Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #105

Gaun Pilihan Alya

Alya mempersiapkan penampilannya untuk pernikahan.

°˖✧✿✧˖°

Pagi itu, sebuah kotak besar berwarna putih gading diletakkan di atas tempat tidur Alya. Pita satin berwarna lembut melingkar rapi di bagian atasnya. Tidak ada nama pengirim yang tercantum. Hanya sebuah kartu kecil yang diselipkan di antara pita.

Alya mengambil kartu itu perlahan.

Di sana tertulis satu kalimat.

“Untuk hari ketika kamu memilih menjadi dirimu sendiri, sekaligus memilih seseorang untuk berjalan bersamamu.”

Alya tersenyum kecil.

Ia sudah tahu dari siapa kiriman itu.

Raka.

Namun, alih-alih langsung membuka kotak tersebut, Alya justru duduk di tepi tempat tidur. Pandangannya jatuh pada gaun yang tergambar dalam bayangannya sendiri.

Pernikahan.

Kata itu masih terasa aneh ketika dipikirkan terlalu lama.

Sebentar lagi ia akan mengenakan gaun pengantin.

Sebentar lagi ia akan berdiri di hadapan orang-orang yang dicintainya.

Dan setelah hari itu, hidupnya tidak lagi hanya tentang dirinya sendiri.

Ponselnya bergetar.

Nama Raka muncul di layar.

Alya mengangkatnya.

“Assalamu'alaikum.”

“Wa'alaikumussalam,” jawab Raka. “Sudah bangun?”

Alya tertawa kecil.

“Sudah. Bahkan sebelum kamu menelepon.”

“Bagus. Berarti aku tidak mengganggu.”

“Tidak. Tapi kamu mengirim sesuatu.”

Raka diam beberapa detik.

“Sudah kamu buka?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Aku sedang menebak-nebak.”

“Menebak apa?”

“Kenapa calon suamiku tiba-tiba mengirim kotak misterius pagi-pagi?”

Raka terkekeh.

“Kalau aku bilang itu bukan hadiah, kamu percaya?”

“Tidak.”

“Kalau aku bilang itu cuma sesuatu yang ingin aku berikan untuk persiapan pernikahan?”

Alya menatap kotak itu.

“Semakin mencurigakan.”

“Buka saja.”

Alya menarik pita perlahan.

Ketika penutup kotak terangkat, ia menemukan sehelai kain putih lembut yang dilipat rapi. Bukan sebuah gaun utuh, melainkan sepotong kain dengan bordir kecil berwarna keemasan.

Di atasnya terdapat secarik kertas.

“Aku tidak ingin memilihkan gaunmu. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa apa pun yang kamu pilih nanti, aku ingin melihatmu merasa nyaman menjadi Alya.”

Senyum Alya perlahan mengembang.

“Raka.”

“Hmm?”

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Karena tidak mencoba memilihkan.”

“Bukankah kemarin kita sudah sepakat?”

“Sepakat apa?”

“Pernikahan kita bukan tentang satu orang menentukan semuanya.”

Alya terdiam.

Kalimat sederhana itu terasa begitu berarti.

Dulu, Raka mungkin akan mengatakan apa yang menurutnya terbaik untuk Alya.

Kini, ia justru memberikan ruang.

“Aku akan memilih sendiri,” kata Alya.

“Aku tahu.”

“Dan kamu tidak boleh protes.”

“Aku juga tahu.”

“Kalau aku memilih gaun yang sangat sederhana?”

“Aku akan melihat Alya yang memakainya.”

“Kalau terlalu sederhana?”

“Aku tetap akan melihat Alya.”

Alya tersenyum.

“Kalau aku memilih yang tidak sesuai bayanganmu?”

Raka menjawab tanpa ragu.

“Berarti bayanganku yang harus disesuaikan.”

Alya menunduk.

Entah mengapa, jawaban itu membuat dadanya terasa hangat.

Hari itu, ia sadar bahwa memilih gaun ternyata bukan hanya tentang warna, model, atau kain.

Ini tentang memilih bagaimana ia ingin melangkah menuju hari pernikahannya.

Dan untuk pertama kalinya, Alya ingin memilih tanpa rasa takut bahwa pilihannya akan dianggap salah.

°˖✧✿✧˖°

Siang harinya, Alya datang ke sebuah butik yang telah mereka sepakati sebelumnya. Tempat itu tidak terlalu ramai. Interiornya elegan dengan dominasi warna krem dan putih, membuat berbagai gaun yang tergantung di sepanjang ruangan tampak semakin anggun.

Alya berjalan perlahan.

Matanya berpindah dari satu gaun ke gaun lainnya.

“Yang ini terlalu ramai,” gumamnya.

Ia berpindah ke sisi lain.

“Yang ini terlalu terbuka.”

Kemudian ia berhenti di depan sebuah gaun putih dengan bordir lembut.

Tidak terlalu banyak payet.

Tidak terlalu panjang.

Tidak terlalu rumit.

Sederhana.

Namun elegan.

Alya menyentuh ujung kainnya.

“Ini.”

Ia memandangi gaun itu cukup lama.

Di kepalanya, ia membayangkan dirinya berdiri di hadapan Raka.

Bukan sebagai perempuan yang harus terlihat sempurna.

Tetapi sebagai Alya.

Perempuan yang pernah menangis karena rasa takut kehilangan.

Perempuan yang pernah marah karena merasa tidak dipercaya.

Perempuan yang pernah mengatakan bahwa cinta tidak boleh menjadi penjara.

Dan perempuan yang kini sedang belajar bahwa cinta juga berarti memberikan ruang kepada orang yang dicintai untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

Alya membawa gaun itu ke ruang ganti.

Beberapa menit kemudian, ia keluar.

Ia berdiri di depan cermin.

Gaun itu jatuh dengan lembut mengikuti bentuk tubuhnya. Tidak berlebihan, tetapi memberikan kesan anggun.

Alya tersenyum.

Namun senyum itu segera berubah menjadi tatapan penuh pertimbangan.

“Bagaimana?”

Suara Raka terdengar dari belakang.

Alya terkejut dan langsung menoleh.

“Kamu?”

Raka tersenyum.

“Aku bilang tadi akan menemanimu kalau kamu mengizinkan.”

“Aku tidak ingat mengizinkan.”

“Kamu bilang, ‘kalau mau datang, datang saja.’”

“Itu bukan izin.”

“Bagi aku itu izin.”

Alya menggeleng sambil tertawa.

“Kamu memang pandai mencari celah.”

Raka berdiri beberapa langkah darinya. Ia tidak mendekat berlebihan. Pandangannya pun dijaga dengan sopan.

“Menurutmu?” tanya Alya.

Raka tersenyum.

“Cantik.”

Alya memutar mata.

“Jawaban aman.”

“Aku serius.”

“Gaunnya?”

“Pemakainya.”

Alya terdiam.

“Raka.”

“Iya?”

“Jangan membuatku malu.”

“Aku hanya mengatakan apa yang kulihat.”

Alya kembali memandang cermin.

“Menurutmu aku cocok dengan ini?”

Raka mengangguk.

“Tapi keputusan tetap milikmu.”

Alya menoleh.

“Kalau kamu tidak suka?”

“Aku akan bilang.”

“Lalu?”

“Lalu aku tetap menghargai pilihanmu.”

“Kalau aku meminta pendapatmu?”

“Baru aku akan memberikan pendapat.”

Alya tersenyum.

“Baiklah. Sekarang aku meminta pendapatmu.”

Raka memperhatikan gaun itu beberapa detik.

“Menurutku, gaun ini terlihat seperti kamu.”

“Seperti aku?”

“Tidak terlalu berlebihan. Tidak berusaha menjadi sesuatu yang bukan dirimu. Sederhana, tetapi tetap punya keindahan.”

Alya menatap dirinya di cermin.

Kalimat itu terasa tepat.

Ia tidak ingin mengenakan gaun yang membuat semua orang berkata bahwa ia tampak seperti orang lain.

Ia ingin tetap menjadi Alya.

Hanya saja, pada hari itu, Alya akan menjadi versi dirinya yang siap menjalani kehidupan baru.

“Aku suka,” katanya akhirnya.

Raka tersenyum.

“Kalau begitu, pilihlah.”

Alya mengangguk.

“Ini pilihanku.”

°˖✧✿✧˖°

Namun ketika Alya kembali mencoba beberapa pilihan lain, keraguan mulai muncul.

Salah satu gaun terlihat lebih mewah.

Bordirnya lebih banyak. Ekornya lebih panjang. Detail payetnya berkilauan ketika terkena cahaya.

Alya memandangnya cukup lama.

“Yang ini juga cantik.”

Raka mengangguk.

“Memang.”

“Aku jadi bingung.”

“Kenapa?”

“Karena yang ini terlihat lebih seperti gaun pengantin.”

Raka tersenyum.

“Bukankah yang tadi juga gaun pengantin?”

“Maksudku, yang ini lebih megah.”

Alya menatap pantulan dirinya.

“Pernikahan itu sekali seumur hidup.”

Raka memahami maksudnya.

“Jadi kamu merasa harus memilih yang paling megah?”

Alya tidak langsung menjawab.

“Entahlah.”

“Kamu ingin yang mana?”

“Yang tadi.”

“Kalau begitu?”

“Tapi…”

“Tapi apa?”

Alya menghela napas.

“Takut orang-orang bilang aku terlalu sederhana.”

Raka terdiam.

Ia kemudian bertanya dengan suara tenang.

“Orang-orang akan memakai gaun itu?”

“Tidak.”

“Mereka yang akan menjalani pernikahan itu?”

“Tidak.”

“Mereka yang akan hidup setelah hari itu?”

Alya menggeleng.

Raka tersenyum tipis.

“Lalu kenapa keputusanmu harus dibuat untuk memenuhi penilaian mereka?”

Alya menunduk.

“Aku cuma ingin semuanya sempurna.”

Raka mendekat satu langkah, tetapi tetap menjaga jarak.

“Dulu aku juga berpikir begitu.”

Alya menatapnya.

“Dulu aku mengira kalau sesuatu tidak sesuai keinginanku, berarti ada yang salah.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku belajar bahwa sesuatu tidak harus sesuai keinginanku untuk tetap menjadi baik.”

Alya terdiam.

Raka melanjutkan.

“Kalau kamu memilih gaun sederhana karena memang itu yang membuatmu bahagia, jangan menggantinya hanya karena takut komentar orang.”

Alya memandang gaun mewah itu lagi.

“Kalau ternyata aku memilih yang salah?”

Raka tersenyum.

“Tidak ada gaun yang bisa menentukan apakah pernikahan kita akan berhasil.”

Kalimat itu membuat Alya tertawa kecil.

“Jawabanmu selalu serius.”

“Karena kamu bertanya serius.”

“Aku sedang bingung.”

“Kalau begitu jangan pilih saat sedang bingung.”

“Lalu?”

“Duduk. Tarik napas. Bayangkan hari itu.”

Alya menatap Raka.

“Bayangkan apa?”

“Bukan gaunnya.”

“Lalu?”

“Bayangkan kamu berdiri di depan orang-orang yang kamu cintai. Ayahmu. Keluargamu. Aku.”

Alya tersenyum.

“Lalu?”

“Bayangkan setelah semua acara selesai. Ketika kita pulang. Ketika semua orang sudah tidak memperhatikan pakaianmu.”

Alya terdiam.

“Yang tersisa hanya kita.”

Raka melanjutkan pelan.

“Gaun mana yang membuatmu tetap merasa menjadi Alya?”

Alya menutup mata sebentar.

Bayangan itu muncul.

Tidak ada lampu besar.

Tidak ada suara orang-orang.

Tidak ada kamera.

Hanya dirinya dan Raka.

Ia tersenyum.

“Yang tadi.”

“Kenapa?”

“Karena aku merasa nyaman.”

Raka mengangguk.

“Kalau begitu, kamu sudah menemukan jawabannya.”

Alya mengusap ujung gaun itu.

“Aku memilih yang tadi.”

“Baik.”

“Dan kamu tidak boleh mengubahnya.”

“Aku tidak akan.”

“Janji?”

Lihat selengkapnya