Resmi Menjadi Istriku
Alya resmi menjadi pasangan hidup Raka.
༺♡༻
Ikrar Sakral di Balik Roncean Melati
Aroma melati basah dan dupa cendana berpadu lembut di udara pendopo utama, mengiringi desau napas lega para saksi di atas karpet beludru keemasan.
"Bagaimana para saksi terhormat? Apakah ijab kabul yang baru diucapkan ananda Raka sah?" tanya penghulu tersenyum ramah kepada saksi nikah.
"Sah! Alhamdulillah!" seru para saksi serentak memecah keheningan khusyuk.
"Alhamdulillahirabbil'alamin, puji syukur kepada Allah Swt.," ucap penghulu seraya mengetukkan ujung jarinya ke atas meja kayu jati berukir. "Mempelai pria dipersilakan menyerahkan mahar dan memasangkan cincin ke jari manis istrinya."
Raka mengembuskan napas panjang yang sedari tadi terasa menghimpit rongga dadanya. Perlahan, pria berbalut beskap sutra putih itu menoleh ke samping.
"Alya... tolong tatap suamimu," bisik Raka dengan suara bergetar menahan luapan haru yang mendalam.
Alya mengangkat pandangan perlahan. Di balik tudung renda putih transparan, sepasang mata bulatnya tampak berkaca-kaca menahan luapan bahagia.
"Mas Raka..." panggil Alya dengan bibir gemetar. "Katakan padaku, apakah kita benar-benar berhasil melewati segalanya? Ini bukan mimpi tidurku, kan?"
"Bukan mimpi, Sayang. Ini kenyataan terindah dalam hidupku," sahut Raka seraya meraih jemari mungil Alya yang terasa dingin bagai es. "Mulai detik ini, kamu resmi menjadi istriku. Tanggung jawab nafkah, keselamatan, dan kehormatanmu berada sepenuhnya di pundakku hingga akhir hayat."
"Terima kasih, Mas Raka. Terima kasih karena Mas tetap bertahan memperjuangkan restu untukku," tutur Alya dengan suara tercekat menahan tangis bahagia. "Aku berjanji akan menjadi istri yang setia dan mendampingimu dalam suka maupun duka."
Raka menyelipkan cincin platina bermata berlian soliter ke jari manis kanan Alya dengan sangat berhati-hati.
"Akulah yang semestinya bersyukur kepadamu, Al," balas Raka dengan mata yang mulai berkilau basah. "Tanpa kesabaranmu, aku mungkin sudah menyerah sejak lama. Berjanjilah untuk selalu berada di sampingku."
"Aku berjanji, Mas. Selamanya milikmu lahir dan batin," bisik Alya haru seraya mencium takzim punggung tangan suaminya.
"Tatap mataku sekali lagi, Istriku tercinta," pinta Raka lirih seraya menyentuh dagu Alya.
"Aku mencintaimu karena Allah, Mas Raka," sambut Alya dengan senyum merekah di balik air matanya.
"Dan aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri, Nyonya Raka Adiwangsa," bisik Raka penuh ketulusan sebelum mengecup lembut kening istrinya di hadapan seluruh keluarga besar.
༺♡༻
Map Beludru dan Bisikan Berbisa
Ruang jamuan privat di sayap barat pendopo dipenuhi denting sendok perak dan tawa hangat para kerabat yang tengah menikmati hidangan prasmanan pengantin.
"Selamat ya, Raka! Akhirnya kamu membawa Alya ke pelaminan setelah perjuangan panjang yang begitu berliku," puji salah seorang sepupu seraya menyodorkan gelas jus jeruk.
"Terima kasih banyak, Mas Farhan. Doakan kami selalu rukun dan kuat menghadapi masa depan," jawab Raka membalas senyuman hangat sepupunya itu dengan tulus.
Namun, kehangatan itu seketika sirna saat dua daun pintu ganda berukir terbuka lebar tanpa ketukan. Suara langkah sepatu hak tinggi berdentang nyaring di atas lantai marmer italia.
"Sungguh sebuah pesta topeng yang sangat memesona," sindir sebuah suara wanita paruh baya yang terdengar dingin menusuk tulang.
Ibu Gayatri melangkah masuk dengan gaun sutra ungu pekat yang mewah, didampingi Handoko, kepala biro hukum trah Adiwangsa.
"Ibu datang terlambat," sambut Raka dengan nada tertahan seraya meletakkan serbet kainnya ke atas meja. "Kupikir Ibu memutuskan untuk tidak menghadiri akad nikah kami."
"Aku sengaja menunggu hingga ijab kabul selesai, Raka," balas Gayatri sinis tanpa seulas senyum pun di wajahnya yang kaku. "Aku tidak ingin merusak tontonan murah yang kalian pertontonkan kepada para wartawan di luar sana."
Handoko melangkah maju setengah langkah, membuka kancing jas hitamnya, lalu meletakkan sebuah map beludru hitam bertatahkan lambang keluarga besar Adiwangsa ke atas meja, persis di samping piring Alya.
"Apa maksud dari dokumen ini, Pak Handoko?" tanya Raka dengan rahang mengeras dan tatapan mata menajam.
"Selamat sore, Tuan Raka dan Nyonya Alya," sapa Handoko dengan intonasi datar tanpa emosi. "Sesuai amanat adendum wasiat mendiang Kakek Broto, pernikahan ini hanya diakui sah oleh dewan komisaris jika mempelai wanita menandatangani surat pelepasan klaim harta gono-gini sebelum tengah malam nanti."
Alya yang tengah meneguk air teh hangat tersentak kaget hingga cangkirnya berdenting keras di atas tatakan keramik.
"Surat pelepasan harta gono-gini?" bisik Alya menoleh ke arah Raka dengan mata membelalak cemas. "Mas Raka... kenapa ada perjanjian seperti ini di hari pernikahan kita? Kenapa aku harus menandatangani surat pelepasan hak?"
"Jangan pernah sentuh map itu, Alya!" perintah Raka tegas seraya menarik tangan istrinya menjauh dari meja. "Ibu, kita sudah membicarakan hal ini berulang kali! Alya adalah istriku, bukan rekan bisnis yang harus menandatangani kontrak kerja sama!"
"Sadarlah akan posisimu, Raka!" bentak Gayatri dengan desisan tajam yang memancing perhatian beberapa kerabat terdekat. "Gadis yatim piatu tanpa latar belakang keluarga terpandang ini tidak berhak menyentuh satu rupiah pun dari aset konsorsium Adiwangsa! Jika dia menolak menandatangani surat itu malam ini, pernikahan kalian hanya akan kami anggap sebagai skandal murahan yang tidak diakui secara hukum keluarga!"
"Ibu jangan keterlaluan menghina martabat istriku di depan umum!" seru Raka seraya berdiri tegak membusungkan dada di hadapan ibunya.
"Apakah menandatangani surat ini begitu hina baginya?" cibir Gayatri dengan tatapan menusuk ke arah Alya. "Jika dia memang tulus mencintaimu dan bukan karena mengincar kekayaan keluarga kita, tanda tangan itu semestinya sangat mudah dilakukan!"
"Cukup, Ibu! Hentikan ucapan berbisa itu sekarang juga sebelum kesabaranku habis!" bentak Raka dengan amarah yang mendidih di dadanya.
༺♡༻
Badai di Balik Pintu Paviliun
Raka mencengkeram pergelangan tangan Alya dan menariknya melintasi koridor belakang menuju kamar pengantin utama di paviliun barat. Pintu kayu jati berukir itu ditutup rapat dengan bantingan keras, mengunci kebisingan pesta di luar dan menyisakan keheningan yang mencekam bagai ruang hampa udara.
Alya menyentakkan tangannya, melepaskan genggaman Raka dengan napas tersengal-sengal. Jemarinya yang gemetar bergerak ke belakang sanggul, mencabuti untaian melati putih yang kini harumnya terasa menusuk ulu hati.
"Alya, tolong dengarkan penjelasanku terlebih dahulu," pinta Raka seraya melangkah maju dengan kedua telapak tangan terangkat memohon.