor, ayahnya memanggil.

“Raka, duduklah. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.”

Raka berdiri di depan meja kerja ayahnya. Di ruangan itu, terdapat beberapa dokumen yang tersusun rapi. Di sampingnya, sebuah map berwarna biru tua tergeletak terbuka.

“Aku sudah berjanji kepada seseorang,” kata Raka.

“Janji kepada Alya?” tanya ayahnya.

Raka diam.

Ayahnya menghela napas. “Kamu masih menganggap hubungan itu bisa berjalan seperti biasa?”

“Kenapa tidak?”

“Karena keadaan keluarga kita tidak sedang baik-baik saja.”

Raka memandang dokumen di atas meja. “Apa hubungannya dengan Alya?”

“Ada banyak hal yang belum kamu ketahui.”

“Kalau begitu, jelaskan kepada aku.”

Ayahnya terdiam cukup lama sebelum mendorong map tersebut ke arah Raka.

“Baca.”

Raka membuka dokumen itu. Di dalamnya terdapat laporan keuangan perusahaan, surat perjanjian, dan beberapa nama perusahaan yang selama ini menjadi mitra bisnis keluarga mereka. Namun, ada satu lembar yang membuat pandangannya berhenti.

Nama keluarga Alya tercantum di sana.

Raka mengerutkan kening.

“Ini apa?”

“Hubungan keluarga kita dengan keluarga Alya jauh lebih rumit daripada yang kamu bayangkan.”

“Ayah tahu tentang keluarganya?”

“Tentu saja.”

“Sejak kapan?”

“Sejak sebelum kamu mengenal Alya.”

Raka merasakan sesuatu yang dingin menjalar di dalam tubuhnya.

“Kenapa Ayah tidak pernah memberitahuku?”

“Karena aku ingin kamu menjauh.”

Raka menatap ayahnya dengan tidak percaya.

“Ayah tidak berhak menentukan siapa yang boleh aku cintai.”

“Aku berhak melindungimu.”

“Dengan menyembunyikan kebenaran?”

“Dengan mencegah kamu mengulang kesalahan yang pernah dilakukan keluarga kita.”

Raka menggeleng. “Aku tidak mengerti.”

Ayahnya berdiri, berjalan menuju jendela, lalu memandang kota yang mulai gelap.

“Dulu, keluarga kita pernah terlibat dalam sebuah kesepakatan dengan keluarga Alya. Kesepakatan itu berakhir dengan kehancuran hubungan kedua keluarga. Ada pengkhianatan, ada utang, dan ada seseorang yang harus menanggung semua akibatnya.”

“Siapa?”

Ayahnya tidak langsung menjawab.

“Raka, untuk sementara, jangan temui Alya.”

Raka mengepalkan tangan.

“Aku sudah berjanji kepadanya.”

“Batalkan.”

“Aku tidak akan melakukannya.”

“Kalau kamu tetap menemui dia, kamu akan menyeretnya ke dalam masalah yang belum selesai.”

Raka mengambil ponselnya. Ia melihat waktu. Alya pasti sudah tiba di kedai kopi.

“Aku harus pergi.”

Ayahnya menahan suara. “Raka!”

Namun, Raka sudah melangkah keluar.

Ia masuk ke dalam mobil dan segera melaju. Hujan turun semakin deras. Jalanan macet. Setiap lampu merah terasa seperti penghalang yang sengaja diletakkan takdir di hadapannya.

Ponselnya bergetar.

Alya:

“Kamu di mana?”

Raka mengetik cepat.

“Aku sedang menuju ke sana.”

Namun, sebelum pesan itu terkirim, sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal masuk ke ponselnya.

“Raka?”

“Siapa?”

“Kalau kamu masih ingin Alya selamat dari masalah ini, jangan datang menemuinya.”

Raka mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

“Jangan bertanya. Dengarkan saja.”

“Siapa kamu?”

Sambungan terputus.

Raka menatap layar ponsel dengan dada berdebar. Di luar, hujan semakin deras. Ia ingin tetap pergi menemui Alya, tetapi ancaman itu membuatnya ragu.

Untuk pertama kalinya, ia takut bukan pada kehilangan dirinya sendiri.

Ia takut sesuatu terjadi kepada Alya karena dirinya.

༺♡༻

Raka akhirnya tidak sampai ke kedai kopi.

Ia berhenti di sebuah persimpangan, memarkir mobil di tepi jalan, lalu menatap layar ponselnya. Pesan dari Alya kembali masuk.

Alya:

“Raka, aku sudah sampai.”

Beberapa detik kemudian, pesan lain muncul.

Alya:

“Apa kamu baik-baik saja?”

Raka memejamkan mata.

Ia bisa membayangkan Alya duduk sendirian di sudut dekat jendela. Mungkin tangannya menggenggam cangkir kopi yang mulai dingin. Mungkin ia sesekali menoleh ke arah pintu, berharap Raka muncul dengan senyum dan alasan sederhana.

Raka mengetik.

“Aku minta maaf. Ada urusan mendadak.”

Ia membaca kalimat itu.

Terlalu sederhana.

Terlalu kejam.

Ia menghapusnya.

Kemudian mengetik lagi.

“Alya, aku ingin datang, tetapi ada sesuatu yang harus kuselesaikan terlebih dahulu.”

Ia kembali berhenti.

Kalimat itu juga tidak cukup.

Apa yang harus ia katakan? Bahwa ayahnya menyuruhnya menjauh? Bahwa keluarga mereka memiliki masa lalu yang belum selesai? Bahwa ada seseorang yang mengancam keselamatan Alya?

Jika ia mengatakan semuanya, Alya pasti akan bertanya lebih jauh. Jika ia diam, Alya akan menganggapnya tidak peduli.

Raka memilih diam.

Pilihan yang kelak paling ia sesali.

Di kedai kopi, Alya menunggu hampir satu jam.

Pelayan datang menghampirinya.

“Maaf, Kak. Apakah masih menunggu seseorang?”

Alya mengangguk kecil. “Iya.”

“Kalau pesanannya ingin ditambah, silakan panggil kami.”

“Terima kasih.”

Pelayan itu pergi. Alya menatap cangkir di depannya. Kopi yang semula hangat kini telah kehilangan uap. Ia membuka ponsel.

Tidak ada pesan dari Raka.

Alya menekan tombol panggilan. Nada sambung terdengar beberapa kali, tetapi tidak diangkat.

Ia mencoba lagi.

Tetap tidak ada jawaban.

Di tempat lain, Raka melihat panggilan itu masuk. Tangannya bergerak hendak mengangkat, tetapi ia teringat ancaman yang baru saja diterimanya.

Ia membiarkan ponselnya berdering.

Ketika panggilan berhenti, Raka menunduk.

“Maaf, Alya,” bisiknya.

Namun, permintaan maaf itu hanya terdengar oleh dirinya sendiri.

Tak lama kemudian, Fardhan datang menemui Raka setelah menerima pesan singkat darinya.

“Kamu kenapa?” tanya Fardhan.

Raka masih duduk di dalam mobil.

“Aku tidak jadi menemui Alya.”

Fardhan menatapnya tajam. “Lagi?”

“Ada masalah.”

“Masalah apa?”

Raka tidak menjawab.

Fardhan membuka pintu mobil dan masuk ke kursi penumpang. “Kamu tahu, kan, bahwa Alya sudah berkali-kali mencoba memahami keadaanmu?”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu terus membuatnya menunggu?”

“Aku tidak bermaksud begitu.”

“Tidak bermaksud bukan berarti tidak menyakiti.”

Raka memandang sahabatnya.

“Ayahku mengatakan ada hubungan masa lalu antara keluarga kami dan keluarga Alya.”

Fardhan terdiam.

“Apa maksudnya?”

“Aku tidak tahu. Ada dokumen, ada kesepakatan lama, dan ada seseorang yang mengancamku agar tidak menemui Alya.”

“Ancaman?”

Raka mengangguk.

“Kenapa kamu tidak melapor?”

“Karena aku bahkan belum tahu siapa orangnya.”

“Setidaknya kamu harus memberi tahu Alya.”

“Kalau aku memberi tahu, dia akan takut.”

“Dia akan lebih takut kalau mengetahui semuanya dari orang lain.”

Raka mengusap wajah.

“Aku hanya ingin melindunginya.”

Lihat selengkapnya