Malam Sebelum Pernikahan
Raka dan Alya sama-sama diliputi rasa haru.
°˖✧✿✧˖°
Malam itu, langit di atas kota kecil itu begitu cerah, bertabur bintang yang seolah ikut merayakan kebahagiaan dua insan. Namun, di dalam kamar Raka, suasana justru terasa begitu hening. Hanya ada suara detak jam dinding yang menemani, dan napas panjang seorang lelaki yang tengah duduk di tepi ranjang.
Raka menatap jas hitam yang tergantung rapi di depan cermin. Besok, ia akan mengenakannya. Besok, ia akan menikah dengan Alya—perempuan yang telah menjadi rumah bagi hatinya selama tujuh tahun terakhir. Tujuh tahun penuh tawa, air mata, pertengkaran kecil, dan rekonsiliasi yang selalu berakhir dengan pelukan. Kini, semuanya akan mencapai puncaknya.
Ia meraih ponsel di meja nakas. Ada satu pesan dari Alya, dikirim sepuluh menit lalu.
"Kak, kamu sudah tidur?"
Raka tersenyum tipis. Jari-jarinya menari di layar.
"Belum. Tidak bisa tidur. Kamu juga?"
Balasan datang cepat. "Iya. Gelisah. Tapi bukan karena takut. Aku hanya... tidak sabar."
Raka tertawa pelan. Ia tahu persis apa yang dirasakan Alya. Perasaan campur aduk antara bahagia, haru, dan sedikit cemas—seperti berdiri di ambang pintu menuju dunia baru yang belum pernah dijelajahi.
"Aku juga," balas Raka. "Aku sedang melihat jasku. Terasa tidak nyata."
"Jas hitam itu? Yang kita beli di mall waktu itu?"
"Iya. Kamu masih ingat?"
"Tentu saja. Kamu terlihat tampan saat mencobanya. Aku hampir menangis waktu itu, tapi kutahan."
Raka tertawa lagi. Ia meletakkan ponselnya, lalu berbaring di ranjang, menatap langit-langit kamar. Pikirannya melayang ke masa lalu—ke pertemuan pertama mereka di sebuah acara kampus, ketika Alya tidak sengaja menumpahkan kopi ke kemeja Raka. Gadis itu panik, meminta maaf berkali-kali, sementara Raka hanya bisa tertawa melihat tingkahnya yang menggemaskan.
Sejak saat itu, mereka tak terpisahkan. Melewati masa-masa sulit sebagai mahasiswa, saling menyemangati saat skripsi, hingga akhirnya bekerja dan membangun karier masing-masing. Semua lika-liku itu kini terasa seperti rangkaian benang yang membentuk kain indah bernama cinta.
Namun, malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada getaran halus di dada Raka—sebuah kesadaran bahwa esok, hidupnya akan berubah selamanya. Ia bukan lagi seorang pemuda yang hanya bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Ia akan menjadi suami. Calon ayah. Pemimpin keluarga.
Ia meraih ponselnya lagi.
"Al, kamu masih bangun?"
"Iya. Aku sedang menatap gaunku. Rasanya... aneh. Seperti mimpi."
"Sama. Aku juga merasa seperti bermimpi. Tapi ini nyata, kan?"
"Nyata, Kak. Besok kita menikah."
Raka menutup matanya. Ada kehangatan menjalar di dadanya. Ia ingin sekali memeluk Alya malam ini, menenangkannya, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi tradisi mengatakan mereka tidak boleh bertemu sebelum akad. Jadi, ia hanya bisa menggenggam ponselnya, berharap pesan-pesannya bisa menjadi pelukan virtual bagi Alya.
"Al, aku ingin kamu tahu sesuatu," tulis Raka. "Terima kasih sudah bertahan denganku selama ini. Terima kasih sudah memilihku. Aku mungkin bukan laki-laki sempurna, tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu."
Tidak ada balasan selama beberapa detik. Raka menunggu dengan jantung berdebar. Lalu, ponselnya bergetar.
"Kak... aku menangis."
"Jangan menangis, nanti matamu bengkak besok."
"Tidak apa-apa. Aku menangis karena bahagia. Aku juga ingin berterima kasih. Kamu adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku."
Raka tersenyum. Air matanya sendiri mulai menggenang. Ia tidak menyadarinya sampai ada setetes cairan hangat yang jatuh di bantal.
Malam itu, dua insan yang terpisah oleh jarak dan tradisi, namun terhubung oleh hati yang sama-sama berdebar menantikan esok.
°˖✧✿✧˖°
Pukul sebelas malam. Raka masih belum bisa tidur. Ia bangkit dari ranjang, berjalan ke jendela, dan membuka tirai. Di luar, lampu-lampu kota berkelip seperti kunang-kunang raksasa. Udara malam yang sejuk menyusup melalui celah jendela yang sedikit terbuka.
Ia menarik napas dalam-dalam. Pikirannya kembali melayang, kali ini ke percakapan terakhirnya dengan ayahnya, dua hari sebelum ayahnya meninggal.
"Raka," kata ayahnya waktu itu, suaranya lemah namun matanya masih tajam. "Kamu sudah menemukan perempuan yang tepat?"
Raka mengangguk. "Iya, Yah. Namanya Alya. Dia baik, sabar, dan selalu ada untuk Raka."
Ayahnya tersenyum. "Bagus. Jangan sia-siakan dia. Pernikahan itu bukan tentang menemukan orang yang sempurna, tapi tentang menjadi orang yang tepat untuk pasanganmu. Kamu mengerti?"
Raka mengangguk lagi, meski saat itu ia belum sepenuhnya memahami makna kata-kata ayahnya. Kini, menjelang pernikahannya sendiri, ia mulai mengerti. Pernikahan bukanlah garis akhir, melainkan garis awal dari perjalanan panjang yang penuh liku. Dan ia harus siap.
Ponselnya bergetar lagi.
"Kak, kamu masih di kamar?"
"Iya. Kenapa?"
"Aku tidak bisa tidur. Bisakah kita bicara? Aku butuh mendengar suaramu."
Raka tersenyum. Ia menekan tombol panggil. Suara Alya terdengar setelah satu dering.
"Halo, Kak." Suara Alya sedikit serak, tanda ia baru saja menangis.
"Hei, Al. Kamu baik-baik saja?"
"Iya. Hanya... gelisah. Aku terus memikirkan besok. Bagaimana kalau ada sesuatu yang salah? Bagaimana kalau aku lupa kata-kataku saat akad? Bagaimana kalau—"
"Al," potong Raka lembut. "Tarik napas dulu."
Alya menarik napas panjang. Raka bisa mendengarnya.
"Besok tidak harus sempurna," lanjut Raka. "Yang penting kita saling mencintai dan siap menjalani semuanya bersama. Kamu tidak perlu takut. Aku akan ada di sana, di sebelahmu. Kita hadapi bersama, ya?"
Alya terdiam sejenak. "Kak..."
"Hm?"
"Aku takut kehilanganmu."
Raka tertegun. "Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Aku tidak tahu. Mungkin karena aku terlalu bahagia. Terkadang, ketika kita terlalu bahagia, kita takut kehilangan. Aku takut besok ada sesuatu yang menghalangi kita. Aku takut..."
"Al, dengar," kata Raka dengan suara tegas namun penuh kasih. "Tidak ada yang bisa menghalangi kita. Kita sudah melewati banyak hal. Kita sudah berjuang bersama. Besok adalah hari kita. Hari di mana kita mengikat janji suci. Tidak ada yang perlu ditakutkan."
Alya terdiam lagi. Lalu, suara tawa kecil terdengar. "Kamu selalu tahu cara menenangkanku."
"Tentu saja. Itu tugas calon suamimu."
Mereka berbicara selama hampir satu jam. Tentang rencana mereka setelah menikah—rumah kecil yang ingin mereka beli, nama anak-anak mereka, bahkan kucing yang ingin mereka pelihara. Tawa dan tangis bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni indah yang hanya bisa dimengerti oleh dua orang yang saling mencintai.
Namun, di balik semua kebahagiaan itu, ada satu hal yang belum pernah mereka bicarakan secara serius: ketakutan terbesar Alya. Gadis itu selalu menyembunyikannya di balik senyumannya yang ceria. Namun malam ini, di ambang pernikahan, ia merasa harus jujur.
"Kak," ujar Alya pelan. "Ada satu hal yang belum pernah kuceritakan."
Raka terdiam. "Apa itu?"
"Aku... aku pernah melihat pernikahan yang hancur. Orang tuaku bercerai ketika aku masih kecil. Aku melihat bagaimana ibuku menangis setiap malam, bagaimana ayahku pergi tanpa pamit. Sejak itu, aku selalu takut menikah. Aku takut mengalami hal yang sama."