Pagi datang dengan cahaya yang lembut, menyusup melalui celah tirai kamar Alya. Udara masih menyimpan sisa dingin malam. Di luar jendela, suara kendaraan mulai terdengar, disusul kicauan burung yang bertengger di pohon halaman rumah.
Alya berdiri di depan cermin.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu, ia mengenakan pakaian dengan warna cerah. Blus putih sederhana dipadukan dengan rok biru muda. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya tidak lagi terlihat seperti seseorang yang semalaman menangis.
Namun, di balik senyum kecil yang ia coba bentuk, masih ada kesedihan yang belum sepenuhnya pergi.
Ia mengambil ponsel dari atas meja.
Nama Raka tidak lagi berada di daftar percakapan utama. Sejak malam ketika Raka datang ke rumahnya dan berbicara dengan Rania, Alya memilih memblokir semua jalur komunikasi laki-laki itu. Bukan karena ia sudah berhenti mencintai, melainkan karena ia tidak tahu bagaimana caranya bertahan tanpa terus terluka.
Alya membuka aplikasi catatan.
Di sana, ia menulis sebuah kalimat:
“Hari ini aku akan mulai hidup tanpa menunggu siapa pun.”
Ia membaca kalimat itu berkali-kali.
Kemudian, ia mengunci layar ponselnya.
“Alya, sarapan dulu!” panggil ibunya dari bawah.
“Iya, Bu. Sebentar!”
Alya mengambil tas, lalu keluar kamar. Langkahnya terasa ringan, meski tidak sepenuhnya bebas dari beban.
Di meja makan, ibunya memperhatikan perubahan kecil itu.
“Kamu terlihat lebih segar hari ini.”
Alya tersenyum. “Aku ingin mencoba memulai semuanya lagi.”
“Memulai apa?”
“Hidupku.”
Ibunya menatap putrinya dengan penuh kasih.
“Tanpa Raka?”
Alya terdiam sejenak.
“Dengan atau tanpa Raka, hidupku harus tetap berjalan, Bu.”
Kalimat itu terdengar tegas.
Namun, hanya Alya yang tahu betapa sulitnya mengucapkannya.
Hari itu, ia memutuskan untuk kembali bekerja, bertemu orang-orang baru, dan mengisi waktunya dengan kegiatan yang selama ini ia tinggalkan.
Alya ingin melupakan Raka.
Atau setidaknya, ia ingin belajar menjalani hari tanpa menjadikan Raka sebagai alasan untuk tersenyum maupun menangis.
༺♡༻
Alya bekerja di sebuah yayasan pendidikan yang mengelola program beasiswa bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Selama beberapa bulan terakhir, pekerjaannya terbengkalai karena pikirannya terlalu dipenuhi masalah pribadi.
Hari itu, ia datang lebih awal.
Ruangan kantor masih sepi ketika Alya meletakkan tas di atas meja. Ia menyalakan komputer, membuka beberapa berkas, lalu mulai memeriksa laporan kegiatan.
Tidak lama kemudian, seorang perempuan masuk sambil membawa dua gelas kopi.
“Alya!”
Alya mengangkat wajah.
“Nadia?”
Nadia, sahabat sekaligus rekan kerjanya, meletakkan satu gelas kopi di meja Alya.
“Aku dengar kamu sudah kembali menjadi manusia.”
Alya tertawa kecil. “Memangnya selama ini aku apa?”
“Mayat hidup yang hanya datang ke kantor, menatap layar, lalu pulang.”
“Aku separah itu?”
“Lebih.”
Alya mengambil kopi tersebut.
“Terima kasih.”
Nadia duduk di kursi sebelahnya. Ia memperhatikan Alya beberapa detik sebelum bertanya dengan hati-hati.
“Kamu sudah benar-benar tidak berhubungan dengan Raka?”
Alya menatap layar komputer.
“Tidak.”
“Dia masih mencarimu?”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu tidak ingin tahu?”
Alya menghela napas.
“Kalau aku ingin tahu, aku akan kembali membuka pintu untuknya.”
Nadia terdiam.
Alya memutar kursinya.
“Aku lelah, Nad.”
“Karena dia?”
“Karena aku selalu merasa harus memahami semuanya sendiri. Setiap kali ada masalah, dia menghilang. Setiap kali aku bertanya, jawabannya hanya nanti, tunggu, atau percaya saja.”
Nadia mengangguk pelan.
“Lalu sekarang?”
“Sekarang aku ingin percaya kepada diriku sendiri.”
Sebelum Nadia menjawab, kepala yayasan masuk membawa beberapa dokumen.
“Alya, saya ingin membicarakan sesuatu.”
Alya segera berdiri.
“Silakan, Pak.”
“Kami mendapat tawaran kerja sama dari sebuah perusahaan. Mereka ingin mendukung program beasiswa dan meminta kamu menjadi koordinator utama.”
Alya menerima berkas yang disodorkan.
“Perusahaan apa, Pak?”
“Perusahaan yang cukup besar. Namanya Arunika Foundation.”
Alya membaca halaman pertama.
“Arunika?”
“Ya. Mereka akan membiayai pembangunan pusat belajar baru di daerah pesisir. Programnya akan berlangsung selama tiga bulan.”
“Di luar kota?”
“Di sebuah desa pesisir. Kamu mungkin harus tinggal di sana selama beberapa waktu.”
Alya menatap dokumen itu.
Selama ini, ia selalu berada di lingkungan yang sama. Rumah, kantor, dan tempat-tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan bersama Raka. Kedai kopi, taman kota, jalan tempat mereka pernah berjalan, semuanya seperti memiliki bayangan laki-laki itu.
Tawaran tersebut terasa seperti kesempatan untuk menjauh.
“Apakah saya boleh memikirkannya?”
“Tentu. Tapi kami membutuhkan jawaban paling lambat besok.”
Nadia langsung menyela setelah kepala yayasan pergi.
“Kamu harus ambil.”
Alya menoleh. “Kamu bahkan belum tahu apakah aku sanggup.”
“Justru karena aku tahu kamu sedang membutuhkan sesuatu yang baru.”
“Kalau aku pergi, pekerjaanku di sini bagaimana?”
“Aku bisa membantumu.”
Alya kembali membaca berkas tersebut.
“Desa pesisir?”
“Bayangkan. Udara laut, anak-anak kecil, pekerjaan baru, dan tidak ada Raka.”
Alya menatap Nadia.
“Kamu sengaja menyebut nama itu?”
“Supaya kamu ingat alasan kenapa kamu harus pergi.”
Alya tersenyum tipis.
Di dalam hatinya, ia tahu Nadia benar.
Ia tidak bisa terus tinggal di tempat yang membuat setiap sudut terasa seperti luka. Ia membutuhkan ruang untuk bernapas. Ia membutuhkan hari-hari yang tidak dipenuhi pertanyaan tentang mengapa Raka tidak datang, mengapa Raka diam, dan mengapa cinta mereka harus terasa begitu rumit.
“Aku akan mengambilnya,” kata Alya akhirnya.
Nadia tersenyum lebar.
“Bagus!”
“Tapi aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut ketika pergi nanti, aku masih tetap memikirkannya.”
Nadia menggenggam tangan Alya.
“Melupakan seseorang bukan berarti tidak pernah mengingatnya lagi. Kadang-kadang, melupakan berarti kamu tetap mengingat, tetapi tidak lagi membiarkan ingatan itu mengendalikan hidupmu.”
Alya menunduk.
Kata-kata itu sederhana.
Namun, untuk pertama kalinya, ia merasa mungkin masih ada jalan keluar dari kesedihan yang selama ini mengurungnya.
༺♡༻
Tiga hari kemudian, Alya tiba di sebuah desa pesisir yang terletak cukup jauh dari pusat kota. Desa itu dikelilingi hamparan laut biru, kebun kelapa, dan rumah-rumah sederhana yang berdiri berdekatan.
Pusat belajar yang akan dibangun masih berupa bangunan kosong dengan dinding setengah jadi. Di halaman depannya, beberapa anak bermain bola menggunakan sandal sebagai tiang gawang.
Ketika Alya turun dari mobil, seorang laki-laki muda menghampirinya.
“Selamat datang, Kak Alya?”
Alya mengangguk.
“Benar. Kamu siapa?”
“Saya Dimas. Koordinator lapangan dari Arunika Foundation.”
Dimas tersenyum ramah. Ia mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku dan celana panjang sederhana. Wajahnya terlihat bersahabat.
“Perjalanan jauh?”
“Lumayan. Tapi pemandangannya membuat capek sedikit hilang.”
“Kalau begitu, Kakak akan betah di sini.”
Alya melihat sekeliling.
“Semoga.”
Dimas mengambil salah satu tas Alya.
“Penginapan sudah disiapkan. Rumahnya milik Bu Salma, warga desa. Letaknya tidak jauh dari sini.”
“Terima kasih. Tapi saya bisa membawa tas sendiri.”
“Tidak apa-apa. Anggap saja sambutan pertama.”
Alya tersenyum.
“Baiklah.”
Hari-hari pertama di desa itu dipenuhi kesibukan. Alya harus menyusun jadwal belajar, mendata anak-anak, menghubungi para relawan, dan memastikan pembangunan pusat belajar berjalan sesuai rencana.
Ia hampir tidak memiliki waktu untuk memikirkan Raka.
Hampir.
Pada malam pertama, setelah semua pekerjaan selesai, Alya duduk di beranda rumah Bu Salma. Laut terlihat gelap dari kejauhan. Angin membawa aroma asin yang menenangkan.
Bu Salma keluar membawa dua cangkir teh.
“Belum tidur, Nak?”
“Belum, Bu.”
“Di kota biasanya tidur larut juga?”
“Kadang.”
“Menunggu seseorang?”
Pertanyaan itu membuat Alya tersentak.
Bu Salma tertawa kecil.
“Maaf. Ibu hanya menebak.”
Alya menerima cangkir teh.
“Dulu mungkin iya.”
“Sekarang?”
Alya menatap laut.
“Sekarang saya sedang belajar tidak menunggu.”
Bu Salma duduk di sampingnya.
“Kalau seseorang memang ditakdirkan untuk kita, dia akan menemukan jalan pulang.”
Alya tersenyum pahit.
“Bagaimana kalau dia tidak pulang?”
“Berarti mungkin Tuhan sedang mengajarkan kita cara pulang kepada diri sendiri.”
Alya menatap perempuan tua itu.
Kalimat tersebut terasa begitu sederhana, tetapi menyentuh tempat paling dalam di hatinya.
“Bu Salma pernah mengalami hal seperti itu?”
Bu Salma mengangguk.
“Suami Ibu meninggal ketika anak-anak masih kecil. Dulu Ibu merasa hidup sudah selesai. Tapi ternyata, setelah kehilangan seseorang, kita masih diberi banyak alasan untuk terus hidup.”
“Apa alasan Ibu?”
“Anak-anak, pekerjaan, tetangga, dan pagi yang selalu datang meski malam terasa panjang.”
Alya menunduk.
“Kalau saya belum bisa melupakan seseorang?”
“Jangan memaksa melupakan.”
“Lalu?”
“Belajarlah mengingat tanpa berharap dia kembali.”
Alya terdiam.
Malam itu, ia tidur dengan pikiran yang sedikit lebih tenang.
Namun, pagi berikutnya, sebuah kejadian kecil kembali mengusik hatinya.
Ketika sedang mengatur buku-buku di pusat belajar, Dimas datang membawa sebuah kotak.
“Kak Alya, ini sumbangan buku dari salah satu donatur.”
Alya membuka kotak itu.
Di antara buku cerita anak dan buku pelajaran, terdapat sebuah novel dengan sampul biru tua. Sampul itu mengingatkannya pada buku yang pernah diberikan Raka ketika ulang tahunnya.
Alya segera menutup kotak.
Dimas memperhatikan perubahan wajahnya.
“Kakak tidak apa-apa?”
“Tidak. Hanya sedikit lelah.”
“Kalau begitu, istirahat dulu.”
“Aku masih harus menyusun daftar anak-anak.”
“Daftarnya bisa menunggu. Kakak tidak harus menyelesaikan semuanya sendirian.”
Alya menatap Dimas.
“Terima kasih.”
Dimas tersenyum.
“Di sini, semua orang saling membantu.”
Hari demi hari berlalu.
Alya mulai mengenal anak-anak desa. Ada Lila yang suka menggambar, Beni yang selalu datang paling awal, dan Faris yang awalnya tidak mau membaca karena merasa dirinya bodoh.
Alya menghabiskan waktu bersama mereka.
“Bu Guru, kalau saya sudah besar, saya boleh jadi dokter?” tanya Faris suatu sore.
“Tentu boleh.”
“Tapi saya tidak pintar.”
“Siapa yang bilang?”
“Teman-teman.”
Alya berjongkok di hadapan Faris.
“Dengar. Pintar bukan berarti selalu langsung bisa. Pintar berarti mau belajar meski sulit.”
“Kalau saya salah?”
“Kita perbaiki.”
“Kalau saya gagal?”
“Kita coba lagi.”
Faris tersenyum.
“Kalau begitu, saya mau jadi dokter.”
Alya mengusap kepala anak itu.
“Kejar cita-citamu.”
Percakapan tersebut membuat Alya menyadari sesuatu. Selama ini, ia terlalu sering menganggap kegagalan sebagai akhir. Ketika Raka tidak datang, ia merasa dirinya tidak cukup penting. Ketika hubungan mereka penuh rahasia, ia merasa dirinya tidak layak mendapatkan kejujuran.
Padahal, mungkin kegagalan hubungan bukan bukti bahwa dirinya tidak berharga.
Suatu sore, Dimas mengajak Alya berjalan menyusuri pantai.
“Tidak terlalu jauh,” katanya. “Saya ingin menunjukkan tempat terbaik untuk melihat matahari terbenam.”
Alya membawa sandal di tangan, membiarkan kakinya menyentuh pasir basah.
“Di sini indah sekali.”
“Makanya saya bilang, Kakak akan betah.”