°˖✧✿✧˖°
Hujan telah berhenti sejak subuh, tetapi udara di kota itu masih menyisakan bau tanah basah yang menusuk hidung. Alya berdiri di depan jendela kamarnya, memeluk erat secangkir teh hangat yang lama tak disentuhnya. Sudah empat puluh dua hari. Empat puluh dua hari ia menanggung nama buruk, menjadi bahan gunjingan, dihindari tetangga, dan bahkan dilecehkan di media sosial oleh orang-orang yang tidak ia kenal.
Pintu kamarnya diketuk pelan. Raka masuk dengan wajah yang sulit ia baca—ada campuran antara lelah, waspada, dan sesuatu yang lebih terang, seperti cahaya seseorang yang baru saja menemukan jalan di ruangan gelap.
"Alya," panggil Raka pelan, "aku perlu kau melihat sesuatu. Tapi janji padaku, kau akan tetap tenang."
Alya menarik napas panjang. "Selama empat puluh dua hari ini aku sudah belajar tenang, Raka. Apapun itu, tunjukkan."
Raka duduk di tepi tempat tidur dan meletakkan ponselnya di atas nakas. "Tadi malam, aku dihubungi seseorang. Seorang karyawan lama di kantor lama Veronica. Dia bilang, dia tidak tahan lagi menyimpan ini."
Layar ponsel menampilkan sebuah rekaman CCTV dari ruang arsip. Alya memandanginya dengan detak jantung yang berdebar kencang. Terlihat jelas sosok Veronica—dengan rambutnya yang selalu ditata sempurna—memasukkan sesuatu ke dalam laci meja Alya, tepat sebelum hari ketika barang bukti palsu itu ditemukan.
"Ini... ini rekaman asli?" bisik Alya, suaranya bergetar.
"Asli. Aku sudah minta ahli forensik digital untuk memeriksanya semalaman. Tidak ada rekayasa. Timestamp-nya juga cocok dengan laporan keamanan gedung," jawab Raka. "Alya, ini buktinya. Ini bukti bahwa semuanya adalah fitnan."
Mata Alya memanas. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh, tetapi kali ini bukan air mata penyesalan atau rasa malu. Ini air mata seseorang yang akhirnya melihat pintu keluar dari ruangan gelap yang terkunci.
"Aku tidak percaya," ucap Alya sambil tersenyum di tengah tangisnya. "Empat puluh dua hari aku berdoa, Raka. Empat puluh dua hari aku bertanya-tanya kenapa Tuhan diam saja."
"Tuhan tidak pernah diam, sayang," kata Raka, meraih tangan Alya dan menggenggamnya erat. "Dia hanya sedang menyiapkan bukti yang tidak bisa dibantah siapapun."
Alya mengusap air matanya. "Lalu sekarang apa rencanamu? Veronica pasti tidak akan tinggal diam kalau tahu rekaman ini ada."
"Justru karena itu, kita harus bergerak lebih cepat dari dia." Raka menatap Alya dalam-dalam. "Aku sudah bicara dengan pengacara kita pagi ini. Ada satu kesempatan besar. Pekan depan, perusahaan mengadakan rapat pemegang saham terbuka, dan semua yang pernah terlibat dalam kasus ini akan hadir—termasuk direksi yang dulu menuduhmu."
Alya terdiam. "Kau mau kita ungkap semuanya di sana? Di depan semua orang?"
"Di sanalah nama baikmu akan dipulihkan. Bukan lewat bisik-bisik, bukan lewat postingan media sosial. Tapi di depan orang-orang yang dulu menghakimimu." Raka mengangkat dagu Alya lembut. "Kau tidak harus melakukannya kalau kau belum siap. Aku bisa menangani ini sendiri."
Alya menggeleng tegas. "Tidak. Ini perjuanganku, Raka. Aku yang harus berdiri di sana. Aku yang harus memandang mereka satu per satu dan membuat mereka tahu bahwa aku tidak pernah bersalah."
Senyum tipis muncul di bibir Raka. "Itu perempuanku."
°˖✧✿✧˖°
Tiga hari menjelang rapat, apartemen kecil mereka berubah menjadi markas perang. Kertas-kertas dokumen berserakan di meja makan, laptop menyala hingga larut malam, dan aroma kopi yang pekat menjadi penghuni baru di dapur mereka.
Pak Hendra, pengacara mereka yang berambut mulai memutih, membuka berkas tebal di hadapan Alya dan Raka. "Rekaman CCTV ini kuat, tapi belum cukup. Veronica pasti akan berdalih rekaman itu tidak utuh atau konteksnya dipotong. Kita butuh saksi langsung."
"Saksi langsung?" ulang Alya. "Siapa yang berani bersaksi melawan Veronica? Semua orang takut padanya."
"Ada satu orang," kata Pak Hendra sambil mengetuk sebuah nama di daftar. "Maya. Asisten pribadi Veronica yang resign dua minggu lalu. Katanya dia mengetahui semuanya—termasuk siapa yang membantu Veronica merancang fitnah ini dari awal."
Raka menatap nama itu lama. "Kenapa dia baru bersuara sekarang?"
"Karena dia baru sadar bahwa diamnya membuatnya ikut berdosa," jawab Pak Hendra. "Aku sudah menemuinya kemarin. Dia bersedia bersaksi, dengan satu syarat."
"Syarat apa?" tanya Alya waspada.
"Dia mau kau yang memintanya secara langsung. Katanya, dia perlu melihat mata orang yang dia sakiti, untuk memastikan dia melakukan hal yang benar."
Malam itu juga, Alya menemui Maya di sebuah kedai kopi yang sepi. Maya tampak lebih kecil dari bayangannya—perempuan muda dengan mata lelah yang sepertinya sudah lama tidak tidur nyenyak.
"Aku tidak menyangka kau mau menemuiku," ucap Maya pelan sambil memainkan cangkirnya.
"Aku justru berterima kasih kau mau menemuiku," balas Alya. "Aku tahu bersikap melawan bos sendiri itu bukan hal mudah."
Maya terdiam beberapa saat. "Dia memintaku memalsukan tanda tanganmu di dokumen itu. Aku menolak, tapi aku juga tidak berani lapor. Aku pikir, selama aku tidak ikut melakukan, aku sudah cukup baik." Air matanya menetes pelan. "Ternyata diam itu sama saja dengan membantu."
Alya meraih tangan Maya di atas meja. "Tidak ada yang terlambat untuk memperbaiki kesalahan. Aku sendiri sedang belajar itu. Bantu aku, Maya. Bantu aku memperlihatkan kebenaran."
Maya mengangguk perlahan, lalu dari tasnya ia mengeluarkan sebuah flash disk. "Ini semua percakapanku dengan Veronica. Pesan-pesan dia yang menyuruhku mengatur semuanya. Dengan rekaman CCTV milikmu, ini tidak akan bisa dia bantah."
Alya memegang flash disk itu erat-erat, seolah ia memegang nyawanya sendiri.
°˖✧✿✧˖°