Hujan turun sejak sore tanpa ada tanda-tanda akan berhenti. Jakarta seperti selalu—sibuk, membara, dan sama sekali tidak peduli pada orang-orang yang berdiri kedinginan di halte bus atau yang meneduh di bawah kanopi minimarket. Raka berdiri di depan sebuah kafe kecil di bilangan Kemang, tempat yang entah bagaimana masih bisa membuatnya berhenti melangkah meski ia tahu seharusnya ia tidak.
Enam tahun. Enam tahun dan pemandangan di depannya tidak berubah banyak. Meja kayu tua di dekat jendela masih di sana, lengkap dengan noda kopi yang tidak pernah bisa hilang. Di dinding masih tergantung lukisan abstrak yang dulu selalu membuat Alya mengernyit, mengatakan bahwa seni semacam itu hanya dibuat oleh orang yang terlalu malas untuk belajar menggambar.
Tapi Alya tidak ada di sana. Tidak pernah ada. Tidak selama enam tahun terakhir.
Raka memasukkan kedua tangan ke saku jaket kulitnya, berniat masuk untuk sekadar menghangatkan tubuh sebelum kembali ke hotel. Besok pagi ia harus terbang lagi—ke Singapura, lalu ke mana lagi, ia sendiri tidak yakin. Hidupnya akhir-akhir ini memang seperti itu: sekumpulan penerbangan dan hotel yang saling tersambung, tanpa titik pulang.
Ia menarik napas panjang, membuka pintu kafe, dan bau kopi yang pekat langsung menyambutnya. Saat itulah ia mendengar suara itu. Suara yang selama enam tahun hanya ia dengar dalam mimpi, dan bahkan di mimpi pun suara itu masih mampu membuat dadanya terasa diremas.
"I'll have the usual, please. Dan roti cokelat hangat, kalau masih ada."
Raka membeku di ambang pintu. Tetesan air hujan masih menempel di rambutnya, melengkung di ujung, jatuh ke lantai. Perlahan, ia menoleh ke arah konter—dan dunia seperti berhenti berputar.
Alya berdiri di sana, membelakanginya, rambutnya sedikit lebih panjang dari yang ia ingat. Blus krem, rok panjang gelap, sepatu hak yang rapi. Ia sedang mengambil kembalian dari barista dengan senyum sopan yang dulu hanya Raka yang bisa melihatnya lepas tanpa aturan.
Enam tahun disiapkan untuk banyak hal, tapi Raka baru sadar sekarang bahwa ia tidak pernah menyiapkan diri untuk ini: Alya, nyata, berjarak tiga meter, dan sama sekali tidak mengetahui bahwa dunia yang selama ini ia bangun dengan susah payah barusan retak sebelum akhirnya pecah berkeping-keping.
༺♡༻
Barista menyapa Raka—"Selamat datang, Mas. Mau pesan apa?"—tapi suara itu tidak sampai ke telinganya. Yang terdengar hanya detak jantungnya sendiri, berdegup terlalu cepat, terlalu keras.
Seolah merasakan sesuatu, Alya menoleh. Waktu berjalan lambat saat pandangan mereka bertemu.
Pertama, Alya tersenyum—senyum iseng yang dulu selalu ia simpan khusus untuk Raka, senyum yang mengatakan kamu menarik perhatianku tanpa harus berusaha. Lalu senyum itu berubah. Kerutan kecil muncul di dahinya, seolah otaknya sedang memproses sesuatu yang mustahil. Mata cokelatnya melebar sedikit.
"...Raka?"
Suara itu. Ada getaran di ujungnya yang bahkan Alya sendiri tidak bisa kendalikan.
Raka menelan ludah. "Hai, Ly."
Alya tidak bergerak. Jari-jarinya mencengkeram tas dengan kencang sampai buku-buku jarinya memutih. "Hai?" Suaranya naik satu oktaf, lalu turun lagi menjadi bisikan tajam. "Enam tahun tidak ada kabar, lalu cukup dengan... hai?"
"Ly, aku—"
"Jangan." Alya mengangkat tangannya, telapak menghadap Raka seperti sedang menghentikan lalu lintas. Matanya menyala—marah, bingung, terluka. Semuanya sekaligus. "Jangan dulu. Beri aku lima detik."
Raka mematuhinya. Di sekeliling mereka, hidup terus berjalan—grinder kopi berdengung, dua mahasiswa tertawa di sudut, hujan menempel di kaca. Lima detik berubah jadi sepuluh. Alya menatapnya tanpa berkedip, dan Raka membiarkan dirinya ditatap, karena ia tahu ia pantas menerima semua amarah yang tersimpan di mata itu.
"Alya, aku tahu ini aneh," Raka akhirnya membuka suara, "aku tahu aku seharusnya—"
"Kenapa sekarang?" Alya memotong. "Kenapa di sini? Kenapa tidak tiga tahun lalu? Kenapa tidak kemarin, atau kemarin-kemarinnya? Apa kabar yang tiba-tiba itu? Apa Jakarta terlalu kecil untuk dua orang yang tidak mau saling bertemu?"
"Aku tidak tahu kamu ada di sini."
"Benar." Alya tertawa getir, dan suara itu terdengar lebih menyakitkan daripada teriakannya. "Kamu tidak pernah tahu apa-apa. Itu memang keahlianmu, bukan? Pergi tanpa penjelasan, menghilang tanpa jejak, lalu datang lagi dan berpikir bahwa semuanya bisa diulang dari nol."
"Ly, dengarkan aku—"
"Menurutmu aku mau mendengarkan?" Alya mundur selangkah, lalu berhenti, lalu maju lagi, seolah tubuhnya sendiri bingung harus pergi atau bertahan. "Kamu tahu berapa malam aku menghabiskan waktu menunggu teleponmu? Kamu tahu berapa kali aku menulis surat yang tidak pernah aku kirim? Tujuh puluh empat, Raka. Aku masih ingat. Karena hari ini tanggalnya sama—delapan belas September—dan setiap delapan belas September aku merayakan ulang tahun kematianku sendiri."
Kalimat terakhir itu keluar terlalu pelan, terlalu jujur. Alya sendiri tampak menyesalinya segera setelah mengatakannya. Ia memalingkan wajah, berjalan cepat ke arah pintu.
Dan Raka, tanpa berpikir dua kali, mengikutinya keluar ke dalam hujan.
༺♡༻ Perkembangan Konflik ༺♡༻
"Alya, tunggu!" Raka menarik lengannya—pelan, hanya untuk menghentikan—tapi Alya langsung melepaskannya seperti tersengat listrik.
"Jangan pegang aku." Suaranya bergetar, entah karena hujan atau karena amarah. "Jangan pernah pegang aku lagi."
Mereka berdiri di bawah atap ruko yang basah, hanya beberapa meter dari kafe. Hujan membuat jalanan menjadi sungai kecil yang berpendar kuning oleh lampu-lampu kota.
"Kamu basah," kata Raka tolol.
"Dan kamu masih suka mengalihkan topik." Alya menyibakkan rambut yang menempel di pipinya. "Lima menit. Kamu punya lima menit. Kalau setelah itu kamu masih di sini, aku akan berteriak memanggil polisi dan bilang ada mantan yang mengikutiku."
Raka menarik napal panjang. Enam tahun pengalaman presentasi di depan direksi perusahaan multinasional, dan ia tidak pernah segugup ini.
"Aku kehilangan semuanya, Ly. Hampir semuanya."
"Kamu kehilangan?" Alya tertawa tanpa humor. "Kamu yang kehilangan? Kamu tahu apa yang aku kehilangan? Aku kehilangan kamu tanpa diberi tahu kenapa! Aku kehilangan semua mimpi kita tanpa diizinkan bertanya! Dan kamu datang ke sini, basah kuyup, dan bilang kamu yang kehilangan?"