Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #76

Mengapa Kau Masih Mencintaiku?

Enam minggu setelah malam hujan di atap ruko, hidup mereka sudah mulai menemukan polanya sendiri—polanya yang rapuh, masih penuh jeda canggung, tapi polanya. Minggu pagi di apartemen Raka berbau kopi yang terlalu lama dipanaskan dan roti panggang yang gosong di satu sisi, karena Raka memasak dengan cara orang yang terbiasa memesan makanan: penuh keyakinan, minim keterampilan.

"Dua puluh menit kamu cuma menatap layar ponsel," kata Raka dari balik konter dapur, tanpa mengalihkan pandangan dari roti yang mulai mengepul. "Kalau itu email dari kantor, bilang aja. Aku tidak akan tersinggung."

"Bukan email." Alya meletakkan ponselnya terbalik di meja. Kebiasaan baru yang belum ia mengerti: sejak tiga hari lalu, ia menangkap diri sendiri membaca nama-nama di layar Raka setiap kali ponsel itu bergetar. Bukan mencari sesuatu, katanya pada diri sendiri. Hanya... membaca. Seperti orang membaca spanduk di jalan.

Hal-hal kecil mulai menumpuk sejak seminggu lalu. Raka menerima telepon di balkon dan menutup pintu kaca. Raka pulang dua malam lebih larut dari biasanya dengan alasan "urusan kantor" yang tidak ia jelaskan lebih jauh. Dan ada pintu lemari di ruang kerjanya—lemari tua berkunci, yang selalu berkunci, bahkan ketika apartemen ini dalam keadaan paling terbuka.

Alya benci dirinya sendiri karena memperhatikan semua itu. Ia benci lebih lagi karena tahu persis dari mana kebiasaan ini berasal: dari rumah masa kecilnya, tempat pintu-pintu tertutup selalu berarti orang dewasa sedang memutuskan sesuatu tentang hidupnya.

"Nanti sore aku harus ke rumah lama," katanya. "Tahlilan seratus hari Ayah."

"Aku ikut." Raka menaruh piring di hadapannya. "Kecuali kamu tidak mau."

"Aku tidak tahu apakah aku mau." Alya menatap roti gosongnya. "Keluarga besar berarti Mita juga datang. Dan setiap kali melihat Mita, aku merasa ada orang yang mengetahui versi hidupku yang tidak pernah kusaksikan sendiri."

Raka duduk, meraih tangannya di atas meja. "Kalau Mita bicara apa-apa yang membuatmu tidak nyaman, kita pulang. Titik. Tidak ada yang lebih penting dari itu."

Alya tersenyum kecil dan mengangguk. Tapi di dalam dadanya, sesuatu yang lama dan lelah bergeser—karena ia tahu, ia tahu, bahwa manusia tidak bisa berjanji menangkap kita setiap kali kita jatuh. Enam tahun lalu seseorang juga pernah berjanji akan selalu ada.

Dan enam tahun adalah waktu yang sangat lama. Cukup panjang untuk banyak hal terjadi. Cukup panjang untuk segalanya berubah.

༺♡༻

Rumah masa kecil Alya berbau melati dan dupa, dan potret ayahnya di ruang tengah tersenyum dengan kepuasan yang sekarang terasa seperti penghinaan kecil. Doa berjalan panjang, kerabat datang saling menyalami, dan Raka duduk di barisan pria dengan kemeja putihnya, kaku seperti tamu resmi yang tidak diminta namun juga tidak ditolak.

Alya sedang membantu menata kue di dapur belakang ketika Mita masuk dengan nampan kosong dan senyum yang sudah terlatih.

"Hei, kamu." Mita mencium kedua pipinya, dan Alya membiarkan, karena tubuhnya masih menghafal sopan santun lebih cepat daripada amarahnya. "Kelihatan... bahagia. Kelihatannya kabar itu benar."

"Kabar apa?"

"Kamu dan Raka." Mita meletakkan nampan, mengambil gelas, menuang air—gerakan malas orang yang punya waktu seharian. "Semua orang bicara tentang itu, Ly. Saudara sepupu yang berbahagia bersama pangeran setelah drama enam tahun. Seperti sinetron. Semua orang suka sinetron."

"Kalau semua orang cuma mau nonton, Mita, aku tidak keberatan." Alya melanjutkan menata kue. "Tapi kamu bukan penonton, kan? Kamu pernah jadi bagian dari produksinya."

Dapur itu hening sejenak. Dari jauh terdengar bacaan doa yang mengalun seperti air.

"Aku memang bagian dari produksinya." Mita berbalik, bersandar ke meja, menatap Alya dengan tatapan yang Alya tidak bisa baca—apakah itu penyesalan atau sesuatu yang lebih tajam. "Dan justru karena itu aku merasa berhak kasih tahu: kamu pikir selama enam tahun Raka itu apa? Patung? Biola kesepian yang menunggu disetel ulang?"

Jantung Alya berdetak satu kali yang berat. "Apa maksudmu."

"Aku yang membersihkan, Ly." Suara Mita turun, tapi tetap riang dengan cara yang menyakitkan. "Selama bertahun-tahun. Surat-suratnya, emailnya, jejaknya. Kamu pikir itu kerjaan Om Hendra semata? Om sudah tua. Aku yang hariannya. Dan percayalah, seseorang yang benar-benar kosong selama enam tahun itu... selalu ada yang mencoba mengisi." Ia menyesap airnya, memandang Alya dari atas gelas. "Sydney. Empat tahun lalu. Namanya Nadia. Cantik, cerdas, orang kantornya. Mereka bertahun-tahun, Ly. Bertahun-tahun. Semua orang di kantornya mengira mereka akan menikah."

"Tidak." Alya mendengar suaranya sendiri keluar lebih tipis dari yang ia mau. "Kalau itu benar, aku akan tahu."

"Kamu? Kamu tidak tahu apa-apa." Mita tersenyum, hampir lembut, dan justru itu yang mengerikan. "Itu kan yang paling menyedihkan dari kita berdua, Ly. Kamu tidak tahu apa-apa, dan aku tahu semuanya—tapi tidak pernah boleh bilang. Nah, sekarang Om sudah pergi, tidak ada lagi yang melarangku jujur."

"Jujur?" Alya meletakkan kue yang sedang dipegangnya terlalu keras, sampai krimnya remuk di bawah jari-jarinya. "Enam tahun kamu menyabotase hidupku dan kamu menyebutnya—"

"Aku menyelamatkan hidupmu." Mita mendekat satu langkah, dan untuk pertama kalinya senyumnya hilang. "Dari cowok yang mengira menunggu itu cinta. Tapi yaudah, sekarang dia kembali, kan? Kamu menang. Selamat." Ia mengangkat gelas seperti bersulang. "Semoga yang bertahun-tahun itu cuma perempuan bodoh yang tidak berarti. Atau semoga tidak. Kamu boleh pilih yang mana yang bisa kamu tiduri malam ini."

Mita keluar dari dapur membawa nampannya, dan Alya berdiri sendirian di antara kue-kue yang sudah tidak menaruh lagi, dengan krim tercabik di jarinya dan satu nama berputar di kepala seperti lagu yang tidak diminta.

Nadia. Sydney. Bertahun-tahun.

Ia tidak mengambil kue-kue itu ke ruang tamu. Ia mencuci tangan, meminta pamit pada ibu-ibu yang terkejut—"Kenapa, Ly, baru sebentar?"—dan keluar ke halte dalam hujan gerimis yang baru mulai, tanpa menunggu Raka.

༺♡༻

Raka menemukannya sudah berada di apartemen dua puluh menit kemudian, masih berjaket basah, duduk di lantai ruang tamu dengan punggung menempel sofa. Ia datang dengan napas terburu, rambut setengah basah, dan wajah orang yang berlari melewati tiga lampu merah.

"Ly. Aku cari kamu ke mana-mana—kenapa kamu tidak—apa yang terjadi?"

"Tahlilan sudah selesai?"

"Sudah hampir. Aku bilang aku kejar kamu." Raka berlutut di depannya, mencoba menatap wajahnya yang menunduk. "Lihat aku. Siapa yang bikin kamu begini?"

"Nadia." Alya mengangkat wajahnya. "Siapa Nadia, Raka?"

Perubahan di wajah Raka nyaris tidak terlihat—tapi Alya sedang memburu perubahan, dan ia melihatnya: kelopak mata yang berkedip sekali lebih lama, rahang yang mengeras sepersekian detik. Enam tahun tidak ada kabar, dan tubuh pria itu masih bisa terbaca seperti halaman pertama.

Lihat selengkapnya