Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #94

Hari-Hari yang Lebih Tenang

Hari-Hari yang Lebih Tenang

Hubungan mereka menjadi semakin matang.

°˖✧✿✧˖°

Pagi itu terasa berbeda.

Tidak ada pesan panjang yang harus menjelaskan keberadaan masing-masing. Tidak ada pertanyaan berulang tentang siapa yang sedang bersama Alya. Tidak ada pula perasaan gelisah yang membuat Raka berkali-kali memeriksa ponselnya.

Raka duduk di teras rumah dengan secangkir kopi yang mulai kehilangan uapnya. Ponsel berada di sampingnya, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak merasa harus terus menyentuh benda itu.

Sebuah pesan masuk.

Alya: Selamat pagi. Sudah sarapan?

Raka tersenyum.

Raka: Belum. Kamu?

Alya: Sudah. Jangan lupa sarapan.

Raka mengetik.

Raka: Baik, Bu Guru.

Balasan Alya datang beberapa detik kemudian.

Alya: Kalau kamu tidak sarapan, aku benar-benar akan datang.

Raka tertawa kecil.

Raka: Ancaman yang menyenangkan.

Percakapan sederhana itu membuat hati Raka terasa hangat.

Dulu, percakapan seperti itu bisa berakhir menjadi serangkaian pertanyaan. Sekarang, mereka hanya saling memberi perhatian tanpa menuntut.

Ketika Alya mengatakan bahwa pagi itu ia harus pergi bersama seorang teman untuk menyelesaikan sebuah urusan, Raka hanya menjawab,

Raka: Baik. Hati-hati.

Tidak ada pertanyaan tambahan.

Tidak ada dengan siapa?

Tidak ada berapa lama?

Tidak ada ada laki-laki lain?

Raka menyadari bahwa perubahan kecil seperti itu ternyata membutuhkan keberanian.

Bukan keberanian untuk mempertahankan seseorang, melainkan keberanian untuk mempercayainya.

Siang harinya, mereka bertemu.

Alya datang dengan senyum yang lebih lepas daripada biasanya.

"Kamu kelihatan santai," katanya.

Raka mengangkat alis.

"Memangnya biasanya seperti apa?"

"Seperti orang yang sedang memikirkan seratus kemungkinan."

Raka tertawa.

"Separah itu?"

"Kadang seribu."

"Baiklah. Aku terima kritik."

Alya duduk di hadapannya.

"Aku senang melihatmu seperti ini."

"Seperti apa?"

"Lebih tenang."

Raka menatapnya.

"Aku juga merasa begitu."

"Karena?"

Raka berpikir sejenak.

"Karena aku mulai mengerti bahwa tidak semua hal harus aku kendalikan."

Alya tersenyum.

"Dan?"

"Dan ternyata hidup tetap berjalan."

"Tanpa kamu mengatur semuanya?"

"Tanpa aku mengatur semuanya."

Mereka tertawa.

Namun di balik tawa itu, keduanya memahami bahwa ketenangan yang sedang mereka rasakan bukanlah hadiah yang datang begitu saja.

Ketenangan itu lahir dari banyak percakapan, banyak kesalahan, dan keberanian untuk mengakui bahwa cara mencintai mereka sebelumnya masih perlu diperbaiki.

Raka menatap Alya cukup lama.

"Aku ingin kita mempertahankan ini."

"Apa?"

"Hubungan yang seperti sekarang."

Alya tersenyum.

"Aku juga."

°˖✧✿✧˖°

Hari-hari berikutnya berjalan sederhana.

Justru kesederhanaan itu yang membuat hubungan mereka terasa semakin matang.

Mereka mulai memiliki kebiasaan baru.

Jika salah satu sibuk, mereka tidak memaksakan komunikasi.

Jika salah satu membutuhkan waktu sendiri, yang lain tidak langsung menganggapnya sebagai penolakan.

Jika muncul rasa cemburu, mereka membicarakannya sebelum rasa itu berubah menjadi prasangka.

Suatu sore, Raka menghubungi Alya.

Raka: "Kamu sibuk?"

Alya: "Lumayan. Kenapa?"

Raka: "Aku ingin bicara."

Alya: "Sekarang?"

Raka: "Kalau kamu masih sibuk, nanti saja."

Alya tersenyum membaca pesan itu.

Dulu, Raka mungkin akan menganggap keterlambatan sebagai sesuatu yang mengganggu. Sekarang ia justru memberinya pilihan.

Alya: "Lima belas menit lagi aku selesai."

Raka: "Baik. Aku tunggu."

Lima belas menit kemudian, Alya menelepon.

"Halo."

"Halo."

"Ada apa?"

"Aku sebenarnya hanya ingin mendengar suaramu."

Alya tertawa.

"Jadi tadi kamu bilang ingin bicara?"

"Iya."

"Terus?"

Raka ikut tertawa.

"Sudah lupa."

"Kamu aneh."

"Aku tahu."

Mereka berbicara tentang hal-hal kecil. Tentang makanan yang mereka sukai, pekerjaan, kejadian lucu hari itu, bahkan tentang rencana akhir pekan.

Tidak ada pembicaraan berat.

Tidak ada drama.

Namun justru dari percakapan sederhana itu, keduanya belajar sesuatu.

Hubungan tidak selalu membutuhkan kejadian besar agar terasa berarti.

Kadang, cinta tumbuh dalam percakapan kecil yang dilakukan tanpa tekanan.

Beberapa hari kemudian, Alya mengatakan sesuatu yang membuat Raka tersenyum.

"Aku mau pergi dengan teman-teman besok."

"Baik."

"Kamu tidak bertanya ke mana?"

Raka tersenyum.

"Kalau kamu ingin cerita, aku akan dengarkan."

Alya tertawa.

"Berarti kamu benar-benar berubah."

"Jangan terlalu cepat menyimpulkan."

"Kenapa?"

"Karena aku masih manusia."

Alya tersenyum.

"Setidaknya kamu sadar."

"Aku masih bisa cemburu."

"Aku tahu."

"Masih bisa khawatir."

"Aku juga tahu."

"Tapi aku tidak ingin rasa itu membuatmu merasa terkekang."

Alya terdiam sejenak.

"Terima kasih."

Raka menggeleng.

"Jangan berterima kasih dulu."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak melakukan sesuatu yang luar biasa. Aku hanya sedang belajar menjadi pasangan yang lebih baik."

Alya tersenyum.

"Bagiku itu sudah berarti."

°˖✧✿✧˖°

Ketenangan mereka ternyata kembali diuji ketika Raka melihat Alya begitu sibuk hingga hampir tidak memiliki waktu untuk berbicara dengannya.

Pesan Raka hanya dibalas setelah beberapa jam.

Panggilan mereka semakin jarang.

Pada suatu malam, Raka duduk di ruang tamu sambil memandangi layar ponsel.

Ia merasa rindu.

Namun bersama rasa rindu itu muncul kekhawatiran lama.

Apakah Alya mulai menjauh?

Pikiran itu muncul begitu saja.

Raka hampir mengirim pesan.

Kenapa akhir-akhir ini kamu berubah?

Ia berhenti.

Kalimat itu terdengar seperti tuduhan.

Ia menghapusnya.

Kemudian mengetik lagi.

Aku merasa kita akhir-akhir ini jarang bicara. Kamu baik-baik saja?

Ia membaca ulang.

Lebih baik.

Pesan itu dikirim.

Tidak lama kemudian Alya membalas.

Maaf. Aku memang sedang banyak urusan.

Raka mengetik.

Tidak apa-apa.

Namun Alya kemudian menelepon.

"Raka."

"Iya?"

"Kamu kecewa?"

"Sedikit."

"Kenapa tidak bilang?"

"Aku takut terdengar seperti menuntut."

Alya terdiam.

"Kamu boleh bilang kalau kamu merindukanku."

Raka tersenyum.

"Aku merindukanmu."

"Aku juga."

"Benarkah?"

"Benar."

Raka menarik napas lega.

"Ternyata sesederhana itu."

"Apa?"

"Mengatakan yang sebenarnya."

Alya tertawa kecil.

"Kita memang sering membuat sesuatu menjadi rumit."

Raka ikut tertawa.

"Aku terutama."

"Jangan menyalahkan diri sendiri terus."

"Aku hanya sedang belajar."

"Aku tahu."

Percakapan itu berakhir dengan tenang.

Tetapi Raka menyadari sesuatu yang penting.

Memberi kebebasan bukan berarti harus memendam kebutuhan sendiri.

Ia tetap berhak mengatakan bahwa ia rindu.

Ia tetap boleh meminta waktu bersama.

Yang berubah adalah caranya menyampaikan.

Tidak lagi dalam bentuk tuntutan.

Tidak lagi dalam bentuk tekanan.

Melainkan sebagai kejujuran.

°˖✧✿✧˖°

Hubungan mereka mulai memasuki fase yang berbeda.

Tidak lagi dipenuhi kebutuhan untuk terus memastikan bahwa mereka saling mencintai.

Lihat selengkapnya