Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #82

Raka Mengetahui Semuanya

Raka Mengetahui Semuanya

Raka akhirnya mengetahui alasan Alya menjauh.

°˖✧✿✧˖°

Hujan deras sore itu mengguyur kaca jendela hingga pemandangan jalanan Jakarta tampak buram tak berbentuk. Di sudut ruangan kontrakan temaram, Raka berdiri mematung mencengkeram map cokelat berdebu tebal pada sudut meja. Napasnya memburu cepat menatap wanita paruh baya di depannya yang duduk tertunduk lesu dengan jemari gemetar hebat menahan tangis duka.

"Katakan padaku sekarang, Bi. Tolong tatap mataku dan katakan bahwa semua berkas medis dan surat perjanjian ini hanya lelucon menjijikkan!" suara Raka bergetar menahan amarah bercampur ketakutan luar biasa yang mencengkeram ulu hatinya.

Bibi Maya menyeka sudut matanya dengan ujung selendang batik kusam yang tersampir di pundak tuanya. "Raka, Bibi mohon jangan paksa Bibi bicara lebih banyak. Alya sudah memohon sambil menangis bersujud agar rahasia ini terkubur selamanya dari pendengaranmu."

"Terkubur selamanya?" Raka tertawa hampa menyayat ulu hati. "Selama delapan bulan ini aku hidup seperti orang gila, Bi! Aku mengira Alya meninggalkanku karena bosan hidup sederhana bersamaku, memilih pria kaya pilihan keluarganya! Aku membencinya setiap malam dalam kepedihanku!"

"Dia tidak pernah mengkhianatimu, Raka," bisik Bibi Maya lirih, air matanya menetes deras membasahi kain batiknya. "Anak malang itu... dia mencintaimu jauh lebih besar daripada nyawanya sendiri di dunia ini."

Raka melemparkan selembar kertas putih bermeterai ke atas meja kayu jati tua. Kertas itu bergemerisik pelan sebelum mendarat tepat di samping cangkir teh dingin yang tak tersentuh.

"Lalu apa maksud lembaran ini? Mengapa ada tanda tangan Ibuku di samping surat pelepasan hubungan ini?!" seru Raka dengan mata memerah menuntut kepastian. "Ibuku memberinya uang tebusan ratusan juta rupiah dan memaksanya menandatangani perjanjian ini, kan? Apakah Alya benar-benar menjual cintanya demi segepok uang itu?!"

"Bukan untuk kemewahan dirinya sendiri, Raka!" teriak Bibi Maya akhirnya membela keponakannya, suaranya pecah membelah kesunyian ruangan. "Uang itu dipakai melunasi tagihan operasi darurat mendiang ayahnya yang kritis di rumah sakit! Ibumu datang malam itu mengancam mencabut fasilitas donor organ dan memenjarakan pamannya jika Alya menolak pergi dari sisimu!"

Raka terhuyung mundur selangkah, seakan dadanya dihantam godam raksasa. Seluruh kemarahan yang selama delapan bulan ini ia pelihara mendadak runtuh tak bersisa di lantai.

"Kenapa dia tidak berterus terang padaku?" gumam Raka serak, kedua lengannya terkulai lemas di samping tubuhnya yang kaku. "Aku ini calon suaminya, Bi. Kita bisa mencari jalan keluar bersama menghadapi cobaan ini. Kenapa dia harus menanggungnya sendirian?"

"Karena ibumu memegang kelemahan terbesarmu, Raka," sahut Bibi Maya pedih. "Ibumu bersumpah menghancurkan beasiswa bedah saraf impianmu ke Jerman jika kamu membatalkan keberangkatanmu demi merawat Alya."

"Merawat Alya?" Raka mengerjapkan mata, kepalanya berdenyut nyeri luar biasa. "Apa maksud Bibi dengan kata merawat? Alya selalu tampak bugar dan ceria saat bersamaku!"

Bibi Maya bangkit perlahan, mengambil kotak beludru hitam dari lemari kayu tua lalu menyerahkan berkas rekam medis resmi rumah sakit.

"Bacalah lembar ketiga hasil pemindaian otak itu, Raka," tutur Bibi Maya menyodorkan map itu ke tangan Raka yang gemetar kaku.

Jantung Raka berdegup kencang bagai genderang perang. Dengan jemari sedingin es, ia membuka lembaran hasil angiografi serebral. Matanya terpaku pada istilah klinis: *Arteriovenous Malformation* stadium lanjut pada lobus temporal kanan disertai aneurisma rapuh yang siap pecah sewaktu-waktu.

"Aneurisma intrakranial kronis... risiko perdarahan fatal sembilan puluh persen..." suara Raka tercekat di tenggorokan, dunianya mendadak runtuh seketika. "Vonis mengerikan ini keluar dua minggu sebelum dia mencampakkanku di kafe itu."

"Dokter memvonis hidupnya tersisa kurang dari satu tahun tanpa operasi berisiko sangat tinggi," sambung Bibi Maya terisak pedih. "Alya tahu kamu bermimpi menjadi dokter spesialis bedah saraf hebat. Dia menolak membiarkanmu melepas masa depan demi merawat kekasih yang menunggu ajal."

Raka meremas rambutnya kuat-kuat, tersungkur berlutut di ubin dingin. Air matanya tumpah membasahi lembaran hasil pemindaian sang kekasih.

"Dia memilih dihina olehku... rela menjadi monster di mataku... hanya agar aku melangkah bebas meraih impianku?" bisik Raka dalam ratapan paling hancur yang pernah keluar dari sanubarinya.

"Sekarang kamu tahu segalanya, Raka," Bibi Maya mengusap pundak pemuda itu lembut. "Alya menyendiri di rumah kecil lereng bukit Ciwidey. Kondisinya memburuk tiap pekan. Pergilah ke sana, Nak. Jangan biarkan dia mati dalam keyakinan bahwa kamu membencinya."

°˖✧✿✧˖°

Deru mesin mobil meraung liar menembus pekatnya kabut tebal di tanjakan terjal perbukitan Ciwidey. Di balik kemudi, pandangan Raka berulang kali mengabur oleh lelehan air mata penyesalan yang membanjiri kedua pipinya. Suara bentakan ketus Alya delapan bulan lalu terngiang kembali di telinganya bagai sembilu beracun yang mengiris relung kalbu.

"Pergilah dari hadapanku, Raka! Aku bosan hidup miskin dan bermimpi tentang masa depan konyol bersamamu!" terngiang suara Alya malam itu, kata-kata kejam yang dahulu menghancurkan harga dirinya kini tersingkap sebagai tangisan keputusasaan paling menyedihkan.

Raka membanting roda kemudi memasuki pekarangan berbatu sebuah pondok kayu sederhana di lereng bukit pinus. Lampu teras berpendar kekuningan di antara rintik hujan lebat. Raka segera mematikan mesin, melompat turun dari mobil, dan menerobos badai tanpa memedulikan pakaiannya yang basah kuyup.

Langkah kakinya menaiki undakan kayu yang berderit nyaring. Sebelum tangannya sempat mengetuk, pintu kayu itu perlahan terbuka dari dalam.

Sosok wanita ramping berbalut sweter rajut abu-abu longgar berdiri mematung di ambang pintu. Tubuhnya tampak jauh lebih kurus dari yang Raka ingat, wajahnya pucat pasi tanpa riasan, namun sepasang bola mata cokelat itu tetap memancarkan kehangatan yang sama.

"Raka?" bibir tipis Alya bergetar pelan, pupil matanya melebar dalam keterkejutan nyata. "Bagaimana bisa kamu... kenapa kamu ada di tempat terasing ini?"

Raka terdiam membisu sejenak, dadanya naik turun menatap wanita yang sangat dirindukannya. "Karena aku menolak membiarkanmu bersembunyi lebih lama lagi di balik dinding dusta ini, Al."

Alya tersentak, berusaha memasang raut wajah dingin yang dipaksakan. "Pulanglah sekarang juga, Raka! Tempat ini bukan untukmu! Aku sudah meminta Bibi Maya melarang siapa pun menggangguku di sini!"

"Mengganggumu?" Raka melangkah maju satu tapak, memangkas jarak di antara mereka. "Apakah kedatanganku menemui calon istriku sendiri disebut gangguan bagimu?"

"Kita sudah selesai delapan bulan yang lalu!" seru Alya dengan nada meninggi yang bergetar hebat. "Bukankah aku sudah menegaskan padamu bahwa perasaanku sudah lama mati untukmu?!"

"Bohong," tukas Raka dingin menatap lurus ke dalam mata Alya yang mulai digenangi air bening. "Katakan sekali lagi bahwa kamu tidak mencintaiku sambil menatap mataku, Alya!"

"Aku tidak mencintaimu lagi, Raka!" teriak Alya dengan suara tercekat menahan sesak di dada. "Tinggalkan aku sendiri di sini!"

"Dusta paling menjijikkan yang pernah kudengar!" balas Raka meraih kedua pundak wanita itu dengan tegas. "Aku tahu alasan mengapa kamu menjauh, Alya. Aku tahu tentang vonis kepalamu dan uang Ibuku! Aku tahu segalanya, Al!"

Lihat selengkapnya