Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #101

Lamaran

Lamaran

Raka akhirnya melamar Alya di hadapan keluarga.

°˖✧✿✧˖°

Sejak pagi, Raka tidak bisa benar-benar berkonsentrasi.

Beberapa kali ia memeriksa jam di pergelangan tangannya, meskipun waktu seolah berjalan jauh lebih lambat daripada biasanya.

Hari itu bukan hari biasa.

Hari itu ia akan datang ke rumah Alya bersama keluarganya.

Bukan sekadar untuk makan malam.

Bukan sekadar untuk berbincang dengan ayah Alya.

Ia datang membawa sebuah niat yang sudah lama ia simpan.

Lamaran.

Raka berdiri di depan cermin.

Ia merapikan kerah kemejanya, kemudian menghela napas.

"Kenapa tegang sekali?" gumamnya.

Ponselnya berdering.

Nama Alya muncul di layar.

Raka langsung mengangkat.

"Halo."

"Kamu sudah siap?"

Raka tersenyum kecil.

"Kalau aku jawab belum, kamu akan menyuruhku pulang?"

Alya tertawa.

"Tidak."

"Berarti aku siap."

"Suaramu tidak terdengar seperti orang siap."

Raka mengusap wajah.

"Jujur?"

"Iya."

"Aku gugup."

Alya terdiam sebentar.

"Aku juga."

"Kamu juga?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena hari ini berbeda."

Raka duduk di tepi tempat tidur.

"Menurutmu, Ayah sudah benar-benar setuju?"

"Ayah tidak akan meminta kita datang kalau tidak setuju."

"Bagaimana dengan keluargamu yang lain?"

"Mereka tahu."

Raka mengangguk.

Kemudian ia bertanya,

"Alya."

"Iya?"

"Kalau nanti aku salah bicara?"

Alya tertawa kecil.

"Jangan pidato terlalu panjang."

"Aku serius."

"Aku juga serius."

Lalu suaranya berubah lembut.

"Raka, kamu tidak perlu menjadi orang lain."

Raka diam.

"Kamu cukup datang dengan niat yang baik."

"Dan kalau aku gugup?"

"Tarik napas."

"Kalau masih gugup?"

"Tarik napas lagi."

Raka tertawa.

"Kamu ternyata tidak terlalu membantu."

"Aku sedang membantu."

"Bagaimana?"

"Aku mengingatkanmu bahwa aku ada di sana."

Kalimat sederhana itu membuat Raka tersenyum.

"Itu cukup."

"Raka."

"Hm?"

"Jangan memikirkan bagaimana caranya membuat semua orang menyukaimu."

"Kenapa?"

"Karena yang paling penting adalah kamu jujur."

Raka mengangguk.

"Aku akan jujur."

"Dan satu lagi."

"Apa?"

"Jangan meminta restu hanya karena takut kehilangan aku."

Raka terdiam.

Ia tahu maksud Alya.

"Ya."

"Mintalah karena kamu memang ingin berjalan bersamaku."

Raka menarik napas dalam-dalam.

"Itu alasanku."

"Bagus."

Mereka terdiam beberapa saat.

Kemudian Alya berkata,

"Sampai nanti."

"Sampai nanti."

Panggilan berakhir.

Raka menatap layar ponselnya.

Ada rasa gugup yang masih tersisa.

Tetapi di balik kegugupan itu, ada ketenangan yang perlahan tumbuh.

Hari ini ia tidak datang untuk mempertahankan Alya sebagai miliknya.

Ia datang untuk meminta izin agar bisa membangun masa depan bersama perempuan yang dicintainya.

Dan bagi Raka, perbedaan itu sangat berarti.

°˖✧✿✧˖°

Menjelang sore, Raka tiba bersama keluarganya.

Rumah Alya terlihat lebih ramai daripada biasanya.

Namun suasananya tidak berlebihan.

Tidak ada kemewahan yang sengaja dipamerkan.

Tidak ada sesuatu yang dibuat terlalu megah.

Semua terasa hangat dan sederhana.

Raka turun dari mobil.

Ia menarik napas panjang.

Salah seorang keluarganya menepuk bahunya.

"Tenang."

Raka tersenyum.

"Saya sedang mencoba."

"Jangan terlalu banyak berpikir."

"Itu masalahnya. Saya memang terlalu banyak berpikir."

Mereka tertawa kecil.

Ketika Raka memasuki rumah, Alya terlihat dari kejauhan.

Mata mereka bertemu.

Alya tersenyum.

Raka membalasnya.

Tidak ada kata-kata.

Namun tatapan itu sudah cukup.

Setelah semua keluarga duduk, percakapan dimulai.

Ayah Alya berada di tempat yang paling dihormati.

Wajahnya tenang.

Raka tahu, meskipun suasana terlihat santai, ayah Alya tetap memperhatikan semuanya.

Setelah beberapa saat, ayah Alya berkata,

"Raka."

"Iya, Pak."

"Kamu tahu kenapa hari ini kita berkumpul?"

Raka mengangguk.

"Saya tahu."

"Dan kamu siap?"

Raka menoleh sebentar kepada Alya.

Kemudian kembali menatap ayahnya.

"Saya akan berusaha siap."

Ayah Alya tersenyum tipis.

"Jawabanmu masih sama seperti sebelumnya."

Raka tersenyum.

"Saya tidak ingin mengatakan saya sempurna."

"Bagus."

Ayah Alya kemudian mempersilakan Raka menyampaikan maksudnya.

Raka berdiri.

Jantungnya berdegup semakin cepat.

Ia melihat seluruh keluarga.

Kemudian matanya berhenti pada Alya.

"Alya."

Alya mengangkat wajah.

Raka menarik napas.

"Selama ini kita sudah melewati banyak hal."

Alya tersenyum kecil.

"Iya."

"Kita pernah bahagia."

Raka tersenyum.

"Kita juga pernah saling mengecewakan."

Wajah Alya sedikit berubah.

"Kita pernah bertengkar karena hal-hal kecil."

Raka melanjutkan.

"Dan pernah hampir kehilangan satu sama lain karena rasa takut."

Ruangan menjadi sunyi.

"Tapi dari semua itu, saya belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan perasaan."

Raka menatap ayah Alya.

"Cinta membutuhkan tanggung jawab."

Kemudian ia kembali melihat Alya.

"Saya tidak datang hari ini untuk mengatakan bahwa saya sudah menjadi laki-laki yang sempurna."

Raka menggeleng.

"Saya datang karena saya ingin terus belajar."

Alya mulai berkaca-kaca.

Raka melanjutkan,

"Saya ingin belajar menjadi pasangan yang mampu mendengar ketika kamu berbicara."

"Belajar menghargai keputusanmu."

"Belajar mengendalikan rasa takut saya."

"Dan belajar menjaga hubungan ini tanpa membuatmu merasa kehilangan dirimu sendiri."

Alya menundukkan wajah.

Air mata kecil jatuh.

Raka kemudian berbalik kepada ayah Alya.

"Pak, saya datang dengan niat yang serius."

Ia menundukkan kepala.

"Saya ingin meminta izin dan restu untuk melamar Alya."

Ruangan hening.

Tidak ada yang langsung berbicara.

Raka merasakan telapak tangannya dingin.

Namun ia tetap berdiri.

Menunggu.

°˖✧✿✧˖°

Ayah Alya tidak langsung menjawab.

Ia justru menatap putrinya.

"Alya."

"Iya, Yah?"

"Apakah kamu sudah memikirkan ini baik-baik?"

Alya mengangguk.

"Sudah."

"Kamu tidak merasa terpaksa?"

"Tidak."

"Takut?"

Alya terdiam.

Kemudian ia menjawab jujur.

"Aku takut."

Raka menatapnya.

Ayahnya bertanya,

"Takut apa?"

"Takut kehidupan setelah ini tidak semudah yang kami bayangkan."

Raka menunduk.

Alya melanjutkan,

"Tapi aku tidak takut berjalan bersamanya."

Ayah Alya mengangguk perlahan.

"Kamu yakin?"

Alya menatap Raka.

"Aku yakin untuk mencoba."

Raka tersenyum tipis.

Kemudian ayah Alya menatapnya lagi.

"Raka."

"Iya, Pak."

"Kalau setelah menikah nanti kalian menghadapi masalah yang jauh lebih besar daripada masalah kalian sekarang, apa yang akan kamu lakukan?"

Raka menjawab,

"Saya akan menghadapinya bersama Alya."

"Kalau Alya salah?"

"Saya akan membicarakannya."

"Kalau kamu yang salah?"

"Saya akan meminta maaf."

"Kalau keduanya sama-sama keras kepala?"

Raka tersenyum kecil.

"Kami berhenti sejenak sampai bisa berbicara dengan kepala dingin."

Beberapa orang tersenyum.

Ayah Alya kembali bertanya,

"Kalau kamu merasa benar?"

"Saya tetap harus mendengarkan."

"Kenapa?"

"Karena benar dalam sebuah pertengkaran tidak selalu berarti benar dalam memperlakukan orang yang kita cintai."

Alya menatap Raka.

Ayahnya mengangguk.

"Itu yang ingin saya dengar."

Namun kemudian ekspresi ayah Alya kembali serius.

"Saya punya satu pertanyaan terakhir."

Raka mengangguk.

"Silakan."

"Kenapa kamu ingin menikahi Alya?"

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Namun bagi Raka, itulah pertanyaan paling penting.

Ia memandang Alya.

"Aku mencintaimu."

Alya tersenyum.

"Tapi saya tahu cinta saja tidak cukup, Pak."

Raka menatap ayahnya.

"Saya ingin menikahinya karena saya ingin membangun kehidupan yang bisa kami jalani bersama."

"Ketika bahagia, kami berbagi."

"Ketika sulit, kami saling menguatkan."

"Ketika berbeda, kami belajar mencari jalan tengah."

"Dan ketika salah satu dari kami lelah, yang lain tidak menjadikan kelemahan itu sebagai alasan untuk pergi."

Ayah Alya terdiam.

Raka kemudian berkata,

"Saya tidak meminta Bapak mempercayai saya hanya karena kata-kata saya hari ini."

"Saya meminta kesempatan untuk membuktikannya."

Alya mengusap air matanya.

Ayahnya akhirnya tersenyum.

Lihat selengkapnya