Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #115

Belajar Menjadi Pasangan

Belajar Menjadi Pasangan

Mereka menemukan bahwa pernikahan memiliki tantangan sendiri.

°˖✧✿✧˖°

Pagi pertama yang benar-benar terasa sebagai awal kehidupan baru datang tanpa suara meriah.

Tidak ada dekorasi pernikahan. Tidak ada tamu yang memenuhi rumah. Tidak ada suara musik atau ucapan selamat yang bersahutan. Yang terdengar hanya suara burung dari halaman dan bunyi samar kendaraan yang sesekali melintas di jalan depan rumah.

Alya membuka mata perlahan.

Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar. Kemudian pandangannya beralih ke sisi tempat tidur yang lain.

Raka masih tertidur.

Alya tersenyum kecil.

Dulu, ia hanya membayangkan bagaimana rasanya bangun sebagai seorang istri. Namun sekarang, ketika semuanya benar-benar terjadi, ternyata tidak ada perubahan dramatis seperti yang selama ini ia bayangkan.

Ia tetap Alya.

Hanya saja, kini ada seseorang yang menjadi bagian dari setiap keputusan kecil dalam hidupnya.

Alya bangkit perlahan lalu menuju dapur.

Ia membuka lemari dan menatap isinya cukup lama.

“Sekarang aku harus mulai dari mana?” gumamnya.

Ia mengambil beberapa bahan makanan sederhana. Niatnya hanya membuat sarapan untuk mereka berdua.

Namun beberapa menit kemudian, dapur mulai dipenuhi aroma yang sedikit terlalu kuat.

Raka muncul di ambang pintu sambil mengusap rambutnya.

“Pagi.”

Alya menoleh.

“Pagi. Kamu sudah bangun?”

“Terbangun karena mencium sesuatu.”

Alya langsung mengerutkan dahi.

“Harumnya enak, kan?”

Raka menatap wajan.

“Kalau aku bilang iya, kamu percaya?”

Alya tertawa.

“Berarti tidak enak?”

“Bukan begitu.”

“Lalu?”

Raka mendekat.

“Aku hanya sedang berusaha memahami kenapa telur bisa terlihat seperti sedang menghadapi ujian kehidupan.”

Alya menahan tawa.

“Raka!”

“Aku serius.”

“Ini baru pertama kali aku memasak untukmu.”

Raka tersenyum.

“Makanya aku tidak berani bilang tidak enak.”

Alya memukul pelan lengannya.

“Dasar.”

Raka tertawa, kemudian mengambil spatula.

“Biar aku bantu.”

Alya menyerahkan spatula itu.

“Jangan sampai malah tambah kacau.”

“Tenang. Aku pernah memasak.”

“Kapan?”

“Waktu kuliah.”

“Dan hasilnya?”

Raka terdiam.

Alya langsung tertawa.

“Berarti sama saja.”

Mereka tertawa bersama.

Namun di balik tawa sederhana itu, keduanya perlahan menyadari sesuatu.

Menikah ternyata bukan hanya tentang hari ketika akad selesai.

Bukan hanya tentang mengenakan cincin.

Bukan hanya tentang memanggil satu sama lain dengan sebutan baru.

Pernikahan dimulai justru ketika semua orang pulang dan mereka harus menjalani kehidupan sehari-hari bersama.

Dan kehidupan sehari-hari tidak selalu semanis hari pernikahan.

°˖✧✿✧˖°

Sarapan sederhana akhirnya tersaji.

Mereka duduk berhadapan.

Raka mencicipi masakan Alya.

Alya menatapnya penuh perhatian.

“Bagaimana?”

Raka mengunyah perlahan.

“Lumayan.”

“Lumayan?”

“Iya.”

Alya menyipitkan mata.

“Lumayan itu enak atau tidak?”

Raka tersenyum.

“Lumayan untuk sarapan pertama seorang istri.”

Alya tertawa kecil.

“Kalau begitu, besok aku belajar lagi.”

Raka mengangguk.

“Aku juga.”

“Belajar apa?”

“Belajar jadi suami.”

Alya terdiam sesaat.

Kalimat itu sederhana.

Namun entah mengapa, terasa begitu dalam.

°

°˖✧✿✧˖° Titik Plot Pertama — 650–1.050 kata °˖✧✿✧˖°

Siang harinya, mereka mulai membereskan beberapa barang yang belum sempat ditata.

Kotak-kotak kecil masih berada di ruang tengah. Beberapa pakaian belum dimasukkan ke lemari. Dokumen pernikahan, buku catatan, dan berbagai barang kebutuhan rumah tangga bercampur di atas meja.

Alya membawa satu kardus ke kamar.

“Yang ini kita taruh di mana?”

Raka menunjuk sudut ruangan.

“Di sana saja.”

Alya meletakkannya.

“Yang ini?”

“Masukkan lemari.”

“Lemari sudah penuh.”

Raka membuka pintu lemari.

“Sepertinya memang penuh.”

Alya menyilangkan tangan.

“Terus?”

Raka berpikir.

“Kita keluarkan barang yang tidak diperlukan.”

Alya mengangguk.

Mereka mulai memilah.

Namun ternyata hal sederhana seperti menyusun barang pun bisa menjadi sumber perbedaan pendapat.

“Menurutku ini masih diperlukan,” kata Alya.

“Ini sudah dua tahun tidak dipakai.”

“Tapi mungkin suatu saat dipakai.”

“Kalau semua barang disimpan dengan alasan mungkin dipakai, rumah kita nanti penuh.”

Alya memegang sebuah kotak kecil.

“Ini kenangan.”

Raka menatapnya.

“Kenangan juga bisa disimpan tanpa memenuhi seluruh lemari.”

Alya menghela napas.

“Kenapa kamu selalu berpikir praktis?”

“Karena kalau tidak begitu, nanti kita tidak punya ruang.”

Alya diam.

Raka menyadari nada suaranya mulai terdengar seperti sedang memberi perintah.

Ia segera melunak.

“Maaf.”

Alya menatapnya.

“Kenapa minta maaf?”

“Karena cara bicaraku tadi terdengar seperti keputusan sepihak.”

Alya mengangguk pelan.

“Memang sedikit.”

Raka duduk di tepi tempat tidur.

“Aku sedang belajar.”

Alya ikut duduk.

“Dan aku juga.”

Mereka saling menatap.

Raka tersenyum.

“Bagaimana kalau kita buat aturan?”

“Aturan?”

“Untuk hal-hal kecil seperti ini.”

“Seperti apa?”

“Kalau menyangkut barang milikmu, kamu yang menentukan. Kalau milikku, aku yang menentukan. Kalau barang bersama, kita putuskan bersama.”

Alya tersenyum.

“Adil.”

“Kalau tidak sepakat?”

“Kita bicarakan.”

“Kalau masih tidak sepakat?”

Alya berpikir.

“Cari jalan tengah.”

“Kalau tidak ada jalan tengah?”

Alya tersenyum geli.

“Berarti kita harus belajar mengalah.”

Raka mengangguk.

“Itu bagian tersulit.”

Alya tertawa.

“Setidaknya kamu sadar.”

Raka ikut tertawa.

Mereka kembali memilah barang.

Tetapi kali ini dengan cara berbeda.

Tidak ada keputusan sepihak.

Tidak ada suara yang meninggi.

Tidak ada keinginan untuk memenangkan perdebatan.

Mereka mulai memahami bahwa kehidupan bersama membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sederhana daripada kata-kata romantis.

Kemampuan untuk mendengarkan.

°˖✧✿✧˖°

Sore menjelang ketika persoalan lain muncul.

Raka membuka catatan pengeluaran rumah tangga.

Ia mengernyit.

“Alya.”

“Hmm?”

“Bulan ini kita perlu lebih berhati-hati.”

Alya mendekat.

“Kenapa?”

“Pengeluaran kita ternyata lebih besar dari perkiraan.”

Alya melihat catatan tersebut.

“Karena banyak kebutuhan awal rumah.”

“Betul.”

“Masih bisa diatur.”

Raka mengangguk.

“Aku sudah menghitung ulang.”

Alya memperhatikan beberapa angka.

“Berarti kita kurangi yang tidak penting.”

“Iya.”

“Misalnya?”

Raka menunjuk beberapa pengeluaran.

Alya mengangguk.

Namun ketika Raka menyebut satu hal yang menurut Alya penting, ia langsung berbeda pendapat.

“Yang itu jangan dihapus.”

“Kenapa?”

“Itu untuk kebutuhan rumah.”

“Kita bisa mencari alternatif yang lebih murah.”

Alya terdiam.

Raka menyadari perubahan wajahnya.

“Alya?”

“Aku hanya merasa kamu terlalu cepat memutuskan.”

Raka menatapnya.

“Aku bukan memutuskan. Aku sedang mencoba mengatur.”

“Tapi caramu menjelaskan membuatku merasa seperti aku hanya perlu mengikuti.”

Kalimat itu membuat Raka terdiam.

Dulu, mungkin ia akan langsung membela diri.

Namun sekarang ia menarik napas panjang.

“Kamu benar.”

Alya tampak terkejut.

“Benar?”

“Iya.”

Raka meletakkan catatan.

“Aku terbiasa memikirkan semuanya sendiri. Tapi sekarang aku tidak sendiri.”

Alya menatapnya.

“Kita memang harus membiasakan diri.”

“Jadi bagaimana?”

Alya mengambil pulpen.

“Kita buat anggaran bersama.”

Raka menggeser kursinya.

“Oke.”

“Pendapatan, kebutuhan rumah, tabungan, kebutuhan pribadi, dan dana darurat.”

Raka tersenyum.

“Kamu sudah punya sistem?”

“Belum.”

“Lalu?”

“Aku juga sedang belajar.”

Mereka tertawa.

Malamnya, setelah makan, masalah lain datang dari sesuatu yang jauh lebih kecil.

Alya ingin membaca sebentar sebelum tidur.

Raka ingin berbicara.

“Kamu mengantuk?”

“Belum.”

“Kalau begitu temani aku ngobrol.”

Alya menatap buku di tangannya.

“Sebentar, ya. Aku ingin menyelesaikan satu bagian.”

Raka mengangguk.

Namun beberapa menit kemudian, ia menjadi diam.

Alya menyadarinya.

“Kamu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Raka.”

“Benar-benar tidak apa-apa.”

Alya menutup bukunya.

“Kamu kecewa?”

Raka tersenyum tipis.

“Sedikit.”

Alya mendekat.

“Kenapa tidak bilang?”

“Aku takut terdengar menuntut.”

Alya terdiam.

Justru kalimat itu membuatnya tersentuh.

“Kamu boleh bilang.”

Lihat selengkapnya