Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #93

Alya yang Kembali Tersenyum

Alya yang Kembali Tersenyum

*Kebahagiaan perlahan kembali.*

༺♡༻

Kebahagiaan perlahan kembali.

Pagi itu, seberkas cahaya keemasan menerobos lembut di antara kisi-kisi jendela kayu jati yang terbuka lebar. Udara sejuk pegunungan membasuh wajah Alya dengan aroma wangi tanah basah dan kelopak melati yang mekar di pekarangan. Setelah sembilan bulan terkurung dalam kecemasan, dadanya kini terasa lapang dan damai.

"Sedang memikirkan apa di beranda sepagi ini, Alya?" sebuah suara berat bernada teduh menyapa dari arah pintu beranda.

Alya menoleh perlahan, mendapati Rayhan melangkah mendekat sembari membawa nampan kayu berisi dua cangkir porselen mengepul.

"Bukan melamun hal buruk, Mas," jawab Alya tersenyum menyentuh jemari suaminya. "Hanya sedang mendengarkan kicau burung kutilang di pucuk pohon mangga. Bertahun-tahun aku tak menyadari betapa merdunya nyanyian mereka di pagi hari."

Rayhan meletakkan cangkir teh kamomil di atas meja rotan, lalu duduk di hadapannya.

"Itu karena pintu hatimu mulai terbuka kembali menerima kedamaian, Sayang," tutur Rayhan sembari menyelipkan sejumput rambut di pelipis Alya. "Kopi pagiku terasa jauh lebih nikmat hanya karena melihat binar ketenangan di matamu."

"Jangan menggodaku terus, Mas Rayhan," sahut Alya tersipu malu, menyembunyikan rona merah di kedua pipinya. "Mungkin takaran gulanya yang memang kau tuangkan terlalu banyak ke dalam cangkirmu."

"Demi Tuhan, cangkir kopi hitamku ini murni tanpa sesendok gula pun," bisik Rayhan tertawa renyah. "Senyumanmulah yang memaniskan hariku."

"Mas Rayhan selalu saja punya seribu cara untuk membuat pipiku merona," balas Alya terkekeh pelan. "Tapi terima kasih banyak, Mas. Teh hangat dan kehadiranmu sungguh menenangkan jiwaku."

"Itu sudah menjadi tugasku seumur hidup, Alya," jawab Rayhan penuh kehangatan.

Bu Ratih melangkah keluar sembari membawa sepiring pisang goreng wijen madu yang harum mengepul.

"Ibu sangat bersyukur melihat kalian berdua kembali bercengkerama riang seperti ini," ucap Bu Ratih dengan mata berbinar haru. "Sudah lama beranda rumah kita kehilangan tawa."

"Semua berkat doa tulus Ibu dan kesabaran Mas Rayhan merawatku setiap malam," sahut Alya menggenggam erat tangan sang ibu.

"Keluarga adalah dermaga tempat menyembuhkan luka, Alya," tutur Bu Ratih mengusap pundak putrinya. "Dan pagi ini, rumah kita terasa utuh kembali."

"Dan aku berjanji akan menjaga keutuhan serta senyuman di rumah ini selamanya," timpal Rayhan mengukuhkan janjinya.

༺♡༻

Kedamaian pagi itu seketika tersentak oleh suara derit rem sepeda motor dan ketukan keras pada pagar besi pekarangan depan. Klakson kurir ekspres membelah hening kebun, disusul derap langkah tergesa-gesa mendekati beranda rumah.

"Permisi! Selamat pagi, ada paket kilat khusus luar negeri bersegel diplomatik untuk Nyonya Alya Kirana!" seru sang kurir dari balik tanaman puring.

Rayhan beranjak berdiri dengan sigap. "Biar aku saja yang mengambilnya di depan, Al. Duduklah di sini dan habiskan teh hangatmu bersama Ibu."

"Tidak apa-apa, Mas, biarkan aku ikut melangkah ke depan," tolak Alya pelan namun tegas, terdorong oleh firasat aneh yang mendadak merambati tengkuknya.

Sebuah kotak karton persegi panjang berbalut pita cokelat diserahkan setelah Alya membubuhkan tanda tangan resi digital.

"Apakah pengirimnya mencantumkan nama atau nomor kantor perwakilan, Pak?" tanya Rayhan menyelidik kepada kurir tersebut.

"Tidak ada nama perseorangan, Pak. Hanya tertera cap resmi pengiriman kilat prioritas dari Singapura," jawab kurir tersebut sebelum berpamitan ramah. "Semoga hari Anda menyenangkan."

Di atas kotak, hanya tertera cap segel lilin merah marun bergambar huruf 'B' berbalut jalinan daun akasia—lambang dinasti konglomerat Baskoro yang sangat ia hafal sekaligus takuti sepanjang hidupnya. Napas Alya tercekat. Kotak itu terasa dingin membakar jemarinya.

"Ada apa sebenarnya, Nak? Dari siapa kiriman paket besar itu?" tanya Bu Ratih yang segera menyusul ke teras dengan raut cemas.

"Lambang segel lilin merah marun ini..." bisik Alya lirih, suaranya bergetar hebat. "Ini lambang kebesaran Paman Darma Baskoro."

Mata Rayhan menyipit tajam. Pria itu langsung merebut kotak karton dari rengkuhan Alya.

"Jangan pernah dibuka!" seru Rayhan dengan nada waspada yang tinggi. "Kita tidak tahu tipu muslihat apa lagi yang direncanakan pria licik itu setelah kalah di pengadilan niaga. Bisa saja ini teror baru untuk merusak kestabilan mentalmu!"

"Tapi lihat tulisan tangan di amplop pengantarnya, Mas," bantah Alya menunjuk goresan tinta biru dengan tatapan terpaku. "Paman Darma selalu menyilang huruf 't' dengan garis miring tebal. Aku mengenali gaya menulisnya sejak masa kecilku saat beliau masih sering mengunjungi Papa."

"Alya, tolong dengarkan nasihat suamimu!" bujuk Bu Ratih gemetar, memegangi lengan putrinya erat-erat. "Pria serakah itu sudah merampas pabrik teh ayahmu, menyebar fitnah keji, dan membuatmu terkurung di rumah sakit berbulan-bulan! Jangan sentuh apa pun yang berasal dari tangannya yang kotor!"

"Ibu, kalau aku terus lari dan gemetar setiap kali mendengar namanya, aku tak akan pernah sembuh seutuhnya," jawab Alya menatap lurus mata ibunya. "Hantu masa lalu ini harus kuhadapi sendiri hari ini di hadapan kalian berdua."

Rayhan memandang lekat wajah istrinya, membaca kobaran keberanian yang bangkit dari ketakutannya.

"Kau benar-benar yakin sanggup menanggung apa pun isinya sekarang, Alya?" tanya Rayhan memastikan dengan suara sarat perlindungan. "Aku tidak ingin senyum bahagiamu pagi ini kembali direnggut oleh racun masa lalu."

"Aku sangat yakin, Mas," tegas Alya meraih pisau pembuka surat dari meja sudut. "Buka kotak ini di sini, sekarang juga, di hadapan kita bertiga. Jangan ada rahasia lagi di antara kita."

༺♡༻

Bilah pisau membelah lakban perekat dengan derit tajam di keheningan beranda. Di balik kertas pelindung, tampak kotak kayu mahoni berukir teratai emas. Begitu penutup kayu dibuka, aroma minyak cendana kuno menguar pekat menusuk hidung. Di dalamnya tergeletak dua benda penting: berkas bersampul kulit hitam dan sepucuk amplop putih bertuliskan: *Surat Pengakuan dan Penebusan Dosa Terakhir*.

Lihat selengkapnya