Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #97

Restu Sang Ayah

Raka berusaha mendapatkan restu keluarga Alya.

°˖✧✿✧˖°

Sejak pagi, Raka sudah merasa ada sesuatu yang berbeda.

Bukan karena Alya bersikap dingin. Justru sebaliknya. Gadis itu terlihat tenang ketika mereka berbicara melalui telepon. Tidak ada lagi nada ragu seperti beberapa waktu lalu. Tidak ada lagi pertanyaan yang dipenuhi kecemasan tentang masa depan hubungan mereka.

Namun, pagi itu Alya tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat Raka terdiam cukup lama.

"Aku sudah bicara dengan Ayah."

Raka yang sedang berdiri di dekat jendela langsung menegakkan tubuh.

"Ngomongin apa?"

"Ngomongin kita."

Jantung Raka berdegup sedikit lebih cepat.

"Terus?"

Alya menarik napas.

"Ayah ingin bertemu denganmu."

Raka terdiam.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

"Raka?"

"Iya."

"Kenapa diam?"

"Aku sedang berpikir."

"Takut?"

Raka tersenyum kecil meski Alya tidak dapat melihatnya.

"Kalau aku bilang tidak takut, aku bohong."

Alya tertawa pelan.

"Setidaknya kamu jujur."

"Aku memang takut."

"Takut Ayah tidak menyukaimu?"

"Lebih dari itu."

Raka memandang langit pagi di balik kaca jendela.

"Aku takut tidak cukup baik untuk mendapatkan restu beliau."

Nada suara Alya berubah lebih lembut.

"Raka."

"Hm?"

"Jangan datang untuk berpura-pura menjadi orang lain."

"Aku tidak akan."

"Dan jangan mencoba membuat Ayah terkesan dengan kata-kata besar."

Raka mengangguk meskipun Alya tetap tidak bisa melihat.

"Aku akan datang sebagai diriku sendiri."

"Bagus."

"Tapi, Alya..."

"Iya?"

"Kalau Ayah bertanya kenapa aku ingin bersamamu, apa jawaban yang harus kuberikan?"

Alya terdiam sesaat.

"Lalu menurutmu?"

Raka tersenyum.

"Karena aku mencintaimu."

"Itu benar."

"Tapi mungkin belum cukup."

"Kenapa?"

"Karena seorang ayah tidak hanya ingin mendengar bahwa anak perempuannya dicintai."

Alya diam.

"Dia ingin tahu apakah laki-laki yang mencintainya mampu menjaganya tanpa mengekangnya. Mampu menghargainya tanpa merendahkannya. Mampu berdiri di sampingnya tanpa membuatnya kehilangan dirinya sendiri."

Untuk beberapa saat, Alya tidak menjawab.

Kemudian terdengar suara lembutnya.

"Kamu sudah banyak berubah."

Raka menghela napas.

"Aku masih belajar."

"Dan itu yang ingin Ayah lihat."

Pertemuan itu akhirnya ditentukan pada malam hari.

Rumah Alya tidak terlalu ramai. Hanya ada keluarganya. Tidak ada suasana seperti pertemuan resmi. Tidak ada meja panjang dengan hidangan berlebihan.

Namun justru kesederhanaan itu membuat Raka semakin gugup.

Ketika mobilnya berhenti di depan rumah, ia sempat memejamkan mata.

"Tenang," bisiknya kepada diri sendiri.

Ia membawa sesuatu yang sederhana. Bukan hadiah mahal. Hanya buah tangan yang menurutnya pantas diberikan kepada keluarga Alya.

Raka turun dari mobil.

Di depan pintu, Alya sudah menunggunya.

"Sudah siap?"

Raka menatap Alya.

"Belum."

Alya tertawa kecil.

"Kenapa datang kalau belum siap?"

"Karena kalau menunggu sampai benar-benar siap, mungkin aku tidak akan pernah berani datang."

Senyum Alya mengembang.

"Kalau begitu, masuklah."

Raka mengangguk.

Malam itu, langkahnya menuju ruang keluarga terasa seperti langkah menuju sebuah pintu yang akan menentukan babak baru dalam hidup mereka.

°˖✧✿✧˖°

Ayah Alya duduk di ruang keluarga.

Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia sedang memperhatikan setiap gerak-gerik Raka.

Raka memberi salam dan menyalami tangannya dengan sopan.

"Terima kasih sudah bersedia menerima saya, Pak."

Ayah Alya mengangguk.

"Duduklah."

Raka duduk berhadapan dengannya.

Alya mengambil tempat tidak jauh dari mereka.

Untuk beberapa saat, percakapan berlangsung ringan.

Tentang pekerjaan.

Tentang keluarga.

Tentang kehidupan sehari-hari.

Namun Raka tahu, semua itu hanyalah pembuka.

Pertanyaan sebenarnya belum dimulai.

Dan benar saja.

Ayah Alya meletakkan cangkirnya.

"Saya ingin bicara langsung dengan kamu."

Raka mengangguk.

"Silakan, Pak."

"Saya sudah tahu bahwa kamu dan Alya memiliki hubungan yang cukup serius."

Raka menarik napas.

"Iya, Pak."

"Seberapa serius?"

Raka tidak langsung menjawab.

Ia menatap pria di hadapannya dengan tenang.

"Saya tidak ingin hubungan ini berhenti hanya karena kami merasa nyaman satu sama lain."

Ayah Alya mengangkat alis.

"Maksudmu?"

"Saya ingin membawa hubungan ini ke arah yang lebih bertanggung jawab."

Alya menundukkan wajah.

Ayahnya kembali bertanya.

"Dan menurutmu, apa arti bertanggung jawab?"

Raka menjawab perlahan.

"Bukan sekadar memberikan janji."

"Jadi?"

"Menunjukkan kesungguhan melalui tindakan."

Ayah Alya menyandarkan tubuhnya.

"Kamu tahu Alya bukan anak kecil."

"Saya tahu, Pak."

"Dia punya pikiran sendiri."

"Saya tahu."

"Dia punya keputusan sendiri."

Raka mengangguk.

"Saya juga tahu."

"Kalau suatu hari dia mengambil keputusan yang berbeda dari keinginanmu?"

Pertanyaan itu membuat Raka terdiam.

Alya pun menatapnya.

Raka akhirnya menjawab.

"Saya akan mendengarkan alasannya."

Ayah Alya menatapnya lebih tajam.

"Kalau kamu tidak setuju?"

"Saya akan menyampaikan pendapat saya."

"Kalau tetap berbeda?"

"Saya tidak akan memaksanya."

Ruangan mendadak sunyi.

Ayah Alya menatap Raka cukup lama.

"Kamu mengatakan itu sekarang."

Raka mengangguk.

"Benar, Pak."

"Bagaimana saya tahu kamu akan tetap seperti itu ketika keadaan menjadi sulit?"

Raka menundukkan kepala sejenak.

"Saya tidak bisa meminta Bapak percaya hanya karena saya mengatakannya."

Ayah Alya tidak menyela.

"Saya hanya bisa meminta kesempatan untuk membuktikannya."

Alya menatap Raka dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Ayahnya bertanya lagi.

"Kenapa Alya?"

Raka tersenyum tipis.

"Karena saya mengenalnya bukan hanya ketika semuanya mudah."

Ia menatap Alya sekilas.

"Saya pernah melihat sisi terbaiknya. Saya juga pernah melihat saat dia terluka."

Raka kembali menatap ayah Alya.

"Dan saya sadar, mencintai seseorang bukan berarti hanya menyukai bagian dirinya yang menyenangkan."

Ayah Alya diam.

"Saya ingin belajar menerima seluruh dirinya. Termasuk kekhawatiran, kelemahan, kesalahan, dan ruang yang dia butuhkan untuk menjadi dirinya sendiri."

Alya mengusap sudut matanya.

Ayahnya memperhatikan itu, lalu kembali menatap Raka.

"Kalau begitu, kamu datang malam ini untuk meminta apa?"

Raka menarik napas dalam-dalam.

"Restu."

Satu kata itu keluar sederhana.

Namun setelah mengucapkannya, Raka merasa dadanya lebih ringan.

"Saya tidak datang untuk mengambil Alya dari keluarganya."

Ayah Alya menatapnya.

"Saya datang untuk meminta izin agar suatu hari saya bisa menjadi bagian dari keluarga ini."

Tidak ada yang langsung menjawab.

Dan dalam diam itu, Raka tahu bahwa ujian sesungguhnya baru saja dimulai.

°˖✧✿✧˖°

Ayah Alya berdiri.

Raka spontan ikut berdiri.

"Ikut saya sebentar."

Alya terlihat hendak bangkit, tetapi ayahnya mengangkat tangan.

"Kamu tetap di sini, Alya."

Raka mengikuti ayah Alya menuju teras belakang.

Udara malam terasa lebih dingin.

Mereka berdiri berdampingan, memandang halaman yang diterangi cahaya lampu.

Ayah Alya berbicara tanpa menoleh.

"Saya akan bertanya sesuatu yang mungkin tidak nyaman."

"Saya siap, Pak."

"Selama bersama Alya, pernahkah kamu membuat dia merasa kehilangan dirinya sendiri?"

Raka terdiam.

Pertanyaan itu langsung menyentuh bagian dirinya yang paling ia hindari.

"Saya pernah."

Ayah Alya menoleh.

Raka melanjutkan.

"Saya pernah terlalu takut kehilangan dia sampai saya mencoba mengatur terlalu banyak hal."

"Dan?"

"Saya salah."

"Kamu sadar sendiri?"

"Saya baru benar-benar sadar setelah melihat bagaimana sikap saya membuat Alya terluka."

Ayah Alya mengangguk pelan.

"Kenapa kamu tidak pergi saja setelah menyadari hubungan kalian menjadi rumit?"

Raka tersenyum pahit.

"Karena mencintai seseorang bukan alasan untuk terus bertahan dengan cara yang salah."

Ia menarik napas.

"Saya memilih memperbaiki cara saya mencintainya."

Lihat selengkapnya