Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #72

Lelaki yang Menunggu

Lampu-lampu kota yang terpantul di atas permukaan aspal basah malam itu menciptakan ilusi bak pecahan kaca yang berkilauan. Raka berdiri terpaku di trotoar, membiarkan gerimis tipis membasahi bahu jaket kulit hitamnya yang mulai mendingin. Suasana di luar kafe yang remang-remang terasa begitu lengang, berbanding terbalik dengan kecamuk hebat yang menghantam isi dadanya. Di dalam sana, bayangan masa lalu yang seharusnya sudah terkubur erat kini kembali melintas di balik kaca jendela besar. Sosok wanita itu—wanita yang pernah mengisi seluruh ruang napasnya—masih duduk di meja sudut, menatap cangkir kopinya yang menguapkan sisa kehangatan terakhir.

Raka menghirup napas dalam-dalam, merasakan udara dingin menusuk tenggorokannya dengan tajam. Ada desakan liar untuk melangkah masuk, memutar waktu, dan menagih semua janji yang pernah ditinggalkan tanpa kepastian. Namun, genggaman jarinya di saku jaket mendadak mengetat ketika meraba sebuah benda kecil yang bertengger manis di sana. Sebuah cincin perak berdesain sederhana, simbol ikatan yang kini ia jaga dengan seluruh martabatnya. Ia bukan lagi pria yang bisa berbelok arah hanya karena angin masa lalu mendadak bertiup kencang. Ia adalah pria yang telah memilih untuk berlabuh pada kepastian yang baru.

"Kenapa kau hanya berdiri di situ seperti patung?" suara bariton kencang memecah lamunan Raka dari balik punggungnya.

Raka menoleh lambat, menemukan Dimas yang berjalan menghampirinya sambil memegang payung hitam yang terbuka lebar. "Aku hanya sedang memastikan sesuatu, Dim," jawab Raka pelan, suaranya terdengar datar namun sarat akan beban berat.

Dimas menghentikan langkahnya tepat di samping Raka, lalu menatap lurus ke arah jendela kafe yang menyajikan pemandangan sosok wanita di dalam sana. "Dia sudah menunggu sejak dua jam yang lalu, Raka. Apakah kau benar-benar tidak akan menemuinya meski hanya untuk mengucap salam?"

"Jika aku melangkah ke dalam sana, itu artinya aku memberi ruang untuk keraguan," bisik Raka tegas. "Dan aku sudah berjanji tidak akan pernah meragukan pilihanku lagi."

Dimas menghela napas panjang, lalu menggeser payungnya agar turut menutupi tubuh Raka dari terpaan gerimis. "Pilihan selalu punya harga yang harus dibayar mahal, Sahabatku."

༺♡༻ Peristiwa Pemicu

Pintu kaca kafe mendadak berdenting lembut, menghentikan percakapan singkat di antara kedua pria itu. Sosok wanita di dalam meja sudut rupanya menyadari keberadaan Raka di luar dan memutuskan untuk keluar menerobos dinginnya malam. Langkah kakinya yang tergesa-gesa terdengar menggeletuk di atas trotoar basah, membawa aroma parfum vanilla yang sangat familier dalam ingatan Raka. Nadia berhenti tepat tiga langkah di hadapan Raka, tatapan matanya bergetar menahan tumpukan emosi yang meledak-ledak.

"Aku tahu kau berada di luar sejak tadi, Raka," ucap Nadia dengan suara parau yang bergetar menahan dingin dan rasa haru. "Kenapa kau tidak masuk? Kenapa kau membiarkan aku menunggu seperti orang bodoh di dalam sana?"

Raka menatap wajah Nadia yang memucat. Ada bayangan kerinduan mendalam di mata wanita itu, namun Raka memilih untuk mempertegas garis batas di antara mereka. "Kau tidak seharusnya menungguku lagi, Nadia. Waktu kita sudah lama selesai."

Nadia menggelengkan kepalanya dengan cepat, langkahnya maju satu tapak mendekati Raka. "Tidak, Raka! Semuanya belum selesai! Aku kembali hanya untukmu. Semua kesalahpahaman di masa lalu... aku bisa jelaskan semuanya sekarang. Beri aku satu kesempatan lagi untuk meluruskan semuanya."

"Penjelasan di masa lalu tidak akan mengubah apa pun yang ada di masa sekarang," potong Raka dingin, berusaha keras menyembunyikan getaran di dalam dadanya.

"Bagaimana bisa kau sekejam ini?" bisik Nadia, air matanya mulai luruh menyatu dengan tetesan gerimis di pipinya. "Aku mengorbankan segalanya untuk kembali ke kota ini, Raka. Aku menunggumu di sini karena aku tahu di dalam hatimu yang paling dalam, masih ada namaku yang tertinggal."

Dimas yang berdiri di samping Raka mencoba menginterupsi keadaan yang semakin memanas. "Nadia, sebaiknya kita bicarakan ini dengan kepala dingin. Hari sudah terlalu malam dan hujan mulai deras."

"Diam kau, Dimas!" seru Nadia tanpa mengalihkan pandangannya dari Raka. "Ini urusanku dengan Raka. Aku hanya butuh jawabannya langsung. Raka, tatap mataku dan katakan kalau kau memang sudah tidak mencintaiku lagi!"

Raka menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam manik mata Nadia yang penuh keputusasaan. "Tatapanku tidak akan berubah, Nadia. Hatiku sudah milik orang lain."

Nadia tertawa sumbang, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menutupi rasa sakit yang mendalam. "Orang lain? Maksudmu wanita yang baru hadir beberapa bulan dalam hidupmu itu? Kau mengorbankan kenangan bertahun-tahun kita hanya demi seseorang yang baru kau kenal?"

"Dia bukan sekadar orang baru," jawab Raka dengan penekanan yang sangat jelas pada setiap kata. "Dia adalah orang yang memilih untuk tetap tinggal ketika kau memilih untuk pergi meninggalkan luka."

༺♡༻

Kalimat Raka menghantam dada Nadia bagaikan pukulan telak yang menyakitkan. Suasana di trotoar depan kafe terasa makin mencekam saat hujan turun semakin lebat, menciptakan ketukan-ketukan kencang di atas kanvas payung Dimas. Nadia menyapu air mata di wajahnya secara kasar, tatapannya kini berubah menjadi penuh ketidakpercayaan sekaligus kemarahan yang meluap-luap.

"Kau membenciku karena aku pergi?" tanya Nadia dengan nada menuduh yang tajam. "Kau tahu betul alasanku pergi saat itu, Raka! Aku tidak punya pilihan lain! Keluarga, keadaan, dan semua tekanan itu memaksa aku untuk mundur sementara waktu!"

Raka menatap Nadia tanpa mengerdipkan mata sedikit pun. "Pergi tetaplah pergi, Nadia. Kau memilih untuk menyelamatkan dirimu sendiri dan membiarkanku hancur sendirian menghadapi ketidakpastian selama bertahun-tahun."

"Tapi aku kembali sekarang!" teriak Nadia hysteric, tak peduli pada beberapa pejalan kaki yang mulai menoleh curiga ke arah mereka. "Aku kembali untuk memperbaiki segalanya! Apakah rasa sakitmu di masa lalu begitu besarnya sampai-sampai kau menutup mata atas semua perjuanganku untuk kembali ke sisimu?"

"Bukan soal rasa sakit yang membuatku menutup mata," sahut Raka tenang, meski dadanya terasa sesak luar biasa. "Ini tentang kehormatan sebuah janji. Ketika aku memutuskan untuk membuka hati bagi orang baru, aku menanamkan janji untuk tidak pernah berpaling. Kesetiaan bukanlah sesuatu yang bisa kau tawar hanya karena masa lalumu datang melambaikan tangan."

Dimas menyentuh bahu Raka pelan, mencoba meredam ketegangan yang kian membuncah. "Raka, bicaralah dengan pelan. Kita bisa mencari tempat yang lebih privat untuk menyelesaikannya secara baik-baik."

"Tidak ada yang perlu diselesaikan lagi di tempat privat, Dimas," potong Nadia dengan suara bergetar keras. Ia memajukan tubuhnya, menatap Raka dari jarak yang sangat dekat. "Katakan padaku, Raka... apakah kau sungguh-sungguh mencintainya? Atau kau hanya menjadikannya pelarian untuk melupakan rasa sakit yang kuukir?"

Raka mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Jangan pernah merendahkan perasaanku padanya dengan sebutan pelarian. Aku mencintainya dengan kesadaran penuh. Dia memberikan kedamaian yang tidak pernah kurasakan saat bersamamu."

"Kedamaian?" Nadia tertawa sinis, air matanya kian deras mengalir. "Kau menyebut kepalsuan itu sebagai kedamaian? Kita punya sejarah, Raka! Kita punya ribuan kenangan yang tidak akan pernah bisa kau hapus begitu saja dengan wanita baru itu!"

Lihat selengkapnya