Suasana di kediaman keluarga Alya malam itu diliputi oleh kecemasan yang menggantung pekat di udara. Angin malam bertiup kencang dari balik jendela ruang tengah yang sedikit terbuka, membuat gorden tipis berwarna krem mengembang ke udara seperti lambaian tangan yang gelisah. Cahaya lampu gantung yang redup memancarkan bayang-bayang panjang di atas lantai kayu tua yang selalu berderit setiap kali dilangkahi. Alya berdiri menyandarkan tubuhnya pada tepian meja makan, jemarinya yang dingin meremas kain taplak meja dengan sangat erat. Matanya tidak pernah beralih dari dinding ruang tamu, di mana foto keluarga berbingkai jati memperlihatkan senyum ceria kedua orang tuanya dan sang adik, Wisnu, yang masih mengenakan seragam sekolah.
Kehangatan yang terekam dalam foto itu terasa sangat kontras dengan kenyataan pahit yang sedang mengintai mereka di luar sana. Ayah Alya duduk melamun di sofa kumal dengan kepala terkulai di dalam cengkeraman kedua telapak tangannya. Batuk kecil sesekali lolos dari tenggorokannya yang tua, mempertegas betapa rapuhnya kondisi fisik pria paruh baya itu setelah berbulan-bulan digerogoti penyakit dan beban pikiran. Sementara itu, di sudut ruangan lain, ibunya sibuk menenangkan Wisnu yang terus tertunduk membaca buku pelajaran sekolah dengan raut wajah ketakutan.
"Alya, sebaiknya kau makan sedikit," suara ibu memecah keheningan yang mencekam, terdengar lirih dan bergetar. "Ibu sudah memanaskan sup dari tadi sore."
Alya menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan untuk menutupi gemuruh di dalam dadanya. "Alya belum lapar, Bu. Ibu dan Wisnu saja yang makan duluan."
"Bagaimana bisa kita makan dengan tenang saat rumah ini terus diintai orang-orang tak dikenal sejak kemarin?" potong Ayah dengan suara parau, mendongakkan wajahnya yang pucat dan tampak bergaris-garis tegas oleh keputusasaan.
Alya melangkah mendekati ayahnya, lalu duduk bertelut di samping sofa. Ia menggenggam tangan ayahnya yang gemetar dingin. "Jangan khawatir, Yah. Selama Alya ada di sini, Alya tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Ayah, Ibu, atau Wisnu."
"Tapi masalah utang perusahaan tempat ayah dulu bekerja itu bukan tanggung jawabmu, Nak," bisik Ayah dengan mata berkaca-kaca. "Mereka menuduh Ayah menggelapkan dana, padahal Ayah hanya dikambinghitamkan oleh atasannya."
"Alya tahu Ayah tidak bersalah," tegas Alya mantap, menatap lurus ke dalam manik mata ayahnya. "Dan Alya akan memastikan nama baik Ayah tetap bersih, apa pun harganya."
༺♡༻ Peristiwa Pemicu
Suara deru mesin mobil berkapasitas besar yang berhenti mendadak di halaman depan seketika menghancurkan ketenangan rapuh di dalam rumah itu. Bunyi gesekan ban yang kasar dengan batu kerikil terdengar begitu mengancam, disusul oleh dentuman keras pintu-pintu mobil yang dibanting secara bersamaan. Jantung Alya serasa berhenti berdetak selama satu detik. Wisnu refleks menjatuhkan pensilnya, merapat erat ke samping tubuh ibunya yang mulai terisak pelan.
"Mereka datang lagi..." bisik Ibu dengan raut wajah penuh ketakutan yang murni.
Tanpa menunggu lama, ketukan keras yang lebih menyerupai hantaman bertubi-tubi mendarat di pintu kayu depan. Debu-debu halus tampak berjatuhan dari pinggiran kosen pintu akibat getaran yang amat kuat.
"Buka pintunya! Jangan berpura-pura mati di dalam!" teriakan suara bariton yang berat dan kasar bergaung membelah malam.
Ayah berusaha bangkit dari sofanya dengan kaki yang gemetar hebat, namun Alya dengan cepat menahan bahu ayahnya. "Tetap di sini, Yah. Biar Alya yang bicara dengan mereka."
"Jangan, Alya! Itu berbahaya!" cegah Ayah seraya berusaha meraih lengan anak perempuannya.
"Alya tidak takut, Yah. Percayalah pada Alya," jawab Alya dengan keteguhan yang tak tergoyahkan. Ia mengurai genggaman ayahnya, membalikkan badan, lalu melangkah mantap menuju pintu utama dengan dada yang naik turun menahan debaran ketakutan.
Alya menarik napas dalam-dalam, mengunci engsel matanya, lalu membuka kunci selot pintu utama. Saat pintu terbuka lebar, angin dingin malam menerpa wajahnya, bersanding dengan hadirnya tiga orang pria bertubuh kekar dengan jaket kulit hitam. Pria yang berdiri paling depan—berwajah tegap dengan bekas luka goresan di pipi kirinya—menatap Alya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan senyum culas yang merendahkan.
"Akhirnya ada yang berani membuka pintu," ucap pria itu, yang diketahui bernama Herman, dengan nada menyindir. "Di mana ayahmu, Gadis Kecil? Suruh dia keluar dan menyelesaikan dokumen penyerahan rumah ini sekarang juga!"
Alya berdiri tegak di ambang pintu, merentangkan sedikit tangannya untuk menghalangi akses masuk ke dalam rumah. "Ayah saya sedang sakit keras, Pak Herman. Dan rumah ini tidak bisa disita begitu saja tanpa ada penetapan sah dari pengadilan!"
Herman tertawa keras, sebuah tawa kering yang membuat bulu kuduk Alya berdiri. Dua anak buah di belakangnya ikut terkekeh sinis. "Pengadilan? Kau bicarakan hukum denganku saat ayahmu menunggak utang lima ratus juta rupiah atas nama dokumen palsu itu? Kita tidak butuh pengadilan untuk membereskan orang-orang seperti kalian!"
"Dokumen itu manipulasi dari atasan Ayah!" seru Alya pantang mundur, matanya menyala oleh amarah. "Kami tidak akan menyerahkan sertifikat rumah ini sampai polisi menyelesaikan penyelidikan kasus penggelapan tersebut!"
"Penyelidikan sudah ditutup sejak minggu lalu, Bungkusan Manis!" pangkas Herman seraya maju satu langkah, mencondongkan tubuhnya yang tinggi besar ke depan wajah Alya. "Atasan ayahmu sudah membayar polisi untuk menghentikan kasus itu. Jadi, kalian punya waktu lima menit untuk mengosongkan rumah ini, atau anak buahku yang akan melempar barang-barang kalian ke jalanan!"
༺♡༻
Ancaman Herman bergema begitu nyata, menghantam kesadaran Alya bahwa hukum yang adil telah dilumpuhkan oleh kekuasaan dan uang di luar sana. Dari balik punggung Alya, Ayah melangkah dengan susah payah sambil berpegangan pada dinding, muncul di samping Alya dengan wajah yang memerah akibat emosi dan kelelahan.
"Jangan sentuh anak saya!" seru Ayah dengan suara parau yang tertahan, mencoba memosisikan tubuhnya yang kurus di depan Alya. "Pak Herman, saya yang berurusan dengan bos Anda! Jangan libatkan anak-anak dan istri saya dalam masalah ini!"
Herman melirik Ayah dengan tatapan muak, lalu mendorong bahu Ayah menggunakan satu jari hingga pria tua itu limbung dan hampir tersungkur jika Alya tidak dengan cepat menahannya.
"Ayah!" jerit Alya menahan tubuh ayahnya yang terasa sangat ringan dan lemah. Ia menatap Herman dengan tatapan yang dipenuhi kebencian yang mendalam. "Jangan berani-berani Anda menyentuh Ayah saya lagi!"
"Tua bangkai seperti dia seharusnya tahu diri!" bentak Herman, suaranya meninggi menembus kegelapan malam. "Kalian pikir aku punya waktu seharian untuk mengurus drama keluarga miskin ini? Pilihan kalian hanya dua: serahkan sertifikat rumah ini dan lunasi sisa utangnya, atau malam ini kalian semua tidur di jalanan tanpa membawa apa pun!"
Ibu dan Wisnu berlari mendekat dari dalam rumah. Ibu menangis histeris seraya memeluk lengan Ayah, sementara Wisnu yang berusia empat belas tahun mencoba berdiri di depan kakaknya dengan tangan mengepal gemetar. "Jangan ganggu Kak Alya dan Ayah!" teriak Wisnu dengan keberanian anak muda yang polos.
Anak buah Herman bergerak maju, mendorong dada Wisnu hingga anak laki-laki itu terlempar menabrak sudut meja teras. "Wisnu!" teriak Alya histeris melihat adiknya meringis kesakitan memegangi sikunya.