Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #75

Tatapan yang Masih Sama

Pagi itu, langit desa pesisir tampak lebih cerah daripada biasanya. Cahaya matahari menembus sela-sela daun kelapa, jatuh sebagai bayangan tipis di halaman pusat belajar tempat Alya menghabiskan sebagian besar waktunya.

Anak-anak berlarian membawa buku. Suara tawa mereka bercampur dengan debur ombak yang terdengar dari kejauhan. Semuanya terlihat sederhana, tenang, dan jauh dari kehidupan lama yang penuh kemewahan, kebohongan, serta rahasia keluarga.

Namun, ketenangan itu tidak pernah benar-benar mampu menghapus satu nama dari pikirannya.

Raka.

Alya sedang berdiri di depan papan tulis ketika seorang anak kecil mengangkat tangan.

“Kak Alya, hari ini ada tamu, ya?”

Alya menoleh. “Tamu siapa?”

“Katanya ada orang dari kota datang. Mobilnya bagus sekali.”

Alya tersenyum kecil. “Mungkin orang yang ingin membantu pusat belajar ini.”

“Laki-laki, Kak,” sahut anak yang lain. “Tinggi, pakai kemeja putih.”

Senyum Alya perlahan menghilang.

Tangannya yang memegang spidol terdiam di udara.

Kemeja putih.

Tinggi.

Datang dari kota.

Jantungnya berdetak lebih cepat, seolah tubuhnya mengenali sesuatu yang belum berani diterima oleh pikirannya.

“Namanya siapa?” tanya Alya, berusaha terdengar biasa.

Anak itu mengangkat bahu. “Tidak tahu. Tapi dia sedang berbicara dengan Pak Harun.”

Alya menundukkan wajah. Ia mencoba mengatur napas, mencoba meyakinkan dirinya bahwa dunia tidak selalu berputar di sekitar Raka.

Mungkin bukan dia.

Mungkin hanya seseorang yang kebetulan memiliki ciri serupa.

Namun, ketika angin membawa aroma parfum yang begitu dikenalnya, Alya tahu bahwa harapan untuk tidak bertemu kembali telah runtuh.

Ada seseorang berdiri di luar ruangan.

Seseorang yang selama ini berusaha ia lupakan.

Dan ketika Alya menoleh ke arah pintu, sepasang mata yang dulu selalu membuatnya merasa pulang sedang menatapnya dari sana.

Tatapan itu masih sama.

༺♡༻

Raka berdiri di ambang pintu dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Wajahnya terlihat lebih matang daripada terakhir kali Alya melihatnya. Ada bayang-bayang lelah di bawah matanya, tetapi sorotnya tetap tenang.

Tetap hangat.

Tetap seperti dulu.

Alya tidak bergerak.

Anak-anak yang berada di dalam ruangan justru menyambutnya dengan penuh rasa ingin tahu.

“Apakah Kakak ini teman Kak Alya?” tanya seorang anak.

Raka mengalihkan pandangan kepada Alya, lalu tersenyum tipis.

“Bisa dibilang begitu.”

Alya segera menurunkan spidol. “Kalian istirahat dulu. Lima belas menit.”

“Kenapa, Kak?”

“Karena Kak Alya perlu berbicara dengan tamu.”

Anak-anak bersorak lalu berhamburan keluar. Beberapa di antara mereka sengaja menoleh kepada Raka dengan senyum penuh rasa penasaran.

Setelah ruangan sepi, Alya berdiri kaku di dekat meja.

“Untuk apa kau datang?” tanyanya.

Raka tidak langsung menjawab. Ia memandang sekeliling ruangan, memperhatikan rak-rak buku sederhana, meja kayu, serta gambar-gambar anak yang ditempel di dinding.

“Aku ingin melihat tempat yang membuatmu memilih tinggal di sini.”

“Sekarang kau sudah melihatnya. Kau bisa pulang.”

“Alya…”

“Jangan panggil namaku seperti itu.”

Raka terdiam.

Nada suara Alya tidak keras, tetapi cukup tajam untuk menunjukkan bahwa kehadirannya telah mengusik luka yang belum sembuh.

“Aku tidak datang untuk mengganggumu,” kata Raka akhirnya.

“Namun, kau tetap menggangguku.”

“Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.”

“Aku baik-baik saja sebelum kau datang.”

Raka menghela napas. “Kau selalu mengatakan itu.”

“Karena memang begitu.”

“Kalau begitu, lihat aku dan katakan sekali lagi.”

Alya mengangkat wajah. “Apa?”

“Lihat aku, lalu katakan bahwa kau benar-benar baik-baik saja.”

Mata mereka bertemu.

Hanya beberapa detik.

Namun, bagi Alya, waktu seperti berhenti di antara keduanya.

Tatapan Raka masih sama. Tatapan yang dahulu membuatnya merasa aman. Tatapan yang selalu berhasil menemukan kegelisahan di balik senyumnya. Tatapan yang membuatnya percaya bahwa tidak ada hal buruk yang mampu memisahkan mereka.

Alya segera memalingkan wajah.

“Aku tidak perlu membuktikan apa pun kepadamu.”

Raka menatapnya dengan sedih. “Aku tahu.”

“Lalu kenapa kau datang?”

“Aku membawa sesuatu.”

Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tasnya, kemudian meletakkannya di atas meja.

Alya tidak menyentuhnya.

“Apa itu?”

“Sesuatu yang mungkin seharusnya sudah kuberikan sejak lama.”

“Kalau itu berkaitan dengan keluargamu, aku tidak ingin tahu.”

“Ini bukan tentang keluargaku saja.”

Alya menatap kotak itu.

“Lalu tentang siapa?”

Raka menatapnya dalam-dalam.

“ tentang kita.”

༺♡༻

Alya tidak segera membuka kotak tersebut. Ia hanya berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada, berusaha menjaga jarak dari benda kecil yang tiba-tiba terasa lebih berbahaya daripada sebuah ancaman.

“Kalau ini tentang masa lalu, aku tidak ingin membukanya,” ucap Alya.

“Kenapa?”

“Karena masa lalu selalu membawa masalah.”

“Tidak semua masa lalu harus menjadi masalah.”

“Bagiku, semua yang berhubungan denganmu selalu berakhir seperti itu.”

Raka menundukkan wajah. Kalimat tersebut jelas melukainya, tetapi ia tidak membantah.

“Aku tahu aku telah membuatmu kecewa.”

“Bukan hanya kecewa.”

“Aku tahu.”

“Kau membuatku merasa bodoh.”

Raka mengangkat wajah.

“Aku mencintaimu, Raka. Aku mempercayaimu. Aku bahkan bersedia berdiri di hadapan keluargaku sendiri demi mempertahankan hubungan kita.” Suara Alya mulai bergetar. “Tetapi ternyata, ada begitu banyak hal yang tidak kau ceritakan.”

“Aku tidak bermaksud menyembunyikannya.”

“Namun, kau tetap menyembunyikannya.”

“Aku ingin melindungimu.”

Alya tertawa pendek, tanpa kebahagiaan. “Kalimat itu selalu digunakan oleh orang-orang yang merasa berhak menentukan apa yang boleh diketahui orang lain.”

“Aku tidak pernah merasa berhak mengatur hidupmu.”

“Benarkah?”

“Benar.”

“Lalu mengapa kau memutuskan sendiri bahwa aku tidak perlu tahu tentang kasus lama itu? Mengapa kau mencari bukti sendirian? Mengapa kau membiarkan aku berpikir bahwa kau pergi karena sudah tidak mencintaiku?”

Raka menarik napas panjang.

“Karena saat itu aku takut.”

“Kau takut apa?”

“Aku takut kehilanganmu.”

Alya terdiam.

Raka melanjutkan, “Aku tahu jika semua kebenaran terbuka, hubungan kita akan semakin sulit. Aku takut kau akan membenciku. Aku takut kau akan menganggap keluargaku sama buruknya dengan apa yang dilakukan Paman Armand.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku tetap takut.”

“Lalu mengapa kau datang?”

“Karena aku lebih takut jika kau benar-benar melupakanku.”

Ruangan itu mendadak terasa sunyi.

Dari luar, terdengar suara anak-anak bermain. Namun, di antara Alya dan Raka, hanya ada kesunyian yang dipenuhi kata-kata tertahan.

Alya memandang kotak kecil di atas meja.

“Buka,” kata Raka.

“Kenapa kau tidak membukanya sendiri?”

“Karena benda itu milikmu.”

Alya menatapnya curiga. Perlahan, ia membuka tutup kotak tersebut.

Di dalamnya terdapat sebuah gelang tipis berwarna perak. Bentuknya sederhana, tetapi di bagian tengah terdapat ukiran kecil berbentuk bunga melati.

Alya langsung mengenalinya.

Napasnya tercekat.

“Dari mana kau mendapatkannya?”

“Dari rumah lama nenekmu.”

Alya mengangkat gelang itu dengan tangan gemetar.

“Aku kehilangan ini bertahun-tahun lalu.”

“Aku menemukannya di sebuah kotak kayu bersama beberapa surat.”

“Surat?”

Raka mengangguk.

“Ada surat yang ditulis ibumu untuk ibuku. Ada juga beberapa catatan tentang hubungan kedua keluarga kita.”

Alya menatapnya tajam. “Apa maksudmu?”

“Aku belum membaca semuanya. Aku hanya tahu bahwa sebelum kita mengenal satu sama lain, keluarga kita sudah pernah memiliki hubungan yang sangat dekat.”

“Hubungan seperti apa?”

Raka terdiam sejenak.

“Aku belum bisa memastikan.”

“Raka, jangan mulai lagi.”

“Aku tidak sedang menyembunyikan sesuatu.”

“Kalau kau tahu sesuatu, katakan.”

“Aku hanya ingin memastikan semuanya sebelum membuat kesimpulan.”

Alya meletakkan gelang itu kembali ke dalam kotak.

“Jadi, kau datang ke sini hanya untuk mengingatkanku bahwa hidup kita sudah diatur oleh orang-orang sebelum kita lahir?”

“Tidak.”

“Lalu apa?”

“Aku datang karena aku ingin kau tahu bahwa perasaanku kepadamu bukan sesuatu yang baru muncul setelah aku membaca surat-surat itu.”

Alya menatapnya.

“Bagaimana aku bisa percaya?”

“Karena sebelum aku tahu semua rahasia itu, aku sudah mencintaimu.”

“Cinta tidak selalu cukup.”

“Aku tahu.”

“Cinta tidak bisa menghapus kebohongan.”

“Aku tahu.”

“Cinta juga tidak bisa membuatku melupakan rasa sakit.”

Raka mengangguk pelan. “Aku tahu.”

Jawaban itu justru membuat dada Alya semakin sesak.

Ia ingin Raka membantah. Ia ingin laki-laki itu mengatakan bahwa semua kesalahpahaman dapat diselesaikan dengan mudah. Ia ingin mendengar janji yang meyakinkan.

Namun, Raka hanya menerima semua kemarahannya.

“Aku tidak datang untuk memaksamu kembali,” katanya. “Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku masih di sini.”

“Untuk apa?”

“Untuk menunggu, jika suatu hari kau ingin berbicara.”

Alya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Bagaimana jika aku tidak pernah ingin berbicara lagi?”

Raka tersenyum sedih.

“Kalau itu pilihanmu, aku akan menghormatinya.”

“Bagaimana jika aku mencintai orang lain?”

Pertanyaan itu keluar sebelum Alya sempat menahannya.

Raka terdiam cukup lama.

“Apakah ada orang lain?” tanyanya.

Alya mengalihkan pandangan.

“Jawab dulu pertanyaanku.”

“Aku akan tetap menghormati pilihanmu.”

“Kau tidak menjawab.”

Lihat selengkapnya