Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #85

Ancaman Terakhir

Ancaman Terakhir

Faris melakukan langkah terakhir untuk memisahkan mereka.

༺♡༻

Rintik hujan deras menghantam kaca tebal lantai tiga puluh dengan ketukan yang terdengar bagai dentang genderang perang. Di balik tirai beludru abu-abu yang tersibak separuh, bentangan kota Jakarta tampak gemerlap namun dingin di bawah selimut kabut malam. Faris berdiri tegak di depan jendela megah itu sembari memutar gelas kristal berisi wiski keemasan di tangan kanannya. Es batu di dalamnya beradu pelan, menyuarakan keheningan yang sarat ketegangan.

"Tuan Faris, apakah Anda yakin rencana ini tidak akan menimbulkan gejolak hukum di kemudian hari?" tanya Baskara ragu dari balik bayang-bayang lemari arsip.

Faris meneguk minumannya perlahan sebelum menanggapi dengan nada santai namun dingin. "Kekuatan sejati tidak pernah takut pada hukum buatan manusia, Baskara. Arga tidak memiliki celah untuk melawan malam ini."

"Bagaimana bila Nona Alana tetap memilih bertahan di sisi pria itu meski mengetahui seluruh konsekuensinya?" desak Baskara ingin memastikan keteguhan tuannya.

"Wanita itu terlalu rapuh untuk membiarkan Arga hancur berkeping-keping," sahut Faris seraya tersenyum sinis. "Cintanya yang naif justru menjadi jerat terbaik untuk mencekik leher mereka berdua tanpa perlu mengotori tanganku secara terbuka."

"Apakah kita perlu menyiapkan pengawalan bersenjata tambahan di lantai bawah?" tanya Baskara lagi dengan nada cemas.

"Tidak perlu pengawalan berlebihan," jawab Faris tegas. "Biar mereka naik tanpa hambatan sedikit pun agar merasa aman sebelum terperangkap."

"Seluruh berkas perkara yayasan telah siap di atas meja Anda, Tuan," imbuh sang asisten.

"Bagus. Biarkan pintu lift terbuka lebar saat mereka tiba," titah Faris dingin. "Malam ini adalah akhir dari segala penantianku."

Lentingan lift eksekutif di ujung lorong berdentang nyaring, disusul desisan pintu baja yang terbuka perlahan. Suara derap langkah kaki tergesa-gesa memantul di atas lantai marmer hitam Italia. Dua pasang mata yang menyimpan kobaran amarah dan kecemasan mendalam muncul di ambang pintu ruangan yang temaram itu.

"Selamat malam, para sejoli yang malang," sapa Faris sembari membalikkan badan dengan seringai beracun yang memuakkan. "Kalian datang tepat pada waktunya untuk menyaksikan babak terakhir kisah kalian berdua."

"Tutup mulut busukmu, Faris!" bentak Arga dengan napas memburu, berdiri kokoh melindungi Alana di sampingnya. "Katakan langsung apa maumu sekarang juga sebelum kuhancurkan ruangan ini!"

༺♡༻

Arga melangkah maju dua langkah, menatap tajam ke arah Faris dengan sorot mata yang menyala bagai nyala api di tengah badai. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh, menahan ledakan amarah yang nyaris tak terbendung lagi. Di belakangnya, Alana berdiri terpaku dengan raut wajah pasi dan bibir yang bergetar menahan kepedihan yang luar biasa. Hujan di luar jendela kian deras mencakar kaca, mengiringi detak jantung mereka yang berdegup kencang tak beraturan.

"Hentikan intimidasi murahan ini, Faris!" seru Arga dengan nada rendah namun penuh ancaman yang menggetarkan ruangan. "Apa sebenarnya maumu hingga tega meneror rumah sakit tempat adik kandungku berjuang antara hidup dan mati?"

Faris meletakkan gelas kristalnya di atas meja mahoni hingga menimbulkan denting yang tajam. Ia mengamati Arga dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan yang amat menyakitkan hati.

"Duduklah terlebih dahulu, Arga," tawar Faris dengan suara yang begitu lembut namun menusuk tulang. "Kemarahan hanya akan membuat aliran darahmu naik tanpa menyelesaikan seujung kuku pun dari persoalan besar yang sedang menjerat lehermu saat ini."

"Kami tidak datang ke sarang serigala ini untuk bertamu atau berbasa-basi denganmu!" sergah Alana cepat seraya menatap lurus ke pupil mata Faris. "Katakan apa yang kau inginkan dari kami malam ini agar kami bisa segera pergi dari hadapanmu!"

Faris tersenyum tipis, mengangkat satu alisnya dengan angkuh. Ia mengambil map kulit hitam tebal dari atas mejanya dan melemparkannya hingga meluncur mulus ke hadapan Alana.

"Buka map itu sekarang juga, Alana," perintah Faris dengan suara yang dingin bagai es kutub. "Di dalamnya terdapat bukti transfer palsu bernilai empat puluh miliar rupiah yang siap menjebloskan Arga ke penjara bawah tanah, lengkap dengan selembar tiket penerbangan eksekutif menuju Jenewa atas namamu."

Arga hendak menyambar berkas tersebut, namun suara Faris seketika menggelegar menghentikan gerakannya. "Jangan sentuh kertas itu jika kau tidak ingin rekaman pembicaraan rekayasa ini langsung meluncur ke meja kepala kejaksaan agung detik ini juga!"

Alana menarik napas gemetar saat membuka lembaran dokumen resmi berstempel basah di hadapannya.

"Kau merekayasa tuduhan pencucian uang terhadap yayasan mendiang ayah Arga?" tanya Alana dengan suara tercekat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Bagaimana bisa kau sejahat ini pada orang yang tidak pernah merugikanmu barang sepeser pun?"

"Tepat sekali, Sayang," bisik Faris seraya menyandarkan punggungnya di kursi kulit mewah. "Syaratku sangat sederhana dan tidak bisa ditawar lagi. Kau menandatangani surat pemutusan hubungan dengan Arga, terbang ke Swiss besok pagi pukul delapan, dan berjanji tidak akan pernah kembali lagi ke negeri ini. Bila kau setuju, seluruh berkas pemerasan ini akan kubakar habis tanpa menyisakan bara sedikit pun di depan kedua matamu."

"Kau bajingan paling keji yang pernah ada di muka bumi ini!" kutuk Arga seraya menatapnya dengan kebencian mutlak. "Aku lebih baik mati daripada membiarkan Alana pergi meninggalkan hidupku demi ambisi gila pria bejat sepertimu!"

"Keji atau tidak, akulah yang memegang kendali atas nasib kalian malam ini," balas Faris dengan tawa dingin yang menyakitkan telinga. "Pilihlah sekarang: perpisahan sukarela atau kehancuran total untuk semua orang yang kau cintai di dunia ini!"

༺♡༻

Udara di dalam ruang kerja megah itu seketika terasa menyengat bagai belerang yang terbakar. Arga menghantam permukaan meja kaca itu dengan kedua telapak tangannya hingga dokumen di atasnya berhamburan ke lantai marmer yang berkilau. Tubuhnya gemetar oleh amarah yang membakar setiap sendi tubuhnya, sementara tatapannya mengunci Faris tanpa secuil pun rasa takut.

"Kau pikir kau bisa membeli cinta dan kehormatan dengan tumpukan uang harammu itu, Faris?" sembur Arga dengan suara yang menggelegar memenuhi ruangan. "Aku bersumpah demi nyawaku, aku tidak akan membiarkan Alana tunduk pada ancaman manusia berhati iblis sepertimu!"

Faris sama sekali tidak bergeming dari tempat duduknya, senyuman sinis di bibirnya justru semakin melebar penuh kepuasan melihat kepanikan di wajah tamunya.

"Kau selalu berlagak menjadi pahlawan berkuda putih, Arga," cemooh Faris dengan intonasi mengejek yang amat kental. "Namun kenyataannya, kau hanyalah pria pecundang yang tidak menyadari bahwa tanah tempatmu berpijak sudah kujual kepada para pengutang!"

Alana maju mendekat seraya memegang erat lengan Arga yang tegang bagai kawat baja. "Faris, tolong sadarlah! Apa arti semua dendam kesumat ini bagimu setelah bertahun-tahun berlalu?"

"Artinya adalah pembalasan yang setimpal atas penolakanmu lima tahun yang lalu, Alana!" potong Faris dengan suara meninggi dan tatapan mata yang mendadak berkilat liar. "Aku memberikan segalanya untukmu! Nama besar keluarga konglomerat, perhiasan termahal, kedudukan sosial tertinggi, dan perlindungan penuh! Namun kau justru membuang semua kemewahan itu demi pria miskin yang bahkan tidak sanggup membayar biaya pengobatan adiknya sendiri!"

"Cinta bukan barang dagangan yang bisa kau lelang di pasar malam, Faris!" teriak Alana menentang pria itu dengan keberanian yang bangkit dari luka batinnya. "Aku menolakmu karena hatimu dipenuhi racun dan arogansi yang menjijikkan!"

Lihat selengkapnya