Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #112

Akad Nikah

Akad Nikah

Raka mengucapkan janji suci di hadapan keluarga.

°˖✧✿✧˖°

Langit pagi itu cerah ketika Raka melangkahkan kaki ke halaman rumah Bu Ratna. Awan putih bergerombol di langit biru, seperti kapas yang sengaja ditata oleh tangan Tuhan untuk hari istimewa ini. Tenda putih dengan hiasan bunga melati sudah berdiri sejak subuh, dan kursi-kursi plastik putih disusun rapi menghadap pelaminan sederhana yang dihiasi kain satin krem. Aroma nasi kuning dan rendang menguar dari dapur, bercampur dengan wangi pandan dari kue basah yang ditata di meja panjang.

Raka berdiri di depan cermin kamar kosnya, menatap pantulan dirinya yang mengenakan kemeja putih dan jas hitam pinjaman dari sepupunya. Jas itu sedikit longgar di bagian bahu, tapi tidak masalah. Dia merapikan dasi dengan tangan gemetar, lalu menghela napas panjang.

"Hari ini," bisiknya pada dirinya sendiri. "Hari ini aku akan mengucapkan janji suci."

Ponselnya bergetar. Pesan dari Alya: "Kamu sudah siap?"

Raka tersenyum. "Selalu siap untuk kamu."

"Jangan gugup. Aku juga gugup. Tapi kita gugup bersama, ya."

"Ya. Gugup bersama."

Raka menyimpan ponselnya, lalu berjalan keluar. Di perjalanan menuju rumah Bu Ratna, dia melewati jalanan yang sudah dia kenal sejak tiga tahun lalu—jalanan tempat dia pertama kali mengantar Alya pulang setelah kencan pertama mereka, jalanan tempat mereka berteduh saat hujan tiba-tiba turun, jalanan tempat dia pertama kali mengatakan "aku mencintaimu" dan Alya menjawab dengan ciuman di pipi. Semua kenangan itu terasa hidup kembali, berbaris rapi di benaknya seperti album foto yang terbuka.

Ketika Raka sampai di rumah Bu Ratna, beberapa tamu sudah hadir. Pak Haris, tetangga yang juga menjadi saksi nikah, menyambutnya dengan jabat tangan erat. "Selamat, Raka. Akhirnya kamu resmi jadi menantu Bu Ratna."

"Terima kasih, Pak."

"Jangan lupa, jadi suami itu harus sabar. Istri itu bukan untuk dimengerti, tapi untuk dicintai."

Raka tersenyum. "Siap, Pak."

Di dalam rumah, Bu Ratna sedang duduk di kursi tamu, mengenakan kebaya hijau tua yang dia simpan khusus untuk hari ini. Matanya berkaca-kaca, tapi senyumnya lebar. Ketika Raka masuk dan mencium tangannya, Bu Ratna menggenggam tangan Raka erat.

"Raka, hari ini kamu bukan hanya menikahi anakku. Kamu juga menikahi kenangan suamiku, semua perjuangan yang aku lakukan untuk membesarkan Alya, dan semua harapan yang aku titipkan padanya. Jagalah dia."

Raka mengangguk, suaranya serak. "Saya akan jaga dia, Bu. Dengan seluruh hidup saya."

Bu Ratna mengangguk. "Saya percaya."

Di kamar sebelah, Alya sedang duduk di depan cermin, ditemani dua sahabatnya, Nadia dan Sari. Gaun putih yang dia beli dari toko online dengan harga diskon itu ternyata terlihat anggun saat dipakai. Nadia sedang menyematkan bunga melati di rambut Alya, sementara Sari merapikan veil yang sedikit miring.

"Kamu cantik banget," kata Nadia. "Raka pasti nggak bisa ngomong apa-apa pas lihat kamu."

Alya tertawa kecil. "Kalau dia nggak bisa ngomong, berarti aku berhasil bikin dia speechless."

"Kamu gugup?" tanya Sari.

"Banget," jawab Alya jujur. "Tapi bukan karena takut. Aku gugup karena... ini nyata. Aku akan menikah dengan Raka. Orang yang selalu ada di setiap momen penting hidupku. Orang yang pertama kali aku kenal di perpustakaan kampus, yang pertama kali aku cintai, yang pertama kali aku percaya."

Nadia dan Sari saling menatap, lalu tersenyum. "Kamu beruntung, Alya."

"Aku tahu," kata Alya. "Dan aku nggak akan pernah lupa bersyukur."

Di luar, suara adzan Dzuhur mulai terdengar. Waktu akad semakin dekat. Raka duduk di kursi yang sudah disiapkan, ditemani Pak Haris sebagai saksi dan seorang penghulu dari KUA yang datang tepat waktu. Halaman rumah Bu Ratna mulai penuh, meskipun hanya empat puluh tamu yang diundang. Tetangga-tetangga yang tidak diundang tetap datang, berdiri di pagar, ikut menyaksikan momen sakral itu.

Raka menatap halaman itu—halaman yang sederhana, dengan rumput yang sedikit tidak rata dan pohon mangga yang sudah berbuah lebat. Di halaman ini, Alya belajar berjalan, bermain sepeda, dan jatuh bangun. Dan di halaman ini juga, Raka akan mengucapkan janji suci yang akan mengikatnya seumur hidup.

°˖✧✿✧˖°

Penghulu membuka acara dengan basmalah, lalu membacakan ayat-ayat suci tentang pernikahan. Suaranya tenang dan dalam, mengalun di antara tenda putih, membuat semua orang yang hadir terdiam. Raka menundukkan kepala, tangannya menggenggam erat ujung jasnya. Di sebelahnya, Pak Haris duduk dengan tenang, sesekali menepuk bahu Raka sebagai tanda dukungan.

"Raka Pratama," panggil penghulu. "Apakah kamu bersedia menikahi Alya Ratna Sari, putri dari almarhum Bapak Surya Pratama dan Ibu Ratna Sari, dengan mahar seperangkat alat shalat dan sejumlah uang tunai yang telah disepakati?"

Raka mengangkat kepalanya. Di kejauhan, di balik pintu yang sedikit terbuka, dia bisa melihat Alya berdiri di ambang pintu, ditemani Nadia dan Sari. Mata mereka bertemu untuk beberapa detik—cukup lama untuk mengirim pesan yang tidak perlu diucapkan. Alya tersenyum kecil, dan Raka merasakan kekuatan aneh mengalir ke seluruh tubuhnya.

"Saya bersedia," kata Raka. Suaranya lantang, tidak ragu.

Penghulu tersenyum, lalu mengulang pertanyaan yang sama. "Raka Pratama, apakah kamu bersedia menikahi Alya Ratna Sari, putri dari almarhum Bapak Surya Pratama dan Ibu Ratna Sari, dengan mahar seperangkat alat shalat dan sejumlah uang tunai yang telah disepakati?"

"Saya bersedia."

"Raka Pratama, apakah kamu bersedia menikahi Alya Ratna Sari, putri dari almarhum Bapak Surya Pratama dan Ibu Ratna Sari, dengan mahar seperangkat alat shalat dan sejumlah uang tunai yang telah disepakati?"

"Saya bersedia."

Tiga kali Raka mengucapkan kalimat itu, dan setiap kali dia mengucapkannya, suaranya semakin mantap. Di sudut ruangan, Bu Ratna menutup mulutnya dengan tangan, air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Nadia dan Sari saling merangkul, ikut menangis. Sementara Alya, yang masih berdiri di ambang pintu, menundukkan kepalanya, bibirnya bergetar menahan haru.

Pak Haris mengangguk, lalu menyerahkan mahar kepada penghulu. Seperangkat alat shalat dalam kotak hijau, dan sejumlah uang tunai yang sudah disiapkan dalam amplop putih. Penghulu menerima mahar itu, lalu membacakan doa pernikahan. Suaranya mengalun lembut, memenuhi halaman rumah dengan kedamaian yang sulit dijelaskan.

"Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khairin," ucap penghulu. "Semoga Allah memberkahimu, dan memberkahi pernikahanmu, dan menyatukan kalian berdua dalam kebaikan."

Raka mengangkat tangannya, berdoa dalam hati. Dia tidak meminta banyak—hanya kekuatan untuk menjadi suami yang baik, untuk menjaga Alya dalam suka dan duka, untuk tidak pernah menyerah ketika badai datang. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi esok, tapi dia tahu satu hal: dia akan berusaha.

Setelah doa selesai, penghulu tersenyum. "Dengan ini, pernikahan Raka Pratama dan Alya Ratna Sari sah secara hukum agama dan negara. Selamat, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah."

Halaman rumah langsung riuh oleh tepuk tangan. Raka berdiri dari kursinya, lalu berjalan ke arah pintu tempat Alya berdiri. Alya melangkah keluar, ditemani Nadia dan Sari. Gaun putihnya berkibar lembut tertiup angin, dan bunga melati di rambutnya terlihat seperti bintang kecil yang jatuh dari langit.

Raka mengulurkan tangan. "Alya."

Alya meraih tangan Raka. Tangannya dingin, tapi gemetarnya bukan karena takut. "Raka."

Mereka berdiri berhadapan, ditemani tepuk tangan dan tangis haru dari keluarga dan sahabat. Bu Ratna berjalan ke arah mereka, lalu memeluk Alya erat. "Mama bangga sama kamu," bisiknya. "Mama sayang kamu."

Alya menangis di pelukan ibunya. "Aku sayang Mama."

°˖✧✿✧˖° Titik Tekan 1, 1.050-1.500 kata

Resepsi berlangsung sederhana tapi hangat. Tamu-tamu menikmati hidangan yang disiapkan oleh Bu Ratna dan beberapa tetangga yang membantu. Tidak ada panggung hiburan, tidak ada dekorasi mewah. Hanya tenda putih, meja panjang berisi makanan, dan tawa yang mengisi udara.

Raka dan Alya duduk di pelaminan, menerima ucapan selamat dari tamu satu per satu. Kadang-kadang Raka melirik Alya, yang tersenyum lelah tapi bahagia. Setiap kali mata mereka bertemu, mereka tersenyum seperti dua orang yang baru saja berbagi rahasia.

"Kamu capek?" bisik Raka.

"Sedikit," jawab Alya. "Tapi aku bahagia."

"Aku juga."

Di sudut halaman, Raka melihat Bu Ratna berbicara dengan Pak Haris. Wajah Bu Ratna terlihat lega, seperti beban bertahun-tahun akhirnya terangkat. Raka tahu bahwa Bu Ratna telah melalui banyak hal—kehilangan suami, membesarkan Alya sendirian, dan meragukan calon menantu yang datang tanpa harta. Tapi hari ini, semua keraguan itu sirna.

Saat resepsi hampir selesai, Raka berdiri dari pelaminan dan mengambil mikrofon. Halaman itu perlahan sunyi. Alya menatap Raka dengan mata bertanya.

"Assalamualaikum," kata Raka. "Saya Raka, suami Alya. Hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidup saya. Tapi saya ingin jujur—saya bukan siapa-siapa. Saya tidak punya rumah mewah, tidak punya tabungan besar, tidak punya pekerjaan tetap. Saya hanya punya satu hal: cinta untuk Alya."

Halaman itu hening. Alya menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca.

"Ketika saya pertama kali bertemu Alya, saya tahu bahwa dia bukan perempuan biasa. Dia perempuan yang kuat, mandiri, dan tulus. Dia menerima saya apa adanya—bukan karena apa yang saya punya, tapi karena siapa saya. Dan hari ini, di hadapan semua orang, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bu Ratna, karena telah membesarkan Alya menjadi perempuan luar biasa."

Bu Ratna menundukkan kepalanya, air matanya jatuh.

"Saya tahu, menjadi suami bukan tentang menjadi sempurna. Ini tentang belajar setiap hari, tentang meminta maaf ketika salah, tentang bertahan ketika sulit. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi saya tahu, saya akan menghadapinya bersama Alya."

Raka menoleh ke Alya. "Alya, terima kasih sudah memilih aku. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik. Aku akan belajar. Aku akan berubah. Tapi satu hal yang nggak akan berubah: aku mencintaimu."

Alya berdiri dari kursinya, lalu berjalan ke arah Raka. Dia meraih mikrofon dari tangan suaminya. "Aku juga mau ngomong," katanya, suaranya bergetar. "Raka, kamu bilang kamu bukan siapa-siapa. Tapi buat aku, kamu adalah segalanya. Kamu adalah orang yang selalu ada ketika aku sedih, orang yang selalu bikin aku ketawa, orang yang selalu percaya sama aku bahkan ketika aku nggak percaya sama diri sendiri."

Alya menoleh ke arah tamu. "Mama, terima kasih sudah merestui kami. Aku tahu Mama sempat ragu. Tapi aku janji, aku akan menjaga pernikahan ini. Aku akan menjaga Raka. Aku akan menjaga keluarga kecil kami."

Lihat selengkapnya