
Aku Seharusnya Mempercayaimu
Raka menyesali semua prasangkanya.
༺♡༻
Hujan deras mengguyur jendela kaca ruang kerja lantai dua dengan ketukan monoton yang kian memperdalam rasa sunyi di kediaman megah keluarga Wardhana. Raka duduk membisu di balik meja mahogani lebarnya, menatap cangkir kopi hitam yang telah mendingin tanpa sempat tersentuh sejak sore. Ruangan itu terasa begitu luas, begitu dingin, dan terlampau sepi bagi seorang pria yang jiwanya sedang tercabik oleh prasangka beracun di dalam kepalanya.
"Sampai kapan kau akan terus duduk mematung seperti orang kehilangan separuh nyawa begini, Raka?" gumamnya serak pada diri sendiri, suaranya parau membelah kesunyian ruangan. "Bukankah ini keputusan yang kau inginkan? Kau sendiri yang mengusirnya demi menjaga kehormatan keluargamu dari pengkhianatan."
Ia menoleh ke sudut sofa kulit, tempat selendang sutra berwarna persik muda milik Nadia masih tersampir lembut di sandaran.
Pintu jati berderit pelan saat Pak Diman melangkah masuk seraya membawa nampan kayu.
"Permisi, Tuan Raka. Saya membawakan sup ayam hangat dan teh chamomile," sapa pelayan tua itu dengan nada hati-hati. "Tuan belum makan malam sama sekali sejak kemarin siang."
"Aku tidak lapar sedikit pun, Pak Diman. Bawa kembali semuanya ke dapur belakang," sahut Raka tanpa menoleh dari mejanya.
"Tapi Nyonya Nadia selalu berpesan agar saya memastikan Tuan makan tepat waktu saat beban pekerjaan Tuan sedang menumpuk," bujuk Pak Diman dengan mata cemas.
"Sudah berkali-kali kukatakan padamu, jangan pernah sebut nama wanita itu lagi di hadapanku!" bentak Raka dingin seraya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Nadia bukan lagi nyonya di rumah ini! Dia telah menjual rahasia perusahaanku kepada keluarga Pratama demi keuntungan pribadinya!"
"Tuan sungguh salah menilai Nyonya Nadia," sanggah Pak Diman dengan suara bergetar menahan tangis. "Ada amplop cokelat tebal yang tertinggal di laci meja rias Nyonya. Nyonya berpesan sambil menangis tersedu-sedu agar saya menyerahkannya kepada Tuan setelah amarah Tuan mereda."
"Letakkan saja amplop itu di atas meja dan keluar sekarang juga!" desis Raka tajam dengan napas yang memburu.
"Baik, Tuan. Tapi saya mohon, bacalah surat itu sebelum semuanya terlambat menjadi penyesalan seumur hidup yang tak terobati," pungkas Pak Diman seraya meletakkan amplop cokelat itu, lalu membungkuk hormat dan melangkah keluar kamar dengan langkah berat.
༺♡༻
Belum sempat jemari Raka menyentuh amplop cokelat di atas meja kerjanya, suara bantingan pintu gerbang depan yang berderit keras memecah keheningan malam. Langkah-langkah kaki tergesa menaiki tangga marmer, disusul dobrakan kasar yang membuka pintu ruang kerja hingga membentur dinding kayu dengan dentuman keras.
Di ambang pintu, berdirilah Dokter Adrian dengan mantel panjang yang basah kuyup akibat terpaan badai. Napas pria itu tersengal-sengal, matanya menyala merah oleh luapan amarah dan rasa sakit yang tak terbendung.
"Berani sekali kau menginjakkan kakimu di rumahku, Adrian!" bentak Raka seraya bangkit berdiri tegak, kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh. "Setelah kau merebut istriku dan mencuri dokumen proyek perusahaanku, kau masih punya muka untuk datang ke sini?!"
"Tutup mulut kotor dan kepongahanmu itu, Raka!" sahut Adrian dengan suara menggelegar yang membuat dinding ruang kerja bergetar. "Aku datang ke sini bukan untuk berdebat dengan manusia arogan sepertimu! Aku datang untuk menunjukkan betapa buta dan menjijikkannya prasangka yang kau pelihara di otakmu!"
Adrian melangkah lebar melintasi ruangan, lalu membanting sebuah map plastik tebal berwarna biru gelap tepat di hadapan Raka. Berkas-berkas di dalamnya berhamburan ke atas meja: surat perjanjian medis, formulir rumah sakit, serta lembaran bukti transfer bank bernilai miliaran rupiah atas nama pribadi Nadia.
"Apa maksud dari semua tumpukan kertas sampah ini?" tanya Raka dengan seringai sinis, berusaha menutupi detak jantungnya yang mendadak berdegup kencang tak beraturan. "Kau ingin membuat cerita karangan baru untuk membersihkan nama wanita pezina itu di depanku?"
"Buka matamu yang buta itu dan baca sendiri, keparat bodoh!" teriak Adrian seraya mencengkeram kerah kemeja Raka dan menariknya mendekat. "Nadia tidak pernah menjual rahasia proyek maritim keluargamu ke keluarga Pratama! Dokumen rahasia itu dibocorkan dan dijual oleh sepupumu sendiri, Rendy, untuk melunasi utang judi kasinonya di Makau!"
Raka terkesiap, tubuhnya mendadak kaku saat menatap sorot mata Adrian yang berkilat tajam tanpa setitik pun keraguan. "Bohong... Jangan mengarang cerita murahan! Nadia yang tertangkap kamera pengawas hotel bertemu denganmu berduaan larut malam! Kalian berdua yang bertransaksi di sana!"
"Malam itu ibumu mengalami gagal jantung akut di rumah sakit swastaku, Raka!" sembur Adrian tepat di depan hidungnya, suaranya bergetar hebat saat air mata tumpah di pipinya yang basah. "Nadia datang ke hotel tempatku menghadiri simposium medis untuk memohon padaku sambil bersujud di lantai marmer! Dia memohon agar kami merahasiakan penyakit kanker getah bening stadium empat ibumu darimu, karena saat itu kau sedang menghadapi rapat penentuan tender terbesar dalam kariermu!"
"Apa katamu... Ibu menderita kanker stadium empat...?" bisik Raka dengan bibir mendadak pucat pasi, seluruh sendi kakinya serasa kehilangan daya topang.
"Ya, ibumu sekarat selama dua bulan ini, dan Nadia yang berjuang sendirian menyelamatkan nyawanya sementara kau sibuk mencurigai kesuciannya!" jerit Adrian penuh kepedihan.
"Mengapa... mengapa Nadia tidak pernah bercerita sedikit pun padaku tentang penyakit Ibu?!" tanya Raka tercekik penyesalan yang mulai merayap.
"Karena kau pria pemarah yang tak pernah mau mendengar apa pun selain pradugamu sendiri!" balas Adrian sengit menatapnya tajam.
"Kalian menyembunyikan hal sebesar ini dariku?!" desis Raka dengan napas tertahan.
"Nadia melakukannya demi melindungimu, bukan untuk mengkhianatimu!" tegas Adrian memotong kata-katanya.
༺♡༻
"Itu tidak mungkin... kau pasti bersekongkol membohongiku!" suara Raka tercekat di tenggorokannya yang mendadak kering kerontang. Tangannya yang dingin dan gemetar meraba lembaran rekam medis yang berserakan di atas meja. Matanya menyapu deretan cap resmi laboratorium onkologi, diagnosis sitologi, dan riwayat kemoterapi darurat atas nama ibundanya. "Ibu tidak pernah mengeluh sakit apa pun padaku! Ibu selalu tersenyum setiap kali kami makan malam bersama!"
"Tentu saja ibumu terlihat baik-baik saja di depanmu, karena Nadia yang memikul semua penderitaan itu seorang diri!" semprot Adrian seraya menghempaskan cengkeramannya dari kerah kemeja Raka. "Ibumu yang memohon kepada Nadia sambil menangis agar merahasiakan semuanya darimu! Ibumu tahu beban kerja dan tekanan keluargamu sedang sangat berat, dan Nadia memilih menjadi tameng agar pikiranmu tidak pecah!"
Raka menggelengkan kepalanya dengan tatapan linglung dan panik, jemarinya beralih mencengkeram lembaran mutasi rekening koran. "Lalu bagaimana dengan uang ini?! Lima ratus juta rupiah yang ditransfer langsung ke rekening pribadimu dari rekening bersama kami! Bukankah uang ini bukti suap untuk rahasia bisnisku?!"
"Demi Tuhan, Raka! Buka matamu dan lihat rincian transaksi obat itu!" jerit Adrian dengan kemarahan yang meluap hingga urat lehernya menonjol tegang. "Uang itu digunakan untuk membayar biaya impor obat imunoterapi eksperimental dari Jerman! Asuransi menolak klaim pengobatan ibumu karena dianggap penyakit kronis lama, dan pihak rumah sakit butuh jaminan dana tunai malam itu juga! Nadia bahkan menjual kalung berlian peninggalan almarhumah ibunya sendiri dan menjual mobil pribadinya demi menggenapi kekurangan dana tersebut!"
Kata-kata Adrian menghantam sanubari Raka layaknya hantaman godam berkekuatan ribuan ton. Ruangan itu mendadak berputar di sekelilingnya saat ingatan malam kelam tiga hari lalu membanjiri benaknya tanpa ampun.