Kebenaran Terungkap
Kebohongan Faris akhirnya terbongkar.
°˖✧✿✧˖°
Hujan baru saja berhenti ketika Raka berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Titik-titik air masih menggantung di kaca, memantulkan cahaya lampu kota yang berpendar di kejauhan.
Namun, tidak ada satu pun pemandangan malam yang mampu menenangkan pikirannya.
Di atas meja, sebuah ponsel tergeletak dengan layar menyala.
Ada satu pesan masuk dari nomor yang selama beberapa minggu terakhir menjadi sumber keresahan.
Faris.
Raka menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya membuka pesan.
"Aku tahu kamu sudah mulai mencari tahu. Kalau ingin mengetahui semuanya, datang sendiri. Jangan bawa Alya."
Raka mengerutkan kening.
Beberapa menit kemudian, pesan lain masuk.
"Ada hal yang selama ini sengaja tidak kukatakan kepadamu."
Raka menggenggam ponselnya erat.
Selama ini Faris selalu muncul dengan cerita yang membuat pikirannya dipenuhi kecurigaan. Pesan-pesan misterius, informasi tentang Alya, foto-foto yang terlihat meyakinkan, sampai potongan percakapan yang membuat Raka percaya bahwa Alya menyembunyikan sesuatu.
Semua itu pernah membuat Raka kehilangan kendali.
Ia pernah menuduh Alya.
Pernah meninggikan suara.
Pernah membuat perempuan yang dicintainya menangis.
Dan yang paling menyakitkan, Raka pernah membiarkan dirinya percaya kepada orang lain daripada kepada Alya.
"Kalau kali ini memang ada kebenaran yang harus kuketahui..." gumam Raka, "aku akan menghadapinya."
Ia mengambil jasnya.
Namun sebelum melangkah keluar, ponselnya berdering.
Nama Alya muncul di layar.
Raka terdiam.
Beberapa detik kemudian, ia mengangkat telepon.
"Halo."
Suara Alya terdengar pelan.
"Kamu di mana?"
"Di kantor."
"Masih bekerja?"
Raka mengembuskan napas.
"Aku harus pergi sebentar."
Hening.
"Ke mana?"
Raka menatap layar ponselnya.
Ia tahu kalau berbohong sekarang hanya akan memperpanjang masalah.
"Aku mau menemui Faris."
Nada suara Alya berubah.
"Raka..."
"Aku tidak akan melakukan apa-apa tanpa memastikan semuanya."
"Kenapa harus pergi sendiri?"
"Karena dia meminta bertemu."
Alya terdiam.
Raka bisa merasakan keraguan dari ujung telepon.
"Aku takut kamu kembali percaya kepadanya," ucap Alya akhirnya.
Kalimat itu menghantam dada Raka.
"Justru karena itu aku harus pergi."
"Raka..."
"Alya, kali ini aku ingin mencari kebenaran. Bukan mencari alasan untuk mencurigaimu."
Alya tidak langsung menjawab.
Kemudian terdengar helaan napasnya.
"Baik. Tapi berjanjilah satu hal."
"Apa?"
"Jangan pulang membawa kesimpulan sebelum kamu mendengar semuanya."
Raka memejamkan mata.
"Berjanji."
"Dan Raka..."
"Ya?"
"Kalau ternyata selama ini aku memang tidak bersalah..."
Raka terdiam.
Suara Alya bergetar.
"...jangan hanya meminta maaf. Percayalah kepadaku."
Raka menelan ludah.
"Aku akan."
Telepon berakhir.
Raka mengambil kunci mobil.
Malam itu, ia pergi bukan untuk membuktikan bahwa Alya bersalah.
Ia pergi untuk menemukan alasan mengapa selama ini dirinya begitu mudah ditipu.
°˖✧✿✧˖°
Sebuah kafe kecil yang hampir kosong menjadi tempat pertemuan mereka.
Faris sudah duduk di sudut ruangan.
Ketika Raka datang, Faris hanya tersenyum tipis.
"Kamu datang juga."
Raka menarik kursi di depannya.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"
Faris bersandar.
"Kebenaran."
Raka tertawa hambar.
"Lucu. Orang yang paling banyak memberiku kebohongan justru bicara tentang kebenaran."
Senyum Faris menghilang.
"Kamu sudah berubah."
"Aku memang berubah."
"Karena Alya?"
"Karena aku sadar aku hampir kehilangan orang yang paling penting bagiku."
Faris menatap Raka beberapa saat.
"Kamu yakin Alya tidak pernah menyembunyikan sesuatu?"
"Aku tidak datang untuk membicarakan Alya."
"Padahal semua yang terjadi berawal dari dia."
Raka mencondongkan tubuh.
"Kalau kamu memang punya bukti, keluarkan."
Faris mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.
Ia meletakkannya di atas meja.
"Ini."
Raka membuka amplop itu.
Beberapa lembar foto terlihat di dalamnya.
Foto Alya bersama seorang pria.
Foto Alya sedang berdiri di depan sebuah restoran.
Foto dirinya sedang berbicara dengan seseorang.
Raka memandangi foto-foto itu.
"Dari mana kamu mendapatkan ini?"
"Sudah kubilang. Alya punya masa lalu yang tidak pernah ia ceritakan."
Raka mengangkat satu foto.
"Ini diambil kapan?"
"Beberapa bulan lalu."
"Jam berapa?"
Faris tampak sedikit terkejut.
"Untuk apa?"
"Jawab."
Faris menyebutkan waktu.
Raka langsung mengeluarkan ponselnya.
"Aku sudah meminta data rekaman parkir dari tempat itu."
Wajah Faris berubah.
"Rekaman?"
"Ya."
Raka membuka sebuah berkas.
"Dan ternyata foto ini bukan diambil pada hari yang kamu katakan."
Faris diam.
"Foto ini diambil dua tahun lalu."
"Itu tidak membuktikan apa-apa."
"Benarkah?"
Raka mengeluarkan foto lain.
"Karena pria di foto ini ternyata adalah sepupu Alya."
Faris menatap meja.
Raka mulai menyadari sesuatu.
Bukan Alya yang selama ini menyembunyikan kebenaran.
Seseorang sengaja menyusun potongan-potongan fakta agar terlihat seperti kebohongan.
"Kamu sengaja memotong informasi."
Faris tidak menjawab.
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin menunjukkan apa yang tidak kamu lihat."
"Tidak."
Raka menggeleng.
"Kamu ingin aku melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada."
Faris menatapnya tajam.
"Kalau aku tidak memberitahumu, kamu tidak akan pernah tahu bahwa Alya punya masa lalu."
"Semua orang punya masa lalu."
"Tapi masa lalunya bisa memengaruhi hubungan kalian."
"Yang memengaruhi hubungan kami adalah kebohonganmu."
Faris mengepalkan tangan.
Raka kemudian membuka sebuah file lain.
"Dan ini lebih menarik."
"Apa itu?"
"Riwayat pesan yang kamu kirim kepadaku."
Wajah Faris menegang.
Raka meletakkan ponselnya di meja.
"Beberapa pesan dikirim dari nomor lain."
"Aku tidak tahu."
"Nomor itu ternyata terhubung dengan perangkat yang pernah kamu gunakan."
Faris terdiam.
Untuk pertama kalinya, Raka melihat sesuatu yang berbeda di wajah lelaki itu.
Bukan keyakinan.
Bukan keberanian.
Melainkan ketakutan.
°˖✧✿✧˖°
Raka pulang lebih malam dari biasanya.
Alya masih menunggunya.
Ia duduk di ruang tengah dengan tangan terlipat di pangkuan. Wajahnya terlihat lelah, tetapi matanya tetap tertuju pada pintu.
Begitu Raka masuk, Alya berdiri.
"Bagaimana?"
Raka tidak langsung menjawab.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja.
"Aku salah."
Alya terdiam.
Kalimat itu begitu sederhana, tetapi terdengar berat.
"Apa maksudmu?"
"Sebagian besar hal yang selama ini membuatku curiga kepadamu... ternyata sudah dimanipulasi."
Alya menutup mata.
Air mata perlahan menggenang.
"Jadi sekarang kamu percaya?"
Raka mengangguk.
"Aku percaya."
Alya tertawa kecil, tetapi terdengar getir.
"Setelah semuanya?"
Raka mendekat.
"Alya..."
"Berapa lama aku harus meyakinkanmu bahwa aku tidak melakukan semua itu?"
Raka terdiam.
"Setiap kali kamu melihat sesuatu tentang aku, kamu langsung percaya."
"Aku tahu."
"Setiap kali Faris mengatakan sesuatu, kamu mempertanyakan aku."
"Aku tahu."
"Dan ketika aku menangis, kamu mengira aku sedang menyembunyikan sesuatu."
Raka menundukkan kepala.
"Aku tahu."
Alya mengusap air mata.
"Kalau begitu, kenapa baru sekarang?"
Pertanyaan itu membuat Raka tidak mampu menjawab.
Alya memalingkan wajah.
"Aku tidak marah karena kamu ingin mencari kebenaran."
"Kalau begitu..."
"Aku terluka karena selama ini kamu mencarikan kebenaran di tempat lain, padahal aku selalu berdiri di depanmu."
Raka menatapnya.
"Aku bodoh."
Alya menggeleng.
"Jangan menyebut dirimu begitu."
"Kalau begitu, sebut aku apa?"
"Orang yang terlalu takut kehilangan."
Raka terdiam.
Alya melanjutkan.
"Kamu takut aku pergi. Karena itu kamu mencari alasan untuk mempersiapkan diri sebelum kehilangan."
Raka menarik napas dalam.
"Ya."
"Dan ketakutanmu justru membuatku merasa seperti orang yang tidak dipercaya."
Raka duduk di hadapannya.
"Aku minta maaf."
Alya tidak menjawab.
"Aku minta maaf karena membiarkan rasa takut mengalahkan kepercayaanku."
Alya menatapnya.
"Apakah semuanya sudah selesai?"
"Belum."
Raka mengeluarkan ponselnya.
"Aku menemukan sesuatu."
"Apa?"
"Faris bukan hanya menyebarkan informasi palsu. Dia sengaja membuat beberapa bukti terlihat seperti berasal darimu."
Alya mengerutkan kening.
"Bagaimana caranya?"
"Dia menggunakan potongan percakapan lama, foto yang diambil di waktu berbeda, dan nomor lain untuk menghubungiku."
Alya terdiam.
"Kenapa dia melakukan itu?"
"Itu yang belum aku tahu."
Tiba-tiba ponsel Raka berdering.
Sebuah pesan masuk.
"Kalau ingin tahu alasan sebenarnya, cari orang yang menyimpan rekaman percakapan kita."
Raka dan Alya saling berpandangan.
"Apa maksudnya?" tanya Alya.
Raka membaca pesan itu sekali lagi.
"Faris."