Ujian Terakhir
Sebuah masalah besar kembali menguji kesungguhan mereka.
°˖✧✿✧˖°
Rintik hujan akhir November memukul kaca jendela apartemen lantai tiga puluh dua dengan ketukan ritmis yang dingin. Di atas meja kayu jati yang membentang luas di tengah ruang kerja, puluhan lembar undangan pernikahan berpita perak tersusun rapi di samping vas bunga mawar putih. Raka Danendra melonggarkan ikatan dasi sutranya yang terasa mencekik leher, lalu bersandar seraya menatap Alya Pradipta. Wanita itu tengah memeriksa draf daftar nama tamu undangan resepsi pernikahan mereka yang tinggal berjarak tiga pekan lagi. Suasana malam itu semestinya menjadi malam yang penuh kedamaian setelah perjuangan panjang mereka berdua selama ini.
"Kamu terlihat sangat lelah malam ini, Raka," ucap Alya lirih seraya meletakkan pulpen berujung emasnya. Tatapan matanya yang teduh menyapu raut tegang di wajah tunangannya. "Apakah rapat evaluasi konsorsium tadi sore kembali memanas?"
Raka menarik napas panjang, lalu tersenyum lembut seraya mengusap punggung tangan Alya. "Paman Hendra tidak pernah rela melihat kita duduk berdampingan di kursi pimpinan, Al. Namun dewan komisaris sudah menyetujui seluruh cetak biru Danendra Tower. Tidak ada celah hukum lagi bagi mereka untuk menjegal langkah kita menuju pelaminan maupun masa depan perusahaan."
"Aku selalu merasa ketenangan ini terlalu rapuh, Mas," bisik Alya pelan. Jemarinya saling meremas lembut di atas gaun rajutnya yang hangat. "Setelah semua penolakan keluarga besarmu selama dua tahun terakhir, apakah mereka menyerah begitu saja?"
"Mereka terikat oleh surat wasiat kakek yang sah di hadapan notaris negara," sahut Raka mantap. "Selama aku memegang mayoritas saham, tak seorang pun bisa memisahkanmu dari sisiku ataupun mencopotmu dari proyek ini. Mengapa kamu masih cemas?"
"Bukan posisi direksi yang aku cemaskan, Raka," sela Alya cepat, menatap lekat manik mata pria itu dengan ketulusan yang murni. "Aku hanya ingin kita melangkah ke pelaminan tanpa mengorbankan kehormatan siapa pun lagi di kemudian hari."
"Percayalah padaku, segalanya aman dan terlindungi," balas Raka hangat seraya menggenggam jemari Alya erat-erat. "Bukankah kita sudah berjanji untuk saling menguatkan dalam keadaan apa pun?"
"Tentu saja, aku selalu memegang janji suci itu," jawab Alya haru seraya tersenyum teduh menatapnya penuh rasa cinta.
Namun, kehangatan itu terbelah oleh bel pintu yang berdering nyaring tiga kali berturut-turut. Raka melirik arlojinya yang menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh menit malam.
"Siapa yang bertamu selarut ini di tengah hujan lebat?" tanya Alya cemas seraya berdiri tegak dari kursinya.
"Biar kuperiksa langsung ke depan," jawab Raka seraya melangkah cepat menuju pintu utama.
Ketika daun pintu ditarik, seorang kurir berjas hujan hitam dengan lencana firma hukum terkemuka berdiri kaku di lorong, menyodorkan map tebal berlogo segel merah menyala.
"Dokumen penting untuk Tuan Raka Danendra dan Nona Alya Pradipta dari Kantor Hukum Danendra Rekan," ujar kurir itu dingin. "Mohon tanda tangan bukti penerimaan berkas perkara hukum ini sekarang juga."
Raka menandatangani layar digital, lalu menutup pintu dengan firasat buruk. Di ruang tengah, Alya memperhatikan map itu dengan napas tertahan.
"Ada apa, Mas? Dari siapa kiriman selarut ini?" tanya Alya panik. "Apakah ada masalah darurat di kantor konsorsium?"
"Dari firma hukum Paman Hendra," jawab Raka seraya menyobek segel lilin merah tersebut dengan pisau pembuka surat.
Begitu isi map dikeluarkan, tumpukan berkas gugatan pembatalan hak kepemilikan aset dan laporan audit kepolisian berhamburan di meja kaca. Mata Raka terpaku pada lampiran bukti transaksi luar negeri bertanggal kemarin sore.
"Ini sungguh tidak masuk akal sehat," gumam Raka dengan suara tercekat.
"Apa yang tertulis di sana, Raka? Katakan padaku!" tanya Alya panik.
"Rekening ibumu menerima transfer delapan miliar dari Konsorsium Dirgantara kemarin sore," tutur Raka perlahan, menatap Alya nanar antara syok dan kepedihan mendalam. "Dan dokumen rahasia baja ramah lingkungan kita bocor ke publik melalui tanda tangan digitalmu."
Alya terhuyung mundur selangkah, napasnya tersengal. "Demi Tuhan, Raka... aku bersumpah tidak pernah membocorkan berkas itu apalagi menjualnya kepada Dirgantara! Kamu harus percaya padaku!"
"Lalu bagaimana tanda tangan kriptografis dan rekening keluargamu bisa berada di dalam berkas gugatan pidana ini, Alya?" desak Raka dengan suara bergetar perih. "Jelaskan padaku sekarang juga!"
"Aku dijebak, Raka!" seru Alya berurai air mata. "Seseorang sengaja merekayasa fitnah ini untuk memisahkan kita berdua!"
°˖✧✿✧˖°
Alya menggelengkan kepala dengan air mata yang mengalir deras di kedua belah pipinya. Tubuhnya bergetar menahan guncangan jiwa yang luar biasa hebat. "Aku tidak tahu apa-apa soal uang delapan miliar itu, Raka! Ibu sedang terbaring lemah di rumah sakit Yogyakarta, bagaimana mungkin beliau membuka rekening penampung di Singapura?"
"Tetapi data perbankan dan laporan forensik ini valid secara hukum, Alya!" sergah Raka seraya menatap lembaran transaksi resmi tersebut dengan tatapan yang berkabut frustrasi. Napasnya memburu di antara keraguan dan kebingungan yang membakar dadanya. "Paman Hendra tidak akan berani melayangkan gugatan seformal ini tanpa verifikasi otentikasi biometrik dari bank sentral!"
"Apakah kamu mulai meragukan ketulusanku setelah semua yang kita lewati?" tanya Alya dengan suara bergetar menahan perih yang menyayat kalbu. Tatapan matanya sarat luka mendalam. "Setelah sembilan puluh tujuh bab perjuangan kita menghadapi cemoohan keluargamu, apakah selembar kertas fitnah ini cukup untuk menghancurkan seluruh rasa percayamu padaku?"
Raka memejamkan mata rapat-rapat seraya mencengkeram tepi meja marmer hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Beban tanggung jawab dan cinta bertarung sengit di dalam sanubarinya. Sebelum ia sempat menjawab, ponsel pintarnya bergetar hebat di atas meja. Nama Hendra Danendra menyala terang di layar kaca.
Raka segera menekan tombol pengeras suara. "Apa maksud semua berkas fitnah keji ini, Paman?"
Tawa dingin terdengar nyaring dari seberang sambungan telepon. "Selamat malam, keponakanku yang malang. Aku hanya ingin memastikan kamu membaca hadiah pernikahan istimewa dariku sebelum fajar menyingsing tiba."
"Ini rekayasa busukmu untuk menggagalkan pernikahan kami dan merebut kursi pimpinan konsorsium!" bentak Raka tanpa ragu sedikit pun.
"Rekayasa?" balas Hendra mengejek dengan nada congkak. "Besok pagi pukul delapan tepat, tim hukum konsorsium akan menyerahkan berkas pembocoran rahasia negara ini ke Bareskrim Polri. Tunangan tercintamu akan dijemput paksa dengan status tersangka utama."
Alya menutup mulutnya rapat-rapat, menahan isak tangis yang nyaris meledak mendengar ancaman mengerikan itu.
"Apa maumu sebenarnya, Hendra?" geram Raka dengan rahang mengeras kaku.
"Sederhana saja, Raka," jawab Hendra santai namun mematikan. "Batalkan pernikahan konyolmu malam ini juga. Umumkan pengunduran diri Alya dari dewan direksi, dan serahkan hak veto Danendra Tower kepadaku. Jika kamu menolak, tunanganmu akan membusuk di penjara selama dua puluh tahun ke depan. Pilihlah sebelum fajar tiba."
Sambungan telepon terputus sepihak. Keheningan pekat menenggelamkan ruangan. Alya menatap Raka dengan tatapan hancur. "Lepaskan aku, Mas. Kariermu dan nama besar Danendra tidak boleh hancur karena diriku."
"Tidak pernah!" sahut Raka lantang dengan sorot mata menyala tajam penuh tekad. "Aku tidak akan membiarkan bajingan itu menghancurkan hidup kita berdua!"