Keluarga yang Mulai Menerima Raka
Keluarga Alya melihat kesungguhan Raka.
°˖✧✿✧˖°
Peristiwa Pemicu
Sore itu, rumah Alya terasa lebih ramai daripada biasanya. Beberapa anggota keluarganya berkumpul di ruang tengah. Ibunya sedang menyiapkan teh dan makanan ringan, sementara ayah Alya duduk membaca sesuatu di sofa. Sesekali, percakapan kecil terdengar di antara mereka.
Alya berdiri di dekat jendela ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Ia mengenali mobil itu.
"Raka," gumamnya pelan.
Tidak lama kemudian, terdengar suara salam dari luar.
"Assalamu'alaikum."
Ayah Alya menoleh.
"Siapa?"
Alya berjalan menuju pintu.
"Raka, Yah."
Ibunya yang sedang membawa nampan langsung berhenti.
"Raka datang?"
"Iya, Bu. Katanya mau mengantarkan beberapa berkas."
Ayah Alya mengangguk.
"Suruh masuk."
Alya membuka pintu.
Raka berdiri di sana dengan pakaian sederhana. Tidak berlebihan, tidak pula berusaha tampil untuk mengesankan siapa pun. Di tangannya terdapat sebuah map dan satu kantong kecil berisi makanan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab Alya.
"Maaf mengganggu."
"Kamu tidak mengganggu. Masuk saja."
Raka melangkah masuk. Namun, sebelum duduk, ia lebih dahulu menghampiri ayah Alya.
"Pak."
Ayah Alya mengangguk.
"Duduklah."
Raka duduk dengan sikap tenang.
"Saya sebenarnya hanya ingin mengantarkan berkas yang kemarin Bapak minta."
Ayah Alya menerima map itu.
"Ini sudah selesai?"
"Sudah, Pak. Saya cek ulang supaya tidak ada yang terlewat."
Ayah Alya membuka beberapa halaman.
"Kamu tidak perlu repot sampai seperti ini."
"Saya tidak merasa repot, Pak."
Percakapan sederhana itu membuat Alya memperhatikan Raka dari kejauhan.
Dulu, setiap kali Raka berada di rumahnya, suasana terasa kaku. Raka selalu berusaha menjaga sikap karena tahu keluarga Alya belum sepenuhnya percaya kepadanya. Ada keraguan yang sulit disembunyikan.
Namun sore ini terasa berbeda.
Raka tidak datang dengan banyak kata.
Ia hanya datang, menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya, lalu duduk dengan tenang.
Ibunya Alya meletakkan teh di meja.
"Raka, makan dulu."
"Terima kasih, Bu."
"Jangan sungkan."
Raka tersenyum.
"Iya, Bu."
Alya memandang keduanya.
Untuk pertama kalinya, ia melihat ibunya menyodorkan makanan kepada Raka tanpa keraguan.
Hal kecil.
Tetapi bagi Alya, itu berarti banyak.
°˖✧✿✧˖°
Percakapan keluarga berlanjut ketika ayah Alya mulai menanyakan pekerjaan Raka.
"Bagaimana pekerjaanmu sekarang?"
"Alhamdulillah, Pak. Masih berjalan."
"Masih sering pulang malam?"
"Kadang, kalau ada pekerjaan yang harus diselesaikan."
Ibunya Alya menyela.
"Kalau begitu jangan terlalu memaksakan diri."
Raka tersenyum.
"Saya akan berusaha menjaga kesehatan, Bu."
Ayah Alya menatapnya beberapa saat.
"Kamu kelihatannya banyak berubah."
Raka terdiam sejenak.
"Berubah bagaimana, Pak?"
"Dulu kamu datang ke sini dengan wajah yang seperti sedang menghadapi ujian."
Alya hampir tersenyum.
Raka pun tertawa kecil.
"Mungkin memang begitu, Pak."
"Kenapa?"
"Saya takut salah."
Ayah Alya mengangkat alis.
"Takut salah?"
"Iya. Saya tahu keluarga Alya punya alasan untuk berhati-hati terhadap saya."
Ruangan menjadi sedikit sunyi.
Alya menatap Raka.
Raka melanjutkan dengan suara tenang.
"Saya tidak pernah menyalahkan Bapak dan Ibu karena ingin memastikan Alya bersama orang yang benar-benar menghargainya."
Ibunya Alya duduk perlahan.
"Raka."
"Iya, Bu?"
"Kamu tahu kenapa kami dulu banyak bertanya?"
Raka mengangguk.
"Karena Alya adalah anak Ibu."
"Betul."
"Dan Bapak ingin memastikan saya tidak hanya datang membawa perasaan."
Raka menatap ayah Alya.
"Saya mengerti, Pak."
Ayah Alya menutup map yang sejak tadi dibacanya.
"Kalau begitu, apa yang sebenarnya kamu bawa?"
Pertanyaan itu membuat Raka terdiam.
Alya menahan napas.
Raka tidak langsung menjawab.
"Saya membawa niat untuk bertanggung jawab, Pak."
Ayah Alya menatapnya tajam.
"Bertanggung jawab dalam hal apa?"
"Terhadap perkataan saya. Terhadap keputusan saya. Terhadap perasaan Alya. Dan kalau suatu hari Allah memberikan jalan kepada kami untuk membangun keluarga, saya ingin bertanggung jawab terhadap keluarga itu."
Tidak ada suara selama beberapa detik.
Raka menundukkan kepalanya.
"Saya tahu perkataan tidak cukup. Karena itu saya tidak ingin meminta Bapak dan Ibu percaya kepada saya hanya karena saya mengatakan sesuatu."
Alya merasakan dadanya menghangat.
"Kalau begitu?" tanya ibunya.
"Saya akan membiarkan waktu yang menjawab."
Ayah Alya bersandar.
"Dan kalau suatu hari kami menemukan kekuranganmu?"
Raka tersenyum tipis.
"Beritahu saya, Pak."
"Kalau kamu tidak suka?"
"Saya mungkin akan merasa tidak nyaman. Tapi saya akan mendengarkan."
Ibunya Alya menatap suaminya.
Percakapan itu sederhana.
Namun sesuatu perlahan berubah.
Keluarga Alya tidak lagi melihat Raka hanya sebagai seorang lelaki yang mencintai Alya.
Mereka mulai melihat seorang lelaki yang berusaha belajar menjadi dewasa.
°˖✧✿✧˖°
Setelah beberapa saat, ayah dan ibu Alya masuk ke dapur. Alya akhirnya duduk berhadapan dengan Raka.
"Kamu gugup?" tanyanya.
Raka menghela napas.
"Sangat."
Alya tersenyum.
"Tadi kelihatannya tenang."
"Itu karena saya sudah belajar menyembunyikan kepanikan."
Alya tertawa kecil.
"Kenapa harus panik?"
"Karena ayahmu kalau bertanya seperti sedang melakukan wawancara kerja."
Alya menutup mulut menahan tawa.
"Jangan begitu."
"Saya serius."
"Kamu takut?"
"Takut tidak cukup baik."
Senyum Alya perlahan menghilang.
"Raka."
"Hm?"
"Kamu tidak harus menjadi orang sempurna agar keluargaku menerima kamu."
"Saya tahu."
"Tapi kamu selalu berusaha."
Raka menatap Alya.
"Saya berusaha bukan hanya agar keluargamu menerima saya."
"Lalu?"
"Karena saya ingin pantas berdiri di sampingmu."
Alya terdiam.
Raka melanjutkan.
"Dulu saya berpikir kalau mencintai seseorang berarti memastikan dia selalu dekat dengan saya."
Alya menatapnya tanpa berkata-kata.
"Saya takut kehilanganmu," lanjut Raka. "Dan rasa takut itu pernah membuat saya terlalu banyak bertanya, terlalu banyak curiga, bahkan membuatmu merasa seperti harus menjelaskan setiap langkahmu."
Alya menundukkan kepala.
"Saya memang terluka waktu itu."
"Saya tahu."
"Tapi sekarang berbeda."
"Saya sedang belajar."
"Belajar apa?"
"Bahwa mencintaimu bukan berarti saya berhak mengatur hidupmu."
Alya mengangkat wajah.
Raka tersenyum.
"Kamu punya keluarga. Kamu punya pekerjaan. Kamu punya impian. Kamu punya teman. Dan kamu punya kehidupan yang tidak semuanya harus saya masuki."
Alya terdiam cukup lama.
"Aku senang mendengar kamu bicara seperti itu."
"Saya juga senang bisa mengatakannya tanpa merasa kehilangan sesuatu."
"Kenapa?"
"Karena sekarang saya mulai mengerti. Kalau hubungan kita memang dibangun dengan kepercayaan, kedekatan tidak harus selalu berarti mengawasi."
Alya tersenyum.
"Sepertinya kamu benar-benar berubah."
"Jangan cepat memuji."
"Kenapa?"
"Nanti saya besar kepala."
Alya tertawa.
Suasana yang sebelumnya penuh ketegangan berubah menjadi lebih hangat.
Namun ketika Alya hendak mengambil minuman, suara ayahnya terdengar dari belakang.
"Raka."
Raka langsung menoleh.
"Iya, Pak?"
"Besok kamu ada waktu?"
Raka berdiri.
"Insyaallah ada."
"Temani saya ke toko."
Alya terkejut.
Raka juga terlihat sedikit kaget.
"Ke toko, Pak?"
"Iya. Ada beberapa barang yang perlu saya ambil."
"Baik, Pak."
Ayah Alya mengangguk lalu kembali ke dalam.
Alya menatap Raka dengan mata berbinar.
"Apa?"