Berdiri di Sampingmu
°˖✧✿✧˖°
Pagi itu dimulai seperti pagi-pagi lainnya. Alya berangkat kerja dengan setengah roti bakar di tangan dan senyum yang ia simpan khusus untuk hari Jumat. Langit Jakarta masih abu-abu, tetapi hatinya cerah. Proyek besar itu hampir selesai—dua minggu lagi, dan presentasinya di depan direksi akan menentukan promosinya.
Ia tidak pernah menyangka bahwa di lantai dua puluh tiga, sesuatu yang jauh lebih gelap sedang menunggunya.
Begitu Alya melangkah keluar dari lift, suasana kantor terasa aneh. Biasanya rekan-rekannya menyapanya ramai, tetapi pagi ini mereka menunduk, pura-pura sibuk dengan layar komputer masing-masing. Bahkan Dina, sekretaris yang selalu menyapanya dengan senyum lebar, hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit dibaca—campuran antara kasihan dan takut.
"Alya." Suara Pak Surya, manajer divisinya, terdengar kaku dari balik pintu ruangannya. "Kau dipanggil ke ruang rapat. Sekarang."
"Ada apa, Pak?" tanya Alya, detak jantungnya mulai berdebar tidak karuan.
Pak Surya tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan berjalan lebih dulu.
Di ruang rapat, Alya menemukan tiga orang sudah duduk menunggu: Pak Bram dari direksi, Veronica—kepala divisi keuangan yang selama ini bersikap dingin padanya—dan seorang petugas keamanan yang memegang map cokelat.
"Alya, silakan duduk," ucap Pak Bram tanpa senyum.
Alya duduk, tangannya dingin. "Pak, maaf, saya kurang paham—"
"Kemarin malam, tim audit menemukan dokumen penggelapan di laci mejamu," potong Veronica dengan nada tajam. "Tujuh puluh lima juta rupiah, dialirkan ke rekening atas namamu melalui proyek yang sedang kau tangani."
"Apa?" Alya hampir tidak percaya dengan telinganya sendiri. "Itu mustahil! Saya tidak pernah—pakai saya tahu dokumen apa itu!"
"Kami menemukan ini di laci mejamu." Pak Bram mendorong sebuah map. Di dalamnya ada fotokopi dokumen transfer dengan tanda tangan yang sangat mirip miliknya. "Alya, sementara ini kamu kami nonaktifkan. Investigasi internal akan berjalan, dan kami sarankan kamu tidak menghubungi siapapun terkait kasus ini."
Alya merasa seluruh ruangan berputar. "Pak Bram, saya bersumpah saya tidak melakukannya. Tolong periksa lagi—itu pasti ada yang mencoba menjebak saya!"
"Tanda tangan ini sudah diperiksa forensik," kata Veronica dingin, tanpa mengedipkan mata. "Cocok, Alya. Sekarang, tolong serahkan kartu aksesmu dan kosongkan mejamu di bawah pengawasan petugas keamanan."
Alya membuka mulut untuk membantah, tetapi suaranya hilang. Ia melihat ke wajah mereka satu per satu—tidak ada keraguan di sana, hanya vonis. Dengan tangan gemetar, ia melepas kartu aksesnya dan meletakkannya di atas meja.
Ketika ia berjalan keluar melewati barisan meja rekan-rekannya, Alya bisa merasakan tatapan mereka menusuk punggungnya. Tidak ada yang berani menatap matanya. Tidak ada yang berani berbicara.
Di luar gedung, hujan turun tanpa peringatan. Alya berdiri di halte bus tanpa payung, basah kuyup, menatap air yang mengalir di got seolah-olah air itu bisa membawanya pergi dari kenyataan ini.
Ponselnya berbunyi. Satu pesan dari nomor Raka: "Kabar baik apa hari ini, calon kepala divisi? Traktir makan malam ya kalau presentasimu disetujui."
Alya menatap pesan itu lama. Air mata akhirnya jatuh, bercampur dengan air hujan di pipinya. Ia mengetik balasan dengan jari gemetar: "Raka... aku butuh kamu. Sekarang."
°˖✧✿✧˖°
Raka tiba dalam waktu tiga puluh menit, mobilnya berhenti mendadak di depan halte dengan ban mencicit. Ia turun tanpa peduli hujan, tanpa payung, langsung berlari ke arah Alya yang masih berdiri mematung.
"Alya! Kenapa? Kau kenapa?" tanyanya panik, menangkap bahu Alya dengan kedua tangan.
Dan Alya menceritakan semuanya—antara isakan yang tercekat dan suara yang bergetar. Dokumen palsu di lacinya. Tujuh puluh lima juta. Nonaktif tanpa proses. Raka mendengarkan dengan rahang yang semakin mengeras, matanya tidak lepas dari wajah Alya yang pucat.
"Raka, mereka tidak mau mendengarkan," isak Alya. "Semua orang langsung percaya. Seolah aku memang tipe orang yang akan mencuri. Empat tahun aku kerja di sana, Raka. Empat tahun!"
Raka menarik Alya ke dalam pelukannya, membiarkan hujan membasahi kemejanya. "Dengarkan aku," katanya tegas, sambil menahan bahu Alya agar menatapnya. "Aku kenal kau. Aku tahu kau bukan orang seperti itu. Dan aku akan membuktikannya—kepada kantormu, kepada semua orang yang menghakimi kau."
"Tapi mereka punya bukti, Raka. Tanda tanganku—itu tanda tanganku, meskipun aku tidak pernah menandatangani apa pun!" Alya menggeleng putus asa. "Semua orang akan mempercayai dokumen daripada kata-kataku."
"Dokumen bisa dipalsukan. Rekening bisa ditelusuri. Waktu kejadian bisa dicocokkan." Raka menyeka air hujan dari wajah Alya dengan ibu jarinya, pelan, seperti menyeka keramahan dunia dari wajah seseorang yang berhak mendapatkannya. "Kau tidak sendirian lagi, Alya. Aku di sini. Dan aku memilih untuk ada di sini."
"Kau tidak harus ikut terlibat," bisik Alya. "Ini masalahku. Kau punya karier, Raka. Kalau namamu terseret—"
"Alya." Raka memotong dengan suara yang dalam dan tenang. "Kau pernah berdiri di sisiku ketika ibuku sakit dan semua orang bilang aku terlalu muda untuk menangani segalanya. Kau tidak pernah pergi. Sekarang giliranku. Aku tidak bertanya apakah kau mau dibantu. Aku hanya memberitahumu: aku akan membantumu."
Alya menatapnya dalam-dalam. Di tengah hujan dan kehancuran, ada sesuatu yang hangat menyala di dadanya—sebuah keyakinan kecil bahwa mungkin, hanya mungkin, ia bisa bertahan.
"Mereka menyuruhku tidak menghubungi siapapun terkait kasus ini," kata Alya pelan.
"Maka kita tidak akan bertindak bodoh," jawab Raka, membuka pintu mobilnya. "Naik. Kita perlu rencana. Dan aku sudah punya beberapa nama di kepala—orang yang bisa membantu kita menelusuri siapa dalang di balik semua ini."
Alya masuk ke mobil. Untuk pertama kalinya sejak pagi, napasnya terasa lebih mudah.
°˖✧✿✧˖°
Rencana indah selalu bertemu kenyataan pada hari Senin.
Raka baru saja duduk di mejanya ketika telepon kantornya berdering. Suara dari bagian personalia. "Raka, bisa ke ruang HRD sekarang? Ada yang perlu kita bicarakan."
Di ruang HRD, wajah Bu Rina, kepala personalia, terlihat canggung. "Raka, kami menerima laporan bahwa kamu terlibat dalam kasus yang sedang diinvestigasi di perusahaan lain—perusahaan rekanan kita. Atasanmu khawatir ini akan mempengaruhi proyek gabungan kita."
"Alya bukan pelaku, Bu. Dia korban fitnah," jawab Raka tegas.
"Kami tidak menghakimi," kata Bu Rina hati-hati. "Tapi kamu harus paham posisi perusahaan. Direktur proyek gabungan itu adalah teman dekat Veronica. Kamu tahu sendiri bagaimana lingkaran ini bekerja."
"Jadi apa yang kau minta, Bu?"
Bu Rina menghela napas. "Untuk sementara, jauhi kasus itu. Fokus ke pekerjaanmu. Atau... kamu juga bisa mengambil cuti tanpa bayar sampai situasi tenang. Itu saran, bukan perintah."