Kabar Bahagia
Keluarga dan sahabat mereka menyambut kabar pertunangan.
༺♡༻
Fajar merayap keemasan melintasi marmer selasar kediaman megah di lereng Dago Atas, menyapa bulir embun pinus yang berkilauan sejuk. Alana Savitri menyandarkan punggungnya pada sofa rotan, memandangi kuncup anggrek bulan seraya menghirup aroma teh melati hangat. Jemari lentiknya membelai sebongkah berlian potongan marquise yang melingkar anggun di jari manis kirinya. Kilau permata itu membangkitkan getaran sukacita mendalam di dadanya. Angin pagi berhembus lembut menyapa kulitnya, membawa ketenteraman jiwa yang telah lama ia nantikan.
"Kau melamun lagi, Calon Istriku tercinta?" sapa Danu Dirgantara hangat dari arah pintu kaca. "Roti kayu manis panggang ini sudah kubuatkan khusus untuk sarapan pagimu, Sayang."
Alana menoleh dengan senyum malu-malu seraya menatap Danu yang melangkah mendekat membawa nampan sarapan pagi ke hadapannya.
"Aku hanya masih merasa ini semua seperti mimpi indah yang teramat nyata, Danu," jawab Alana pelan sambil menyentuh cangkir tehnya. "Bagaimana jika saat aku terbangun nanti, semua keajaiban, kebahagiaan, dan cincin berlian ini mendadak lenyap tanpa bekas sama sekali dari genggamanku?"
Danu meletakkan nampan ke atas meja bundar, lalu berlutut di samping kursi Alana dan menangkup kedua tangannya dengan tatapan teduh penuh ketulusan hati.
"Ini bukan khayalan semu, Alana," kata Danu menatap lurus ke dalam manik mata hazel kekasihnya. "Mulai detik ini, seluruh jagat raya menjadi saksi bahwa kau milikku, dan jiwaku telah tertambat padamu tanpa keraguan sedikit pun di hatiku selamanya."
"Lalu bagaimana dengan pertemuan keluarga dan sahabat kita siang ini di Menteng?" tanya Alana dengan nada suara yang bergetar cemas. "Apakah ibumu dan kawan-kawan tidak akan terkejut mendengar pengumuman mendadak ini?"
"Mama sudah lama menantikan saat aku mengambil keputusan besar ini," Danu tersenyum menenangkan seraya mengecup punggung tangan Alana dengan mesra. "Rian dan Kevin bahkan sudah meneleponku sejak fajar tadi untuk memastikan jamuan makan kita berjalan lancar tanpa kendala apa pun."
"Berjanjilah kau tidak akan melepaskan genggaman tanganmu saat semua tatapan tertuju padaku nanti," bisik Alana penuh permohonan tulus. "Aku sangat membutuhkan kekuatanmu hari ini, Danu."
"Demi nafasku, Alana," janji Danu mantap dengan binar mata menyala penuh kepastian. "Aku akan berdiri tegak di sampingmu menghadapi dunia sampai hembusan nafas terakhirku berakhir di bumi ini."
༺♡༻
Menjelang pukul satu siang, Paviliun Kaca Magnolia di Menteng dipenuhi kehangatan obrolan keluarga dan sahabat. Meja perjamuan panjang berhiaskan lili putih Casablanka dan mawar merah jambu ditata megah laksana resepsi kerajaan. Pak Surya dan Bu Maya duduk bercengkerama dengan para sahabat. Di hadapan mereka, Mama Ratih tampak anggun berbalut kebaya sutra kelabu mengamati sekeliling meja dengan wibawa ningrat yang tenang namun berjarak.
Danu bangkit dari kursinya, merapikan jasnya, lalu mengetukkan sendok perak ke tepi gelas kristal sebanyak tiga kali.
"Bolehkah saya meminta perhatian sejenak dari keluarga dan sahabat tercinta yang hadir hari ini?" pinta Danu tersenyum lebar menyapa seluruh hadirin.
"Wah, kalau Danu Dirgantara sudah mengetuk gelas, bursa saham bakal gempar nih!" seru Rian disambut derai tawa renyah kawan-kawan. "Ada pengumuman merger apa lagi ini?"
"Kali ini bukan tentang bisnis ataupun merger korporasi, Kawan!" balas Danu seraya membimbing Alana berdiri di sampingnya di hadapan para tamu. "Ini mengenai pencapaian hidup paling berharga yang pernah kuraih seumur hidupku."
Alana menarik napas dalam meredakan degup jantungnya, membiarkan genggaman Danu menenangkannya.
"Di hadapan orang tua dan sahabat sejati kami, kami ingin membagikan kabar gembira," ucap Danu dengan nada bergetar penuh kebanggaan murni. "Semalam, Alana Savitri telah menerima lamaran saya untuk menjadi pendamping hidup dan istri saya selamanya."
Ruangan seketika meledak dalam sorak sukacita riuh membahana. Dina melompat antusias seraya memeluk Alana erat dengan mata basah oleh rasa haru.
"Ya ampun, Alana! Akhirnya resmi bertunangan! Aku sungguh bahagia sekali untuk kalian berdua!" jerit Dina penuh keharuan. "Kalian adalah pasangan paling serasi di dunia ini!"
"Selamat kawan lamaku! Akhirnya kau menuntaskan pengembaraan hatimu di pelabuhan terbaik!" seru Kevin seraya menepuk bahu Danu dengan bangga. "Kami semua turut berbahagia untuk langkah mulia ini!"
"Terima kasih kawan-kawan, kehadiran kalian semua adalah anugerah terbesar bagi kami," sahut Danu tersenyum haru seraya membalas pelukan sahabatnya.
"Alhamdulillah, Nak Danu. Ayah titipkan permata hati keluarga kami di tanganmu," tutur Pak Surya dengan suara berat penuh keharuan menjabat erat tangan Danu. "Bimbinglah putri kami dengan penuh kasih sayang dan kesabaran seorang suami bijak."
"Pasti, Ayah. Amanah suci ini akan kujaga dengan segenap jiwa ragaku," jawab Danu penuh rasa takzim.
"Kami menyambutmu dengan tangan terbuka, Nak Danu," tambah Bu Maya tersenyum menyeka air mata harunya. "Kalian berdua pantas mendapatkan kebahagiaan agung ini."
"Terima kasih banyak, Ibu dan Ayah tercinta, atas restu dan limpahan doa tulus yang selalu mengalir untuk kami berdua," sahut Alana mencium lembut kedua pipi orang tuanya dengan mata berkaca-kaca.
Namun di tengah tawa bahagia itu, denting cangkir teh yang diletakkan dingin ke lepek porselen membelah suasana. Mama Ratih menatap cincin berlian di jemari Alana tanpa secuil pun senyuman di wajahnya.
"Rupanya cincin berlian pusaka keluarga Dirgantara sudah berpindah tangan tanpa sepengetahuanku," ujar Mama Ratih dengan intonasi menusuk tajam. "Dan kalian menganggap pantas mengumumkan perkara penting ini kepada seorang ibu kandung di hadapan keramaian begini tanpa meminta restuku terlebih dahulu?"
Seketika tawa di meja perjamuan padam, tergilas keheningan kaku yang membekukan udara paviliun.
༺♡༻
Udara di dalam paviliun kaca mendadak dingin dan menindas dada, seolah kehangatan mentari siang padam seketika. Mama Ratih merapikan selendang sutranya dengan gerakan lambat yang memancarkan dominasi mutlak, sementara pandangannya menatap Alana dengan sorot tajam laksana jaksa penuntut yang siap menjatuhkan vonis berat. Di sekeliling meja, para sahabat saling melempar lirikan cemas. Rian mematung di kursinya dengan wajah tegang, sedangkan Dina meremas erat serbet kain di pangkuannya menahan kegusaran yang membakar. Para tamu menahan napas dalam kebisuan yang kaku dan tegang.
"Mama, tolong jangan berkata begitu di hadapan keluarga Pak Surya dan teman-teman kita," bujuk Danu berusaha santun meski amarah membakar tengkuknya. "Aku sudah berniat menceritakannya semalam, namun Mama sudah tidur nyenyak sekali."