Lamaran yang Tertunda
Rencana Raka melamar Alya mengalami hambatan.
°˖✧✿✧˖°
Lantai empat puluh delapan The Grand Aethelgard bermandikan cahaya temaram keemasan. Dari balik dinding kaca lengkung, panorama Jakarta malam itu terhampar bagai lautan intan yang berkilau di bawah pekatnya langit malam. Raka Dananjaya menarik napas panjang, merapikan kerah kemeja putihnya yang terbungkus setelan jas biru malam potongan Savile Row. Di saku dalam jas sebelah kiri, tepat di atas debar jantungnya yang berdentum tak beraturan, jemari liatnya meraba kotak beludru merah marun bertepi kuningan antik. Cincin berlian solitaire berpotongan cushion—pusaka yang diwariskan turun-temurun sekaligus simbol janji masa depannya—tersimpan aman di sana.
Aroma lily lembah dan vanila amber menguar lembut dari rangkaian bunga mawar segar yang sengaja ia pesan khusus untuk menghiasi meja bundar marmer di tengah gazebo privat. Selama tiga bulan penuh, Raka menyusun setiap detail malam ini dengan ketelitian seorang arsitek yang merancang mahakarya terbesarnya. Tidak boleh ada kekeliruan secuil pun.
"Tuan Dananjaya, Nona Alya sudah di lobi dan menuju ke lantai ini sekarang," bisik manajer restoran seraya menuangkan air dingin ke dalam gelas kristal beralas perak murni.
"Terima kasih, Pak Heru. Tolong redupkan pencahayaan di jalur selasar sedikit lagi, dan beri aba-aba pada pemain cello begitu kami selesai dengan hidangan pembuka," sahut Raka dengan senyum tertahan, menepis kegugupan yang merayap di tenggorokannya.
Pintu lift bersepuh perunggu berdentang lirih. Sosok yang ditunggunya melangkah keluar, seketika membekukan napas Raka. Alya Safira mengenakan gaun sutra berpotongan ramping berwarna biru safir yang membalut tubuh semampainya dengan keanggunan tanpa cela. Rambut hitam legamnya disanggul modern dengan beberapa helai jatuh membingkai tulang pipinya yang tegas namun lembut. Manik matanya yang kecokelatan memancarkan keteduhan yang selalu berhasil meredam badai di dalam dada Raka.
"Mas Raka? Kamu memesan seluruh area rooftop ini hanya untuk makan malam berdua?" tanya Alya tertegun seraya melangkah mendekat, matanya berbinar menatap kelopak mawar putih yang bertebaran di lantai marmer.
"Tempat terbaik di kota ini pun belum cukup megah untuk merayakan perempuan terhebat yang pernah hadir dalam hidupku, Al," jawab Raka tulus sambil melangkah menyambutnya, menarik kursi beludru untuknya dengan takzim.
"Kamu berlebihan sekali, Mas. Tapi terima kasih... setelah seharian pusing mengurus perizinan galeri seni baruku, pemandangan ini sungguh menenangkan jiwa," ucap Alya sembari mengembuskan napas lega dan menyentuh jemari Raka di atas taplak meja linen.
"Bagaimana hasil pertemuan kurator tadi sore? Apa yayasan menerima rancangan restorasi bangunan cagar budaya yang kamu ajukan?" selidik Raka penuh perhatian, menatap lekat paras ayu kekasihnya.
"Mereka menyukainya! Mereka bahkan bilang visi ayahku mengenai pelestarian ruang publik akhirnya menemukan penerus yang layak. Aku hanya berharap almarhum Ayah bisa melihat pencapaian ini sekarang," tutur Alya dengan mata berkaca-kaca namun dipenuhi kebanggaan tulus.
"Beliau pasti sangat bangga melihat putrinya tumbuh menjadi wanita yang begitu tangguh dan berprinsip, Alya. Dan aku... aku merasa menjadi pria paling beruntung di dunia karena diizinkan berdiri di sampingmu," gumam Raka lembut.
Lilin-lilin kecil di dalam lentera kaca menari ditiup angin sepoi malam. Raka merasa momen sakral itu telah tiba. Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang saat tangannya bergerak menyelinap ke balik saku jas, menyentuh sudut kotak beludru merah. Namun tepat saat bibirnya hendak mengucap kalimat yang telah dihafalnya ratusan kali di depan cermin, getaran keras dari layar ponselnya di atas meja menghancurkan keheningan romantis itu bagai pecahan kaca berserakan.
Layar ponsel Raka menyala terang tanpa henti. Nama Dimas, sekretaris kepercayaannya di Dananjaya Group, berkedip panik di layar bersamaan dengan tiga notifikasi pesan darurat dari ibunya bertuliskan huruf kapital yang amat mencolok: RAKA, JANGAN AMBIL KEPUTUSAN APAPUN MALAM INI! KELUARGA KITA SEDANG DI AMBANG KEHANCURAN BESAR KARENA PENGKHIANATAN MASA LALU!
"Mas Raka? Ada apa sebenarnya? Kenapa ekspresi wajahmu mendadak tegang sekali seperti melihat hantu? Siapa yang menelepon berulang kali di saat kita sedang merayakan momen seindah ini?" tanya Alya cemas, menyadari raut wajah Raka yang seketika membeku seputih pualam.
"Sebentar ya, Al... tolong beri aku waktu satu menit untuk membalasnya. Ini panggilan mendesak dari kantor pusat yang tidak bisa kutunda barang sedetik pun," bisik Raka dengan tenggorokan tercekat, terpaksa menarik tangannya kembali dari saku jas.
°˖✧✿✧˖°
Raka bergeser menjauh ke bibir pembatas kaca balkon, menatap hamparan lampu-lampu jalanan ibu kota yang buram di bawah telapak kakinya yang mendadak dingin membeku. Angin malam berembus tajam menerpa wajahnya saat ia menempelkan gawai ke telinga kanannya. Napas berat Dimas di ujung sambungan terdengar memburu seperti baru saja berlari menaiki puluhan anak tangga curam tanpa jeda istirahat. Suasana kota terasa begitu mencekam.
"Pak Raka, tolong dengarkan saya baik-baik sebelum Anda melangkah lebih jauh malam ini," sergah Dimas tanpa basa-basi pengantar, suaranya sarat kepanikan yang tak sanggup ia sembunyikan lagi di balik tata krama korporat.
"Ada apa sebenarnya, Dimas? Aku sudah memperingatkanmu agar tidak mengganggu malam ini!" desis Raka dengan nada menekan amarah serendah mungkin agar tak terdengar oleh Alya di meja makan.
"Keadaannya genting sekali, Pak! Ibu Ratna baru saja menerima somasi sita jaminan resmi dari pengadilan niaga. Seluruh konsorsium proyek kota mandiri kita dibekukan total atas gugatan pelanggaran hak kekayaan intelektual dan penggelapan sertifikat lahan masa lalu," lapor Dimas dengan suara tercekat.
"Apa hubungannya masalah perdata kantor dengan perintah Ibu agar aku membatalkan rencana malam ini?" tuntut Raka dengan rahang mengeras kaku.
"Penggugat menggunakan berkas warisan almarhum Ir. Hendra Prasetya—ayah Nona Alya! Pengacara mereka menuduh kakek Anda merebut paksa karya beliau. Ibu Ratna sekarang sangat yakin Nona Alya mendekati Anda hanya untuk melancarkan misi balas dendam keluarga!"
Kata-kata itu menghantam benak Raka laksana hantaman godam baja. Seluruh persendian tubuhnya terasa lemas seketika. Raka menoleh lambat ke arah meja makan; Alya duduk bersahaja di bawah temaram lilin, memilin serbet kain dengan pandangan resah penuh tanda tanya. Pandangan mata gadis itu begitu jernih, mustahil menyimpan racun tipu daya seperti yang dituduhkan ibunya.
"Itu fitnah keji yang sengaja dirancang, Dimas! Alya tidak mungkin serendah itu! Dia bahkan tidak pernah mau menerima bantuan sepeser pun dariku saat merintis galerinya!" seru Raka tertahan.
"Ibu Ratna dan Paman Baskoro sedang menuju restoran Anda sekarang membawa surat penetapan hukum. Beliau bersumpah akan mencabut hak waris Anda di depan umum jika Anda tetap nekat memakaikan cincin pusaka itu ke jemari Nona Alya malam ini!"
"Katakan pada Ibu, aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun mendikte pilihan hatiku lagi!" geram Raka dengan suara bergetar menahan gejolak.
Sambungan terputus sepihak. Layar gawai meredup hitam, meninggalkan Raka terpaku dalam keputusasaan yang mencekik napasnya. Angin malam berhembus dingin menusuk rusuknya. Kotak beludru di saku jasnya kini terasa berat bagai bongkahan timah panas yang siap membakar hatinya dan menghancurkan masa depannya berkeping-keping.
°˖✧✿✧˖°
Raka melangkah kembali ke meja bundar marmer dengan senyum yang dipaksakan mengembang di bibirnya. Langkah kakinya yang biasa tegap terasa berat laksana menjejak bara api menyala. Lampu lentera temaram memantulkan bayangan muram di matanya. Alya langsung meletakkan gelas kristal minumannya ke meja, menatap tajam ke arah sepasang bola mata Raka yang bergetar menahan gejolak badai batin yang membuncah.
"Mas Raka... wajahmu pucat sekali. Apa kabar dari kantor tadi begitu buruk hingga senyummu mendadak hilang seperti ini?" tanya Alya pelan, nada suaranya sarat kecemasan murni yang menyayat nurani Raka.
"Hanya masalah administrasi kecil di pelabuhan, Sayang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan malam ini," kilah Raka berbohong, meski lidahnya terasa kelu mengucapkan dusta itu kepada wanita yang paling ia junjung kejujurannya.
"Jangan berbohong kepadaku, Mas. Kita sudah bersama selama empat tahun. Aku tahu persis bagaimana caramu menelan ludah saat ada badai besar yang sedang kamu tutupi dariku," desak Alya seraya menyentuh punggung tangan Raka yang terasa dingin sedingin es batu.