Pertengkaran Kecil
Perbedaan kebiasaan menyebabkan konflik ringan.
°˖✧✿✧˖°
Pagi itu berjalan seperti pagi-pagi sebelumnya.
Cahaya matahari masuk melalui celah tirai kamar, menyentuh lantai ruang tengah yang masih menyisakan beberapa kardus kecil. Rumah mereka memang sudah jauh lebih rapi dibandingkan beberapa minggu pertama, tetapi belum benar-benar selesai ditata.
Alya bangun lebih dahulu.
Setelah merapikan tempat tidur, ia berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan sederhana. Ia membuka lemari, mengambil dua piring, lalu menaruh roti dan telur di atas meja.
Sementara itu, Raka masih berada di kamar mandi.
Alya melirik jam.
“Masih cukup waktu,” gumamnya.
Ia terbiasa mengerjakan sesuatu segera setelah bangun. Menurutnya, semakin cepat pekerjaan kecil diselesaikan, semakin ringan pula pikiran sepanjang hari.
Beberapa menit kemudian Raka keluar.
Rambutnya masih sedikit basah.
“Wah, sarapan sudah siap?” tanyanya.
Alya tersenyum.
“Iya. Duduklah.”
Raka duduk, lalu melihat meja makan.
Namun pandangannya justru tertuju pada beberapa pakaian yang tergeletak di kursi ruang tengah.
“Oh, itu bajuku yang kemarin?”
Alya menoleh.
“Iya. Aku sudah cuci.”
“Terima kasih.”
“Tapi belum aku lipat.”
Raka mengangguk santai.
“Nanti aku lipat.”
Alya kembali menata piring.
“Sekarang saja, kalau bisa.”
Raka terdiam sebentar.
“Kenapa harus sekarang?”
“Karena kalau ditunda, biasanya nanti lupa.”
Raka tersenyum kecil.
“Aku tidak akan lupa.”
Alya menghela napas.
“Mas, aku cuma bilang lebih baik diselesaikan sekarang.”
“Aku juga cuma bilang nanti aku kerjakan.”
Nada suara mereka sebenarnya masih biasa.
Tidak ada bentakan.
Tidak ada kata kasar.
Tetapi ada sesuatu yang mulai berubah.
Alya menatap Raka.
“Mas selalu begitu.”
“Begitu bagaimana?”
“Menunda.”
Raka mengangkat alis.
“Menunda apa?”
“Banyak hal.”
Raka terdiam.
Ia tahu Alya tidak sedang marah besar. Namun cara Alya mengucapkan kalimat itu membuatnya merasa sedang dinilai.
“Aku kan tetap mengerjakannya.”
“Iya. Tapi sering setelah aku ingatkan.”
Raka meletakkan garpu.
“Kalau begitu, aku akan kerjakan.”
Alya menyadari suasana mulai tidak nyaman.
Namun sebelum ia sempat menjelaskan, Raka berdiri.
“Sudah, aku lipat sekarang.”
“Bukan begitu maksudku.”
“Tapi kamu ingin aku mengerjakannya sekarang, kan?”
Alya menatap punggung Raka yang berjalan menuju ruang tengah.
Ia menghela napas pelan.
Pertengkaran kecil itu bahkan belum benar-benar dimulai.
Namun keduanya sudah merasakan ada jarak tipis yang muncul hanya karena perbedaan cara menjalani kehidupan sehari-hari.
°˖✧✿✧˖°
Raka mengambil pakaian dari kursi dan mulai melipatnya.
Alya berdiri beberapa langkah dari sana.
“Mas.”
“Hmm?”
“Jangan marah.”
“Aku tidak marah.”
“Tapi suaramu berubah.”
Raka berhenti melipat.
“Aku cuma merasa kamu menganggap caraku salah.”
Alya terdiam.
“Aku tidak pernah bilang salah.”
“Tapi kamu bilang aku selalu menunda.”
“Karena memang begitu.”
Raka menatapnya.
“Nah.”
“Nah apa?”
“Kalimat itu.”
Alya mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Kalau aku bilang kamu selalu terburu-buru, kamu pasti juga tidak suka.”
Alya membuka mulut, tetapi tidak langsung menjawab.
Raka kembali melipat pakaian.
“Kamu suka semuanya selesai sekarang. Aku lebih santai.”
“Aku bukan terburu-buru.”
“Buatku, itu terburu-buru.”
“Dan buatku, cara Mas membuat semuanya tertunda.”
Mereka saling menatap.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Kemudian Alya duduk di sofa.
“Baiklah.”
Raka menoleh.
“Baiklah apa?”
“Kita beda.”
Raka mengangguk.
“Iya.”
“Mas suka mengerjakan sesuatu nanti.”
“Iya.”
“Aku suka langsung selesai.”
“Iya.”
“Terus?”
“Terus kita harus belajar.”
Jawaban itu membuat Alya sedikit melunak.
Namun ia masih merasa tidak sepenuhnya didengarkan.
“Aku cuma tidak mau rumah ini berantakan.”
“Dan aku tidak mau rumah ini terasa seperti tempat yang punya terlalu banyak aturan.”
Alya menatapnya.
“Aku tidak membuat aturan sebanyak itu.”
“Tidak secara tertulis.”
Raka tersenyum tipis.
“Tapi aku bisa merasakannya.”
Alya hampir tertawa, tetapi menahannya.
“Jadi sekarang aku terlalu mengatur?”
“Bukan.”
“Lalu?”
Raka duduk di ujung sofa.
“Kamu terlalu peduli.”
Alya terdiam.
“Itu bukan hal buruk.”
“Tidak?”
“Tidak.”
“Kenapa terdengar seperti kritik?”
Raka menggeleng.
“Karena aku belum pandai menjelaskannya.”
Alya menatap tangannya sendiri.
“Aku juga belum pandai menjadi istri.”
Raka langsung menoleh.
“Jangan bilang begitu.”
“Memangnya kenapa?”
“Karena kita sama-sama sedang belajar.”
Alya mengangguk.
Mereka kembali diam.
Kemudian Raka mengambil napas.
“Begini saja. Kalau sesuatu memang penting untuk segera dikerjakan, bilang.”
“Kalau tidak penting?”
“Aku kerjakan dengan waktuku.”
Alya mengangkat wajah.
“Dan kalau aku merasa Mas terlalu menunda?”
“Bilang tanpa mengatakan aku selalu seperti itu.”
Alya tersenyum tipis.
“Baik.”
Raka pun tersenyum.
“Dan aku akan berusaha tidak menganggap setiap pengingat sebagai perintah.”
“Bagus.”
“Bagus.”
Ketegangan mulai mengendur.
Tetapi masalah kecil itu ternyata belum selesai.
Karena pagi itu mereka baru menemukan satu dari banyak perbedaan kebiasaan yang akan mereka hadapi sebagai suami istri.
°˖✧✿✧˖°
Siang harinya, Raka pulang lebih cepat dari perkiraan.
Ia meletakkan tas di sofa.
“Alya?”
“Di dapur.”
Raka berjalan ke sana.
“Aku pulang.”
Alya tersenyum.
“Cepat sekali.”
“Ada pekerjaan yang selesai lebih awal.”
Raka melihat meja makan.
Ada beberapa gelas yang belum dicuci.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Alya sedang memotong buah.
“Mas mau makan?”
“Nanti.”
Raka duduk.
Beberapa menit kemudian, ia berdiri mengambil gelas.
Alya melihatnya.
“Mas mau mencuci?”
“Iya.”
“Taruh saja. Nanti aku yang cuci.”
Raka berhenti.
“Tadi kamu bilang kita harus membagi pekerjaan.”
“Iya.”
“Berarti aku bantu.”
“Aku tidak bilang Mas tidak boleh membantu.”
“Terus kenapa aku harus menaruhnya?”
Alya menghela napas.
“Karena aku sedang memasak.”
“Dan aku sedang mencuci.”
“Mas baru pulang.”
“Aku tidak capek.”
“Mas biasanya capek.”
Raka menatap Alya.
“Alya.”
“Hmm?”
“Jangan terlalu mengkhawatirkanku.”
Alya terdiam.
“Aku cuma peduli.”
“Aku tahu.”
Raka mencuci gelas.
Alya kembali memotong buah.
Namun beberapa menit kemudian, Raka melihat pisau yang diletakkan terlalu dekat dengan ujung meja.
“Yang itu jangan di situ.”
Alya menoleh.
“Kenapa?”
“Nanti jatuh.”
“Aku biasa taruh di situ.”
“Lebih aman kalau di tengah.”
Alya memindahkan pisau.
“Sudah.”
Raka mengangguk.
Namun kemudian ia melihat beberapa bahan makanan yang belum dimasukkan kembali ke lemari.
“Ini nanti disimpan?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Nanti setelah selesai.”
Raka tersenyum.
“Kita kembali ke awal.”
Alya berhenti bergerak.
“Maksud Mas?”
“Kamu tadi menegur aku karena menunda. Sekarang kamu juga menunda.”
Alya memandangnya.
“Aku sedang mengerjakan yang lain.”
“Aku juga tadi.”
“Bedanya aku memang sedang sibuk.”
“Aku juga tadi sedang melipat pakaian.”
“Mas!”
Raka terdiam.
Alya memejamkan mata.
“Maaf.”
Raka mengusap wajah.
“Aku juga minta maaf.”
Mereka kembali saling diam.
Kali ini Alya duduk.
“Kenapa hal kecil begini jadi panjang?”
Raka duduk di depannya.
“Karena mungkin bukan soal gelas.”
“Bukan soal pakaian juga.”
“Bukan soal pisau.”
Alya tersenyum kecil.
“Lalu soal apa?”
Raka menatapnya.
“Soal kita yang sedang mencoba hidup bersama.”
Kalimat itu membuat Alya terdiam.
Raka melanjutkan.
“Kita dulu hanya bertemu, berbicara, lalu pulang ke rumah masing-masing. Sekarang kita bangun di tempat yang sama. Makan bersama. Mengatur uang bersama. Mengurus rumah bersama.”
Alya mengangguk.
“Dan ternyata kebiasaan kecil kita berbeda.”
“Iya.”
“Mas suka santai.”
“Kamu suka teratur.”
“Mas suka menunda.”
“Kamu suka menyelesaikan.”
Alya tersenyum.
“Mas masih berani bilang aku suka menyelesaikan?”
Raka tertawa kecil.