༺♡༻
Malam turun perlahan di kota.
Lampu-lampu gedung tinggi menyala seperti bintang buatan, sementara kendaraan bergerak padat di sepanjang jalan utama. Di balik jendela sebuah restoran mewah, Alya duduk sendirian dengan secangkir teh yang sejak tadi tidak disentuh.
Di hadapannya terdapat sebuah amplop hitam.
Amplop itu dikirim oleh seseorang yang tidak mencantumkan nama. Tidak ada alamat pengirim, tidak ada nomor telepon, hanya sebuah kalimat pendek di bagian depan.
Untuk Alya. Jangan dibuka di rumah.
Alya telah menatap amplop itu selama hampir dua puluh menit.
Sejak mengetahui rahasia keluarganya, hidupnya berubah menjadi rangkaian pertanyaan yang tidak kunjung menemukan jawaban. Hubungan ayahnya dengan Paman Armand, utang kepada keluarga Raka, kesepakatan pernikahan yang dibuat sebelum dirinya lahir, hingga keterlibatan Nadia dalam dokumen lama—semuanya berputar di kepalanya.
Ia ingin berhenti.
Ia ingin kembali ke desa, mengajar anak-anak, dan menjalani hidup sederhana tanpa harus memikirkan nama keluarga, perusahaan, serta kebohongan masa lalu.
Namun, semakin ia mencoba menjauh, semakin banyak rahasia yang mendatanginya.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Buka amplop itu sekarang. Kami tahu kau sedang bersama Dimas.
Alya langsung menoleh ke sekeliling.
Restoran itu tidak terlalu ramai. Beberapa pasangan duduk di meja dekat jendela. Seorang pelayan berdiri di dekat pintu. Tidak ada wajah yang terlihat mencurigakan.
Namun, kalimat dalam pesan itu membuat tengkuknya merinding.
Mereka tahu ia bersama Dimas.
Mereka tahu ia berada di restoran ini.
Alya menarik napas panjang, lalu membuka amplop hitam tersebut.
Di dalamnya terdapat tiga lembar kertas, sebuah flashdisk kecil, dan foto seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan rumah lama keluarganya.
Laki-laki itu adalah Raka.
Di belakang foto tertulis kalimat:
Jika kau ingin Raka selamat dari kehancuran keluargamu, terima tawaran kami.
Tangan Alya mulai gemetar.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa rahasia keluarganya bukan hanya mengancam masa lalu.
Rahasia itu sedang digunakan untuk mengendalikan masa depannya.
༺♡༻
༺♡༻
Dimas kembali dari kasir dengan dua gelas minuman.
“Kau terlihat pucat,” katanya.
Alya segera menutup amplop itu.
“Aku tidak apa-apa.”
Dimas meletakkan minuman di atas meja. “Sejak tadi kau terus melihat amplop itu.”
“Ini baru saja dikirim.”
“Siapa pengirimnya?”
“Aku tidak tahu.”
Dimas duduk, lalu memperhatikan wajah Alya.
“Boleh aku melihatnya?”
Alya ragu sejenak sebelum menyerahkan foto dan lembar pertama.
Dimas membaca tulisan di dalamnya dengan alis mengerut.
“Ini ancaman.”
“Aku tahu.”
“Siapa yang mengirim?”
“Orang yang mengetahui tentang dokumen keluarga.”
Dimas membaca kalimat terakhir.
Terima tawaran kami sebelum pukul dua belas malam. Jika tidak, bukti keterlibatan keluarga Alya akan diserahkan kepada pihak berwenang, dan Raka akan dituduh sebagai pihak yang membantu menyembunyikannya.
Dimas mengangkat wajah.
“Mereka mengancam Raka?”
“Bukan hanya Raka. Mereka juga mengancam keluargaku.”
“Isi flashdisk itu apa?”
“Aku belum tahu.”
“Jangan membukanya di sini.”
Alya menatap foto Raka.
“Aku tidak mengerti. Mengapa mereka membawa nama Raka?”
“Karena mereka tahu Raka penting bagimu.”
Alya menundukkan wajah.
“Jika bukti itu benar-benar diserahkan, Raka bisa terseret ke dalam kasus ini.”
“Raka bukan orang yang melakukan kejahatan keluargamu.”
“Namun, dia sedang menyelidiki semuanya. Mereka bisa memutarbalikkan cerita.”
Dimas mengangguk.
“Benar. Orang yang memiliki bukti tidak selalu menjadi orang yang paling aman.”
Alya meremas kertas itu.
“Aku tidak ingin dia terluka karena masalah keluargaku.”
“Dan tawaran mereka?”
Alya membuka lembar kedua.
Di sana tertulis:
Datang sendiri ke Hotel Arunika, lantai dua puluh satu, kamar 2108. Bawa dokumen asli tentang kesepakatan keluarga. Jangan hubungi Raka. Jangan membawa siapa pun. Sebagai gantinya, kami akan menghapus semua bukti yang mengarah kepada Raka dan memberikan salinan dokumen yang dapat membebaskan keluargamu dari tuduhan.
Dimas membaca semuanya.
“Ini jelas jebakan.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, jangan pergi.”
“Jika aku tidak pergi, mereka akan menghancurkan Raka.”
“Kau belum tahu apakah mereka benar-benar memiliki bukti.”
“Mereka memiliki foto Raka.”
“Foto bukan bukti.”
“Mereka juga tahu aku bersama siapa.”
Dimas terdiam.
Alya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku sudah membuat banyak orang terluka.”
“Itu bukan kesalahanmu.”
“Jika aku tidak pernah mencintai Raka, dia mungkin tidak akan terlibat dalam semua ini.”
“Jangan berpikir seperti itu.”
“Bagaimana aku tidak berpikir begitu?”
Dimas menggenggam tangannya.
“Alya, orang yang membuat masalah adalah mereka yang menyalahgunakan kekuasaan dan menyembunyikan kebenaran. Bukan kau.”
Alya menatap tangan Dimas yang berada di atas tangannya.
“Kalau aku pergi, kau harus berjanji tidak mengikuti.”
“Aku tidak bisa berjanji.”
“Dimas.”
“Aku tidak akan membiarkanmu datang sendirian ke tempat yang jelas-jelas mencurigakan.”
“Mereka melarangku membawa siapa pun.”
“Orang yang berniat baik tidak akan mengancam seseorang untuk datang sendirian.”
Alya menarik tangannya.
“Jika kau ikut, mereka mungkin melakukan sesuatu kepada kita.”
“Jika aku tidak ikut, aku akan lebih takut.”
Alya memandangnya cukup lama.
Di tengah situasi yang semakin rumit, Dimas menjadi satu-satunya orang yang tidak memintanya memilih antara cinta dan keselamatan.
Namun, tawaran itu tetap menggantung di hadapan mereka.
Waktu terus berjalan.
Dan batas pukul dua belas malam semakin dekat.
༺♡༻
༺♡༻
Mereka meninggalkan restoran sekitar pukul sembilan malam.
Dimas mengusulkan agar mereka membawa dokumen tersebut kepada seseorang yang dapat dipercaya, tetapi Alya tahu bahwa ia tidak memiliki banyak pilihan. Ayahnya telah kehilangan kepercayaan. Paman Armand jelas menyembunyikan sesuatu. Bahkan Raka, orang yang paling ingin ia percaya, masih menyimpan bagian dari masa lalu yang belum terungkap.
“Bagaimana jika kita menghubungi Raka?” tanya Dimas ketika mereka berada di dalam mobil.
Alya menggeleng.
“Pesan itu melarangku menghubunginya.”
“Justru karena itu kita harus menghubunginya.”
“Mereka mungkin sedang mengawasi ponselku.”
“Kalau begitu, gunakan ponselku.”
Alya menatapnya.
“Dimas, aku tidak ingin Raka datang.”
“Kenapa?”
“Karena ini mungkin jebakan untuknya.”
“Dia berhak tahu.”
“Dia sudah terlalu banyak menanggung masalah.”
“Dan kau ingin menanggung semuanya sendiri?”
Alya tidak menjawab.
Dimas menyalakan mesin, tetapi belum menjalankan mobil.
“Dengar,” katanya, “kau boleh marah kepada Raka. Kau boleh ragu kepadanya. Tetapi jangan membuat keputusan besar hanya karena kau ingin melindunginya.”
“Kalau aku tidak melindunginya, siapa yang akan melakukannya?”
“Dia sendiri.”
“Dia tidak tahu bahwa ada orang yang sedang mengancamnya.”
“Kalau begitu, beri dia kesempatan untuk tahu.”
Alya menatap layar ponselnya. Nama Raka masih berada di daftar kontak teratas. Ia membuka percakapan mereka, lalu mengetik:
Raka, ada sesuatu yang harus kau ketahui.
Namun, sebelum pesan itu dikirim, ponselnya berdering.
Nomor tidak dikenal.
Alya mengangkat panggilan.
“Jangan hubungi Raka,” suara laki-laki terdengar dari seberang.
Alya membeku.
“Siapa kau?”
“Kau sudah menerima tawaran kami.”
“Apa yang kalian inginkan?”
“Dokumen asli. Bukan salinan.”
“Jika aku menyerahkannya, apa jaminannya Raka tidak akan disentuh?”
“Kami akan menghapus bukti yang mengarah kepadanya.”
“Dan keluargaku?”
“Nasib keluargamu tergantung pada isi dokumen itu.”
Alya menggenggam ponsel lebih erat.
“Kalian ingin menghancurkan keluargaku?”
“Kami hanya ingin mengambil kembali sesuatu yang menjadi hak kami.”
“Uang?”
“Bukan hanya uang.”
“Lalu apa?”
Suara laki-laki itu terdengar semakin rendah.
“Kebenaran.”
Alya menatap Dimas.
“Kalau kalian hanya ingin kebenaran, mengapa harus mengancam?”
“Karena keluargamu telah mengubur kebenaran selama bertahun-tahun.”
“Siapa yang kalian wakili?”
“Kau akan mengetahuinya di hotel.”
Panggilan terputus.
Dimas menatapnya.
“Apa yang dia katakan?”
“Mereka ingin dokumen asli.”
“Jangan berikan.”
“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.”
“Untuk sekarang, kita perlu memeriksa isi flashdisk.”
Mereka berkendara menuju sebuah apartemen milik teman Dimas yang sedang kosong. Tempat itu cukup aman untuk sementara waktu. Dimas menyalakan laptop, lalu memasukkan flashdisk tersebut.
Di dalamnya terdapat beberapa folder.
Folder pertama berisi salinan rekening perusahaan. Folder kedua berisi foto-foto pertemuan antara ayah Alya dan Paman Armand. Folder ketiga berisi rekaman suara.
Alya menatap layar dengan napas tertahan.
“Buka rekamannya,” katanya.
Dimas menekan tombol putar.
Suara ayah Alya terdengar lebih muda, tetapi masih mudah dikenali.
“Kita tidak bisa terus memindahkan dana tanpa sepengetahuan keluarga Raka.”
Suara Paman Armand menjawab, “Jika kita tidak melakukannya, perusahaan akan runtuh.”
“Dana itu bukan milik kita.”
“Kita akan mengembalikannya.”
“Dengan apa?”
“Dengan kesepakatan keluarga.”
Alya memejamkan mata.
Rekaman berlanjut.
“Jika anak-anak kita menikah, semua utang dianggap selesai,” kata Paman Armand.
“Bagaimana jika mereka tidak saling mencintai?”
“Kalau begitu, kita paksa keadaan agar mereka saling dekat.”
Alya langsung membuka mata.
Dimas menatapnya.
Rekaman itu terus berjalan.
“Aku tidak setuju jika mereka dipaksa,” suara ayah Alya terdengar tegas.
“Kau tidak punya pilihan.”
“Jangan libatkan anak-anak.”
“Kalau kau tidak menyetujui, semua dokumen akan kuberikan kepada keluarga Raka.”
Alya menutup mulutnya.
Air matanya jatuh.
“Matikan,” bisiknya.
Dimas menghentikan rekaman.
“Alya…”
“Jadi benar. Mereka memang merencanakan semuanya.”