Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #78

Faris Kembali

Suasana ruang tamu di kediaman Faris dan Keysha malam itu dibalut keheningan yang menyesakkan. Angin malam merembes halus melalui celah jendela kaca yang sedikit terbuka, membawa aroma basah tanah yang belum sepenuhnya kering disiram hujan sore tadi. Lampu gantung bersinar redup, membiarkan bayang-bayang panjang membentang di atas lantai marmer yang dingin. Keysha duduk bersandar di sofa tunggal, jemarinya sibuk meremas tepian kain gaun rumahnya yang melar. Sudah jam sebelas malam, namun suara deru mobil yang sangat ia kenali belum juga terdengar melintasi pagar depan. Setiap detik yang berlalu terasa seperti ketukan palu yang perlahan menghancurkan sisa kesabarannya.

Di atas meja kayu jati di hadapannya, cangkir teh chamomile yang diseduh dua jam lalu kini telah mendingin sepenuhnya. Penguapan kehangatan itu seolah merefleksikan bagaimana hubungan mereka berjalan selama beberapa bulan terakhir. Keysha menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya di permukaan kaca meja. Ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, menatap balik dengan tatapan lelah yang tak mampu lagi disembunyikan. Ia merindukan ketenangan, namun firasat buruk terus berbisik bahwa malam ini tak akan berlalu begitu saja tanpa badai.

Suara gesekan ban mobil di atas kerikil halaman tiba-tiba memecah keheningan. Jantung Keysha berdegup kencang secara refleks. Langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar mendekati pintu utama, disusul bunyi gemerincing kunci yang dimasukkan ke dalam lubang selot dengan kasar. Pintu terbuka lebam, memunculkan sosok pria tinggi berjaket mantel gelap yang tampak kusut.

Faris melangkah masuk, membiarkan pintu terpukul menutup di belakangnya. Wajahnya pucat, matanya meledak oleh guratan merah bekas kelelahan dan tekanan yang luar biasa.

"Kau belum tidur, Keysha?" tanya Faris dengan suara serak, bahkan tanpa repot-repot melepas sepatu kulitnya yang ternoda lumpur.

Keysha bangkit berdiri, menatap suaminya rapat-rapat. "Bagaimana aku bisa tidur jika suamiku menghilang seharian tanpa meninggalkan satu pesan pun?"

Faris mengusap wajahnya kasar, melemparkan tas berkas hitam yang bawanya ke atas meja hingga menimbulkan dentuman keras. "Aku tidak sedang ingin berdebat. Hari ini sangat menyita tenagaku."

"Aku tidak mengajakmu berdebat, Faris," bisik Keysha lirih. "Aku hanya butuh kejelasan ke mana kau pergi."

༺♡༻

Faris menarik napas panjang, mengendurkan ikatan dasinya dengan sekali hentakan kasar hingga dua kancing teratas kemejanya terlepas. Ia menatap Keysha, namun pandangannya menyiratkan rasa bersalah yang teramat dalam menyatu dengan kebingungan yang nyata. Pria itu melangkah mendekati meja jati, lalu mengambil tas berkas hitam yang baru saja dilemparkannya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia membuka ritsleting tas tersebut dan mengeluarkan satu bundel dokumen tebal bersampul cokelat tua, disusul sebuah amplop putih tanpa nama.

"Ini alasan kenapa aku tidak bisa dihubungi seharian ini," ucap Faris seraya meletakkan dokumen tersebut tepat di hadapan Keysha.

Keysha menatap dokumen itu ragu-ragu. Firasat buruk yang sejak tadi mengendap di dasar dadanya kini mencengkeram erat tenggorokannya. "Apa ini, Faris? Jangan bermain teka-teki denganku di tengah malam seperti ini."

"Buka saja dan baca sendiri," bisik Faris pelan. Ia memilih membalikkan badan, berjalan menuju jendela besar dan melempar pandangannya ke luar arah kegelapan malam.

Dengan tangan yang mendingin, Keysha meraih amplop putih itu terlebih dahulu. Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto cetak berukuran sedang dan sekumpulan surat perjanjian bisnis lama. Saat matanya menangkap objek dalam foto-foto tersebut, napas Keysha seketika tertahan. Foto-foto itu memperlihatkan Faris sedang berdiskusi sengit di sebuah ruangan tertutup dengan seorang pria paruh baya yang sangat tidak asing bagi keluarga mereka—Pak Lukman, mantan mitra bisnis ayah Faris yang lima tahun lalu dipenjara karena kasus penggelapan aset skala besar.

"Kenapa kau menemui Pak Lukman?" suara Keysha bergetar hebat, menahan gelombang kejutan yang menghantam kesadarannya. "Dia orang yang hampir menghancurkan keluargamu, Faris! Kenapa kau kembali berhubungan dengannya?"

Faris tidak langsung menjawab. Bahunya tampak naik turun menahan beban napas yang berat. "Dia bebas bersyarat minggu lalu, Keysha. Dan dia datang bukan untuk meminta maaf."

"Lalu untuk apa?" desak Keysha, melangkah maju dua tapak menuju punggung Faris. "Untuk mengancammu lagi? Untuk meminta uang?"

Faris memutar tubuhnya perlahan, menatap Keysha dengan raut wajah yang hancur. "Jauh lebih buruk dari itu. Ayah... ternyata meninggalkan utang rahasia yang terikat pada seluruh aset utama perusahaan kita. Dan Pak Lukman memegang seluruh surat jaminannya."

Keysha terpaku di tempatnya berdiri, merasa seolah lantai di bawah kakinya mendadak runtuh. "Apa maksudmu utang rahasia? Bukankah semua urusan hukum ayah sudah selesai bertahun-tahun lalu?"

"Itu yang selama ini kita kira," potong Faris dengan penekanan yang teramat pahit pada setiap kata. "Ayah menandatangani kesepakatan gelap itu tepat sebelum beliau jatuh sakit, demi menutup kerugian proyek di Surabaya. Jika dalam dua minggu aku tidak menyerahkan 40 persen saham kendali perusahaan kepadanya, Pak Lukman akan menyita rumah ini dan membawa kasus ini ke publik. Kita akan bangkrut, Keysha. Sepenuhnya bangkrut."

"Ini tidak mungkin..." bisik Keysha, meremas foto di tangannya hingga kusut. "Kenapa... kenapa kau baru memberitahuku sekarang?"

"Karena aku sendiri baru mengetahuinya tadi pagi!" seru Faris meluapkan rasa frustrasinya yang meluap.

༺♡༻

Keheningan yang mencekam kembali melingkupi ruang tamu itu, namun kali ini sarat akan muatan emosi yang siap meledak kapan saja. Keysha melemparkan foto-foto di tangannya ke atas meja, membiarkan kertas-kertas licin itu berserakan mengotori kayu jati yang mulus. Matanya menatap Faris dengan perpaduan antara rasa tidak percaya, ketakutan, dan amarah yang mendalam atas ketidakberdayaan situasi mereka.

"Jadi selama beberapa bulan ini, saat kau sering pulang terlambat dan bersikap dingin padaku, kau menyembunyikan ancaman ini sendirian?" tanya Keysha, suaranya melengking menembus sunyinya malam.

Faris mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Aku mencoba membereskannya sendiri, Keysha! Aku tidak ingin membebanimu dengan masalah kotor yang ditinggalkan oleh almarhum ayahku!"

"Tapi aku istrimu, Faris!" jerit Keysha, air mata pertama akhirnya menetes melintasi pipinya yang pucat. "Kita berjanji untuk menghadapi segala hal bersama-sama! Tapi kau justru berjalan di belakangku, menemui orang jahat itu secara sembunyi-sembunyi, dan sekarang kau pulang membawakan kabar bahwa hidup kita akan hancur dalam dua minggu!"

"Kau pikir ini mudah bagiku?" balas Faris dengan nada suara yang tak kalah tinggi, melangkah mendekati Keysha dengan napas memburu. "Setiap hari aku harus bersikap seolah semuanya baik-baik saja di depan karyawan, di depan media, dan di depanmu! Aku menanggung beban nama besar keluarga ini sendirian!"

"Kau yang memilih untuk menanggungnya sendirian karena kau tidak pernah mempercayaiku!" potong Keysha tajam. Ia membusungkan dadanya, menatap lurus ke dalam mata Faris yang menyala. "Kau selalu menganggapku hanya wanita yang harus dilindungi di dalam rumah ini, tanpa pernah kau beri ruang untuk ikut berpikir saat badai datang!"

Lihat selengkapnya