
Cincin di Balik Bunga
Raka menyiapkan lamaran secara diam-diam.
Jarum jam dinding antik di sudut bengkel perhiasan tua itu berdentang sembilan kali. Di atas meja kerja kayu jati yang beraroma lilin lebah dan serbuk gergaji perak, sebuah kotak beludru merah marun berukuran telapak tangan diletakkan dengan kehati-hatian luar biasa oleh seorang pria berambut kelabu.
"Ini hasil akhirnya, Raka," bisik Pak Hendra seraya menyeka ujung lensa kacamatanya yang berdebu. "Platina murni dengan ukiran kelopak mawar putih di kedua sisi rangkanya, serta sebutir berlian bundar setengah karat di poros mahkota. Tepat seperti sketsa tangan yang kau serahkan padaku empat bulan lalu."
Raka menahan napasnya di tenggorokan. Jantungnya berdegup kencang saat ujung ibu jarinya menyentuh permukaan kain beludru yang lembut.
"Apakah ukurannya benar-benar akurat dengan cincin perak yang dulu kupinjam diam-diam dari kotak perhiasannya, Pak Hendra?"
"Nomor sebelas koma lima, pas di jari manis Nona Alya," jawab Pak Hendra sambil tersenyum hangat, kerutan di sudut matanya terlipat ramah. "Gadis selembut dia pantas mendapatkan mahakarya yang dirawat dengan doa dan kesabaran tangan manusia, bukan sekadar perhiasan cetakan pabrik di etalase mal modern."
"Terima kasih banyak, Pak Hendra. Cincin ini sungguh berarti segalanya bagi rencana masa depanku."
"Kau terlihat sangat tegang, Nak," tegur Pak Hendra terkekeh pelan memperhatikan jemari Raka yang dingin. "Apakah kau takut dia menolak niat baikmu?"
"Jujur saja, ada ketakutan itu," aku Raka mengusap tengkuknya dengan tawa canggung. "Empat tahun bersama memang membuktikan ketulusan kami, tapi membayangkan mengucapkan kata-kata lamaran itu langsung di hadapannya membuat lututku lemas sejak semalam."
"Wajar bagi pria yang sungguh mencintai," nasihat Pak Hendra bijak. "Keberanian bukan ketiadaan rasa takut, melainkan tekad melangkah maju karena kau tahu dia adalah satu-satunya rumah tempat hatimu ingin pulang selamanya."
"Nasihat Bapak akan selalu kuingat. Doakan kelancaran rencanaku nanti sore."
"Pasti, Nak. Doa terbaikku menyertai langkahmu."
Raka memasukkan kotak beludru merah marun itu ke dalam saku dalam mantel wol cokelat gelapnya. Benda kecil itu terasa seperti detak jantung kedua yang menempel hangat di rusuk kirinya. Langkahnya berderap menuju pintu keluar kayu berukir.
Namun, baru saja langkah kaki Raka menyentuh teras bengkel menuju jalanan, ponsel di saku celananya bergetar panjang. Layar kaca menampilkan nama kontak yang seketika membuat seluruh sarafnya menegang: Alya.
Raka berdeham tiga kali untuk membersihkan tenggorokan, mengatur tempo napasnya agar terdengar tenang, lalu menggeser ikon hijau.
"Halo, Sayang?" sapa Raka selembut mungkin.
"Raka? Kamu sedang di mana sekarang? Suaramu terdengar kaku dan berat begitu," tegur Alya ceria di seberang sambungan, membawa alunan suara renyah yang selalu sanggup meluruhkan kepenatan Raka. "Kamu tidak melupakan janji sarapan kita pagi ini, kan?"
"Tentu saja tidak, Al," sahut Raka cepat seraya melangkah ke trotoar. "Aku baru selesai membeli kopi hangat di persimpangan jalan veteran. Kenapa menelepon sepagi ini, hm?"
"Toko bunga ibuku sedang lengang karena pasokan krisan baru masuk siang nanti," jawab Alya riang. "Mau menemaniku sarapan bubur ayam di bangku taman kota? Sepuluh menit lagi mobilku sampai di sana."
Raka melirik arloji di pergelangan kirinya dengan degup panik. Rangkaian buket mawar peach Juliet pesanan khususnya di Florist Cempaka Jingga baru mulai dirangkai pukul dua belas siang, dan ia harus memastikan Alya sama sekali tidak mencurigai rencana besarnya sebelum senja tiba di Rumah Kaca Magnolia.
"Bubur ayam terdengar sangat menggoda," jawab Raka menenangkan diri. "Tapi bukankah kamu harus memilah tangkai mawar dari perkebunan Lembang pagi ini?"
"Sudah selesai kubereskan sejak subuh tadi, Tuan Arsitek yang cerewet," balas Alya manja diselingi tawa kecil. "Aku hanya rindu mengobrol santai denganmu. Akhir-akhir ini kamu sibuk sekali lembur sampai jarang menatap mataku lama-lama."
"Maafkan aku, Al. Proyek akhir tahun ini memang menyita banyak perhatianku," kelit Raka penuh arti terselubung.
"Ya sudah, jangan banyak alasan lagi. Kutunggu di bangku taman dekat air mancur, ya? Jangan terlambat, atau kerupuk emping bagianmu akan kuhabiskan tanpa ampun!" ancam Alya bercanda sebelum menutup telepon.
Raka menghembuskan napas panjang hingga uap putih mengepul di udara basah. Tangannya meraba tonjolan kotak cincin di balik mantel tebalnya. Pagi ini resmi menjadi babak pembuka dari seratus siasat rahasia demi satu pertanyaan suci: maukah Alya menjadi istrinya?
°˖✧✿✧˖°
Di bawah naungan dahan trembesi taman kota, kabut tipis sisa hujan semalam masih berayun di atas kolam air mancur batu. Alya duduk anggun mengenakan sweater rajut krem dengan balutan syal hijau lumut di leher jenjangnya. Wajah cantiknya langsung merekah saat melihat sosok jangkung Raka menghampirinya.
"Kamu terlambat lima menit penuh, Tuan Raka," tegur Alya dengan senyum manis seraya menyodorkan mangkuk bubur ayam hangat yang mengepulkan kaldu gurih.
"Persimpangan lampu merah macet sekali oleh truk sayur," kilah Raka seraya duduk di sampingnya, menjaga sisi kanan mantelnya agar tidak bersentuhan dengan Alya. "Tapi melihat senyummu, semua lelahku langsung lenyap seketika."
"Gombalan murahan itu tidak membebaskanmu dari denda sarapan," goda Alya tertawa renyah seraya menyodorkan sendok bebek plastik. "Ayo makan selagi hangat, jangan melamun terus."
"Siap, Tuan Putri penagih sarapan," sahut Raka meniup kuah buburnya. "Terima kasih sudah membelikannya untukku."
"Sama-sama. Kamu memang pantas disuapi kalau sedang kurus begini," balas Alya terkekeh senang. "Habiskan semuanya tanpa sisa, ya?"
"Pasti kuhabiskan sampai licin bersih," janji Raka tertawa hangat seraya tersenyum.
Tiba-tiba pandangan Alya terpaku pada kerah mantel Raka. "Tunggu... ada seutas benang emas mengilap di pundakmu. Kedai kopi jalanan tidak membagikan pita bingkisan emas begini."
Raka tercekat sesaat, teringat pita kemasan Pak Hendra. "Ah, tadi ada anak kecil membawa balon pesta menabrak lenganku di trotoar."
"Alasanmu aneh sekali," gumam Alya menyelidik. Tiba-tiba tangannya terulur hendak merogoh saku kanan mantel Raka. "Eh, saku mantelmu menggembung tebal. Kamu membawa sebungkus tisu basah, kan? Jariku kena kecap."
Detak jantung Raka melonjak panik. Secara refleks ia mencengkeram pergelangan tangan Alya sebelum jemarinya menyentuh sakunya.
"Raka? Kenapa kaget begitu?" tanya Alya terbelalak heran melihat wajah Raka memucat. "Kamu menyakiti pergelangan tanganku."
"Maafkan aku, Al! Refleks tanganku sedang kasar pagi ini," ujar Raka cepat melepaskan genggamannya, buru-buru mengeluarkan saputangan katun biru dari saku kiri. "Gunakan saputanganku saja. Di saku kananku ada meteran gulung baja tajam milik mandor proyek. Aku takut jarimu tergores."
Alya menatap saputangan itu dengan kening berkerut dalam, lalu mengarahkan tatapan tajamnya lurus ke manik mata Raka.
"Meteran gulung bergerigi tajam? Sejak kapan arsitek perencana membawa alat kasar itu ke kencan sarapan kita?"
"Kebiasaan buruk orang proyek yang lupa mengosongkan saku kerja," elak Raka canggung.
"Kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan, Raka?" tuding Alya tegas. "Perilakumu mencurigakan sejak minggu lalu."
"Aku tidak menyembunyikan kejahatan apa pun, Alya. Tolong percayalah padaku," pinta Raka tulus, membalas tatapannya dengan rasa cinta yang mendalam.