Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #111

Hari yang Dinanti

Hari yang Dinanti

Hari pernikahan akhirnya tiba.

°˖✧✿✧˖°

Pagi itu akhirnya datang.

Hari yang selama berbulan-bulan hanya mereka bicarakan dalam percakapan panjang, hari yang berkali-kali mereka bayangkan dalam doa, hari yang sempat terasa begitu jauh karena perjalanan mereka dipenuhi keraguan, kesalahpahaman, air mata, dan proses belajar untuk saling percaya.

Kini hari itu benar-benar ada.

Hari pernikahan mereka.

Alya berdiri di depan cermin dengan napas yang tertahan. Gaun putih yang dipilihnya beberapa waktu lalu kini melekat sempurna di tubuhnya. Bordir emas yang sederhana menghiasi bagian tertentu dari gaun itu, memberikan kesan anggun tanpa membuatnya kehilangan kelembutan.

Ia menyentuh kain tersebut.

“Jadi benar-benar hari ini,” bisiknya.

Ponselnya yang terletak di meja bergetar.

Nama Raka muncul di layar.

Alya tersenyum sebelum mengangkatnya.

“Assalamu'alaikum.”

“Wa'alaikumussalam.”

Suara Raka terdengar sedikit berbeda pagi itu.

Lebih dalam.

Lebih hati-hati.

Seolah-olah ia sendiri sedang berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua ini bukan mimpi.

“Kamu sudah siap?” tanya Raka.

Alya menatap dirinya di cermin.

“Sudah.”

“Benarkah?”

“Kenapa kamu terdengar lebih gugup daripada aku?”

Raka tertawa kecil.

“Karena aku sedang memikirkan banyak hal.”

“Apa?”

“Bagaimana mungkin hari yang kita tunggu akhirnya datang.”

Alya terdiam.

“Aku juga memikirkannya.”

“Takut?”

“Sedikit.”

“Kalau begitu kita sama.”

Alya tersenyum.

“Raka.”

“Iya?”

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Untuk tetap di sini.”

Raka terdiam beberapa detik.

“Alya, justru aku yang harus berterima kasih.”

“Kenapa?”

“Karena kamu masih memberiku kesempatan setelah semua kesalahan yang pernah kulakukan.”

Alya menundukkan wajah.

“Kita sudah membicarakan itu.”

“Aku tahu.”

“Jangan mengingat luka di hari bahagia.”

“Aku bukan mengingat luka.”

“Lalu?”

“Aku sedang mengingat perjalanan.”

Alya tersenyum.

“Kalau begitu, hari ini jangan melihat ke belakang terlalu lama.”

“Kenapa?”

“Karena hari ini kita mulai melihat ke depan.”

Raka menghela napas pelan.

“Kamu benar.”

Alya memandang gaunnya sekali lagi.

“Bagaimana menurutmu?”

“Aku belum melihat.”

“Kalau nanti?”

Raka tertawa.

“Nanti aku mungkin tidak bisa berkata-kata.”

“Jangan berlebihan.”

“Aku serius.”

Alya tersenyum.

“Kalau begitu, sampai nanti.”

“Sampai nanti.”

“Raka?”

“Ya?”

“Aku siap.”

Suara Raka terdengar lebih lembut.

“Insyaallah, aku juga.”

Panggilan berakhir.

Alya meletakkan ponsel.

Ia kembali memandang cermin.

Perempuan di hadapannya masih Alya.

Tidak berubah menjadi orang lain.

Namun hari itu, ia membawa sebuah keputusan besar dalam hidupnya.

Ia akan menikah dengan lelaki yang pernah membuatnya marah, pernah membuatnya menangis, pernah membuatnya merasa tidak dipercaya, tetapi juga lelaki yang mau belajar, meminta maaf, berubah, dan memberinya ruang untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

Alya menarik napas panjang.

Hari yang dinanti akhirnya tiba.

Dan kali ini, ia tidak ingin takut.

°˖✧✿✧˖°

Di tempat lain, Raka berdiri di depan cermin.

Pakaian yang dikenakannya telah dipersiapkan sejak malam sebelumnya. Semuanya tampak sederhana, rapi, dan sesuai dengan kesepakatan mereka.

Namun Raka justru berkali-kali memperbaiki bagian kerah.

Ia tersenyum melihat dirinya sendiri.

“Tenang,” gumamnya.

Ponselnya kembali bergetar.

Pesan dari Alya.

“Jangan terlalu gugup.”

Raka tertawa.

Ia membalas.

“Kamu tahu dari mana aku gugup?”

Balasan Alya datang cepat.

“Aku tahu.”

Raka mengetik lagi.

“Kalau begitu kamu juga gugup.”

“Aku tidak mengaku.”

“Berarti benar.”

Alya mengirim emoji yang membuat Raka tertawa kecil.

Kemudian pesan berikutnya muncul.

“Raka.”

“Iya?”

“Hari ini jangan pikirkan bagaimana orang lain melihat kita.”

Raka membaca kalimat itu dua kali.

Ia tahu maksud Alya.

Mereka sudah melewati terlalu banyak masa ketika kebahagiaan mereka hampir ditentukan oleh pandangan orang lain.

Hari ini, mereka hanya perlu mengingat alasan mereka memilih satu sama lain.

Raka mengetik.

“Aku hanya akan mengingat satu hal.”

“Apa?”

“Bahwa setelah akad nanti, aku punya tanggung jawab untuk menjagamu tanpa mengurungmu.”

Alya lama tidak membalas.

Kemudian sebuah pesan masuk.

“Dan aku akan berjalan bersamamu tanpa kehilangan diriku sendiri.”

Raka tersenyum.

Jawaban itu adalah Alya.

Perempuan yang ia cintai.

Perempuan yang pernah menegurnya ketika rasa takut membuatnya terlalu ingin memiliki.

Perempuan yang mengajarinya bahwa cinta tidak selalu berarti menggenggam erat.

Kadang cinta justru berarti mempercayai.

Raka memasukkan ponsel ke sakunya.

Sebelum berangkat, ia menatap dirinya sekali lagi.

“Semoga aku bisa menjadi suami yang belajar setiap hari.”

Ia kemudian tersenyum.

Bukan suami sempurna.

Karena ia tahu manusia tidak mungkin sempurna.

Tetapi suami yang bersedia bertanggung jawab.

Ketika kendaraan membawanya menuju tempat akad, Raka melihat jalan yang perlahan dipenuhi aktivitas pagi.

Orang-orang menjalani hari seperti biasa.

Namun bagi Raka, hari itu sama sekali tidak biasa.

Setiap detik terasa lebih berat.

Bukan karena takut.

Melainkan karena ia menyadari bahwa sebentar lagi, satu kalimat akan mengubah seluruh status hubungan mereka.

Selama ini Alya adalah perempuan yang ia cintai.

Sebentar lagi, Alya akan menjadi istrinya.

Raka memejamkan mata sejenak.

“Alya,” gumamnya.

Ia tersenyum.

“Sebentar lagi.”

°˖✧✿✧˖°

Ketika Raka tiba, suasana tempat akad sudah tertata.

Namun di tengah keramaian itu, Raka justru merasa seperti hanya ada satu hal yang ingin ia cari.

Alya.

Ia tidak melihatnya.

Belum.

Raka duduk dan mencoba menenangkan diri.

Tangannya sesekali menggenggam ujung pakaian.

Ia menghela napas.

Kemudian sebuah pesan masuk.

“Aku sudah dekat.”

Raka tersenyum.

Ia membalas.

“Aku menunggumu.”

Beberapa menit kemudian, suasana berubah.

Alya tiba.

Raka akhirnya melihatnya.

Untuk beberapa detik, ia benar-benar kehilangan kata-kata.

Alya berjalan dengan anggun. Gaun putih yang dipilihnya tampak sederhana, tetapi justru kesederhanaan itu membuatnya terlihat semakin menjadi dirinya sendiri.

Alya sempat menangkap pandangan Raka.

Ia tersenyum.

Setelah berada di tempatnya, Alya menunduk sebentar.

Raka kemudian berkata pelan ketika kesempatan memungkinkan.

“Gaunnya.”

Alya menatapnya.

“Kenapa?”

“Benar-benar pilihanmu.”

“Bukankah sudah kubilang?”

“Iya.”

“Bagaimana?”

Raka tersenyum.

“Sekarang aku mengerti kenapa kamu memilihnya.”

Alya mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Karena kamu tidak sedang berusaha terlihat seperti seseorang yang lain.”

Alya tersenyum.

“Aku ingin kamu melihat Alya.”

Raka mengangguk.

“Aku melihatmu.”

Mata Alya mulai berkaca-kaca.

“Jangan membuatku menangis sebelum akad.”

Raka tertawa kecil.

“Maaf.”

“Jangan minta maaf dulu.”

“Baik.”

“Setelah akad nanti saja.”

“Kenapa?”

“Karena mungkin aku juga akan menangis.”

Raka tersenyum.

“Aku juga.”

Beberapa saat kemudian, suasana menjadi lebih tenang.

Saat itulah Alya merasakan seluruh perjalanan mereka seakan berputar kembali di kepalanya.

Pertengkaran.

Kecurigaan.

Pesan misterius.

Masa lalu.

Permintaan maaf.

Kepercayaan yang dibangun ulang.

Restu.

Lamaran.

Persiapan.

Gaun.

Dan sekarang akad.

Alya menatap Raka.

“Raka.”

“Iya?”

“Kalau nanti semuanya terasa sulit…”

Raka langsung menjawab.

“Kita bicara.”

“Kalau salah?”

“Kita minta maaf.”

“Kalau takut?”

“Kita saling menguatkan.”

“Kalau cemburu?”

Raka tersenyum.

“Kita belajar mengelolanya.”

Alya tertawa kecil.

“Kalau kamu lupa?”

“Ingatkan aku.”

“Kalau aku yang lupa?”

“Kamu juga ingatkan aku untuk mengingatkanmu.”

Alya tertawa.

“Rumit.”

“Pernikahan memang bukan sesuatu yang sederhana.”

Alya menatapnya.

“Tapi kita tidak harus menjalaninya sendirian.”

Raka mengangguk.

“Bersama.”

Satu kata itu cukup.

Tidak lama kemudian, akad dimulai.

Raka menarik napas panjang.

Semua suara di sekelilingnya seperti meredup.

Lihat selengkapnya