Janji Tanpa Paksaan
Raka berjanji tidak akan lagi mengendalikan Alya.
°˖✧✿✧˖°
Malam telah turun ketika Raka berdiri seorang diri di depan jendela ruang tamu. Lampu-lampu dari rumah tetangga tampak seperti titik-titik kecil yang berpendar di kejauhan. Udara terasa tenang, tetapi dadanya justru penuh dengan kegelisahan.
Di atas meja, ponselnya tergeletak dengan layar yang sejak beberapa menit lalu tidak disentuh.
Percakapan terakhirnya dengan Alya terus terbayang.
Aku ingin kamu percaya kepadaku, Raka. Bukan menjagaku dengan cara mengatur semua yang kulakukan.
Kalimat itu sederhana, tetapi menghantam lebih keras daripada pertengkaran mereka sebelumnya.
Raka mengusap wajahnya.
Selama ini ia selalu mengira bahwa mencintai berarti memastikan orang yang dicintainya aman. Ia mengira bertanya tentang keberadaan Alya, meminta kabar, memperhatikan siapa yang berada di dekatnya, bahkan terkadang menentukan apa yang menurutnya pantas dilakukan Alya adalah bentuk perhatian.
Namun, untuk pertama kalinya, ia mencoba melihat semuanya dari sudut pandang Alya.
Bagaimana jika semua perhatian itu justru terasa seperti tekanan?
Bagaimana jika cinta yang ia berikan perlahan berubah menjadi ruang sempit yang membuat Alya kesulitan bernapas?
Ponselnya bergetar.
Nama Alya muncul di layar.
Raka segera mengangkatnya.
"Halo."
Suara Alya terdengar pelan.
"Raka, kamu masih bangun?"
"Masih."
"Aku ingin bicara."
Raka terdiam sejenak.
"Aku juga."
Ada jeda panjang.
"Aku tidak ingin kita bertengkar lagi," kata Alya.
"Aku juga tidak."
"Tapi aku tidak ingin kita menyelesaikan masalah dengan berpura-pura semuanya baik-baik saja."
Raka menarik napas dalam-dalam.
"Aku tahu."
"Aku merasa akhir-akhir ini kamu terlalu takut kehilangan aku."
Raka menundukkan kepala.
"Mungkin benar."
"Bukan mungkin, Raka."
Nada Alya tidak marah. Justru ketenangan itulah yang membuat Raka semakin merasa bersalah.
"Kamu sering bertanya aku di mana, dengan siapa, kenapa lama membalas pesan. Kadang kamu meminta aku membatalkan sesuatu hanya karena kamu merasa tidak nyaman."
"Aku tahu."
"Aku bukan tidak menghargai perhatianmu."
"Aku tahu."
"Tapi aku ingin tetap menjadi diriku sendiri."
Raka memejamkan mata.
"Dan aku yang membuatmu merasa tidak bebas."
Alya tidak segera menjawab.
Keheningan di antara mereka terasa panjang.
"Aku tidak ingin kehilangan kamu karena hal seperti ini."
Raka membuka matanya.
"Alya."
"Iya?"
"Aku ingin memperbaikinya."
"Bagaimana?"
Pertanyaan itu membuat Raka terdiam.
Selama ini ia terbiasa mencari solusi untuk segala sesuatu. Namun kali ini, ia sadar bahwa masalahnya bukan sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan satu keputusan.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa langsung berubah," ujarnya jujur. "Tapi aku ingin belajar."
Alya menarik napas.
"Belajar apa?"
"Belajar mencintaimu tanpa mengendalikanmu."
Kalimat itu keluar perlahan, tetapi terasa seperti sebuah pengakuan besar.
Alya tidak menjawab.
Raka melanjutkan.
"Kalau selama ini aku membuatmu merasa seperti harus meminta izin untuk menjalani hidupmu sendiri, aku minta maaf."
"Raka..."
"Aku serius, Alya."
Suaranya bergetar.
"Aku tidak ingin cinta kita menjadi alasan kamu kehilangan kebebasan."
°˖✧✿✧˖°
Keesokan harinya mereka bertemu di sebuah tempat yang tenang. Bukan untuk makan malam romantis, bukan pula untuk merayakan sesuatu. Mereka hanya ingin berbicara tanpa gangguan.
Alya duduk berhadapan dengan Raka.
Tatapannya lembut, tetapi jelas terlihat ada luka yang belum sepenuhnya sembuh.
"Aku senang kamu mau membicarakan ini," kata Alya.
Raka mengangguk.
"Aku tidak mau menghindar lagi."
"Aku juga tidak."
Raka menatap meja di hadapannya.
"Aku ingin kamu mengatakan semuanya."
"Benarkah?"
"Benar."
"Tanpa marah?"
"Tanpa marah."
"Tanpa membela diri?"
Raka menghela napas.
"Tanpa membela diri."
Alya terdiam sejenak.
"Kamu tahu apa yang paling membuatku sedih?"
Raka menggeleng.
"Ketika kamu tidak percaya padaku."
Raka menelan ludah.
"Aku percaya."
"Tapi tindakanmu sering mengatakan sebaliknya."
Raka tidak membantah.
Alya melanjutkan.
"Ketika aku pergi bersama teman-temanku, kamu bertanya siapa saja yang ada di sana. Ketika aku bertemu seseorang yang pernah kamu kenal, kamu langsung berubah. Ketika aku tidak membalas pesan dengan cepat, kamu menganggap sesuatu sedang terjadi."
"Aku takut."
"Aku tahu."
"Aku takut kehilanganmu."
Alya mengangguk.
"Tapi ketakutanmu bukan tanggung jawabku untuk selalu menenangkan."
Kalimat itu membuat Raka terdiam.
Ia menyadari bahwa Alya tidak sedang meminta dirinya berhenti peduli. Alya hanya ingin kepeduliannya tidak berubah menjadi pengawasan.
"Aku mengerti sekarang," kata Raka.
Alya menatapnya.
"Benarkah?"
"Setidaknya aku mulai mengerti."
"Mulai mengerti berbeda dengan benar-benar berubah."
"Aku tahu."
Raka mengangkat wajahnya.
"Karena itu aku tidak akan berjanji bahwa mulai besok aku tidak akan pernah cemburu lagi."
Alya tersenyum tipis.
"Setidaknya kamu jujur."
"Aku mungkin masih merasa takut. Mungkin masih ada saat-saat ketika aku ingin bertanya terlalu banyak."
"Lalu?"
"Aku akan belajar berhenti."
"Bagaimana?"
"Aku akan bertanya pada diriku sendiri dulu. Apakah aku bertanya karena memang perlu tahu atau karena aku sedang takut?"
Alya terdiam.
Raka melanjutkan.
"Kalau jawabannya karena takut, aku akan belajar mengelolanya sendiri."
Mata Alya mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak pernah meminta kamu menjadi sempurna."
"Aku juga tidak ingin kamu merasa harus sempurna untukku."
"Jadi?"
Raka mengulurkan tangannya di atas meja, tetapi tidak memaksa Alya menyambutnya.
"Jadi kita sama-sama belajar."
Alya memandang tangan itu beberapa saat sebelum akhirnya meletakkan tangannya di atas meja, dekat tangan Raka.
"Tanpa paksaan?"
"Tanpa paksaan."
"Tanpa saling mengatur?"
"Tanpa saling mengatur."
"Dan tanpa menjadikan cinta sebagai alasan untuk takut?"
Raka tersenyum kecil.
"Ya."
°˖✧✿✧˖°
Beberapa hari berikutnya menjadi ujian pertama bagi janji Raka.
Alya mendapat undangan untuk menghadiri sebuah kegiatan bersama teman-temannya. Biasanya, Raka akan bertanya banyak hal.
Dengan siapa?
Pulang jam berapa?
Ada siapa saja?
Siapa laki-laki yang ikut?
Namun kali ini, ketika Alya memberi tahu rencananya, Raka hanya bertanya satu hal.
"Kamu nyaman pergi?"
Alya tampak sedikit terkejut.
"Iya."
"Kalau begitu pergilah."
"Sesederhana itu?"
Raka tertawa kecil.
"Aku sedang belajar."
Alya tersenyum.
"Terima kasih."
Namun malam itu tidak semudah yang Raka bayangkan.
Pesan Alya belum dibalas selama beberapa jam.
Raka beberapa kali melihat ponselnya.
Jarinya hampir mengetik.
Kamu di mana?
Ia menghapusnya.
Kemudian mengetik lagi.
Sudah selesai?
Dihapus lagi.
Raka meletakkan ponsel.
Ia berjalan ke dapur, mengambil air minum, lalu kembali ke ruang tamu.
Ponselnya tetap diam.
Rasa cemas mulai tumbuh.
"Tenang," gumamnya kepada diri sendiri.
Namun pikirannya mulai membuat berbagai kemungkinan.
Bagaimana jika Alya bertemu seseorang?
Bagaimana jika ada sesuatu?
Bagaimana jika—
Raka menghentikan pikirannya sendiri.
"Ini ketakutanku," katanya pelan. "Bukan kenyataan."
Ia mengambil napas panjang.
Untuk pertama kalinya, ia memilih tidak menjadikan kecemasannya sebagai beban Alya.
Hampir satu jam kemudian ponselnya berbunyi.
Pesan dari Alya.
Maaf baru membalas. Tadi acaranya ramai sekali.
Raka membaca pesan itu.
Jarinya bergerak mengetik.
Tidak apa-apa. Semoga acaranya menyenangkan.
Ia menatap kalimat tersebut sebelum mengirimkannya.
Tak lama kemudian Alya menjawab.
Kamu tidak marah?
Raka tersenyum.
Tidak.
Benarkah?
Benar. Aku percaya kamu.
Lama tidak ada balasan.
Kemudian muncul pesan baru.
Aku senang mendengarnya.
Raka menyandarkan tubuhnya ke sofa.