Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #89

Cinta yang Lebih Dewasa

Cinta yang Lebih Dewasa

Raka dan Alya kembali bersama dengan hubungan yang lebih sehat.

°˖✧✿✧˖°

Tiga bulan.

Tiga bulan sejak malam itu—malam ketika pesan misterius itu mengguncang segala yang Alya kira ia ketahui tentang hidupnya sendiri. Tiga bulan sejak ia memilih menjauh, bukan karena cintanya pada Raka padam, tetapi karena ia butuh ruang untuk memahami siapa dirinya sebelum bisa memahami hubungan mereka.

Jakarta di musim hujan ini jauh lebih dingin dari yang Alya ingat. Ia duduk di samping jendela apartemen barunya—apartemen kecil di lantai empat yang ia sewa dengan gaji dari pekerjaan barunya di perusahaan desain. Nama baiknya sudah bersih. Fitnah itu sudah terungkap. Veronica sudah menjalani proses hukum. Secara logika, semua seharusnya sudah baik-baik saja.

Tetapi ada satu hal yang belum selesai, dan hal itu bernama Raka.

Ponselnya bergetar di meja. Satu pesan masuk. Hanya dua kata: "Boleh bertemu?"

Jantung Alya berdegup lebih cepat dari yang ia akui. Selama tiga bulan, mereka saling menjaga jarak dengan sopan. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada tudingan. Hanya keheningan yang tumbuh seperti dinding tipis di antara mereka—dinding yang dibangun bukan oleh kebencian, melainkan oleh ketakutan berdua: takut menyakiti, dan takut disakiti.

Alya menatap pesan itu lama. Jari-jarinya melayang di atas layar. Ia bisa mengabaikannya. Ia bisa terus bersembunyi di balik alasan "masih butuh waktu." Tetapi malam tadi, untuk pertama kalinya, ia bermimpi tentang Raka—bukan mimpi buruk, bukan mimpi tentang rahasia dan kebohongan, melainkan mimpi sederhana tentang mereka berdua tertawa di dapur kecil, seperti dulu.

Ia mengetik balasan: "Boleh. Kapan?"

Jawaban datang kurang dari sepuluh detik: "Besok. Tempat biasa. Jam sepuluh pagi. Kalau kau belum siap, tidak apa-apa. Aku akan menunggu sebisanya."

Alya tersenyum tipis di balik layar. Bahkan dalam pesan singkat, Raka tetap Raka—seseorang yang selalu memberi pintu keluar, tidak pernah memaksa masuk.

Malam itu, Alya sulit tidur. Ia memandangi langit-langit kamarnya, memikirkan semua yang sudah terjadi: fitnah yang hampir menghancurkannya, rahasia masa lalu yang mengubah segalanya, dan Raka—Raka yang berdiri di sisinya saat semua orang pergi, Raka yang memilih percaya padanya bahkan ketika bukti berkata sebaliknya.

"Tidak ada yang bersalah," bisik Alya pada dirinya sendiri di kegelapan. "Kita hanya dua orang yang mencoba cinta dengan cara yang belum kita mengerti."

°˖✧✿✧˖°

Kafe tua di sudut jalan itu tidak pernah berubah. Meja kayunya masih sama, aroma kopi yang pekat masih sama, dan lagu-lagu lawas yang diputar pemiliknya masih sama. Alya tiba lima menit lebih awal, memesan teh melati—bukan kopi, karena jantungnya sudah cukup berdebar tanpa bantuan kafein.

Raka datang tepat jam sepuluh. Ia tampak sedikit kurus, dengan lingkar mata yang menunjukkan tidur yang kurang, tetapi senyumnya—senyum yang selalu mengawali segalanya dengan hangat—masih ada.

"Hai," katanya pelan, berdiri di samping meja tanpa langsung duduk, seolah meminta izin.

"Hai," balas Alya. "Silakan duduk."

Ada jeda canggung selama beberapa detik—jenis kecanggungan yang hanya ada antara dua orang yang terlalu saling mengenal untuk basa-basi, tetapi terlalu takut untuk langsung masuk ke inti.

"Aku pesan yang sama ya?" tanya Raka kepada pelayan, lalu menatap Alya. "Kau masih minum teh melati?"

"Aku masih," jawab Alya, dan sesuatu di dadanya menghangat karena Raka masih mengingat.

Setelah pelayan pergi, Raka menarik napas panjang. "Terima kasih sudah mau datang."

"Aku yang harus berterima kasih karena kau masih mau menghubungiku setelah tiga bulan aku menghilang," kata Alya jujur.

"Aku tidak pernah merasa kau menghilang," kata Raka, menggeleng pelan. "Aku merasa kau sedang memperbaiki sesuatu. Dan itu hal yang berbeda."

Alya menatapnya lama. "Bagaimana kabarmu?"

"Jujur?" Raka tersenyum getir. "Berat. Tapi aku ikut kursus menulis. Ingat, dulu aku bilang mau coba? Ternyata menulis itu terapi yang bagus." Ia diam sejenak. "Kau?"

"Aku juga berat. Tapi aku mulai terapi. Ternyata aku punya kebiasaan menarik diri setiap kali merasa terancam—kebiasaan yang kubangun sejak kecil, sejak ibuku pergi." Alya terdiam, mengaduk tehnya. "Raka, aku mau minta maaf. Bukan karena menjauh—itu memang kuperlukan. Tapi karena cara aku menjauh. Aku tidak menjelaskan, tidak memberimu kepastian. Aku hanya... pergi."

"Aku mengerti," kata Raka pelan.

"Tapi kau tidak semestinya hanya mengerti," lanjut Alya, menatap matanya. "Kau berhak mendengar penjelasan. Jadi izinkan aku menjelaskan sekarang."

Raka mengangguk, dan Alya mulai bercerita—tentang masa tiga bulan itu, tentang ketakutannya bahwa cinta Raka hanyalah rasa memiliki yang dibungkus rasa sayang, tentang rahasia ayah kandungnya yang mengubah cara ia melihat hidupnya sendiri, dan tentang bagaimana ia akhirnya belajar bahwa menjauh bukan satu-satunya cara untuk melindungi diri.

"Aku menyadari sesuatu," kata Alya, menutup ceritanya. "Aku tidak bisa meminta kau menjadi seseorang yang tidak pernah memiliki, Raka. Aku juga manusia—aku juga punya rasa cemburu, punya keinginan memiliki. Yang bisa kita lakukan adalah jujur tentang perasaan itu, dan tidak membiarkannya mengendalikan tindakan kita."

Raka mendengarkan tanpa memotong satu kalimat pun. Ketika Alya selesai, ia menghela napas panjang.

"Aku juga mau jujur," katanya. "Tiga bulan ini, aku menulis surat untukmu. Tiga puluh tujuh surat. Tidak pernah kukirim." Ia tertawa kecil, geli pada dirinya sendiri. "Isinya? Semuanya tentang betapa aku takut kehilanganmu. Dan di surat ke dua puluh sembilan, aku baru sadar—ketakutanku kehilanganmu itu bukan tentang kau. Itu tentang egoku. Aku takut gagal. Takut tidak cukup baik. Takut sendirian."

Alya merasakan matanya memanas. "Raka..."

"Biarkan aku selesai," potong Raka lembut. "Aku tidak mau hubungan kita dibangun di atas ketakutan. Aku tidak mau menjadi lelaki yang menahan perempuannya karena takut kehilangan. Aku ingin menjadi lelaki yang kau pilih bukan karena kau tidak punya pilihan lain—tapi karena bersamaku, kau menjadi versi terbaik dari dirimu."

"Jadi... apa artinya ini?" tanya Alya pelan.

Raka menatapnya dalam-dalam. "Artinya, aku ingat mencoba lagi. Bukan melanjutkan yang lama—itu sudah kita tutup. Tapi memulai yang baru. Dengan aturan baru. Dengan kita yang baru."

°˖✧✿✧˖°

Namun memulai yang baru tidak semudah mengucapkannya.

Minggu pertama setelah pertemuan di kafe itu, Alya menemukan dirinya masih menghadapi bayangan lama. Ketika Raka tidak membalas pesan selama dua jam karena rapat, jantungnya berdebar dengan cara yang tidak masuk akal. Ketika Raka membatalkan rencana makan malam karena urusan keluarga, Alya langsung berpikir: Dia akan pergi. Semua orang akhirnya pergi.

"Aku butuh bicara," ucap Alya pada Raka saat mereka berjalan-jalan di taman akhir pekan itu. "Ada sesuatu yang menggangguku, dan aku tidak mau menyimpannya sampai meledak seperti dulu."

"Katakan," jawab Raka, berhenti berjalan dan menatapnya.

"Ketika kau membatalkan makan malam kemarin, aku langsung panik. Bukan karena kecewa biasa—tapi karena aku langsung yakin kau akan meninggalkanku." Alya menunduk. "Aku benci perasaan itu. Rasanya seperti aku tidak pernah benar-benar pulih dari apa pun."

Raka diam sejenak, lalu berkata, "Terima kasih sudah jujur. Boleh aku jujur juga?"

Lihat selengkapnya