Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #110

Terima Kasih, Menjadi Bagian Hidupku

Terima Kasih, Pernah Menjadi Bagian Hidupku

Raka berdamai dengan masa lalunya sendiri.

°˖✧✿✧˖°

Pagi itu, Raka terbangun dengan perasaan yang aneh. Bukan gelisah, bukan pula bahagia—melainkan semacam kehampaan yang sulit dijelaskan. Ia menatap langit-langit kamar yang putih, mendengarkan suara detak jam dinding yang setia menemani setiap paginya. Di sampingnya, Alya masih tertidur pulas, wajahnya tenang, napasnya teratur. Raka memperhatikan istrinya itu untuk beberapa saat, lalu bangkit perlahan agar tidak membangunkan.

Ia berjalan ke dapur, menyeduh kopi hitam tanpa gula. Sambil menunggu air mendidih, pikirannya melayang ke suatu tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi—masa lalu. Bukan masa lalu bersama Alya, melainkan masa lalu sebelum Alya. Masa ketika ia masih menjadi pemuda yang penuh ambisi, penuh gejolak, dan penuh luka.

Raka membuka laci meja di ruang kerja, mencari sesuatu. Tangannya menyentuh sebuah kotak kayu kecil yang sudah berdebu. Ia menariknya keluar, membukanya perlahan. Di dalamnya, ada tumpukan foto lama, beberapa surat, dan sebuah gelang kulit berwarna cokelat tua yang sudah usang.

Ia meraih gelang itu, memutarnya di antara jari-jarinya. Gelang itu adalah pemberian seseorang yang pernah sangat berarti dalam hidupnya. Seseorang yang telah pergi, meninggalkan luka yang butuh bertahun-tahun untuk sembuh.

Raka menutup kotak itu, lalu meletakkannya kembali di laci. Ia menyeruput kopinya yang masih panas, merasakan pahitnya menyusup ke tenggorokan. Pahit, seperti kenangan yang enggan ia lepaskan.

Saat itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang tidak ia kenal.

"Raka, ini Siska. Aku tahu kamu sudah menikah. Aku hanya ingin bilang... aku minta maaf untuk semuanya. Aku berharap kamu bahagia."

Raka menatap layar ponselnya lama sekali. Jantungnya berdebar, tapi bukan karena cinta—melainkan karena kenangan. Siska. Nama itu membawa serta seribu satu memori yang telah lama terkubur.

°˖✧✿✧˖° Titik Plot Pertama (650-1.050 kata)

Raka meletakkan ponselnya di meja, lalu duduk di kursi ruang kerja. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan halaman belakang rumah—tempat Alya menanam bunga-bunga yang kini bermekaran indah. Namun pikirannya jauh, melayang ke masa lima tahun lalu.

Siska adalah cinta pertamanya. Mereka bertemu di semester ketiga kuliah, di sebuah acara organisasi. Siska cantik, cerdas, dan penuh semangat. Mereka cepat akrab, lalu berpacaran. Dua tahun mereka bersama, melewati suka dan duka sebagai mahasiswa. Siska adalah perempuan yang mengajarkan Raka tentang cinta, tentang komitmen, tentang bagaimana rasanya memiliki seseorang yang selalu ada.

Namun, perbedaan prinsip mulai muncul menjelang kelulusan. Siska ingin mengejar karier di luar negeri, sementara Raka ingin tetap di Indonesia, dekat dengan keluarganya. Mereka berdebat, bertengkar, dan akhirnya memutuskan untuk berpisah. Bukan karena tidak saling mencintai, melainkan karena mereka tahu bahwa jalan mereka berbeda.

Raka menghela napas panjang. Ia masih ingat malam perpisahan itu—hujan turun deras, dan Siska menangis di pelukannya. "Aku mencintaimu, Rak," kata Siska waktu itu. "Tapi aku tidak bisa mengorbankan mimpiku."

Raka tidak menyalahkan Siska. Ia juga tidak menyalahkan dirinya sendiri. Mereka hanya dua orang yang bertemu di waktu yang salah, dengan tujuan yang berbeda. Namun, luka perpisahan itu tetap ada, menganga, dan butuh waktu lama untuk sembuh.

Setelah lulus, Raka fokus pada kariernya. Ia bekerja keras, berusaha melupakan Siska. Hingga akhirnya, ia bertemu Alya—perempuan yang mengubah hidupnya. Alya mengajarkan Raka tentang cinta yang tenang, cinta yang tidak menuntut, cinta yang menerima segala kekurangan. Perlahan, luka itu menutup. Raka move on, meski kadang masih terbesit kenangan tentang Siska.

Namun, pesan pagi ini membuka kembali luka yang telah lama mengering.

"Kak?"

Suara Alya membuyarkan lamunan Raka. Ia menoleh, mendapati istrinya berdiri di ambang pintu ruang kerja, masih mengenakan piyama, rambutnya acak-acakan, dan matanya setengah tertutup.

"Kamu sudah bangun?" tanya Raka, berusaha tersenyum.

Alya mengangguk, lalu menghampiri Raka. "Kenapa kamu di sini? Biasanya kamu sarapan dulu."

Raka mengangkat bahunya. "Hanya... merenung."

Alya duduk di samping Raka, menatap kotak kayu yang masih tergeletak di meja. "Apa itu?"

Raka terdiam sejenak. "Kenang-kenangan lama."

Alya tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Raka, memberi kehangatan yang menenangkan. "Kak, apa pun yang sedang kamu pikirkan, aku ada di sini."

Raka mencium puncak kepala Alya. "Terima kasih, Al."

°˖✧✿✧˖° Titik Tekan 1 (1.050-1.500 kata)

Hari itu, Raka memutuskan untuk memberitahu Alya tentang pesan Siska. Ia tidak ingin menyembunyikan apa pun. Kejujuran adalah fondasi pernikahan mereka, dan Raka tidak ingin merusaknya.

Malam itu, setelah makan malam, mereka duduk di ruang tamu. Alya sedang membaca buku, sementara Raka menatap ponselnya dengan gelisah.

"Al," ujar Raka. "Ada yang ingin kubicarakan."

Alya meletakkan bukunya. "Apa, Kak?"

Raka menarik napas panjang. "Pagi tadi, aku mendapat pesan dari Siska."

Alya terdiam. Nama itu bukan nama asing baginya. Raka pernah bercerita tentang Siska, tentang masa lalu mereka. Alya tidak pernah cemburu, tapi ia juga tidak bisa berpura-pura tidak peduli.

"Apa isinya?" tanya Alya dengan suara tenang.

"Ia minta maaf. Ia berharap aku bahagia."

Alya menatap Raka. "Kamu... bagaimana perasaanmu?"

Raka menggaruk tengkuknya. "Aku tidak tahu. Campur aduk. Aku sudah lama tidak memikirkan Siska. Tapi pesan itu... membuka kembali kenangan."

Lihat selengkapnya