Setelan untuk Sang Pengantin Pria
Raka mempersiapkan diri menjadi seorang suami
°˖✧✿✧˖°
Aroma kayu cendana tua dan desis uap setrika wol meruap lembut di seluruh penjuru atelier Griya Busana Adipradana, mengisi ruang temaram yang dihiasi gulungan kain sutra impor dan beludru kasmir Italia. Raka berdiri mematung di atas podium bundar beralas karpet beludru merah marun, tepat di hadapan triptik cermin setinggi langit-langit yang memantulkan sosoknya dari tiga sudut berbeda. Kedua telapak tangannya yang biasa kokoh mengendalikan setir mobil atau mantap menandatangani berkas kontrak bisnis kini mendadak terasa dingin, dengan jemari yang bergetar samar di sisi paha celana katun hitamnya.
"Raka, berhentilah berdiri sekaku itu. Kamu terlihat seperti prajurit Romawi kuno yang sedang menanti perintah hukuman gantung di depan kaisar agung. Tarik napas panjang dan hembuskan perlahan, calon suamiku tercinta."
Alya melangkah mendekat dari arah sofa kulit Chesterfield berwarna cokelat tua tempatnya duduk sejak setengah jam lalu. Gaun terusan kemeja bernuansa krem gading yang dikenakannya bergoyang anggun mengikuti irama langkah kakinya tanpa menimbulkan suara sedikit pun di atas lantai parket jati yang dipelitur mengilap. Di sepasang mata bulatnya yang berbinar teduh, terpancar perpaduan antara rasa geli yang tulus dan pancaran kelembutan tanpa batas yang selalu sanggup meluruhkan dinding pertahanan paling dingin di hati Raka.
"Bukan hukuman gantung, Alya. Tapi entah mengapa, berdiri di atas podium ini dengan kemeja pengantin terasa puluhan kali lipat lebih menegangkan daripada saat aku harus mempresentasikan proyek merger triliunan rupiah di hadapan para investor asing yang tak kenal ampun."
Raka menoleh pelan, menatap lengkungan senyum tipis di bibir Alya yang dipermanis oleh kerutan kecil di sudut matanya yang jenaka. Kendati kata-katanya bernada gurauan, Raka membaca jelas ketenangan dan kepastian mutlak yang terpancar dari tatapan wanita itu. Raka mengulurkan tangan kanannya, menyusupkan jemarinya ke sela-sela jemari Alya yang hangat dan lembut. Detak jantungnya masih berdentum liar di balik dada kemeja poplin putih berkerah wingtip yang masih dipenuhi deretan jarum pentul perak penanda ukuran jahitan.
"Tentu saja rasanya sangat berbeda, Mas. Di ruang rapat direksi, kamu hanya mempertaruhkan reputasi profesional dan lembaran uang perusahaanmu. Sementara di ruangan ini, kamu sedang bersiap mempertaruhkan seluruh sisa usiamu, hatimu, dan masa depanmu bersamaku. Pintu keluar darurat di lorong belakang butik ini masih terbuka lebar kalau kamu mendadak berniat kabur melarikan diri."
Raka terdiam sejenak. Tatapannya kembali terlempar pada bayangannya di cermin tengah. Tepat di samping kanannya, sepotong jas tuksedo berwarna midnight blue berbahan wol super 150s tergantung megah pada manekin kayu eboni. Garis bahunya terpotong presisi, lapel syal berbahan satin sutra hitam memantulkan bias cahaya lampu gantung kristal Bohemia yang menggantung di langit-langit. Pakaian pengantin itu bukan sekadar jahitan kain mahal berharga puluhan juta rupiah; pakaian itu adalah representasi dari sebuah mahkota kepemimpinan keluarga yang kelak tak akan pernah bisa ditanggalkannya seumur hidup.
"Melarikan diri tidak pernah menjadi salah satu pilihan dalam hidupku, Alya. Kamu tahu persis siapa aku. Aku hanya merasa sangat gamang. Aku belum terbiasa melihat pria di balik cermin itu. Selama tiga puluh tahun, aku terbiasa menjadi pria mandiri yang bebas melangkah ke mana saja tanpa beban memikirkan keselamatan siapa pun selain diriku sendiri."
Kehangatan jemari Alya meremas lembut punggung tangan Raka,.
"Dan apakah kebebasan lajang itu terasa lebih berharga daripada rumah tangga yang sedang kita bangun bersama, Mas? Apa sebenarnya yang paling kamu cemaskan dari sosok pria yang sedang menatapmu di balik pantulan kaca cermin itu?"
"Bukan masa depannya yang membuatku takut, Al. Tapi rasa takut bahwa aku mungkin tidak akan cukup baik untukmu. Mulai hari Sabtu nanti, seluruh senyummu, perlindungan atas dirimu, bahkan air mata yang mungkin menetes dari matamu akan menjadi tanggung jawab langsung di pundakku. Bagaimana seandainya aku gagal menjadi nakhoda yang tangguh saat badai besar menghantam rumah kita kelak?"
"Pernikahan kita bukan pertunjukan sirkus tunggal di mana kamu dipaksa menjadi pahlawan sempurna tanpa cacat, Raka. Kita berdua yang memilih untuk saling menggenggam. Kalau biduk kita oleng, kita berdua yang memegang dayung. Jangan pernah merasa harus memikul seluruh semesta sendirian dengan segenap ketulusan jiwa dan raga yang terpatri dalam setiap langkah kehidupan bersama menuju hari bahagia yang."
°˖✧✿✧˖°
Pak Danu melangkah masuk dengan kacamata baca berbingkai cangkang penyu yang bertengger rendah di batang hidungnya. Sehelai pita ukur kain berwarna kuning terang melingkar longgar di lehernya yang berkeriput, sementara bantalan jarum pentul beludru merah terikat erat pada pergelangan tangan kirinya. Sosok penjahit senior berusia hampir tujuh puluh tahun itu membawa aura ketenangan kuno yang seketika membuat riak kegelisahan di dalam ruangan surut perlahan.
"Selamat sore, Mas Raka, Mbak Alya. Mohon maaf sebesar-besarnya jika saya membuat kalian menunggu sedikit lebih lama. Saya tadi sedang memastikan keliman benang sutra pada lapisan furing dalam jas ini terpasang tanpa cela."
Pak Danu melangkah mendekati podium marun, lalu memberi isyarat ramah agar Raka merentangkan kedua tangannya sedikit ke samping. Dengan keluwesan jemari yang telah menakar ribuan helai kain wol terbaik dunia, pita ukur kuning itu ditarik melintang dari ujung tulang bahu kanan, menyusuri punggung atas, hingga berhenti tepat di tepi bahu kiri Raka. Telapak tangan sang penjahit tua yang kapalan menepuk pelan otot trapezius Raka yang mengeras bagai batu karang.
"Sama sekali tidak apa-apa, Pak Danu. Raka justru sangat berterima kasih karena mendapatkan waktu ekstra untuk mengatur napasnya yang tadi terdengar seperti habis berlari mengelilingi lapangan bola."
Nasihat bersahaja dari sang penjahit tua itu menyusup masuk dan menghangatkan relung dada Raka yang semula dingin membeku. Dari jarak dua langkah, Alya menatap calon suaminya dengan binar mata yang memancarkan rasa bangga tanpa batas, mengukuhkan keyakinan bahwa pria inilah yang kelak akan menemaninya hingga hela napas terakhir dengan segenap ketulusan jiwa dan raga yang terpatri dalam setiap langkah kehidupan bersama menuju hari bahagia yang telah lama.
"Haha, itu pertanda yang sangat baik, Mbak Alya. Pria yang paham arti kesungguhan janji yang akan bergetar saat mengukur jas pernikahannya. Pria yang menganggapnya sekadar formalitas pesta justru yang patut dipertanyakan kesiapannya."
"Bahu Mas Raka bidang dan proporsional, empat puluh delapan sentimeter penuh. Rangkanya sempurna untuk menopang potongan tuksedo Savile Row yang gagah. Tetapi ingat satu hal: bahu yang terlalu kaku karena ketegangan batin akan membuat jatuhnya kain berkerut jelek. Rilekskan bahumu ke bawah."
"Mungkin ini reaksi otomatis tubuh saya, Pak. Sejak remaja, hidup menuntut saya untuk selalu menegakkan punggung sekuat tenaga agar tidak mudah dihancurkan oleh keadaan."
"Baju perang dibuat untuk menahan hantaman tombak musuh di medan laga, Mas Raka. Namun jas pengantin diciptakan untuk tujuan mulia: menjadi tempat bersandar paling nyaman bagi kepala istrimu ketika dunia luar terlampau kejam. Jangan biarkan bahu ini menjadi batu yang dingin dengan."
°˖✧✿✧˖°
Getaran panjang dan beruntun dari ponsel pintar di atas meja kaca memecah keheningan ruangan dengan nada yang mendesak. Layar OLED perangkat itu menyala terang, memunculkan sederet huruf kapital yang membentuk nama Paman Suryo—kakak tertua mendiang ayah Raka yang selama puluhan tahun memegang kendali atas norma keluarga besar mereka. Seketika itu pula, kabut kelam memori masa kecil Raka menyeruak kembali: pecahan piring porselen, bentakan keras ayahnya di ruang tamu, dan air mata ibunya yang terisak sendirian di balik pintu kamar yang terkunci.
"Mas Raka, apa kamu tidak ingin mengangkat panggilan dari Paman Suryo terlebih dahulu? Beliau sudah tiga kali menelepon sejak tadi siang untuk menanyakan kepastian jam gladi resik akad nikah besok lusa."
Pak Danu yang sangat memahami etika dan privasi keluarga dengan bijak membungkuk hormat, pamit melangkah ke bilik belakang dengan alasan mengambil rompi sutra pelengkap tuksedo. Segera setelah daun pintu tertutup rapat, Alya menaiki undakan karpet merah podium. Kedua tangannya terangkat lembut, merapikan lipatan kerah kemeja putih Raka, lalu menangkup kedua rahang pria itu agar pandangan mereka saling terkunci lekat.