Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #107

Nasihat Orang Tua

Nasihat Orang Tua

Mereka menerima berbagai nasihat tentang kehidupan rumah tangga.

°˖✧✿✧˖°

Sore itu, rumah Alya terasa lebih ramai daripada biasanya.

Setelah acara lamaran yang berlangsung beberapa waktu lalu, hubungan antara kedua keluarga semakin dekat. Tidak ada lagi percakapan yang hanya sekadar basa-basi. Kini, setiap pertemuan terasa seperti jembatan menuju sesuatu yang lebih besar—kehidupan yang akan dijalani Raka dan Alya setelah mereka resmi menjadi suami istri.

Raka duduk di samping Alya, tetapi tetap menjaga jarak sewajarnya. Sesekali pandangan mereka bertemu, lalu keduanya tersenyum kecil.

Alya memperhatikan wajah Raka yang tampak lebih tenang daripada biasanya.

"Kamu gugup?" bisiknya.

Raka menoleh.

"Sedikit."

"Kenapa?"

Raka tersenyum tipis.

"Karena aku tahu setelah ini pembicaraannya bukan lagi tentang kita sebagai pasangan."

"Terus?"

"Melainkan tentang kita sebagai calon suami dan istri."

Alya menahan senyum.

"Bukankah itu yang kamu inginkan?"

"Iya."

"Kalau begitu, kenapa takut?"

Raka menghela napas pelan.

"Karena aku sadar, mencintaimu itu ternyata jauh lebih mudah daripada belajar menjadi pasangan yang baik untukmu."

Alya terdiam.

Kalimat sederhana itu membuat hatinya menghangat.

Tak lama kemudian, ayah Alya datang bersama ibu Alya. Orang tua Raka juga telah duduk tidak jauh dari mereka. Suasana berubah menjadi lebih serius, tetapi tetap hangat.

Ayah Alya memandang Raka dan Alya secara bergantian.

"Kalian sudah memutuskan untuk melangkah lebih jauh."

Raka mengangguk.

"Iya, Yah."

"Dan karena itu," lanjut sang ayah, "ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan."

Raka duduk lebih tegak.

Alya juga melakukan hal yang sama.

"Kami tidak akan memberi kalian resep bagaimana menjalani rumah tangga," ujar ayah Alya. "Karena rumah tangga bukan sesuatu yang bisa dijalani dengan satu resep yang berlaku untuk semua orang."

Ibu Alya tersenyum.

"Tetapi ada beberapa hal yang kami pelajari setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan bersama."

Raka menatap mereka dengan penuh perhatian.

"Kami ingin mendengarnya."

Ayah Alya mengangguk.

"Nasihat pertama sederhana. Jangan pernah mengira bahwa setelah menikah, kalian akan selalu mengerti satu sama lain."

Alya mengerutkan kening.

"Justru setelah menikah, kita bisa semakin banyak menemukan sisi pasangan yang sebelumnya tidak terlihat."

"Benar," jawab ibu Alya. "Dan saat itu terjadi, jangan buru-buru mengatakan, 'Kamu sudah berubah.' Bisa jadi bukan dia yang berubah. Bisa jadi kalian hanya sedang melihat dirinya dengan lebih lengkap."

Raka menunduk sebentar.

Kalimat itu menyentuh sesuatu yang sangat dekat dengan perjalanan mereka.

Dulu, ketika rasa cemburu menguasainya, Raka sering mengira perubahan kecil pada Alya sebagai tanda bahwa perasaannya sedang berkurang.

Kini ia tahu, tidak semua perubahan berarti kehilangan.

Ayah Alya melanjutkan,

"Dan jangan jadikan rumah sebagai tempat untuk mencari siapa yang menang."

Raka menatap beliau.

"Maksud Ayah?"

"Kalau kalian bertengkar, jangan bertanya siapa yang benar dan siapa yang kalah. Tanyakan bagaimana masalah itu bisa selesai tanpa membuat salah satu dari kalian kehilangan harga diri."

Alya menarik napas pelan.

Raka mengangguk.

"Saya mengerti."

Ayahnya menatapnya lebih dalam.

"Benarkah?"

Raka tersenyum kecil.

"Saya sedang belajar, Yah."

"Bagus," jawab sang ayah. "Karena suami yang baik bukan suami yang selalu benar."

Ibu Raka ikut tersenyum.

"Begitu juga seorang istri."

Untuk pertama kalinya malam itu, semua orang tertawa kecil.

Namun di balik tawa itu, Raka dan Alya sama-sama menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar makan malam keluarga.

Ini adalah bekal.

Bekal untuk perjalanan yang jauh lebih panjang.

°˖✧✿✧˖°

Setelah suasana kembali tenang, ayah Raka akhirnya ikut berbicara.

"Raka."

"Iya, Yah."

"Ada satu hal yang menurut Ayah sangat penting untuk kamu pahami."

Raka menunggu.

"Ketika nanti Alya menjadi istrimu, jangan pernah menganggap bahwa status itu membuatmu berhak mengatur seluruh hidupnya."

Alya menoleh kepada Raka.

Raka mengangguk perlahan.

"Saya tahu."

"Jangan hanya tahu," jawab ayahnya. "Pahami."

Raka terdiam.

Ayahnya melanjutkan dengan suara tenang.

"Dia tetap manusia yang memiliki pikiran, keinginan, ketakutan, dan cita-cita. Pernikahan membuat dua orang berjalan bersama. Bukan membuat salah satu orang kehilangan dirinya."

Raka menatap Alya.

"Aku akan mengingat itu."

Alya tersenyum.

Ayah Raka kemudian berkata,

"Dan kamu, Alya."

Alya mengangguk.

"Iya, Yah."

"Jangan meminta Raka membaca pikiranmu."

Alya tertawa kecil.

"Memangnya saya sering begitu?"

Ibu Alya langsung menyahut,

"Kadang."

Semua tertawa.

Alya menggeleng.

"Baiklah."

Ayah Raka tersenyum.

"Kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, katakan. Jangan berharap pasanganmu selalu tahu apa yang kamu rasakan hanya karena dia mencintaimu."

Alya mengangguk.

"Saya mengerti."

"Karena cinta bukan kemampuan membaca pikiran."

Raka tersenyum.

"Berarti kami harus banyak bicara."

"Bukan hanya banyak bicara," jawab ayah Alya. "Banyak mendengar."

Kalimat itu membuat Raka terdiam.

Alya memperhatikannya.

"Kamu kenapa?"

Raka menjawab jujur,

"Aku merasa nasihat ini banyak sekali berkaitan dengan kesalahan yang pernah kulakukan."

Tidak ada yang langsung menjawab.

Alya kemudian menyentuh ujung lengan bajunya sendiri, lalu berkata pelan,

"Yang penting kamu sudah berubah."

Raka menatapnya.

"Aku tidak ingin sekadar berubah."

"Lalu?"

"Aku ingin mempertahankan perubahan itu."

Ayah Alya mengangguk puas.

"Itulah yang harus kalian pahami."

Beliau memandang keduanya.

"Rumah tangga bukan tentang menjadi sempurna. Rumah tangga tentang dua orang yang bersedia terus memperbaiki diri."

Ibu Raka menambahkan,

"Dan jangan membawa masalah dari luar rumah masuk ke dalam hati."

Alya bertanya,

"Bagaimana caranya?"

"Pisahkan masalah dengan pasanganmu," jawab ibu Raka. "Kalau kamu sedang lelah karena pekerjaan, jangan membuat pasangan merasa bahwa dirinya adalah penyebab kelelahanmu."

Raka mengangguk.

"Begitu juga sebaliknya."

"Benar."

Ayah Alya tersenyum.

"Dan satu hal lagi. Jangan membawa masalah rumah tangga kepada terlalu banyak orang."

Raka mengernyit.

"Maksud Ayah?"

"Ketika kalian sedang bertengkar, jangan langsung menceritakan semuanya kepada teman. Jangan menjadikan keluarga besar sebagai penonton."

Alya mengangguk perlahan.

"Karena masalah yang sebenarnya kecil bisa menjadi besar?"

"Ya."

Ayah Alya menarik napas.

"Kalau kalian membutuhkan bantuan, pilih orang yang bijaksana. Bukan orang yang hanya akan membenarkan emosi kalian."

Raka menatap Alya.

Kalimat itu terasa penting.

Karena dalam kehidupan mereka sebelumnya, emosi pernah membuat keduanya mengambil kesimpulan tanpa benar-benar mendengarkan.

Kini mereka tidak ingin mengulanginya.

°˖✧✿✧˖°

Malam semakin larut, tetapi pembicaraan belum berakhir.

Ibu Alya mengambil segelas air sebelum kembali memandang keduanya.

"Ada satu nasihat yang mungkin terdengar sederhana."

"Apa itu, Bu?" tanya Alya.

"Jangan berhenti mengucapkan terima kasih."

Raka tersenyum.

"Sesederhana itu?"

"Justru karena sederhana, banyak orang melupakannya."

Ibu Alya melanjutkan,

"Setelah bertahun-tahun bersama, seseorang bisa mulai menganggap kebaikan pasangannya sebagai kewajiban."

Raka mengangguk.

"Padahal?"

"Padahal tidak ada yang benar-benar wajib memberikan seluruh dirinya kepada kita."

Alya menunduk.

Raka memandangnya cukup lama.

"Aku tidak ingin pernah menganggap perhatianmu sebagai sesuatu yang otomatis menjadi milikku."

Alya mengangkat wajah.

"Dan aku tidak ingin menganggap semua pengorbananmu sebagai sesuatu yang memang harus kamu lakukan."

Ayah Raka tersenyum.

"Itu baru namanya saling menghargai."

Kemudian ayah Alya berkata,

"Dan jangan lupa meminta maaf."

Raka tersenyum tipis.

"Yang ini mungkin paling sulit."

Alya tertawa.

"Kenapa?"

"Karena manusia punya ego."

"Termasuk kamu?"

"Terutama aku."

Alya tertawa lagi.

Tetapi kemudian Raka menjadi serius.

"Aku pernah mengira meminta maaf berarti mengakui bahwa aku kalah."

Ayah Alya mengangguk pelan.

"Itulah salah satu kesalahan terbesar banyak orang."

"Jadi menurut Ayah?"

"Meminta maaf berarti memilih hubungan daripada ego."

Raka terdiam.

Alya memandangnya.

"Kalau nanti aku yang salah, aku juga akan minta maaf."

Raka tersenyum.

"Jangan hanya karena ingin membuat keadaan cepat selesai."

Alya mengangguk.

"Kalau memang salah."

"Dan kalau kita sama-sama salah?"

Alya tersenyum.

"Berarti kita sama-sama belajar."

Ibu Raka tertawa kecil.

"Nah, itu lebih penting."

Suasana kembali hangat.

Namun ayah Raka kemudian menyampaikan sesuatu yang membuat Raka dan Alya kembali serius.

"Jangan menyelesaikan pertengkaran saat kalian sedang marah besar."

"Kenapa?" tanya Raka.

"Karena saat marah, manusia cenderung ingin menang. Bukan menyelesaikan masalah."

Raka mengangguk.

"Jadi kalau sedang marah?"

"Ambil waktu."

Alya bertanya,

"Apakah itu berarti pergi dan menghindar?"

"Tidak," jawab ayahnya. "Katakan bahwa kamu membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Pastikan pasanganmu tahu bahwa kamu akan kembali membicarakannya."

Raka menatap Alya.

"Seperti mengatakan, 'Aku sedang emosi. Beri aku waktu. Setelah tenang, kita bicara lagi.'"

"Ya."

Alya mengangguk.

"Lebih baik daripada diam tanpa penjelasan."

"Betul."

Raka kemudian menarik napas.

"Aku pernah membuatmu merasa sendirian ketika aku marah."

Alya tidak menyangkal.

"Iya."

Raka menunduk.

"Maaf."

Alya tersenyum lembut.

"Dan aku pernah memilih diam terlalu lama karena takut memperburuk keadaan."

Raka menggeleng.

"Kita sama-sama punya bagian yang harus diperbaiki."

Ayah Alya memandang mereka dengan tenang.

"Itulah sebabnya kalian harus saling menjaga, bukan saling mencari kesalahan."

°˖✧✿✧˖°

Setelah cukup lama berbicara bersama keluarga, Raka dan Alya akhirnya keluar ke teras.

Udara malam terasa sejuk.

Lampu-lampu rumah memantulkan cahaya lembut di halaman. Dari kejauhan terdengar suara kendaraan sesekali melewati jalan.

Mereka duduk berdampingan.

Lihat selengkapnya