Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #95

Mimpi Tentang Rumah

Mimpi Tentang Rumah

Mereka mulai membicarakan kehidupan setelah menikah.

°˖✧✿✧˖°

Senja perlahan turun ketika Raka menghentikan mobilnya di depan sebuah kedai kecil yang berada tidak jauh dari taman kota. Tempat itu sederhana, tetapi memiliki suasana yang hangat. Lampu-lampu kecil mulai menyala di sepanjang teras, sementara aroma kopi dan makanan ringan memenuhi udara.

Alya sudah menunggu di sana.

Begitu melihat Raka turun dari mobil, ia tersenyum.

"Kamu lama."

"Maaf."

"Macet?"

"Sedikit."

Alya mengangkat alis.

"Sedikit atau kamu sengaja datang terlambat?"

Raka tertawa.

"Kalau aku sengaja terlambat, berarti aku ingin dihukum?"

"Memangnya kamu takut?"

"Kalau hukumannya dari kamu, mungkin saya pikir-pikir dulu."

Alya tertawa kecil.

Mereka kemudian duduk di sebuah meja dekat jendela. Tidak ada rencana khusus sore itu. Mereka hanya ingin berbicara setelah beberapa hari terakhir dipenuhi kesibukan.

Namun setelah pesanan datang, percakapan mereka justru mengarah pada sesuatu yang belum pernah mereka bicarakan secara mendalam.

"Kamu pernah membayangkan rumah?" tanya Alya tiba-tiba.

Raka yang sedang mengaduk minumannya berhenti.

"Rumah?"

"Iya."

"Rumah seperti apa?"

Alya tersenyum sambil memandang keluar jendela.

"Rumah yang ingin kita tinggali nanti."

Raka terdiam.

Kata nanti terasa sederhana, tetapi membawa makna yang besar.

"Kalau kamu?" tanyanya.

"Aku dulu sering membayangkannya."

"Sejak kapan?"

"Entahlah. Mungkin sejak kecil."

"Rumah impianmu seperti apa?"

Alya berpikir sejenak.

"Aku tidak tahu apakah bisa disebut rumah impian."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak terlalu memikirkan besar atau mewah."

Raka tersenyum.

"Lalu?"

"Aku ingin rumah yang ketika kita pulang, kita merasa tenang."

Raka menatap Alya.

"Tenang?"

"Iya. Tidak harus besar. Tidak harus penuh barang mahal. Yang penting ada rasa pulang."

Raka bersandar.

"Rasa pulang."

"Menurutmu aneh?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Aku justru suka."

Alya menatapnya.

"Kamu sendiri?"

Raka menghela napas.

"Dulu aku memikirkan rumah sebagai tempat."

"Dan sekarang?"

"Sekarang aku mulai mengerti bahwa rumah adalah orang-orang di dalamnya."

Senyum Alya perlahan mengembang.

"Jawabanmu bagus."

"Serius."

"Aku tahu."

Raka tersenyum.

"Kalau begitu, kita punya waktu untuk membicarakannya."

"Memangnya kamu mau?"

"Kenapa tidak?"

Alya menatapnya dengan sedikit malu.

"Karena pembicaraan seperti ini terasa... jauh."

"Jauh?"

"Iya. Seperti membicarakan sesuatu yang belum tentu terjadi."

Raka mengangguk.

"Memang belum terjadi."

Alya terdiam.

"Tapi tidak salah membicarakan mimpi."

Raka menatapnya lembut.

"Selama kita tidak menganggap mimpi itu sebagai kepastian yang sudah menjadi milik kita."

Alya tersenyum.

"Jadi?"

"Jadi malam ini kita boleh bermimpi."

Alya tertawa.

"Baiklah."

Ia menyandarkan kedua tangannya di atas meja.

"Kalau begitu, mari kita mulai."

Raka mengangkat gelasnya.

"Dengan satu pertanyaan?"

"Apa?"

"Rumah kita nanti seperti apa?"

Alya tersenyum.

Dan percakapan sederhana itu pun dimulai.

°˖✧✿✧˖°

"Aku ingin rumah yang punya banyak jendela," kata Alya.

"Kenapa?"

"Karena aku suka cahaya pagi."

"Berarti kamar tidur harus menghadap timur."

Alya tertawa.

"Kok langsung kamar?"

"Supaya cahaya pagi masuk."

"Atau supaya kamu bisa bangun pagi?"

Raka mengangkat kedua tangan.

"Saya tidak bilang begitu."

"Tapi maksudmu begitu."

"Baiklah. Mungkin sedikit."

Alya tertawa.

"Kalau aku, aku ingin ada halaman."

"Untuk apa?"

"Tanaman."

"Sebanyak apa?"

"Entahlah."

"Jangan terlalu banyak."

"Kenapa?"

"Nanti kamu sibuk merawat tanaman sampai lupa memperhatikan saya."

Alya menatapnya beberapa detik.

"Kamu masih bisa cemburu dengan tanaman?"

Raka tersenyum malu.

"Sepertinya saya harus mengaku."

Alya tertawa.

Raka ikut tertawa.

Percakapan mereka semakin ringan.

Namun setelah beberapa saat, Alya berkata,

"Aku ingin dapur yang nyaman."

"Kenapa?"

"Karena aku suka membayangkan kita sarapan bersama."

Raka terdiam.

"Kenapa diam?"

"Saya sedang membayangkan."

"Apa?"

"Kamu memasak."

Alya langsung memelototinya.

"Kenapa saya?"

"Karena kamu yang bilang ingin dapur."

"Bukan berarti aku harus memasak setiap hari."

Raka tertawa.

"Baik. Kita bagi."

"Kamu bisa memasak?"

"Sedikit."

"Sedikit itu bagaimana?"

"Air tidak pernah saya gosongkan."

Alya tertawa terbahak-bahak.

"Raka!"

"Apa?"

"Memasak air bukan memasak."

"Saya tahu."

"Jadi kamu mau bantu apa?"

"Memotong sayur."

"Jangan sampai jari ikut terpotong."

"Itu berarti kamu harus mengajariku."

Alya tersenyum.

"Baik."

Raka memandangnya.

"Dan kalau kamu lelah?"

"Kita pesan makanan."

"Kalau saya lelah?"

"Kita pesan dua."

Raka tertawa.

"Adil."

Alya mengangguk.

"Tapi aku serius."

"Ya."

"Aku tidak ingin rumah nanti menjadi tempat salah satu dari kita merasa harus melayani yang lain setiap saat."

Raka mengangguk pelan.

"Aku juga tidak ingin begitu."

"Aku ingin kita saling membantu."

"Setuju."

"Kalau kamu pulang duluan, kamu bisa bantu sesuatu."

"Kalau kamu pulang duluan, kamu juga begitu."

"Deal."

Mereka saling tersenyum.

Pembicaraan itu tampak sederhana, tetapi keduanya mulai memahami bahwa membangun rumah tangga bukan hanya tentang memilih warna dinding atau jenis perabot.

Ada pembagian tanggung jawab.

Ada kebiasaan.

Ada kompromi.

Ada cara memperlakukan satu sama lain.

Raka menatap Alya lebih serius.

"Kalau nanti kita menikah, aku tidak ingin kamu kehilangan dirimu sendiri."

Alya terdiam.

"Apa maksudmu?"

"Kamu tetap punya kegiatanmu."

"Dan kamu?"

"Aku juga."

"Berarti kita tidak harus selalu bersama?"

"Menurutku, tidak."

Alya tersenyum tipis.

"Aku senang kamu berpikir begitu."

Raka mengangguk.

"Karena rumah bukan penjara."

Alya menatapnya.

"Dan pernikahan bukan alasan untuk berhenti bertumbuh."

Kali ini Alya tidak menjawab.

Ia hanya tersenyum.

Kalimat itu terasa jauh lebih berarti daripada sekadar pembicaraan tentang rumah.

°˖✧✿✧˖°

Setelah suasana kembali tenang, Alya bertanya,

"Kalau nanti kita punya masalah?"

Raka mengernyit.

"Masalah apa?"

"Masalah apa saja."

"Kenapa tiba-tiba membahas masalah?"

"Karena rumah tangga bukan hanya tentang sarapan bersama."

Raka mengangguk.

"Benar."

"Aku tidak ingin kita hanya pandai membayangkan hal indah."

"Apa yang kamu takutkan?"

Alya menundukkan kepala.

"Takut kita berubah."

Raka diam.

"Aku pernah melihat orang yang awalnya sangat dekat, lalu setelah menikah justru saling menjauh."

"Kenapa?"

"Banyak alasan."

Alya memainkan sendok di tangannya.

"Kesibukan. Keuangan. Keluarga. Salah paham. Ego."

Raka mengangguk perlahan.

"Kamu takut kita seperti itu?"

"Kadang."

Raka menatap Alya.

"Aku juga takut."

Alya terkejut.

"Kamu?"

"Iya."

"Selama ini kamu kelihatannya yakin."

"Saya bukan tidak takut."

"Lalu?"

"Saya hanya tidak ingin ketakutan menentukan semuanya."

Alya tersenyum tipis.

"Bagaimana kalau nanti kita bertengkar?"

"Kita berhenti sebelum saling menyakiti."

"Kalau tidak bisa?"

"Kita beri waktu."

"Kalau salah satu ingin menang?"

Raka tersenyum.

"Berarti kita sama-sama kalah."

Alya tertawa kecil.

"Jawabanmu mudah."

"Menjalankannya yang sulit."

"Benar."

Raka kemudian berkata,

"Kalau nanti ada masalah keuangan?"

Alya menatapnya.

"Kita bicarakan."

"Kalau kamu sedang kesulitan?"

"Aku juga bicara."

"Jangan menyembunyikan."

"Aku berusaha."

"Dan kalau saya yang kesulitan?"

"Aku akan mendengarkan."

"Jangan langsung menyalahkan?"

Alya menggeleng.

"Aku tidak mau menjadi orang yang membuatmu takut pulang."

Raka terdiam.

Kalimat itu membuat sesuatu bergerak dalam dadanya.

"Dulu saya pernah membuatmu merasa seperti itu."

Alya menatapnya.

"Raka..."

"Saya tahu."

"Itu sudah lewat."

"Tapi saya tidak ingin mengulanginya."

Alya tersenyum lembut.

"Kalau kita menikah nanti, aku ingin rumah menjadi tempat kita bisa bicara tanpa takut."

Raka mengangguk.

"Kalau kamu marah?"

"Aku akan bilang."

"Kalau saya marah?"

"Kamu juga harus bilang."

"Kalau kamu butuh waktu sendiri?"

"Aku akan bilang."

"Kalau saya butuh waktu?"

"Kamu juga harus bilang."

Raka tersenyum.

"Berarti kita tidak boleh menghilang."

"Setuju."

"Diam-diam menyimpan masalah?"

"Jangan."

"Memendam sampai meledak?"

"Lebih jangan lagi."

Mereka tertawa.

Tetapi di balik tawa itu, ada kesepakatan yang mulai mereka bangun.

Rumah yang mereka impikan tidak hanya memiliki ruang tamu, dapur, kamar, halaman, atau jendela.

Rumah itu harus memiliki komunikasi.

Harus memiliki rasa aman.

Harus memiliki tempat untuk meminta maaf.

Dan harus memiliki dua orang yang mau terus belajar.

Alya kemudian berkata,

"Aku juga ingin rumah yang sederhana dalam satu hal."

"Apa?"

"Jangan terlalu banyak gengsi."

Raka tertawa.

"Setuju."

"Kalau kita tidak mampu membeli sesuatu, jangan memaksakan diri."

"Setuju."

"Kalau tetangga punya rumah lebih besar?"

"Kita tetap pulang ke rumah kita."

"Kalau orang lain punya mobil lebih bagus?"

"Kita tetap naik mobil kita."

"Kalau orang lain punya kehidupan yang kelihatan lebih sempurna?"

Raka tersenyum.

"Kita tidak tahu apa yang terjadi di balik pintu rumah mereka."

Alya mengangguk.

Lihat selengkapnya