Surat untuk Masa Lalu
Alya menutup semua kenangan buruknya.
°˖✧✿✧˖°
Alya menutup semua kenangan buruknya dengan sebuah tarikan napas panjang yang terasa ngilu di pangkal tenggorokannya. Di sudut loteng berdebu beraroma kayu basah dan kapur barus itu, sebuah kotak kayu jati berpernis pudar terbuka menganga di hadapannya.
"Semua kepedihan ini harus berakhir malam ini," bisiknya pada keheningan ruangan yang temaram. Jemarinya yang dingin meraba bundel surat berikat pita satin merah kusam. "Aku tidak ingin terbangun lagi dalam ketakutan yang sama."
"Jangan pernah berani menyulut korek api itu, Alya!" seru sebuah suara berat dari ambang pintu yang berderit nyaring.
Alya tersentak kaget, namun ia menolak berbalik. Ia mengenali langkah sepatu yang tergesa itu bahkan dalam mimpi terburuknya sekalipun.
"Kenapa kau selalu datang ke tempat yang tidak pernah kau inginkan, Raka?" desis Alya dingin seraya menggenggam erat pemantik perak di jemarinya. "Pergi dari sini."
"Karena aku tahu persis kebodohan apa yang hendak kau lakukan saat sendirian," balas Raka seraya melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Napasnya memburu setelah menaiki tangga reyot dua anak tangga sekaligus. "Menghanguskan lembaran kertas itu tidak akan pernah menghapus luka dari ingatanmu."
"Kau tidak berhak menyebut tindakanku ini kebodohan!" Alya membalikkan badan seketika, menatap pria jangkung di depannya dengan kilat mata menyala. "Tujuh tahun aku menelan racun ini sendirian, Raka! Setiap kata di dalam amplop terkutuk ini adalah belati berkarat yang mencabik-cabik harga diriku!"
"Lalu dengan menjadikannya abu hitam, kau pikir luka batinmu sembuh?" cecar Raka tanpa menurunkan nada bicaranya. "Kau hanya membohongi dirimu sendiri!"
"Setidaknya abu yang berserakan tidak bisa lagi berbicara menghakimiku!" jerit Alya tertahan. "Abu tidak akan pernah mengingatkanku pada malam laknat ketika keluargaku hancur berantakan dan kau hanya berdiri mematung di tengah hujan tanpa sepatah kata pembelaan untukku!"
Raka terdiam kaku, sorot matanya bergetar hebat oleh rasa bersalah yang lama ia pendam. Cahaya kilat di luar jendela loteng menyinari garis rahangnya yang tegang. Hujan deras mulai menghantam atap seng dengan dengung riuh memekakkan telinga.
"Kau menilainya dari luar tanpa pernah tahu apa yang sesungguhnya terjadi di balik punggungku malam itu," ujar Raka pelan. "Aku terikat sumpah."
"Dan kau mengharapkanku memahamimu setelah kau menghilang berbulan-bulan tanpa jejak sedikit pun?" sindir Alya pahit, bibirnya bergetar menahan luapan tangis. "Cukup, Raka. Biarkan aku membakar semua surat sialan ini, agar aku bisa bernapas lega tanpa tercekik oleh bayang-bayang masa lalumu yang kelam."
"Kau tidak boleh membakarnya, terutama lembaran surat di posisi paling bawah," potong Raka tegas seraya mengulurkan telapak tangannya ke kotak kayu. "Serahkan padaku."
"Jangan berani menyentuhnya!" sentak Alya seraya mendekapkan kotak kayu itu ke dadanya, seolah benda usang itu adalah perisai sekaligus racun yang ia jaga mati-matian. "Kau tidak punya hak sedikit pun atas apa yang kupilih malam ini!"
"Aku punya hak penuh atas kebenaran hidupmu, Alya!" bentak Raka, langkahnya semakin mantap mengikis batas di antara mereka. "Surat itu bukan hanya tentang masa lalumu, melainkan amanah besar yang kubayar dengan darahku sendiri!"
Alya mendengus getir, tawa sarkas meluncur dari bibirnya yang pucat pasi. "Amanah? Kau bahkan tidak ingat arti sebuah janji setia saat membiarkan mereka menyeretku ke dalam kehancuran itu tanpa menoleh sedikit pun!"
"Kalau begitu buka dan buktikan sendiri sekarang!" desak Raka dengan tatapan tajam menembus pertahanan Alya. "Buka di depanku detik ini juga, lalu setelah itu kau bebas membakar segalanya jika kau masih menganggapku sebagai seorang pengkhianat berdarah dingin!"
Alya menatap manik mata Raka yang legam, berusaha mencari celah kepalsuan yang selalu ia yakini ada di sana. Namun di balik ketegasan itu, ada jurang kepedihan yang begitu dalam, mencerminkan rasa sakit yang persis sama dengan apa yang ia pikul selama tujuh tahun terakhir.
"Kau pikir aku takut menghadapi kebohongan barumu ini?" tantang Alya dengan napas tersengal menahan emosi yang bergolak di dadanya. "Katakan padaku, siapa sebenarnya yang menulis surat terbawah itu?"
"Orang yang paling kau rindukan setiap malam, Alya," bisik Raka parau seraya menatapnya dengan kepedihan yang telanjang. "Ayahmu sendiri."
Keheningan seketika menyelimuti ruangan loteng berdebu itu, hanya menyisakan gemuruh badai di luar yang terus menggedor jendela kaca.
"Aku mohon, mengertilah keadaanku ini."
°˖✧✿✧˖°
Kata-kata itu menghantam Alya layaknya petir yang menyambar tepat di dadanya. Udara di loteng mendadak terasa begitu tipis, mencekik paru-parunya hingga ia terhuyung ke belakang menabrak tiang kayu penyangga atap.
"Bohong... kau pasti berbohong padaku!" bibir Alya bergetar hebat, matanya melebar memandang Raka dengan penolakan mutlak. "Ayahku meninggal di sel tahanan tanpa sempat menulis apa pun! Mereka bilang ayah menolak bicara sampai detik terakhir!"
"Mereka berbohong padamu agar kau membenci darah dagingmu sendiri, Alya!" sahut Raka lirih seraya merunduk dan menarik selembar amplop tebal berwarna kecokelatan di lapisan terbawah kotak kayu. "Pegang dan rasakan sendiri amplop ini!"
"Lepaskan! Jangan pernah menyentuhnya dengan tangan kotormu!" pekik Alya seraya berusaha merebutnya kembali. "Kembalikan barang itu padaku sekarang juga!"
"Lihat stempel lilinnya, Alya! Buka matamu!" seru Raka seraya mengangkat amplop itu tepat di depan mata Alya yang basah. "Lihat lambang garuda kecil berukir inisial W ini! Siapa lagi yang memilikinya selain almarhum Bramantyo Wiradinata?"
Napas Alya tercekat. Pandangannya terpaku pada bulatan lilin merah marun yang merekat di lipatan amplop. "Cincin kakek... bagaimana mungkin benda pusaka ini bisa ada di tanganmu?"
"Malam sebelum penangkapan itu, ayahmu memanggilku ke ruang kerjanya secara rahasia," jawab Raka seraya memecahkan segel lilin merah dengan ibu jarinya yang gemetar. "Beliau tahu namanya akan dikorbankan demi menutupi skandal kotor dewan direksi pamanmu."
"Lalu kenapa ayah memberikan surat ini kepadamu, bukan kepadaku?!" tuntut Alya dengan tangisan yang mulai pecah. "Aku putrinya, Raka! Kenapa kau yang memegang kata-kata terakhirnya yang paling berharga?!"
"Karena jika musuh-musuh tahu kau memegang surat ini, kau sudah mati tujuh tahun lalu, Alya!" potong Raka seraya menyodorkan lembaran kertas bergaris menguning. "Dengarkan baris pertama ini baik-baik!"
Raka mulai membaca dengan suara serak yang sarat duka lara: "'Untuk putri kecilku Alya, maafkan papamu yang harus memilih jalan gelap ini agar kau tetap bisa melihat fajar.'"
"Katakan padaku bahwa ini bukan mimpi buruk lagi, Raka!" jerit Alya tertahan di sela isak tangisnya.
"Ini bukan mimpi, Alya. Ini suara ayahmu yang memintamu bertahan," bisik Raka dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.
"Apakah ayah benar-benar tidak pernah menyalahkanku atas kebangkrutan itu?" tanya Alya dengan suara yang nyaris tenggelam oleh deru angin malam.