Persiapan Pernikahan
Keduanya mulai mempersiapkan hari besar.
°˖✧✿✧˖°
Pagi itu, Raka berdiri cukup lama di depan cermin.
Bukan karena ada sesuatu yang salah dengan penampilannya, melainkan karena pikirannya sedang dipenuhi begitu banyak hal.
Beberapa hari setelah lamaran, kehidupan seolah bergerak lebih cepat.
Pembicaraan tentang pernikahan mulai terdengar di antara keluarga. Tanggal mulai dibicarakan. Tempat mulai dipertimbangkan. Undangan, pakaian, dekorasi, makanan, hingga berbagai hal kecil yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan kini masuk ke dalam percakapan mereka.
Raka menatap pantulan dirinya.
"Jadi benar-benar akan menikah."
Ponselnya berdering.
Nama Alya muncul di layar.
Raka segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Suara Alya terdengar lembut.
"Kamu sibuk?"
"Sedang berpikir."
"Berpikir apa?"
"Bagaimana caranya menikah tanpa membuat kepala meledak."
Alya tertawa.
"Baru persiapan saja sudah menyerah?"
"Belum. Tapi daftar persiapannya panjang sekali."
"Aku juga melihatnya."
"Jadi bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Kita mulai dari mana?"
Alya terdiam sebentar.
"Lalu bagaimana kalau kita mulai dari yang paling penting?"
Raka tersenyum.
"Akad?"
"Ya."
"Setuju."
"Setelah itu baru yang lain."
Raka duduk di tepi tempat tidur.
"Aku ingin semuanya sederhana."
"Aku juga."
"Tidak perlu terlalu mewah."
"Tapi tetap ingin indah."
"Indah tidak harus mahal."
Alya tersenyum di seberang telepon.
"Itu alasan aku suka cara berpikirmu sekarang."
"Kenapa?"
"Dulu kamu mungkin akan bilang, 'Aku akan buat semuanya sempurna.'"
Raka tertawa kecil.
"Dan sekarang?"
"Sekarang kamu bilang yang penting maknanya."
Raka menghela napas.
"Aku belajar dari banyak hal."
Alya terdiam.
Mereka sama-sama tahu perubahan itu tidak datang dalam satu malam.
Hubungan mereka pernah melewati masa ketika cinta terasa seperti kepemilikan. Pernah ada kecemburuan, kesalahpahaman, pertengkaran, bahkan ketakutan kehilangan yang membuat mereka hampir lupa bahwa pasangan bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan.
Kini, ketika mereka berada di ambang pernikahan, Raka tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dalam bentuk berbeda.
"Alya."
"Iya?"
"Aku ingin persiapan pernikahan ini menjadi persiapan kita juga."
"Maksudmu?"
"Jangan sampai kita sibuk memilih bunga, gedung, pakaian, dan undangan sampai lupa belajar menjadi suami dan istri."
Alya tersenyum.
"Aku setuju."
"Jadi?"
"Kita jalani bersama."
"Bersama?"
"Semua keputusan."
Raka tersenyum.
"Baik."
"Tapi ada satu syarat."
"Apa?"
"Jangan semuanya kamu tanggung sendiri."
Raka terdiam.
Alya melanjutkan,
"Kalau kita akan menikah, jangan mulai dengan kamu merasa harus melakukan semuanya untukku."
Raka tertawa kecil.
"Baik, Bu Calon Istri."
"Jangan panggil begitu."
"Kenapa?"
"Jadi semakin gugup."
Raka ikut tertawa.
Namun di balik tawa itu, mereka sama-sama tahu bahwa hari besar yang selama ini mereka bayangkan mulai mendekat.
Dan untuk pertama kalinya, pernikahan bukan lagi sekadar impian.
Kini ia memiliki tanggal, rencana, tanggung jawab, dan keputusan yang harus mereka ambil bersama.
°˖✧✿✧˖°
Siang harinya, Raka dan Alya bertemu untuk membicarakan persiapan.
Mereka memilih tempat yang tenang agar bisa berbicara tanpa terlalu banyak gangguan.
Di atas meja terdapat sebuah buku catatan.
Alya membukanya.
"Baik."
Raka mengangkat alis.
"Serius sekali."
"Karena ini penting."
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Kamu ternyata sudah menjadi manajer pernikahan."
Alya tertawa.
"Diam."
Ia mulai menulis.
"Pertama, tanggal."
"Sudah dibicarakan dengan keluarga."
"Tempat?"
"Masih dipilih."
"Jumlah tamu?"
"Belum pasti."
"Pakaian?"
"Nanti."
"Undangan?"
"Nanti."
Alya berhenti menulis.
"Kenapa semuanya nanti?"
Raka tersenyum.
"Karena menurutku kita harus menentukan anggaran dulu."
Alya menatapnya.
"Kamu benar."
"Kita harus tahu kemampuan kita."
"Jangan memaksakan sesuatu hanya karena ingin terlihat sempurna."
Raka mengangguk.
"Exactly."
Alya menutup buku sebentar.
"Aku punya satu kekhawatiran."
"Apa?"
"Jangan sampai keluarga terlalu banyak menentukan."
Raka memahami maksudnya.
"Bukan berarti kita menolak pendapat mereka."
"Tentu tidak."
"Tapi keputusan utama tetap harus kita bicarakan."
Alya mengangguk.
"Karena ini pernikahan kita."
Raka tersenyum.
"Dan bukan pesta untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain."
Alya menatapnya beberapa detik.
"Aku suka kalimat itu."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin hari pernikahan kita menjadi perlombaan."
Raka mengangguk.
"Yang penting kita menjalani akad dengan tenang."
"Dan setelah itu?"
"Menjalani kehidupan yang sebenarnya."
Alya tersenyum.
Mereka kembali membuka catatan.
Namun kali ini pembicaraan terasa lebih serius.
"Kalau ada perbedaan keinginan?" tanya Alya.
"Kita bicara."
"Kalau tidak menemukan kesepakatan?"
"Cari jalan tengah."
"Kalau kamu sangat ingin sesuatu dan aku tidak?"
Raka menjawab tanpa ragu,
"Aku tidak akan memaksakan."
Alya mengangguk.
"Kalau aku yang memaksakan?"
"Aku akan mengingatkan."
"Bagaimana?"
"Dengan lembut."
Alya tersenyum.
"Bagus."
Raka memandang daftar itu.
"Sepertinya persiapan pernikahan adalah latihan pertama kita."
"Latihan?"
"Latihan mengambil keputusan bersama."
Alya mengangguk.
"Dan latihan mengelola perbedaan."
Raka tersenyum.
"Kalau begitu, aku siap."
Alya menatapnya.
"Jangan terlalu percaya diri."
"Kenapa?"
"Karena kita baru bicara soal undangan."
Raka tertawa.
"Benar juga."
Mereka kemudian mulai menyusun prioritas.
Akad.
Tempat.
Keluarga.
Anggaran.
Kebutuhan utama.
Baru setelah itu hal-hal pelengkap.
Semakin lama berbicara, mereka semakin memahami bahwa persiapan pernikahan bukan sekadar mempersiapkan sebuah hari.
Mereka sedang belajar menyusun kehidupan.
°˖✧✿✧˖° Titik Tekan 1 — 1.050–1.500 kata °˖✧✿✧˖°
Sore mulai turun ketika pembicaraan mereka memasuki bagian yang lebih rumit.
Alya menunjukkan sebuah konsep dekorasi.
"Aku suka yang ini."
Raka memperhatikannya.
"Bagus."
"Tapi?"
Raka tersenyum.
"Kamu selalu tahu kalau aku punya 'tapi'."
"Sudah hafal."
Raka menunjuk gambar tersebut.
"Menurutku terlalu ramai."
Alya mengernyit.
"Ramai?"
"Ornamennya banyak sekali."
"Tapi cantik."
"Aku tidak bilang tidak cantik."
"Lalu?"
"Menurutku kita bisa membuatnya lebih sederhana."
Alya menatap gambar itu lagi.
"Seberapa sederhana?"
"Elegan. Tidak terlalu banyak hiasan."
Alya diam.
Raka menyadari ekspresinya berubah.
"Kamu tidak suka pendapatku?"
"Bukan begitu."
"Lalu?"
"Aku memang membayangkan sesuatu yang sedikit lebih meriah."
Raka mengangguk.
"Baik."
Alya menatapnya.
"Kamu tidak marah?"
"Kenapa harus marah?"
"Karena kita berbeda pendapat."
Raka tersenyum.
"Justru kita sedang belajar bagaimana berbeda pendapat."
Alya menarik napas.
"Kalau begitu, bagaimana?"
"Kita cari desain yang mengambil bagian terbaik dari keduanya."
Alya melihat kembali gambar tersebut.
"Misalnya?"
"Ornamennya tetap ada, tapi tidak memenuhi seluruh ruangan."
Alya tersenyum.
"Dan?"
"Gunakan warna yang kamu suka."
"Kalau kamu?"
"Aku bisa menyesuaikan."
Alya tertawa kecil.
"Jadi kamu mengalah?"
"Ini bukan mengalah."
"Lalu?"
"Berkompromi."
Alya mengangguk.
"Baik."
Mereka mencari beberapa pilihan lain.
Tidak semuanya berjalan mudah.
Ada saat ketika Alya menginginkan sesuatu, Raka tidak terlalu menyukainya.
Ada saat ketika Raka merasa suatu hal tidak perlu, sementara Alya menganggapnya penting.
Tetapi kali ini tidak ada suara meninggi.
Tidak ada tuduhan.
Tidak ada kalimat yang menyudutkan.
Mereka berbicara.
Mendengar.
Kemudian mempertimbangkan kembali.
Setelah beberapa saat, Alya berkata,
"Aku baru sadar."
"Apa?"
"Dulu kalau kita berbeda pendapat, aku selalu takut kamu marah."
Raka terdiam.
"Aku juga dulu terlalu mudah menganggap perbedaan sebagai penolakan."
Alya menatapnya.
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku tahu bahwa kamu boleh tidak setuju denganku."
Alya tersenyum.