Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #90

Bukan Sekadar Memiliki

Bukan Sekadar Memiliki

Raka belajar bahwa mencintai berarti menghargai kebebasan Alya.

°˖✧✿✧˖°

Pagi itu, matahari baru saja menembus celah tirai ketika Raka terbangun.

Ia menoleh ke sisi tempat tidur.

Kosong.

Biasanya Alya masih berada di sana, entah sedang membaca pesan di ponselnya atau sekadar menikmati udara pagi dari balik jendela. Namun kali ini, perempuan itu tidak ada.

Raka mengambil ponselnya.

Tidak ada pesan.

Keningnya berkerut.

Ia bangkit dan berjalan keluar kamar.

Alya ternyata sedang berada di ruang keluarga. Rambutnya tertutup rapi oleh kerudung sederhana. Di hadapannya terdapat laptop dan beberapa lembar dokumen.

"Sudah bangun?" tanya Alya.

"Sejak kapan kamu di sini?"

"Sejak tadi."

"Kenapa tidak membangunkanku?"

Alya tersenyum kecil.

"Kamu kelihatan lelah."

Raka duduk di sofa.

"Apa yang kamu kerjakan?"

"Proposal kegiatan."

"Kegiatan apa?"

Alya menggeser laptop sedikit.

"Program sosial yang pernah kuceritakan."

Raka mengangguk.

"Yang diadakan akhir pekan?"

"Iya."

"Kamu jadi ikut?"

Alya menatapnya.

"Iya."

Raka terdiam beberapa saat.

"Kamu pergi dengan siapa?"

Alya mengerutkan kening.

"Teman-teman."

"Siapa saja?"

"Raka..."

"Aku hanya bertanya."

Alya menutup laptop.

"Ada beberapa orang dari tim."

"Laki-laki juga?"

Pertanyaan itu membuat Alya terdiam.

"Ya."

Raka menghela napas.

"Berapa orang?"

Alya menatapnya lama.

"Kenapa?"

"Aku ingin tahu."

"Atau kamu ingin memastikan tidak ada laki-laki yang terlalu dekat denganku?"

Raka tidak langsung menjawab.

Alya berdiri.

"Raka, aku sudah memberitahumu tentang kegiatan ini sejak beberapa hari lalu."

"Aku tahu."

"Dan kamu sudah bilang tidak masalah."

"Aku tidak bilang tidak masalah."

Alya menatapnya.

"Kamu bilang, 'terserah kamu'."

Raka mengusap wajah.

"Maksudku bukan begitu."

"Jadi bagaimana?"

Raka berdiri.

"Aku hanya khawatir."

"Aku tahu."

"Aku tidak suka kamu pergi dengan orang-orang yang tidak kukenal."

Alya mengembuskan napas.

"Apakah aku harus berhenti mengikuti kegiatan hanya karena ada laki-laki di sana?"

Raka terdiam.

"Aku tidak pernah meminta kamu berhenti."

"Tapi cara bicaramu membuatku merasa harus memilih."

"Alya..."

"Aku mencintaimu, Raka. Tapi aku juga punya kehidupan sendiri."

Kalimat itu membuat Raka membeku.

Alya mengambil laptopnya.

"Aku ingin pergi ke kegiatan itu."

"Baik."

"Dan aku ingin kamu mempercayaiku."

Raka mengangguk.

"Aku akan mencoba."

Alya menatapnya.

"Bukan mencoba."

Raka terdiam.

"Percaya."

Setelah mengatakan itu, Alya berjalan meninggalkan ruangan.

Raka berdiri sendirian.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa rasa takut kehilangan Alya mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

Bukan lagi sekadar cemburu.

Melainkan keinginan untuk mengatur.

Dan tanpa sadar, ia sedang membuat orang yang dicintainya merasa kehilangan kebebasan.

°˖✧✿✧˖°

Sepanjang hari, percakapan mereka menjadi lebih sedikit.

Tidak ada pertengkaran besar.

Tidak ada suara meninggi.

Namun justru keheningan itu terasa lebih berat.

Menjelang sore, Raka pulang lebih awal.

Ia menemukan Alya sedang menyiapkan beberapa barang.

"Kamu mau pergi?"

"Ya."

"Ke mana?"

"Pertemuan persiapan kegiatan."

Raka mengangguk.

"Aku antar."

Alya berhenti.

"Tidak perlu."

"Aku bisa mengantar."

"Aku pergi bersama teman."

Raka terdiam.

"Aku hanya ingin memastikan kamu sampai."

"Aku bisa menjaga diriku sendiri."

"Aku tahu."

"Kalau begitu?"

Raka tidak mampu menjawab.

Alya memasukkan dokumen ke dalam tas.

"Raka, aku tidak ingin setiap keputusan yang kubuat harus melewati pemeriksaan darimu."

"Aku tidak bermaksud begitu."

"Tapi itu yang kurasakan."

Raka menatapnya.

"Aku hanya takut."

"Takut apa?"

"Takut sesuatu terjadi kepadamu."

Alya melembut.

"Aku mengerti."

"Takut ada orang lain yang memanfaatkan kebaikanmu."

"Aku juga mengerti."

"Takut..."

Raka berhenti.

Alya menunggu.

"Takut kamu menemukan seseorang yang lebih baik."

Alya terdiam.

Kemudian ia mendekat.

"Jadi sebenarnya kamu tidak sedang takut kepadaku."

Raka menatapnya.

"Kamu sedang takut kehilangan dirimu sendiri kalau aku pergi."

Raka menundukkan kepala.

Alya melanjutkan,

"Raka, aku tidak bisa menjadi obat untuk semua ketakutanmu."

"Aku tahu."

"Aku juga tidak ingin cintamu berubah menjadi penjagaan tanpa batas."

Raka mengangguk perlahan.

"Aku akan belajar."

Alya mengambil tas.

"Aku berangkat."

Raka tidak menahannya.

"Baik."

Alya berjalan beberapa langkah, lalu berhenti.

"Kamu tidak marah?"

Raka tersenyum tipis.

"Tidak."

"Benarkah?"

"Aku masih belajar membedakan antara menjaga dan menguasai."

Alya menatapnya cukup lama.

"Terima kasih."

Kemudian ia pergi.

Pintu tertutup.

Raka berdiri sendirian.

Dulu ia mungkin akan mengejar, bertanya dengan siapa Alya pergi, kapan pulang, siapa yang menemaninya, bahkan mungkin meminta Alya mengirim foto untuk memastikan.

Namun kali ini ia tidak melakukannya.

Ia duduk di sofa dan membuka catatan di ponselnya.

Ada satu kalimat yang ia tulis sendiri:

"Kalau aku mencintainya, aku harus percaya bahwa dia mampu memilih dengan baik tanpa harus selalu berada di bawah pengawasanku."

Raka membaca kalimat itu berulang kali.

Kemudian ia tersenyum getir.

Ternyata mencintai seseorang bukan hanya tentang berani mempertahankannya.

Kadang-kadang, cinta juga menuntut keberanian untuk melepaskan genggaman.

°˖✧✿✧˖°

Malam semakin larut ketika Alya pulang.

Raka sedang membaca buku di ruang keluarga.

Ia mendengar suara pintu.

Alya masuk dengan wajah lelah.

"Sudah makan?" tanya Raka.

"Sudah."

"Capek?"

"Sedikit."

Raka bangkit.

"Mau dibuatkan teh?"

Alya tersenyum.

"Boleh."

Raka pergi ke dapur.

Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa dua cangkir teh.

Alya menerimanya.

"Terima kasih."

Raka duduk di seberangnya.

"Bagaimana kegiatannya?"

"Lancar."

"Ada masalah?"

"Tidak."

"Bagus."

Alya memperhatikan Raka.

"Kamu tidak mau bertanya yang lain?"

Raka tersenyum.

"Seperti?"

"Siapa saja yang datang."

Raka menggeleng.

"Kalau kamu ingin cerita, aku dengarkan."

Alya terdiam.

"Aku senang kamu berkata begitu."

Raka menatapnya.

"Aku sedang belajar."

"Belajar apa?"

"Bahwa tidak semua hal harus kuketahui."

Alya tersenyum.

Lihat selengkapnya