Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #80

Rahasia Keluarga Alya

༺♡༻

Hujan turun sejak pagi.

Langit desa pesisir yang biasanya cerah berubah kelabu. Air hujan mengalir dari atap pusat belajar, jatuh berirama di halaman yang mulai dipenuhi genangan. Anak-anak diliburkan karena jalan menuju desa licin dan beberapa bagian mulai tergenang.

Alya duduk sendirian di dalam ruangan, menatap setumpuk dokumen yang tergeletak di atas meja.

Sejak menerima surat lama dari nomor misterius, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Setiap kalimat di dalam surat itu terasa seperti potongan teka-teki yang sengaja disembunyikan keluarganya selama bertahun-tahun.

Ia membaca kembali tulisan ibunya.

Jika suatu hari Alya dan Raka benar-benar saling mencintai, jangan biarkan mereka mengetahui bahwa pertemuan mereka telah direncanakan sejak awal.

Kalimat itu terus berputar di kepalanya.

Alya masih sulit menerima kenyataan bahwa hubungan antara dirinya dan Raka mungkin bukan sekadar kebetulan. Bahkan sebelum mereka lahir, kedua keluarga telah membuat kesepakatan. Mereka telah menentukan arah hidup anak-anak yang belum mengenal dunia.

Namun, ada satu hal yang lebih mengganggunya.

Mengapa ibunya harus menyembunyikan semuanya?

Mengapa surat itu baru muncul sekarang?

Dan siapa yang sengaja mengirimkannya?

Pintu ruangan terbuka perlahan.

Dimas berdiri di sana dengan payung hitam yang masih meneteskan air.

“Kau belum pulang?” tanyanya.

Alya menggeleng. “Aku ingin menyelesaikan sesuatu.”

Dimas berjalan mendekat. “Kau sudah membaca surat itu berulang kali sejak tadi.”

“Karena aku masih belum mengerti.”

“Tidak semua hal harus kau pecahkan sendirian.”

Alya menatapnya.

“Aku takut, Dimas.”

“Takut pada apa?”

“Pada keluargaku sendiri.”

Dimas duduk di hadapannya. “Kalau begitu, mungkin sudah waktunya kau kembali dan menanyakan semuanya.”

Alya menundukkan wajah.

Ia tahu Dimas benar.

Tetapi kembali ke rumah berarti berhadapan dengan ayahnya, ibunya, dan seluruh masa lalu yang selama ini berusaha ia tinggalkan.

Di luar, petir menggelegar.

Alya menggenggam surat tua itu.

“Aku harus tahu kebenarannya.”

༺♡༻

Siang harinya, Alya menerima panggilan dari ibunya.

Nama Ibu muncul di layar ponsel. Alya menatapnya cukup lama sebelum mengangkat panggilan tersebut.

“Halo?”

“Alya, kamu di mana?” Suara ibunya terdengar tegang.

“Di desa.”

“Kamu harus pulang.”

Alya mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Ada sesuatu yang harus Ibu bicarakan denganmu.”

“Apakah ini tentang surat yang dikirim seseorang kepadaku?”

Di seberang sana, ibunya terdiam.

Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.

Alya bangkit dari kursinya.

“Jadi Ibu tahu?”

“Alya, dengarkan Ibu dulu.”

“Siapa yang mengirim surat itu?”

“Ibu tidak tahu.”

“Jangan bohong.”

“Alya…”

“Dalam surat itu ada tulisan tangan Ibu. Ada nama Ayah. Ada kesepakatan antara keluarga kita dan keluarga Raka.” Suara Alya meninggi. “Berapa lama kalian menyembunyikan semuanya dariku?”

Ibunya menarik napas panjang.

“Pulanglah. Kita bicarakan di rumah.”

“Aku ingin jawaban sekarang.”

“Tidak melalui telepon.”

“Kenapa? Karena ada sesuatu yang tidak boleh didengar orang lain?”

“Alya, jangan membuat kesimpulan.”

“Kalau begitu, katakan bahwa semua itu tidak benar.”

Ibunya tidak menjawab.

Alya memejamkan mata. Dadanya terasa sesak.

“Bu, apakah benar aku dan Raka sudah dijodohkan sejak sebelum kami lahir?”

“Kesepakatan itu bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu seperti apa?”

“Kamu harus pulang.”

“Apakah Ayah juga tahu?”

“Ibumu tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang.”

Alya tertawa getir.

“Selalu begitu. Setiap kali aku bertanya, kalian menyuruhku menunggu. Setiap kali aku ingin tahu, kalian mengatakan bahwa semuanya demi kebaikanku.”

“Alya, kami hanya ingin melindungimu.”

“Dari apa?”

Ibunya kembali terdiam.

Alya menggenggam ponselnya lebih erat.

“Bu, dari apa kalian melindungiku?”

Suara ibunya bergetar.

“Dari kesalahan yang dilakukan keluarga kita.”

Alya membeku.

“Kesalahan apa?”

“Pulanglah, Nak.”

Panggilan itu berakhir.

Alya masih berdiri dengan ponsel di telinga ketika Dimas mendekat.

“Apa yang terjadi?”

Alya menurunkan ponselnya.

“Ibuku mengakui bahwa keluargaku pernah melakukan kesalahan besar.”

“Kesalahan seperti apa?”

“Aku tidak tahu.”

“Kau akan pulang?”

Alya mengangguk.

“Aku harus pergi sekarang.”

Dimas menatapnya khawatir. “Aku bisa menemanimu.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena ini masalah keluargaku.”

“Justru karena itu, kau tidak seharusnya menghadapinya sendirian.”

Alya terdiam.

Dimas melanjutkan, “Aku tidak akan ikut campur jika kau tidak menginginkannya. Aku hanya ingin memastikan kau sampai dengan selamat.”

Alya memandang wajah Dimas. Tidak ada tuntutan di sana. Tidak ada rasa ingin menguasai. Hanya kekhawatiran yang tulus.

“Baik,” katanya akhirnya. “Temani aku sampai kota.”

Dimas mengangguk.

Namun, sebelum mereka berangkat, Alya menerima pesan lain dari nomor misterius.

Jangan percaya semua yang dikatakan keluargamu. Rahasia itu lebih besar daripada sekadar perjodohan.

Alya membaca pesan tersebut berulang kali.

Lalu, sebuah foto dikirimkan.

Foto seorang laki-laki yang berdiri di depan gedung perusahaan lama.

Alya mengenali wajah itu.

Ayahnya.

Di samping ayahnya berdiri Paman Armand.

Dan di belakang mereka terdapat papan nama perusahaan yang pernah terseret kasus penggelapan dana bertahun-tahun lalu.

Alya menatap foto itu dengan jantung berdebar.

Rahasia keluarganya ternyata berkaitan dengan kasus lama yang selama ini sedang diselidiki Raka.

༺♡༻

Perjalanan menuju kota berlangsung dalam diam.

Hujan belum berhenti. Jalanan basah dan berkabut. Dimas mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, sementara Alya duduk di kursi penumpang sambil memegang ponselnya.

Foto ayahnya dan Paman Armand masih terbuka di layar.

“Apa kau yakin ingin pulang?” tanya Dimas.

Alya menatap jalan di depan.

“Aku tidak punya pilihan.”

“Selalu ada pilihan.”

“Kalau aku tidak pulang, aku akan terus hidup dalam kebohongan.”

Dimas meliriknya sebentar. “Kau bisa meminta Raka membantumu.”

Alya langsung menoleh.

“Jangan sebut namanya.”

“Maaf.”

“Aku belum siap bertemu dengannya.”

“Karena kau marah?”

“Karena aku takut.”

Dimas tidak berkata apa-apa.

Alya menatap hujan yang menempel di kaca jendela.

“Aku takut jika ternyata dia tahu lebih banyak daripada yang dikatakannya. Aku takut jika semua yang selama ini kupercayai ternyata hanya bagian dari rencana keluarga.”

“Namun, kau juga takut jika dia tidak tahu apa-apa.”

Alya mengangguk pelan.

“Jika dia tidak tahu, berarti aku telah mencurigai orang yang masih mencintaiku.”

“Dan jika dia tahu?”

“Aku tidak tahu apakah aku sanggup memaafkannya.”

Dimas menghela napas.

“Kadang-kadang, kebenaran memang tidak datang untuk membuat kita tenang.”

“Lalu untuk apa?”

“Untuk memberi kita kesempatan memilih dengan mata terbuka.”

Alya menoleh kepadanya.

“Kau selalu bicara seperti seseorang yang sudah mengalami semuanya.”

“Tidak. Aku hanya tahu rasanya kehilangan sesuatu yang belum pernah benar-benar kita miliki.”

Alya terdiam.

Dimas tidak melanjutkan kalimatnya.

Setelah hampir tiga jam perjalanan, mereka tiba di rumah keluarga Alya. Rumah besar itu masih terlihat megah seperti dahulu. Pagar besi terbuka, halaman tertata rapi, dan lampu-lampu taman menyala meskipun hari belum sepenuhnya gelap.

Namun, suasananya berbeda.

Beberapa mobil asing terparkir di halaman. Ada dua orang laki-laki berpakaian formal berdiri dekat pintu utama. Mereka tampak seperti pengawal.

Alya mengerutkan kening.

“Siapa mereka?”

Dimas mematikan mesin.

“Aku tidak tahu.”

Alya turun dari mobil. Dimas segera menyusul.

Ketika mereka memasuki rumah, seorang pelayan langsung menghampiri.

“Nona Alya, Tuan sedang menunggu di ruang kerja.”

“Siapa saja yang ada di sana?”

Pelayan itu menundukkan kepala. “Tuan, Nyonya, dan Paman Armand.”

Alya berhenti melangkah.

“Paman Armand ada di sini?”

“Benar, Nona.”

Dimas menatap Alya. “Aku bisa menunggu di luar.”

Alya menggeleng.

“Tidak. Tetap bersamaku.”

Mereka berjalan menuju ruang kerja ayah Alya. Sebelum pintu diketuk, terdengar suara percakapan dari dalam.

“Dia tidak boleh mengetahui semuanya,” kata Paman Armand.

Ayah Alya menjawab dengan suara berat, “Dia sudah mengetahui sebagian.”

“Kalau begitu, kita harus menghentikannya sebelum dia menemukan dokumen terakhir.”

Alya menatap Dimas.

Dokumen terakhir?

Ia mengangkat tangan dan membuka pintu tanpa mengetuk.

Semua orang di dalam ruangan langsung terdiam.

Ayahnya berdiri di dekat meja. Ibunya duduk di sofa dengan wajah pucat. Paman Armand berada di samping jendela sambil memegang gelas minuman.

“Alya,” kata ayahnya.

“Dokumen terakhir apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Alya melangkah masuk.

“Kenapa kalian ingin menghentikanku?”

Paman Armand menatap Dimas. “Siapa dia?”

“Temanku,” jawab Alya.

“Ini urusan keluarga.”

“Kalau urusan keluarga kalian melibatkan hidupku, maka aku berhak menentukan siapa yang boleh berada di sisiku.”

Ayah Alya menatapnya tajam.

“Jangan bicara dengan nada seperti itu kepada pamanmu.”

“Kalau begitu, jelaskan apa yang sedang kalian bicarakan.”

Ibunya bangkit.

“Alya, duduklah dulu.”

“Aku tidak ingin duduk.”

“Alya…”

“Selama bertahun-tahun aku hidup dengan cerita yang kalian buat untukku.” Suaranya bergetar. “Kalian mengatakan bahwa Ayah meninggalkan perusahaan karena masalah bisnis. Kalian mengatakan bahwa Paman Armand hanya mengalami konflik dengan keluarga. Kalian mengatakan bahwa aku dan Raka bertemu secara kebetulan.”

Paman Armand meletakkan gelasnya.

“Tidak semua hal perlu kau ketahui.”

“Justru itu masalahnya!” Alya membalas. “Kalian terus mengatakan aku tidak perlu tahu. Tetapi sekarang aku menemukan surat, foto, dan dokumen yang membuktikan bahwa kalian telah menyembunyikan sesuatu.”

Ayahnya menarik napas.

“Siapa yang mengirim dokumen itu kepadamu?”

“Aku bertanya lebih dulu.”

“Alya, ini bukan permainan.”

“Aku juga tidak sedang bermain!”

Ruangan itu kembali sunyi.

Alya menatap ayahnya.

“Apakah Ayah pernah bekerja sama dengan Paman Armand untuk menggelapkan dana perusahaan?”

Ibunya menutup mulut.

Ayah Alya memalingkan wajah.

Hanya satu gerakan kecil.

Namun, bagi Alya, itu sudah cukup.

“Jadi benar,” bisiknya.

“Alya, dengarkan Ayah,” kata ayahnya.

“Benar atau tidak?”

Ayahnya mengusap wajah.

“Tidak sesederhana itu.”

“Semua orang selalu mengatakan kalimat itu.”

Paman Armand maju selangkah.

“Uang itu bukan untuk kepentingan pribadi.”

Lihat selengkapnya