Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #114

Rumah Pertama Kami

Raka dan Alya memulai kehidupan baru sebagai suami istri.

°˖✧✿✧˖°

Pagi itu terasa berbeda.

Tidak ada lagi perasaan bahwa mereka sedang menunggu sebuah hari besar. Tidak ada lagi daftar persiapan pernikahan yang harus diperiksa. Tidak ada lagi kekhawatiran tentang apakah akad akan berjalan lancar atau apakah segala sesuatu telah dipersiapkan dengan baik.

Hari besar itu telah berlalu.

Kini, yang tersisa adalah mereka.

Raka dan Alya.

Suami dan istri.

Mereka berdiri di depan sebuah rumah yang akan menjadi tempat pertama mereka membangun kehidupan bersama.

Rumah itu tidak terlalu besar. Dindingnya berwarna lembut, halaman depannya sederhana, dan terdapat beberapa pot tanaman yang sengaja diletakkan di dekat teras. Di ruang tengah terdapat sofa, meja kecil, rak buku, serta beberapa kardus yang belum sempat dibongkar.

Alya memandangi rumah itu cukup lama.

"Jadi... ini rumah kita?"

Raka tersenyum.

"Rumah kita."

Alya menoleh kepadanya.

"Benar-benar rumah kita?"

"Kenapa bertanya begitu?"

"Entahlah." Alya tertawa kecil. "Rasanya aneh."

"Aneh bagaimana?"

"Selama ini aku selalu membayangkan pernikahan sebagai hari ketika dua orang mengucapkan janji. Ternyata setelah janji itu selesai, kita malah harus memikirkan di mana menaruh piring, siapa yang menyapu, siapa yang mencuci baju, dan bagaimana membayar tagihan."

Raka tertawa.

"Berarti kamu baru sadar bahwa pernikahan bukan hanya tentang akad?"

"Sudah tahu."

"Terus?"

"Aku baru sadar bahwa bagian setelah akad jauh lebih panjang."

Raka mengangguk.

"Itu sebabnya aku tidak mau rumah ini hanya menjadi tempat kita pulang."

Alya mengerutkan kening.

"Lalu?"

"Aku ingin rumah ini menjadi tempat kita belajar pulang kepada satu sama lain."

Kalimat itu membuat Alya terdiam.

Raka membuka pintu.

"Selamat datang di rumah pertama kita, Bu Raka."

Alya langsung menatapnya.

"Bu Raka?"

"Memangnya salah?"

"Jangan panggil begitu."

"Kenapa?"

"Aku merasa tua."

Raka tertawa.

"Baiklah. Aku panggil Alya saja."

Alya melangkah masuk sambil menggelengkan kepala.

Namun senyum di wajahnya tidak hilang.

Rumah itu masih berantakan.

Kardus berada di mana-mana. Beberapa barang belum mempunyai tempat. Tirai belum seluruhnya terpasang. Di dapur terdapat beberapa peralatan makan yang masih tersimpan dalam kemasan.

Alya meletakkan tasnya.

"Kita mulai dari mana?"

Raka melihat sekeliling.

"Dari hal yang paling penting."

"Apa?"

"Minum."

Alya tertawa.

"Kenapa minum?"

"Karena kalau kita mulai beres-beres dalam keadaan haus, lima belas menit lagi kita sudah bertengkar."

Alya mengangkat alis.

"Kamu sudah memprediksi kita akan bertengkar?"

"Enggak. Aku sedang belajar mencegahnya."

Alya tersenyum.

"Bagus."

Mereka kemudian duduk sebentar di ruang tengah.

Untuk beberapa saat, mereka hanya menikmati keheningan.

Tidak ada keluarga.

Tidak ada tamu.

Tidak ada suara orang lain.

Hanya mereka berdua.

Raka memandang Alya.

"Siap?"

Alya menghela napas.

"Takut."

"Aku juga."

"Kamu takut?"

"Tentu."

"Kenapa?"

Raka menatap ruangan di sekeliling mereka.

"Karena mulai hari ini, semua yang kita lakukan akan menjadi bagian dari kehidupan kita. Bukan lagi sekadar rencana."

Alya mengangguk pelan.

"Kalau begitu..."

"Apa?"

"Kita belajar bersama."

Raka mengulurkan tangannya.

"Setuju."

Alya menggenggamnya.

"Setuju."

Dan untuk pertama kalinya, rumah kosong itu mulai terasa seperti rumah.

°˖✧✿✧˖°

Mereka memulai dari dapur.

Bukan karena dapur adalah bagian paling penting, tetapi karena Alya ingin segera membuat sesuatu untuk dimakan.

Raka memperhatikan ketika Alya mengeluarkan beberapa bahan makanan dari tas belanja.

"Kamu mau masak?"

"Iya."

"Setelah perjalanan dan acara kemarin?"

"Aku masih sanggup."

"Aku bantu."

Alya menoleh.

"Kamu bisa?"

Raka terlihat tersinggung.

"Aku bisa."

"Memotong sayur?"

"Bisa."

"Memasak nasi?"

"Bisa."

"Mencuci piring?"

Raka terdiam.

Alya tertawa.

"Nah."

"Aku bisa mencuci piring."

"Kenapa tadi diam?"

"Aku sedang memilih jawaban yang paling meyakinkan."

Alya tertawa lagi.

"Sudah. Kamu potong sayur."

Raka mengambil pisau.

"Begini?"

"Jangan terlalu besar."

"Kalau terlalu kecil?"

"Jadi bubur."

Raka mencoba memotong.

Alya memperhatikannya.

"Raka."

"Hm?"

"Jangan seperti itu."

"Seperti apa?"

"Pegang pisaunya dengan benar."

"Aku benar."

"Tidak."

"Kenapa?"

Alya mendekat, tetapi kemudian berhenti sejenak.

Mereka saling memandang.

Ada rasa canggung yang sebelumnya tidak pernah mereka rasakan.

Bukan karena mereka asing.

Justru karena sekarang hubungan mereka telah berubah.

Alya tersenyum kecil.

"Maaf."

"Untuk apa?"

"Aku masih belajar terbiasa."

Raka meletakkan pisau.

"Aku juga."

"Padahal kita sudah lama saling mengenal."

"Menjadi suami istri memang berbeda."

Alya mengangguk.

"Takut?"

"Sedikit."

"Aku juga."

Raka tersenyum.

"Jadi kalau hari ini kita canggung, tidak apa-apa."

Alya kembali mengambil sayuran.

"Kalau nanti kita salah?"

"Kita perbaiki."

"Kalau salahnya besar?"

"Kita bicara."

"Kalau sulit bicara?"

"Kita cari waktu."

"Kalau sama-sama marah?"

Raka berpikir sebentar.

"Kita jangan membuat keputusan."

Alya tersenyum.

"Itu aturan bagus."

Mereka melanjutkan pekerjaan.

Sesekali tangan mereka hampir bertabrakan. Sesekali Raka melakukan kesalahan kecil. Sesekali Alya tertawa melihat hasil potongan sayurannya.

Namun tidak ada yang merasa perlu menjadi sempurna.

Makanan sederhana akhirnya tersaji.

Nasi, lauk sederhana, sayuran, dan minuman hangat.

Alya memandang meja makan.

"Kelihatannya biasa saja."

Raka duduk di hadapannya.

"Justru itu yang aku suka."

"Apa?"

"Kita tidak perlu menunggu sesuatu yang luar biasa untuk merasa bahagia."

Alya tersenyum.

"Rumah pertama."

"Rumah pertama."

"Makanan pertama."

"Makan siang pertama."

Alya mengangguk.

"Dan mungkin pertengkaran pertama."

Raka langsung menunjuknya.

"Jangan didoakan."

Alya tertawa.

Mereka makan sambil berbicara tentang hal-hal kecil.

Tentang posisi sofa.

Tentang warna tirai.

Tentang siapa yang akan menyiram tanaman.

Tentang jadwal kerja.

Tentang kapan mereka harus berbelanja.

Hal-hal yang dulu terasa sepele tiba-tiba menjadi penting.

Sebab sekarang mereka tidak lagi menjalani hari masing-masing.

Mereka sedang membangun satu kehidupan.

°˖✧✿✧˖°

Masalah pertama muncul sore itu.

Bukan masalah besar.

Namun cukup untuk membuat keduanya menyadari bahwa hidup bersama membutuhkan lebih banyak penyesuaian daripada yang mereka bayangkan.

Alya ingin ruang tamu terlihat rapi.

Raka ingin beberapa kardus dibiarkan terlebih dahulu karena ia belum sempat memeriksa seluruh isinya.

"Raka, kardus ini mau sampai kapan di sini?"

"Sampai aku periksa."

"Kapan?"

"Mungkin besok."

"Besok kapan?"

Raka menghela napas.

"Alya, aku baru sampai."

"Aku tahu."

"Kalau begitu kenapa harus sekarang?"

Alya terdiam.

Nada suara Raka sebenarnya tidak tinggi.

Namun ada kelelahan yang membuat kalimat itu terasa berbeda.

Alya menatap kardus.

"Aku cuma ingin rumah ini cepat terasa seperti rumah."

Raka langsung melunak.

"Aku mengerti."

"Tapi aku juga tidak mau menjadi orang yang terlalu mengatur."

"Aku tidak menganggap kamu mengatur."

"Benarkah?"

"Benar."

Raka berdiri.

"Bagaimana kalau kita lakukan sedikit demi sedikit?"

Alya memandangnya.

"Sedikit?"

"Setengah jam."

"Setelah itu?"

"Kita berhenti."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak ingin hari pertama kita di rumah ini dihabiskan dengan membereskan barang sampai lupa menikmati rumahnya."

Alya tersenyum.

"Masuk akal."

Mereka kembali bekerja.

Setengah jam kemudian, ruang tengah mulai lebih rapi.

Alya mengatur beberapa buku.

Raka membawa kardus ke kamar.

Ketika semuanya selesai, mereka duduk di lantai.

Alya bersandar pada sofa.

"Capek."

"Capek."

"Padahal cuma setengah jam."

"Makanya."

Alya menoleh.

"Raka."

"Hm?"

"Menurutmu, nanti kita akan sering seperti ini?"

"Seperti apa?"

"Berbeda pendapat."

"Sepertinya."

Alya tertawa kecil.

"Kamu santai sekali."

"Karena berbeda pendapat bukan berarti kita tidak cocok."

Alya terdiam.

Raka melanjutkan.

"Yang perlu kita jaga bukan supaya kita selalu sepakat."

"Lalu?"

"Supaya ketika berbeda, kita tidak saling merendahkan."

Alya mengangguk.

"Dan tidak memaksakan kehendak."

"Ya."

"Dan tidak menggunakan diam sebagai hukuman."

Raka menatapnya.

"Ya."

Alya menarik napas.

"Berarti kita harus punya aturan."

"Aturan?"

"Iya."

Raka mengambil sebuah buku kosong dari kardus.

"Baik. Tulis."

Alya tertawa.

"Serius?"

"Serius."

Alya membuka halaman pertama.

Lihat selengkapnya