Jawaban yang Kutunggu
Alya menerima lamaran tersebut.
°˖✧✿✧˖°
Langit sore itu berwarna jingga keemasan, seperti lukisan yang sengaja diciptakan untuk momen istimewa. Di bawah pohon beringin tua yang berdiri kokoh di taman kota, Raka duduk gelisah di atas bangku kayu. Tangan kanannya menggenggam erat sebuah kotak kecil berwarna merah marun, sementara tangan kirinya terus mengusap wajah yang basah oleh keringat dingin.
Ini bukan pertama kalinya ia bertemu Alya di taman ini. Tujuh tahun yang lalu, mereka pertama kali berkenalan di tempat ini juga—ketika Alya tanpa sengaja menumpahkan es krim ke kemeja Raka. Sejak itu, taman ini menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka. Namun, sore ini berbeda. Sore ini, Raka akan melakukan sesuatu yang telah ia rencanakan selama berbulan-bulan.
Ia menoleh ke arah jalan setapak, tempat Alya akan muncul. Jantungnya berdebar kencang, seperti genderang perang yang ditabuh tanpa henti. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan—bagaimana jika Alya menolak? Bagaimana jika ia belum siap? Bagaimana jika semua ini terlalu cepat?
Raka menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran-pikiran negatif itu. Ia sudah memantapkan hati. Ia sudah meminta restu dari ibunya, dari almarhum ayahnya dalam doanya, dan dari sahabat-sahabatnya. Ia sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan matang. Kini, tinggal satu langkah lagi.
Dari kejauhan, sosok itu muncul. Alya melangkah pelan menuju bangku tempat Raka duduk. Ia mengenakan gaun putih sederhana yang membuatnya terlihat anggun, dengan rambut panjang terurai bebas. Senyumannya merekah begitu ia melihat Raka, namun ada sedikit kebingungan di matanya.
"Kak, kenapa minta ketemu di sini? Ada apa?" tanya Alya sambil duduk di samping Raka.
Raka menelan ludah. "Aku... aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu. Sudah lama kita tidak ke sini."
Alya mengerutkan dahi. "Kita ke sini minggu lalu, Kak."
Raka tertawa gugup. "Iya, ya. Aku lupa."
Alya menatap Raka curiga. "Kak, kamu aneh hari ini. Ada sesuatu, ya?"
Raka menunduk, lalu mengangkat wajahnya. Matanya menatap Alya dengan penuh cinta. "Al, ada sesuatu yang ingin kukatakan. Sesuatu yang sudah lama ingin kusampaikan, tapi aku selalu merasa belum siap."
Alya terdiam, menunggu. Jantungnya mulai berdebar, meski ia belum tahu apa yang akan dikatakan Raka.
Raka bangkit dari bangku, lalu berlutut di depan Alya. Ia mengeluarkan kotak merah marun dari saku jaketnya, membukanya perlahan, dan menampilkan sebuah cincin perak dengan berlian kecil di tengahnya.
"Al," kata Raka dengan suara bergetar. "Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Aku mencintaimu di setiap tawa, di setiap tangis, di setiap pertengkaran yang selalu berakhir dengan pelukan. Kamu adalah segalanya bagiku. Dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu."
Air mata Alya mulai menggenang. Tangannya menutup mulut, menahan haru.
"Alya," lanjut Raka. "Maukah kamu menikah denganku?"
°˖✧✿✧˖°
Alya terdiam. Waktu seakan berhenti. Angin sore yang berhembus perlahan membawa aroma rumput dan bunga, namun bagi Raka, semua itu terasa jauh. Yang ada hanya Alya—wajahnya, matanya yang berkaca-kaca, dan bibirnya yang sedikit terbuka namun tidak mengeluarkan suara.
Raka menunggu. Detik demi detik terasa seperti jam. Ia masih berlutut, kotak cincin masih terbuka di tangannya. Lututnya mulai pegal, tapi ia tidak berani bergerak. Ia tidak ingin merusak momen ini.
"Al?" panggil Raka pelan. "Kamu... kamu tidak harus menjawab sekarang. Aku bisa menunggu."
Alya menurunkan tangannya dari mulut. Air mata mulai mengalir di pipinya, namun bibirnya tersenyum. "Kak..."
Raka menunggu dengan jantung yang hampir meledak.
"Kak... aku..." Alya terisak. "Aku tidak tahu harus berkata apa."
Raka tersenyum tipis, meski hatinya mulai gelisah. "Katakan saja apa yang kamu rasakan. Jangan pikirkan apa pun."
Alya menarik napas panjang. Ia menatap Raka—lelaki yang telah menemaninya selama tujuh tahun, yang selalu ada di saat senang maupun susah, yang tidak pernah lelah mendengarkan keluh kesahnya, yang selalu mengerti tanpa perlu banyak bicara.
"Kak," ujar Alya akhirnya. "Kamu tahu, aku selalu bermimpi tentang momen ini. Tentang bagaimana seseorang akan melamar aku. Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa orang itu adalah kamu."
Raka mengerutkan dahi. "Kenapa?"
"Karena kamu... kamu terlalu baik untukku," jawab Alya. "Aku selalu merasa bahwa aku tidak pantas mendapatkanmu. Aku punya banyak kekurangan. Aku keras kepala, aku mudah cemas, aku sering membuatmu repot. Aku..."
"Al," potong Raka. "Berhenti."
Alya terdiam.
"Kamu tidak perlu merasa tidak pantas. Justru aku yang merasa tidak pantas mendapatkamu. Kamu adalah perempuan terbaik yang pernah kukenal. Kamu kuat, kamu sabar, kamu tulus. Dan aku mencintaimu bukan karena kamu sempurna, tapi karena kamu adalah kamu."
Alya menangis semakin deras. Raka masih berlutut, masih menunggu. Ia tidak ingin memaksa, tapi ia juga tidak ingin menyerah.
"Al," kata Raka lagi. "Aku tidak akan memaksamu. Jika kamu belum siap, aku akan menunggu. Jika kamu butuh waktu, aku akan memberi waktu. Tapi aku ingin kamu tahu satu hal: aku mencintaimu, dan aku akan selalu mencintaimu. Apa pun jawabanmu, perasaanku tidak akan berubah."
Alya menatap Raka. Matanya merah, hidungnya memerah, namun wajahnya bersinar. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang membuat Raka yakin bahwa jawaban Alya akan baik-baik saja.
°˖✧✿✧˖°
Alya menarik napas panjang. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu tersenyum. Senyum yang membuat dunia Raka terasa lebih terang.
"Kak," ujar Alya dengan suara yang masih bergetar. "Aku... aku menerima lamaranmu."
Raka tertegun. Ia tidak yakin apakah ia mendengar dengan benar. "Apa?"
"Aku menerima," ulang Alya, kali ini lebih jelas. "Aku mau menikah denganmu, Kak."
Raka masih terdiam. Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka. Ia seperti orang yang baru saja tersadar dari mimpi panjang.
"Kak?" Alya menyentuh lengan Raka. "Kamu baik-baik saja?"
Raka menutup mulutnya. Lalu, perlahan, senyum terukir di wajahnya. Senyum yang lebar, yang tulus, yang penuh kebahagiaan.
"Al," kata Raka, suaranya serak. "Kamu... kamu serius?"
Alya mengangguk, air matanya kembali mengalir. "Serius, Kak. Aku mau menikah denganmu."
Raka bangkit dari posisi berlututnya, lalu menarik Alya ke dalam pelukan. Pelukan yang erat, yang penuh cinta, yang menggetarkan seluruh tubuhnya. Alya membalas pelukan itu dengan kekuatan yang sama.
"Terima kasih," bisik Raka di telinga Alya. "Terima kasih, Al. Kamu tidak akan menyesal."
Alya tertawa di sela isakannya. "Jangan janji, Kak. Kita belum tahu apa yang akan terjadi."
Raka melepaskan pelukan, lalu menatap mata Alya. "Aku berjanji. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada untukmu."
Ia meraih tangan Alya, lalu menyematkan cincin itu di jari manisnya. Cincin itu pas, seolah memang diciptakan untuk Alya. Alya menatap cincin di jarinya, lalu menatap Raka.
"Cantik," ujar Alya.
"Kamu yang cantik," balas Raka.
Mereka tertawa bersama, air mata masih mengalir, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena bahagia. Di bawah pohon beringin tua, di taman tempat pertama kali mereka bertemu, dua insan itu memulai babak baru dalam hidup mereka.