Aku Akan Menunggumu
Alya memilih tetap percaya, kepada janji Raka.
°˖✧✿✧˖°
Hujan turun deras di luar jendela kafe itu, menciptakan irama yang menenangkan di atas kebisingan kota yang biasanya tak pernah tidur. Raka menatap tetes-tetes air yang berlomba di kaca, pikirannya melayang jauh melampaui pemandangan jalanan yang basah. Di hadapannya, secangkir kopi sudah dingin sejak setengah jam lalu. Ia tidak menyentuhnya. Tangannya sibuk memainkan ponsel, membuka dan menutup aplikasi pesan, berharap ada balasan yang tak kunjung datang.
"Alya..." bisiknya pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan.
Sudah tiga hari sejak Alya pergi ke kota lain untuk urusan pekerjaan. Sebenarnya bukan hal yang luar biasa—Alya sering melakukan perjalanan dinas. Tapi kali ini berbeda. Ada sesuatu dalam cara Alya berpamitan, dalam tatapan matanya yang sedikit menghindar, dalam senyumnya yang tidak sampai ke mata. Raka merasakannya, meski ia berusaha mengabaikan firasat itu.
Ponselnya bergetar. Jantungnya melompat, tapi ternyata hanya notifikasi email dari kantor. Ia menghela napas panjang, menyesap kopi dingin yang rasanya pahit di lidah.
"Kenapa kau terlihat seperti orang yang kehilangan dunianya?"
Raka menoleh. Bima, sahabatnya sejak SMA, duduk di kursi seberang dengan dua cangkir kopi baru. Ia meletakkan satu cangkir di depan Raka dan mendorong kopi dingin itu ke tepi meja.
"Kau ini stalker atau bagaimana?" Raka mendengus, tapi tangannya menerima kopi hangat itu dengan syukur.
"Aku kebetulan lewat. Melihat mobilmu terparkir di sini, dan kau tahu, kau ini tipe orang yang tidak pernah ke kafe sendirian kalau bukan karena sedang galau." Bima menyandarkan punggung, menatap Raka dengan pandangan menyelidik. "Alya?"
Raka tidak menjawab. Ia menatap kopinya, berputar-putar di dalam cangkir.
"Kalian bertengkar?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku tidak tahu." Raka akhirnya mengangkat wajah. "Itu masalahnya, Bim. Aku tidak tahu apa yang salah. Alya... dia seperti menjauh. Panggilanku dijawab singkat. Pesanku dibalas dengan emoji. Dan sekarang, dia di luar kota, dan aku bahkan tidak tahu apakah dia baik-baik saja."
Bima mengerutkan kening. "Mungkin dia hanya sibuk. Kau tahu bagaimana pekerjaannya."
"Bukan itu." Raka menggeleng tegas. "Aku mengenal Alya lebih dari siapa pun. Ada yang dia sembunyikan."
Hujan semakin deras. Suara gemuruh menutupi keheningan di antara mereka. Raka ingat pertama kali ia bertemu Alya—di sebuah acara buku, di mana Alya tersenyum pada setiap orang yang datang ke stan tempatnya bekerja. Senyum itu, senyum yang membuat Raka lupa apa yang ingin ia katakan. Sejak saat itu, Raka tahu ia ingin bersama Alya. Dan Alya memilihnya. Di antara semua orang, Alya memilihnya.
Tapi sekarang, pilihan itu terasa seperti sesuatu yang sedang diuji.
"Apa kau sudah mencoba menanyakan langsung?" Bima akhirnya bersuara.
"Sudah. Dia bilang tidak ada apa-apa." Raka tertawa pahit. "Tidak ada apa-apa, Bim. Kalimat paling menakutkan di dunia."
"Kau terlalu dramatis."
"Aku realistis."
Bima menatapnya lama. "Raka, kau ini salah satu orang paling sabar yang kukenal. Tapi kau juga manusia. Kalau kau terus menahan semuanya, kau akan meledak."
"Aku tidak bisa memaksa Alya bicara. Aku tidak mau dia merasa terpojok."
"Tapi kau juga tidak bisa terus seperti ini. Menunggu tanpa kepastian itu melelahkan."
Raka tahu Bima benar. Tapi melepaskan Alya—atau bahkan hanya menuntut penjelasan—terasa seperti mengkhianati sesuatu yang mereka bangun selama ini. Ia percaya pada Alya. Ia percaya bahwa apa pun yang terjadi, Alya akan kembali padanya. Setidaknya, itu yang ingin ia percayai.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini benar-benar pesan dari Alya.
"Aku pulang besok. Kita bicara."
Tiga kata. Tiga kata yang seharusnya melegakan, tapi justru membuat perutnya mulas. Raka menatap layar itu lama, sebelum akhirnya mengetik balasan singkat.
"Baik. Aku jemput."
Tidak ada balasan. Raka meletakkan ponselnya, menatap hujan yang perlahan mereda. Di luar, langit mulai cerah, tapi di dalam hatinya, awan gelap justru semakin tebal.
°˖✧✿✧˖°
Bandara Soekarno-Hatta selalu punya cara untuk membuat siapa pun merasa kecil. Langit-langit tinggi, kerumunan orang yang datang dan pergi, suara pengumuman yang bergema—semuanya menciptakan kekacauan yang terorganisir. Raka berdiri di area kedatangan, matanya tertuju pada pintu yang akan memuntahkan penumpang dari penerbangan Alya. Tangannya menggenggam sekuntum mawar putih—bunga yang selalu Alya sukai karena katanya mawar putih itu jujur, tidak menyembunyikan apa pun di balik warna yang mencolok.
Ia sudah di sini sejak satu jam lalu. Terlalu awal, tapi ia tidak bisa duduk diam di rumah. Pikirannya terlalu bising.
Ketika akhirnya Alya muncul—dengan koper kecil dan tas selempang yang selalu ia bawa—Raka merasakan campuran antara lega dan cemas. Alya terlihat lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya jelas, dan senyumnya tipis, hampir tidak terlihat.
"Aly." Raka melangkah maju, menyerahkan mawar itu.
Alya menerimanya, tapi tidak seperti biasanya. Biasanya, Alya akan tersenyum lebar dan mencium pipinya. Kali ini, ia hanya menatap mawar itu sejenak, lalu mengangguk. "Terima kasih."
"Koperku." Raka mengambil kopernya tanpa bertanya. Mereka berjalan berdampingan menuju parkiran, tapi jarak di antara mereka terasa lebih lebar dari sebelumnya. Tidak ada sentuhan, tidak ada genggaman tangan. Hanya keheningan yang dipenuhi suara langkah kaki.
Di dalam mobil, Raka menyalakan mesin tapi tidak segera menjalankannya. Ia menatap Alya, yang sedang menatap keluar jendela.
"Aly, kita bicara sekarang atau nanti?"
Alya tidak menoleh. "Nanti. Di rumah."
"Oke."
Perjalanan pulang terasa seperti selamanya. Raka sesekali melirik Alya, yang masih menatap jendela, tapi ia tahu Alya tidak benar-benar melihat pemandangan. Ia sedang melihat sesuatu di dalam pikirannya sendiri. Sesuatu yang membuatnya menjauh.
Ketika akhirnya mereka sampai di apartemen Alya, Raka membawa koper itu masuk. Apartemen itu terasa asing—seperti rumah yang belum ditinggali. Alya meletakkan mawar putih itu di vas, lalu duduk di sofa, menatap tangannya sendiri.
Raka duduk di seberangnya. "Aku di sini, Aly. Apa pun itu."
Alya menarik napas panjang. Ketika ia akhirnya mengangkat wajah, mata itu berkaca-kaca. "Raka, aku... aku tidak tahu harus mulai dari mana."
"Dari awal. Dari apa pun yang membuatmu seperti ini."
Alya menunduk lagi. "Ada seseorang. Dari masa laluku. Dia... dia kembali."
Dunia Raka seperti berhenti berputar. "Seseorang?"
"Mantan kekasihku. Yang dulu." Alya menggenggam tangannya sendiri. "Dia muncul di acara kantor minggu lalu. Dia sekarang bekerja di perusahaan yang sama dengan klien kami. Dan dia... dia ingin bicara."
Raka merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggungnya. "Dan kau?"
"Aku tidak tahu." Alya akhirnya menangis. "Aku tidak tahu, Raka. Aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu. Tapi melihat dia lagi... mengingatkanku pada sesuatu yang pernah sangat menyakitkan. Dan aku... aku takut."
"Takut apa?"
"Takut bahwa aku belum benar-benar sembuh. Takut bahwa aku masih membawa luka itu. Dan aku tidak mau memberimu luka yang bukan milikmu."
Raka terdiam. Ia ingin memeluk Alya, tapi tubuhnya terasa kaku. "Apa kau masih mencintainya?"
"Tidak." Alya menggeleng cepat. "Bukan itu. Aku tidak mencintainya lagi. Tapi aku... aku belum memaafkannya. Dan aku belum memaafkan diriku sendiri."
Raka menutup matanya. Ini bukan tentang cinta. Ini tentang luka yang belum selesai. Dan Raka tahu, ia tidak bisa menyembuhkan luka itu untuk Alya. Hanya Alya yang bisa.
"Aly, aku tidak akan memaksamu. Tapi aku perlu tahu... apa kau masih ingin bersamaku?"
Alya menatapnya, matanya merah. "Aku ingin. Tapi aku juga butuh waktu. Aku butuh menyelesaikan ini sendiri."
Raka mengangguk, meski hatinya terasa seperti dirobek. "Aku akan menunggumu."
"Raka—"
"Aku akan menunggumu," ulangnya, lebih tegas. "Tapi aku juga perlu kau tahu bahwa aku bukan pilihan cadangan. Aku bukan orang yang akan kau datangi setelah semuanya selesai. Aku ingin kau memilih aku karena kau sudah utuh, bukan karena kau butuh tempat berlindung."
Alya menangis lagi, kali ini lebih keras. Raka akhirnya memeluknya, menahan air matanya sendiri. Ia tidak tahu apakah ini keputusan yang benar. Tapi ia tahu, ia tidak bisa memaksa Alya untuk tinggal jika Alya sendiri belum siap.
°˖✧✿✧˖°
Minggu-minggu setelahnya terasa seperti berjalan di atas es tipis. Raka dan Alya masih berkomunikasi, tapi ada dinding yang tak terlihat di antara mereka. Alya masih pergi bekerja, masih tersenyum saat Raka mengantar makan siang, tapi senyum itu tidak pernah mencapai matanya. Raka mencoba untuk tidak menekan. Ia mencoba untuk memberi ruang. Tapi setiap kali ia melihat Alya menatap ponselnya dengan ekspresi yang sulit dibaca, sesuatu di dalam dirinya mengejang.
Suatu sore, Raka memutuskan untuk mengunjungi Alya di kantornya. Ia membawa dua kotak makan siang—nasi goreng spesial dari tempat yang Alya suka. Ia berharap makanan itu bisa mencairkan sedikit ketegangan.