Suara gemericik air hujan yang menimpa dedaunan di luar jendela menjadi satu-satunya alunan melodi di dalam ruangan berinterior kayu itu. Bau aroma terapi lavender bertabrakan dengan wangi samar kemeja Raka yang lembap oleh gerimis malam. Maya duduk membisu di sudut sofa kulit, melipat kedua tangannya di depan dada seolah membangun benteng tak kasatmata. Tatapannya tertuju lurus pada cangkir porselen di atas meja yang uap panasnya perlahan menghilang. Di seberangnya, Raka masih berdiri menatap ke luar jendela kaca, membiarkan keheningan yang tebal dan menyiksa membungkus mereka selama sepuluh menit terakhir.
"Sampai kapan kau akan berdiri membelakangiku seperti itu, Raka?" suara Maya memecah kesunyian, begitu pelan namun penuh penekanan.
Raka membalikkan badannya secara perlahan. Wajahnya yang biasanya tenang kini diliputi oleh bayang-bayang kelelahan emosional yang amat sangat. Pria itu melangkah mendekat, lalu mendudukkan dirinya di ujung sofa yang sama, memberikan jarak satu jengkal dari Maya.
"Aku hanya sedang mencari cara agar setiap kata yang kuucapkan malam ini tidak makin melukaimu, Maya," bisik Raka dengan nada bariton yang parau.
Maya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa getir. "Setiap detik ketidakpastian ini sudah melukaiku lebih dari apa pun yang bisa kau ucapkan."
Raka menatap jemari Maya yang saling bertaut erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ada dorongan kuat dalam dadanya untuk merengkuh jemari itu, menyalurkan kehangatan yang biasa ia berikan. Namun, tatapan Maya yang terbingkai oleh rasa cemas dan jarak yang dingin menahannya di tempat. Malam ini bukan lagi tentang sekadar meredakan cemburu, melainkan mempertaruhkan fondasi kepercayaan yang selama ini mereka bangun bersama.
"Tatap mataku, Raka," desak Maya lagi, suaranya bergetar tipis menahan emosi yang meluap. "Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi di antara kau dan dia di kafe itu."
Raka mendongak, memberanikan diri mengunci pandangannya pada manik mata Maya yang bening namun memancarkan kerapuhan mendalam. "Tidak ada yang terjadi di antara aku dan Nadia, Maya. Semuanya sudah selesai."
"Jika semuanya sudah selesai, kenapa matamu masih menyimpan bayangan yang sama seperti beberapa tahun lalu?" potong Maya cepat.
༺♡༻
Raka menghela napas panjang, meraup wajahnya kasar sebelum kembali menatap Maya yang menuntut kejelasan. Pertanyaan Maya menghantam bagian tergelap di balik dadanya—ruang penyimpanan masa lalu yang berusaha ia kunci rapat-rapat.
"Nadia menungguku hanya untuk menyerahkan dokumen proyek lama dan menguapkan semua prasangka yang membebaninya," jelas Raka berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil. "Dia ingin memastikan bahwa aku tidak menyimpan dendam atas perpisahannya di masa lalu."
"Dan kau menemuinya hanya untuk alasan sesederhana itu?" tanya Maya dengan raut tidak percaya. "Kau menemuinya tanpa memberitahuku terlebih dahulu, Raka! Kau tahu betapa berharganya kejujuran bagiku dalam hubungan ini!"
"Aku tidak memberitahumu karena aku tahu kau akan bereaksi seperti ini, Maya," sahut Raka, ada nada defensif yang tak sengaja lolos dari ucapannya. "Aku hanya ingin menyelesaikan urusan ini dengan cepat tanpa perlu memicu drama baru."
Maya tertawa sumbang, sebuah tawa pahit yang memancarkan rasa terkejut sekaligus kekecewaan yang mendalam. Ia menggeser duduknya sedikit menjauh dari Raka. "Drama? Kau menyebut kecemasanku sebagai drama? Raka, wanita itu adalah alasan kenapa kau hampir menutup hatimu selamanya sebelum aku hadir! Bagaimana bisa kau menganggap pertemuannya sebagai hal sepele?"
"Aku tidak menganggapnya sepele!" tegas Raka, suaranya sedikit meninggi namun segera ia tekan kembali. "Justru karena aku tahu dampaknya, aku menemui dia hanya untuk satu hal: menegaskan garis batas di antara kami. Aku menegaskan padanya bahwa hidupku kini sudah bersama orang lain!"
"Tapi kenyataannya kau membiarkan dia memegang tanganmu di depan kafe itu, bukan?" tembak Maya dengan mata berbinar oleh air mata yang mulai berkumpul di pelupuknya. "Adikku melihat kalian, Raka! Dia melihat bagaimana kau menatap Nadia saat dia menangis di hadapanmu!"
Raka membeku. Ia tidak menyangka ada saksi mata yang melihat momen singkat di luar kafe tersebut. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, merasakan kelelahan yang luar biasa menyerang kepalanya. "Itu tidak seperti yang kau pikirkan, Maya. Dia memegang tanganku secara refleks saat memohon maaf. Dan aku melepasnya detik itu juga."
"Tapi jeda beberapa detik sebelum kau melepasnya itu sudah cukup membuktikan sesuatu, Raka," bisik Maya, air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya. "Ada bagian dari dirimu yang masih bergetar saat dia hadir kembali."
"Cukup, Maya," panggil Raka lembut namun tegas. "Jangan menyimpulkan sesuatu dari asumsi yang dibangun oleh rasa takutmu sendiri."
"Bagaimana aku tidak takut?" jerit Maya, suaranya melengking menembus kesunyian ruangan. "Selama ini aku selalu merasa seperti bayangan di balik kenangan indah kalian! Dan malam ini, ketakutan terbesarku terbukti—kau belum sepenuhnya selesai dengan masa lalumu!"
༺♡༻
Ruangan itu mendadak menjadi arena pertempuran rasa percaya yang kian memanas. Kata-kata Maya menghantam Raka tepat di pusat kesadarannya, membakar sisa-sisa kesabaran pria itu. Raka berdiri dari sofa, melangkah beberapa tindak mengitari meja sebelum berbalik menghadap Maya dengan napas yang memburu parau.
"Kau membicarakan masa lalu seolah-olah aku selalu menyeretnya ke dalam hubungan kita!" seru Raka dengan nada kecewa yang kental. "Selama dua tahun bersamamu, Maya, pernahkah aku sekalipun menyebut namanya di depanmu? Pernahkah aku membandingkan dirimu dengannya?"
Maya ikut bangkit berdiri, menantang tatapan Raka tanpa rasa gentar sedikit pun meski air mata terus membasahi wajahnya. "Kau memang tidak pernah menyebut namanya lewat kata-kata, Raka! Tapi tindakanmu, caramu menyimpan rahasia, dan caramu menyembunyikan perasaanmu selalu berteriak bahwa dia masih punya ruang istimewa di dalam dadamu!"
"Itu tuduhan yang tidak adil!" balas Raka seraya menunjuk dadanya sendiri. "Aku memberikan seluruh waktuku, perhatiaanku, dan rencanaku di masa depan untukmu! Bagaimana bisa kau menyebut aku masih menyimpan ruang untuk orang lain?"
"Karena kau tidak pernah jujur tentang apa yang sebenarnya kau rasakan saat dia pergi!" potong Maya pantang mundur. "Kau selalu berpura-pura sudah sembuh! Kau berpura-pura bahwa kehadiran Nadia di masa lalu tidak meninggalkan luka mendalam! Tapi saat dia muncul kembali tadi malam, kau panik! Kau berlari menemuinya tanpa memikirkan bagaimana perasaanku jika mengetahui hal ini!"
Raka mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat hingga otot-otot lengannya menegang. "Aku menemui Nadia bukan karena aku panik, Maya! Aku menemui dia karena aku ingin memastikan bahwa cerita lama itu benar-benar ditutup dengan rapat!"
"Caramu menutupnya justru membuka pintu keraguan baru di antarakita!" seru Maya dengan keperihan yang teramat sangat. "Kau tahu apa yang paling menyakitkan dari semua ini, Raka? Saat adikku memberi tahu tentang pertemuan itu, aku berusaha membela dirimu di depannya. Aku bilang Raka tidak mungkin melakukan itu. Tapi ketika aku melihat raut wajahmu saat masuk ke rumah ini malam ini... aku tahu aku telah dibohongi."