
Waktu berlalu tanpa kepastian, menjelma menjadi rintik hujan yang tak kunjung reda di sudut Kota Bandung. Sudah lima bulan berlalu sejak Raka menghilang tanpa jejak, meninggalkan ruang hampa di dada Alya yang tak pernah bisa diisi oleh siapa pun.
Alya duduk termangu di sudut Kedai Kopi Seruni, tempat favorit yang dahulu selalu riuh oleh gelak tawa mereka berdua. Jemarinya menelusuri tepian cangkir kapucino dingin yang sudah tak tersentuh selama sejam terakhir. Uapnya telah menguap, sama seperti janji-janji Raka yang menguap ke udara tanpa menyisakan kejelasan sedikit pun.
"Masih menunggu berita dari Raka, Al?" suara hangat Maya, sahabat dekatnya sekaligus pemilik kedai, memecah ketenangan sore itu. Maya datang membawa nampan kayu kecil dan meletakkan sepiring pastel hangat di atas meja.
Alya menarik napas panjang, mencoba meredam denyut nyeri yang langsung menjalari dadanya setiap kali nama itu diucapkan. "Seratus lima puluh hari, May. Bukan cuma lima hari atau lima minggu. Dia hilang seperti ditelan bumi."
"Kamu sudah coba tanya ke kantor cabangnya lagi?" tanya Maya seraya menarik kursi di hadapan Alya, menatap iba pada lingkaran hitam di bawah mata sahabatnya.
"Sudah berkali-kali," jawab Alya pelan. Suaranya bergetar menahan desakan air mata. "Teman-temannya bilang Raka mengambil cuti panjang tanpa batas waktu. Teleponnya mati, alamat kontrakannya di Jakarta kosong, bahkan ibunya di Magelang mengaku tak tahu-menahu."
"Itu aneh sekali, Al. Raka bukan tipe laki-laki yang lari dari masalah. Pasti ada alasan besar di balik semua ini," bisik Maya penuh penekanan.
Alya merogoh saku mantelnya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah dipenuhi goresan halus. Dia membuka aplikasi pesan singkat, menatap baris demi baris percakapan terakhir mereka yang tertanggal lima bulan lalu. Tidak ada tanda centang biru, tidak ada kepastian, hanya deretan pesan searah dari Alya yang tak pernah tersampaikan.
"Aku cuma butuh satu kalimat penjelasan, May," ujar Alya lirih. "Kalau dia mau putus, katakan langsung. Jangan biarkan aku menggantung di antara harapan dan keputusasaan seperti ini."
"Kamu harus belajar merelakan, Al. Jangan menyiksa diri kamu setiap hari," saran Maya lembut seraya mengusap jemari Alya yang dingin.
"Bagaimana bisa aku merelakan kalau setiap sudut kota ini selalu mengingatkan aku padanya?" bisik Alya menatap keluar jendela yang berembun.
Tiba-tiba, lonceng pintu kedai berdentang nyaring. Seorang petugas kurir berjaket merah basah kuyup melangkah masuk seraya membawa sebuah kotak kardus kecil terbungkus plastik hitam rapat.
"Permisi, apakah ada yang bernama Sdri. Alya Kirana di sini?" tanyanya nyaring seraya menyapu pandangan ke sekeliling ruangan.
Alya menegakkan tubuhnya, jantungnya mendadak berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. "Saya Alya."
"Ada paket kilat khusus untuk Anda, Mbak. Dikirim tadi malam dari pos cabang Sleman, Yogyakarta," kata kurir itu seraya menyodorkan papan resi untuk ditandatangani.
Alya menandatangani resi itu dengan tangan yang gemetaran hebat. Setelah kurir berlalu, Maya mendekat penasaran. "Dari siapa, Al? Ada nama pengirimnya?"
Alya memeriksa label alamat. Tempat pengirim hanya tertulis sebaris inisial samar: 'R.K. - Mlati, Sleman'.
"Raka..." gumam Alya hampir tak terdengar. Dengan tergesa-gesa, dia merobek plastik pembungkus kotak tersebut.
Di dalam kotak berlapis kertas koran bekas itu, terbaring sebuah objek yang sangat dikenal Alya. Jam tangan perak berdiameter sedang dengan tali kulit cokelat tua—jam tangan pemberian Alya di ulang tahun Raka dua tahun lalu. Kaca jam itu retak di bagian angka sembilan, dan jarum jamnya telah mati tepat pada pukul 03.15.
Di bawah jam tangan itu, terdapat secarik kertas lusuh yang terlipat rapi. Alya membuka lipatan kertas tersebut dan menemukan tulisan tangan Raka yang miring dan khas, namun tampak goyah di beberapa bagian:
'Alya, maafkan aku. Jangan cari aku lagi. Hapus semua kenangan kita demi kebaikanmu sendiri. Biarkan aku menyelesaikan takdirku sendiri.'
Di sudut bawah kertas itu, terdapat noda kering berwarna cokelat kehitaman yang menyerupai sisa bercak darah.
:°˖✧✿✧˖°
Petunjuk berdarah itu membuat dada Alya bergolak hebat. Rasa sedih yang menumpuk selama lima bulan mendadak berganti menjadi kobaran tekad yang membara. Dia tak bisa lagi berdiam diri menerima surat perpisahan yang janggal tersebut.
"Ini bukan tulisan orang yang ingin mengakhiri hubungan karena bosan, May! Raka sedang dalam bahaya!" seru Alya seraya mengemas jam tangan itu kembali ke dalam kotak.
"Al, kamu mau ke mana?" tanya Maya cemas melihat Alya yang langsung berdiri tegak.
"Aku harus menemui Dimas di Jakarta sekarang juga. Dimas sahabat terkecilnya Raka, dia pasti menyembunyikan sesuatu dariku!" tegas Alya tanpa ragu.
Dua jam kemudian, Alya sudah berada di dalam travel menuju Jakarta. Sepanjang perjalanan, otaknya terus berputar menyusun puzzle yang tercecer. Mengapa Raka berada di Sleman? Mengapa jam tangannya retak dan berdarah?
Malam harinya, Alya tiba di studio arsitektur milik Dimas di kawasan Kemang. Dimas yang kaget melihat kedatangan Alya yang mendadak langsung tampak gugup dan menghindar.
"Al, untuk apa kamu datang malam-malam begini?" tanya Dimas seraya mematikan rokoknya terburu-buru.
"Jangan berbohong lagi padaku, Dim!" Alya membanting kotak paket itu ke atas meja kerja Dimas hingga pena-pena berserakan. "Jam tangan Raka dikirim dari Sleman tadi pagi! Ada bercak darah di suratnya! Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi padanya?"
Dimas mengusap wajahnya yang pucat. Dia mengalihkan pandangan dari mata Alya yang membara. "Aku tak tahu apa-apa, Al. Raka cuma bilang dia mau menepi sebentar."
"Bohong!" pekik Alya dengan air mata menetes. "Kamu temannya sejak SMA! Kamu pikir aku percaya? Kalau kamu tidak mau bicara, aku akan lapor polisi malam ini juga bahwa Raka diculik atau dibunuh!"
Dimas terhenyak. Dia memegang pundak Alya yang gemetaran. "Jangan lapor polisi, Al! Itu cuma akan memperburuk situasi Raka!"
"Kalau begitu bicaralah!" tuntut Alya seraya mencengkeram lengan kemeja Dimas.
Dimas menghela napas berat, merobohkan benteng rahasianya. "Baiklah. Tapi kamu harus janji untuk tetap tenang."
"Katakan saja, Dim!"
"Raka menderita kelainan katup jantung bawaan yang memburuk secara drastis sejak enam bulan lalu," ungkap Dimas pelan. "Dokter bilang kemungkinannya bertahan hidup sangat kecil tanpa operasi transplantasi yang biayanya miliaran rupiah."
Dunia Alya seolah runtuh seketika. "Kenapa... kenapa dia tidak pernah cerita padaku?"
"Karena Raka tidak mau menjadi beban hidupmu, Al," jawab Dimas liris. "Bukan cuma itu. Pamannya, Pak Hendra, memanfaatkan kondisi fisik Raka untuk merebut seluruh aset yayasan peninggalan almarhum ayahnya. Raka bersembunyi di klinik peristirahatan tua di kaki Gunung Merapi untuk menghindari ancaman anak buah Pak Hendra sekaligus menjalani perawatan intensif."
"Klinik apa namanya, Dim? Di mana lokasinya?" cecar Alya tanpa buang waktu lagi.
"Klinik Sanatorium Medika di Mlati," balas Dimas gundah. "Tapi Al, tempat itu berbahaya. Pak Hendra sudah menaruh mata-mata di sekitar Sleman."
"Aku tidak peduli berbahaya atau tidak! Aku akan berangkat ke Yogyakarta malam ini juga!" ucap Alya mantap seraya membalikkan badan menuju pintu keluar.
"Al, tunggu! Biar aku antar!" teriak Dimas.
"Tidak perlu, Dim. Kamu jaga diri di sini dan hubungi aku kalau ada perkembangan," seru Alya menembus kegelapan malam Jakarta.
:°˖✧✿✧˖°
Kereta malam membawa Alya membelah kegelapan Pulau Jawa menuju Stasiun Tugu Yogyakarta. Hujan lebat menyambut langkah kakinya begitu tiba di bumi Mataram pada subuh yang dingin. Tanpa sempat beristirahat, Alya menyewa taksi menuju daerah Mlati, Sleman.
Klinik Sanatorium Medika berdiri terpencil di antara rindangnya pohon-pohon beringin tua. Bangunan bergaya kolonial itu tampak sepi dan diselimuti kabut tipis dari lereng Merapi.
Alya melangkah cepat memasuki ruang resepsionis yang berbau antiseptik menyengat. Seorang perawat paruh baya berwajah ramah menyambutnya di balik meja kayu tua.
"Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa perawat itu lembut.
"Selamat pagi, Suster. Saya mencari pasien bernama Raka Kusuma. Apakah dia masih dirawat di sini?" tanya Alya penuh harap.
Wajah perawat itu berubah ragu. Dia membuka buku register pasien tebal di mejanya. "Mas Raka Kusuma... maaf Mbak, beliau sudah tidak dirawat di sini sejak tiga minggu yang lalu."
Jantung Alya serasa berhenti berdetak. "Tidak ada lagi? Ke mana dia pergi, Suster? Apakah kondisinya sudah membaik?"